Mr. Cat

Mr. Cat
episode 30


__ADS_3


Tubuh Yamashita terdorong ke belakang, punggungnya membanting tembok dengan posisi lurus, sedikit menyakitkan.


Yamashita meringis kecil, mencecap sisa amis dari darah di sudut mulutnya. Minami menggigit lidahnya tadi. Alih-alih sakit, hasratnya malah terbakar. Wajah kacau Minami mengantarnya pada nostalgia, dimana ia pernah menguasai gadis itu di atas ranjang kebesarannya.


Tubuh yang indah dengan tatapan menyakitkan.


"Kau sudah ingat?"tebaknya berusaha keras untuk tidak tersenyum. Ia berdiri, meluruskan punggungnya.


Minami menyahutnya dengan tatapan datar."Diam kau,"jawabnya ketus. Ia muak sekaligus benci--tentu saja, Minami harus benci padanya.


"Kau akan membunuhku?" Ia tersenyum miring kemudian mendengkus sinis. Yamashita pikir, tidak akan ada yang berubah. Kematian salah satu dari mereka hanya akan menambah daftar panjang masalah. Bukankah sudah cukup dengan ribuan kehidupan?


Minami baru saja akan menyahut, tapi Yoshio tiba-tiba masuk. Membawa sekantung camilan dan susu.


"Mina-san? Kau sudah bangun?" Ia tak menghiraukan Yamashita, melangkah terburu-buru ke arah ranjang. Minami menoleh, mengangguk canggung. Bagaimanapun, ia tidak ingin melihat Yoshio terlalu lama. Tidak setelah apa yang ia lakukan padanya.


Bruk!


Yamashita pergi begitu saja, membanting pintu dan menatap masam pada keduanya. Yoshio memilih diam, tak mengatakan apapun. Reaksi itu justru aneh. Tapi tidak jika ingatannya telah kembali.

__ADS_1


"Yoshio,"panggil Minami menyentuh pipi pria murung itu. Pria itu tengah mengambil sebutir apel, berniat untuk mengupasnya.


"Jangan bicara. Kau seharusnya diam dan istirahat. Tekanan darahmu rendah dan kau keracunan makanan." Yoshio terlihat menghindar, tapi di saat yang sama, tangannya terulur, menyentuh dahi dan rambut panjang Minami. Di mata Yoshio, gadis itu tetap sama. Manja, plin-plan, tapi memabukkan. Ribuan tahun berlalu dengan ratusan tahun yang berbeda, tapi ingatannya masih segar, lambat untuk melupakan.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Ia bertanya dengan berat, seakan ada yang menusuki tenggorokannya. Saat Minami hanya menunduk sedih, Yoshio terluka. Ia takut untuk bertanya, mungkin tidak ingin lagi mendengarnya.


"Maaf, maafkan aku." Akhirnya, suara putus asa keluar dari mulut Minami. Ia menangis, semakin menunduk.


Di luar, titik-titik air mulai menetes turun dari langit. Membawa perasaan penuh luka bersama suara hati Yoshio yang telah mati rasa.


Hari ini, ingatan lamanya telah dikembalikan. Putri Yuka juga sudah ada di kehidupan yang sama. Mungkin, ini bukan hanya kesempatan untuk pangeran Kasetsu, tapi juga untuknya dan putri Yuka.


Jika Minami telah mengambil sumpah untuk membunuh suaminya sendiri, berbeda dengan isi sumpah Yoshio yang terjadi sepuluh menit sebelum kematiannya.


"Katakan, apa maumu."Dirinya di masa lalu menggeram. Marah, tapi mengakui kebenaran pahit itu.


"Bagaimana dengan pembalasan dendam? Biarkan mereka merasakan sakit yang sama. Setiap perbuatan akan dibalas pada kehidupan berikutnya. Aku yakin, penyatuan elemen dari tubuh mereka tidak akan berhenti. Kebencian hanyalah alasan. Kita harus membunuh mereka sebelum mereka menyadari perasaan masing-masing. Baik di kehidupan besok, besoknya lagi dan seterusnya. Ayo, buatlah sumpah denganku." Kegilaan sekaligus rasa sakit tergambar dari wajahnya.


