
Sepanjang tiga hari terakhir menjelang puncak umurnya yang ke -17, Minami selalu bermimpi buruk.
Sebuah kotak hitam, gelap juga pengap seakan mengurungnya, membuat batas, menguliti setiap keinginannya untuk lepas.
Di sebuah titik dengan cahaya paling remang, sosok Minami 'yang lain' berdiri, memakai kimono sutra di sudut kotak itu. Tatapannya terlihat kosong, diwarnai ribuan cerita sedih pada wajahnya yang memancar tanpa ekspresi.
Minami mundur ketakutan, menatap reinkarnasinya itu sambil berbisik pada dirinya sendiri bahwa halusinasinya sangat mengerikan.
"Berikan,"kata Kaguya berjalan, menyeret ujung Kimononya. Tatanan sanggulnya sungguh berantakan dengan tangan yang terulur--dipenuhi darah segar.
Aroma amis menusuki hidung Minami, hingga tanpa sadar gadis itu telah berteriak dalam tidur.
Mimpi itu terlalu nyata, menyisakan banyak peluh juga erangan yang masih tertahan di tenggorokan.
Minami pada akhir terbangun, melotot histeris lalu meraih jam digital kecil di atas nakas. Nafasnya terengah, sedikit sesak karena meraup oksigen terburu-buru.
Hari ini liburan musim panasnya telah berakhir. Mungkin karena terlalu tegang dengan kehidupan sekolah yang penuh dengan penindasan, Minami bermimpi buruk. Jiwanya serasa dipenuhi hal-hal klise yang tentu saja tidak ada artinya sama sekali.
Tak lama setelah menghabiskan sedikit waktunya di kamar mandi, Minami memasukkan dua potong roti panggang dengan sedikit sayur yang ia tata rapi di sebuah piring terpisah. Meski tidak memenuhi gizinya, ia tidak punya cukup uang untuk memusingkan itu semua. Sudah lama uang tunjangan dari pemerintah digunakan untuk keperluan di luar sekolah.
Minami tahu, adalah hal yang menyulitkan ekonominya saat ia memutuskan menyimpan abu milik orang tuanya di tempat penyimpanan khusus milik swasta.
Dengan penyewaan tempat yang cukup mahal, Minami menghabiskan hampir separuh uangnya setiap bulan. Dulu ia sempat berpikir untuk menghanyutkannya di sungai atau lautan. Tapi, berakhir tidak tega. Menyimpan di dalam sebuah apartemen biasa pun akan memerlukan ritual setiap purnama. Jika dihitung-hitung biayanya lebih besar dan merepotkan.
Minami masih sibuk memikirkan tagihan bulanannya, ia terlalu fokus hingga dering ponselnya tidak terdengar.
Itu dari Yoshio. Dua panggilan tidak terjawab selama 10 menit terakhir.
Begitu Minami meraih ponselnya, panggilan itu telah mati.
Jam menunjukkan pukul 8, sebentar lagi, bus akan segera datang. Tak lagi memikirkan hal lain, Minami bergegas pergi, mengantongi ponselnya dengan posisi silent.
__ADS_1
Akan lebih baik kalau aku tidak menjawab panggilan Yoshio, batin Minami mengikat rambut panjangnya sambil terus berlari.
Ini adalah hari pertamanya di awal musim gugur. Kotomi tentu saja akan membuatnya terkena masalah. Tapi sebisa mungkin jangan sampai keadaan bertambah buruk jika rahasianya terbongkar.
Hubungannya dengan Yoshio bisa menjadi kiamat kecil jika satu orang saja mengetahui hal itu.
Bus sampai dalam waktu sepuluh menit, Minami duduk di sebuah bangku paling ujung dan tidak menemukan Yoshio dimanapun. Meski jalur bus dari tempat tinggal Yoshio melintang dari halte apartemennya, tapi sejak kejadian terakhir, dimana pria itu mengejutkannya, ia selalu berharap menemukan wajahnya di antara puluhan orang. Setiap pagi, hingga kadang Minami lelah, mematikan harapannya sendiri.
Kini, setelah Yoshio menyatakan perasaannya, keadaan mereka terasa sedikit canggung dan berbeda. Minami tak kunjung menyanggupi ajakan Yoshio untuk berkunjung ke apartemen Shirokawa, tempat tinggal lama mereka.
Lima menit kemudian, bus berhenti, mengantarkan Minami hingga ke mulut halte.
Jalanan menuju sekolah terlihat lenggang. Sebenarnya tidak terlalu pagi untuk masuk. Tapi membiasakan diri setelah liburan panjang bukan hal mudah.
