
Tiga abad silam, Zaman Heian, prefektur Shizuoka.
Hari itu adalah musim dingin pertama setelah seratus tahun Dewa matahari mengutuk sebagian wilayah Shizuoka dalam kekeringan panjang.
Tak jauh dari bukit pertama, terlihat berdiri istana kecil dan tua. Sosok Minami Muruka dalam wujud Kaguya berdiri di dekat jendela warna hitam. Rambut sepanjang pinggul dengan wajah seputih salju. Tidak ada yang akan bisa mengelak, kalau sosok rupawan itu memang anak dari Dewa Bulan juga tak lain adalah keturunan Dewi kecantikan.
Ia menyingsingkan ujung kimono sutranya, mengambil sebutir salju yang berluruhan satu demi satu. Tatapan Kaguya Arashi, kosong tanpa gairah sedikitpun.
Hanya kepiluan sekaligus ekspresi kemarahan, tiba-tiba tersirat-- menggantung jelas pada kelopak mata sendu gadis itu.
Belum lama Kaguya berdiri untuk sekedar menegakkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki dari kejauhan--mengayun di atas lantai kayu pada sepanjang lorong.
"Putri, para pasukan dari barat telah berhasil mengepung kita. Pangeran Yamashita Kasetsu membantai sisa penjaga dari wilayah bagian tanpa menyisakannya sedikitpun." Seorang pengawal berdiri di balik pintu, membuat bayangan gelisahan saat ia membungkuk dengan nafasnya yang sesak.
Kaguya tidak terkejut, ia menyuruh pengawal itu pergi karena beberapa saat lagi ia sangat yakin akan ada keajaiban untuk mereka di medan pertempuran.
Memang pertempuran akan segera berakhir. Tiga hari ribuan prajurit telah mati untuk sebuah ideologi yang tidak masuk akal.
Setelah memastikan ia benar-benar sendiri, Kaguya cepat-cepat meletakkan sebuah benda yang ia ambil dari lapisan terdalam kimononya.
Sebentuk batu warna biru berlukiskan seekor kucing.
Diletakkan di atas tatami, tak lama berselang, seberkas cahaya putih yang menyilaukan keluar, memantulkan bayangan wajah sang putri. Layaknya sebuah cermin besar yang menutupi seluruh ruangan kecil itu, Kaguya pada akhirnya memutuskan untuk duduk tanpa melepaskan pandangan matanya sedikitpun.
Menghela nafasnya, Kaguya menunduk lalu melepas kimononya untuk diganti dengan baju perang wanita.
"Apa kau yakin, putri?" sebuah suara tiba-tiba berbisik, lewat udara kecil dari angin yang dipenuhi salju di tiap ventilasi kayu.
__ADS_1
Hati Kaguya remuk dan tangannya seketika terhenti
saat mendengar teguran itu. Pertengkaran dengan keturunan Kasetsu memang bukanlah yang pertama kali terjadi. Tapi, ini adalah kebencian terbesar dari kedua makhluk beda elemen itu.
Jauh sebelum dunia terbentuk, keduanya adalah wujud dari api dan air. Dewa menganugerahi segala sifat dasar manusia untuk keduanya agar keseimbangan bisa terjadi. Tapi sepertinya hari itu, kemusnahan seluruh alam tidak bisa dielakkan.
Ajudan Hiroshi menjadi sosok yang telah dicintai oleh Kaguya sejak lama, dipenggal begitu saja saat hari pernikahan mereka.
"Aku mencurimu, bukan untuk ini. Hei, siluman. Lebih baik kau buka gerbang kematian saat ini juga. Panggil para roh yang dirawat oleh majikanmu--dewa kematian untuk muncul di hadapanku!"teriak Kaguya melotot marah. Ia menghunuskan katana perak tepat di bagian leher bayangannya sendiri.
Layaknya balon yang ditusuk oleh jarum. Cermin itu seketika retak, pecah lalu berserakan di antara udara. Tapi tak berapa lama setelah itu, tiba-tiba seperti ada gelombang berisi kekuatan yang kembali berkumpul--membentuk wujud asli dari si penghuni batu.
Nekomata--peliharaan dewa kematian sekaligus penjaga dua alam. Mengeong marah pada Kaguya. Taring kecilnya memanjang lalu mata silumannya memerah seperti darah segar.