Yoshio butuh waktu lama untuk mengiyakan. Tapi, tidak kali ini. Dengan penuh keraguan, tangannya terulur, menyatukan darahnya pada jemari putri Yuka. Itu adalah ritual kuno dimana Dewa diyakini datang untuk mengabulkan doa dan sumpah para teraniaya.


Kini setelah penantian panjang, Yoshio tidak yakin, apa balas dendamnya itu masih penting. Luka hatinya memang tidak bisa sembuh, tapi Minami sedang menerima hukumannya. Puluhan, ratusan hingga ribuan kali. Di setiap kehidupan, ia akan dipertemukan dengan hal yang sama. Yamashita Kasetsu. Keduanya akan terus saling membunuh. Ini adalah kesempatan terakhir dan putri Yuka yang telah dibangkitkan dari ingatannya, ikut mengacau.

__ADS_1


Yoshio tak lagi bisa berkata-kata. Apel yang sempat digenggamnya, menggelinding jatuh. Bersembunyi di bawah tempat tidur.


"Aku pergi."Ia bergumam, menyeret langkahnya mendekati pintu. Minami tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya menangis, menyalahkan apa yang telah terjadi.


Setelah kepergian Yoshio, ruangan itu terasa kosong. Udara kemudian mendadak dingin, menusuki kulit lembab Minami. Seseorang datang, menembus tirai lalu berdiri di atas kekuatan angin.


"Apa kau tidak bosan menangis, putri? Selalu saja berakhir seperti ini. Tidakkah kau sadar? Itu sia-sia?" Dewa kematian bertanya, terdengar seperti kelakar kosong. Bibir hitam miliknya bergerak sinis. Membungkam isakan sang reinkarnasi.


Nekomata di atas pundaknya ikut mengeong, memutar ekornya.


"Aku tidak butuh belas kasih. Pergilah dewa, aku ingin sendiri." Minami menyahut, tanpa menoleh sama sekali. Lututnya ditekuk lalu dibenamkannya wajahnya di sana. Terisak lagi.


"Aku datang karena menginginkan pusakaku. Silumanku tidak akan kubiarkan hidup terus-menerus dalam pecahan ruby. Setelah kesempatan terakhir ini selesai, aku akan mengambilnya dari tanganmu. Mungkin kau akan terpenjara di Neraka, atau menghabiskan hari tuamu dengan penderitaan. Itu bukanlah pilihan, tapi takdir yang telah kau pilih sendiri. Kalian hanya perlu mengingkarinya. Itu saja." Dewa kematian mengembangkan senyum pucatnya, mengelus ekor Nekomata yang terus bergerak gelisah.


Minami bungkam. Tak berapa lama, seperti bosan, Dewa kematian pergi. Menyatukan sosok transparannya dengan angin, bergerak keluar melalui ventilasi, serupa kabut tipis.


Ruangan itu kembali kosong. Minami mendongak, mengusap air mata dengan punggung tangannya. Tidak ada gunanya menangis. Jika benar ini adalah kesempatan terakhir, cepat atau lambat, Yamashita harus lebih dulu dimusnahkan.


Terbayang sudah di pelupuk mata Minami kucuran darah musuh abadinya. Amis dan mengental, seperti adonan cat kemerahan. Yamashita selalu menjerit, tapi tatapannya lebih ke perasaan kosong. Bayangan rasa sakitnya tidak lebih dari kekecewaan. Minami ingat, ia tidak pernah terbunuh, tapi ialah yang selalu menjadi pembunuh. Yamashita Kasetsu mati di setiap kehidupan hanya untuk ditikam.


Sengajakah? Mengalah? Tapi untuk apa?

__ADS_1


Minami terdiam, menggigiti bibirnya. Tak ada satupun jawaban yang berhasil ia temukan.


__ADS_2