Brught.
Tepat di bawah jejeran pohon Maple, Minami tanpa sengaja menabrak bahu seseorang. Lebih tepatnya, sosok itu muncul secara tiba-tiba di ruang yang seharusnya kosong.
"Ceroboh."
"Pangeran?"Minami mencoba untuk tidak menjerit. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya sementara kakinya tiba-tiba kaku karena terkejut.
Wajah angkuh milik Yamashita Kasetsu yang telah hampir satu bulan tidak ia lihat, masih sama. Bahkan lebih dingin dan menakutkan. Perbedaan karakter yang sangat mencolok saat awal pertemuan mereka, membuat Minami yakin, Pangeran dari masa lalu itu punya bakat psikopat.
"Istriku,"bisik Yamashita menyilangkan rambut peraknya ke belakang,"hari ini kau berusia 17 tahun. Bagaimana kalau kita merayakannya dengan melompat ke masa lalu? Di sana, aku akan membuatkanmu pesta besar."
Sebuah cengkeraman lumayan kuat mendarat di bahu Minami. Gadis itu terlambat untuk mengelak mundur, hanya mampu menatap sengit pada Yamashita yang terkekeh kecil, memunculkan deretan giginya.
"Lepaskan, aku bukan istrimu!"pekik Minami menatap sekeliling. Lingkungan itu seakan ikut mati, tak ada siapapun kecuali dia, sang pangeran juga hamparan daun musim gugur yang berjatuhan.
Tak ada sebentuk kehidupan apapun. Seakan waktu telah sengaja dihentikan hanya untuk mereka.
"Dengar, Kaguya Arashi. Aku tidak akan melepaskanmu. Tanggung jawabmu akan terus ada meski kau mati lalu terlahir kembali di kehidupan berikutnya."Yamashita menyeringai kecil, melepas cengkeramannya dengan mendorong keras bahu Minami ke belakang.
__ADS_1
"Kau tidak akan pernah mendapatkan keinginanmu!"teriak Minami sengit. Ia buru-buru menegakkan tubuhnya mensejajari Yamashita.
Saat pandangan penuh amarah dari keduanya bertemu, tanah dimana mereka berpijak, bergetar kecil. Merespon kekuatan dari alam bawah sadar masing-masing.
Dalam satu kedipan, tak jauh dari mereka, Dewa kematian muncul. Sosok tinggi itu berdiri, mendekap Nekomata dalam lingkaran tangannya.
"Membosankan,"bisik Dewa kematian yang kemudian ditanggapi Nekomata dengan mengeong kecil. Ia kemudian berdecak malas dengan apa yang tengah terjadi. Ribuan tahun telah berlalu dan pemandangan seperti itu telah menjadi santapannya.
Tanpa tahu keberadaan Sang Dewa, kedua manusia beda elemen itu saling melempar energi negatif dari mata masing-masing.
Hal itu berlangsung cukup lama hingga sebuah sapaan dari mulut seseorang, dengan ajaib menghancurkan tembok waktu di antara mereka.
"Mina-san? Kenapa kau berdiri di tengah jalan?"
Minami terlonjak kaget, memegang dadanya yang mendadak sakit karena terkejut.
Begitu ia menoleh lagi, Yamashita telah lenyap dan suasana kehidupan berjalan seperti biasa.
Ada apa dengannya? Apakah itu hanya halusinasi?
"Hei, apa kau baik-baik saja?"
Tak menghiraukan teguran itu, Minami yang merasakan lututnya lemas, berinisiatif duduk di atas sebuah bangku.
Ia meneguk begitu banyak air dari botol minumnya, tanpa bicara.
"Tak kusangka, ia muncul di kehidupan ini. Bukankah terakhir ia juga mengacau? Seingatku 700 tahun yang lalu, bahkan sebelum itupun kau kalah dengan pria itu."Dewa Kematian tersenyum geli, mengejutkan Yamashita yang telah mengubah wujudnya menjadi seekor kucing.
Bukannya terkejut, Yamashita menatap dewa itu tak peduli.
Ia malah menggerutu kencang akan nasib sialnya hari ini. Kaguya tidak semudah itu diatur dan--siapapun pria yang mampu memecah kematian waktu, pasti sosoknya bukan reinkarnasi dari orang biasa.
Ajudan Hiroshi, apa kau melupakan pria itu, Pangeran? Nekomata berbisik melalui telinganya.
__ADS_1
Hiroshi? Si cabul yang pernah mengintip istriku?