Tak terpengaruh sedikitpun, Kaguya lebih mendekat untuk menemukan nadi di leher musuhnya itu.
Apa yang ia genggam bukanlah katana biasa. Ayahnya, Dewa Bulan, punya segala jenis senjata untuk membuat para siluman menemui ajal.
"Dasar, pengecut! Seharusnya kau hadapi saja nasibmu, putri! Kaguya Arashi lahir karena ditakdirkan untuk mendampingi keturunan Kasetsu! Menolak permintaan dewa sama halnya meludahi takdir!"Nekomata mengeong keras. Siluman itu berdiri tegak, mengibas keras ekornya pada udara.
Hanya saja, pemberontakan Nekomata berlangsung sebentar. Tak lebih dari butiran satu jam pasir, makhluk berbulu kusam itu menggeram setuju.
Ancaman Kaguya yang akan memusnahkan seluruh keturunan Nekomata, membuat sang pemegang kunci alam kematian itu, tak lagi berkutik.
Bahkan dewa kematian sendiri tak berdaya saat Kaguya datang padanya untuk meminta keadilan atas seribu pasukan perang yang dihadiahkannya pada pangeran Kasetsu.
"Kau membuat kesalahan. Perselingkuhan--kematian dan reinkarnasi dari seribu prajurit milik alamku."
Bagai gemuruh petir tanpa cahaya mendung sedikitpun, suara dari atas langit, menggema kencang saat Kaguya berada di atas pelananya.
__ADS_1
Ribuan tubuh tanpa nyawa tergeletak di sana, bagai jerami yang berserakan memenuhi ratusan hektar tanah tandus.
Dari kejauhan--tepat di atas pelana yang berbeda, Yamashita duduk, bersimbah darah dengan sedikit luka pada wajahnya.
Mereka adalah dua orang terakhir yang mampu hidup di antara aroma amis darah segar.
"Lihat saja, sekalipun memohon kalian tidak akan diampuni di sidang istana langit!" teriak suara tanpa wujud. Itu adalah dewa lain yang datang dan ikut berteriak bersama puluhan pengadil langit. Dewa bulan terlihat ada di antara mereka, berdiri tak berdaya menghadapi kesalahan putrinya.
Kaguya menggeram kesal, tidak memperdulikan
apapun. Katananya masih terhunus, memegang kendali atas emosi pribadi.
"Kau bisa menghukumku setelah aku memenggal kepalanya, Dewa!"teriak Kaguya menarik pelana pada kudanya.
Dewa bulan melotot tak percaya melihat putrinya menghampiri suaminya layaknya musuh yang siap membunuh.
"Hentikan, putri!"teriak dewa bulan bersiap mengeluarkan kekuatannya di hadapan para dewa lain.
Kilatan cahaya dari tangannya hampir menyentuh Kaguya. Ya, andai saja tidak ada yang menghalanginya saat itu, sudah pasti takdir akan berubah.
"Kaguya Arashi---Yamashita Kasetsu, tanpa sidang juga tanpa pengambilan suara dari Dewa manapun, kalian dihukum mengalami reinkarnasi ribuan kali, penderitaan yang sama tanpa henti dan juga kematian paling menyakitkan. Hiduplah sampai kebencian kalian bisa membuat bunga sakura bermekaran."
Raja langit, sang pemberi perintah yang baru saja turun dengan kilatan petir, menyodorkan badai besar ditangannya pada gunung dan lautan.
Para dewa menunduk, menyaksikan kejadian di depan mata mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sedangkan tubuh Yamashita dan Kaguya, langsung terlempar pada sebuah pusaran hebat. Keduanya berteriak histeris, tapi di saat terakhir, suara umpatan justru terlontar dari mulut masing-masing.
Saat sama-sama tertelan, hanya ada sisa kebencian yang menyebar di tempat dimana mereka menghilang.
__ADS_1
Benci tak ubahnya sebentuk pohon, meranggas di saat panas, merimbun di saat musim semi. Tapi, kebencian apa yang bisa membuat bunga sakura bermekaran? Jika benar, itu mungkin ketika perasaan dengki bergeser sedikit, mengubah posisinya untuk saling memahami--melebur tanpa harus gugur.