
Di sudut lain kota Tokyo, hujan tidak kunjung berhenti. Langit masih suram dan rintiknya jatuh mengenai ujung sepatu sport milik Yoshio.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, lalu lalang manusia tak lagi sepadat satu jam terakhir. Mungkin sebentar lagi suasana halte dekat sekolah itu akan sepi. Menggantinya dengan suasana gelap dan dingin.
Semenit menatapi layar ponselnya, gigi Yoshio tiba-tiba mengerat, seperti merasakan sesuatu yang tengah mendekatinya secara diam-diam dari belakang. Di halte itu hanya ada dua orang siswa klub Judo dan dirinya sendiri.
"Hei, apa perlu kau memasang wajah seseram itu?" Kotomi muncul dari balik gelap dengan sebuah payung di atas kepalanya. Jaketnya yang hitam, seakan bersatu dengan suasana suram.
Yoshio mendengkus keras, merapikan ujung celana sekolahnya. Jika diingat, mereka tidak pernah cocok. Entah bagaimana mereka pernah menjalin sebuah hubungan.
"Ayo pulang. Kau menungguku kan? Hari ini aku bawa mobil. Kita bisa bicara selama perjalanan,"kata Minami menarik tangan Yoshio ke arah lapangan parkir.
Tidak ada penolakan karena dari awal, ia memang menunggu Kotomi. "Biar aku yang bawa."Yoshio dengan sigap merebut tangkai payung. Kotomi terlalu pendek dan kepalanya berkali-kali terbentur langit-langit benda hitam itu.
Sesampainya di depan mobil, payung itu langsung di lipat, dimasukkan ke dalam bagasi oleh sang supir pribadi Kotomi. Kelihatannya, laki-laki paruh baya itu setengah mengantuk.
"Apa kau serius dengan gadis pecundang itu?" tanya Kotomi setelah mereka duduk di kursi bagian belakang.
Mobil kemudian melaju, membelah genangan air di depan pintu keluar. Yoshio menghela napasnya, sedikit kesal karena terus mendengar pertanyaan yang sama.
"Aku di sini tidak untuk menjawab pertanyaanmu,"dengkus Yoshio menekan sedikit intonasinya.
Gadis berambut sebahu itu mengendik ragu, menatap banyaknya air yang menempel pada kaca jendela sebelah kirinya. "Jangan mendebatku. Kau jelas hanya ingin membuatku cemburu, kan?" usik Kotomi tersenyum sinis. Selama ini, pria manapun bersedia merangkak di bawah kakinya. Harta juga penampilan membuat Kotomi yakin, bahkan Yoshio yang pernah mencampakkannya akan kembali mengiba.
"Sepertinya kau salah paham. Turunkan aku di sini!" Yoshio memberi isyarat pada sang supir agar menepi. Ia tidak peduli lagi. Harga dirinya lagi-lagi diabaikan oleh mantan pacarnya. Inilah kenapa dulu, Yoshio tidak yakin akan bertahan lama dengan Kotomi. Gadis itu begitu egois, seakan di kehidupan sebelumnya, ia adalah manusia tertindas.
__ADS_1
Mesti kesal, Kotomi hanya mampu membanting tas mahalnya ke punggung Yoshio. Pria itu tak menggubris, tetap turun lalu menutup kasar pintu mobil.
"Dengar, kau akan menyesal!"Kotomi berteriak lewat jendela yang ia turunkan.
Yoshio menggeleng, jenuh akan sikap Kotomi. "Kau selalu bilang padaku. Kau mencintaiku. Apa sekarang kau sadar? Sikapmu bahkan tak lebih dari penyiksa semua orang."
Ucapan Yoshio membungkam mulut Kotomi. Keduanya saling tatap dengan pandangan berbeda. Jika dalam hati gadis itu masih ada setitik perasaan tulus, Yoshio yakin suatu saat, akan ada yang berubah meski itu sangat sedikit.
Masih berteriak tidak terima, mobil itu pergi, membawa Kotomi dengan umpatan yang ia serukan sepanjang jalan.
Yoshio menatap kepergian mobil itu, mengusapi tetesan air hujan pada wajahnya berkali-kali. Tak lama ia pun berbalik, memutuskan melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
Yoshio sedang sial karena turun di tempat yang jauh dari halte dan fasilitas umum. Dengan tubuh berbalut pakaian juga alas kaki basah, kemungkinannya kecil akan ada taksi yang mau menampungnya. Kursi basah hanya akan merepotkan penumpang berikutnya.
Berjalan sekian menit di tengah guyuran hujan, sekitar seratus meter dari tempatnya berjalan, Yoshio terkejut saat melihat sosok Minami.
Yoshio merasakan jantungnya berdesir begitu tajam. "Mina-san!"Berteriak kencang, pria tinggi itu berlari penuh kekhawatiran.
Bukan hanya Minami, Yamashita juga terkejut. Insting silumannya bahkan langsung merespon lewat geraham kencang dan tajam.
Merasakan hal buruk, Minami berinisiatif untuk mendekat lebih dulu. Tapi, Yamashita lebih cepat. Bahunya dicengkeram, menarik mundur Minami.
"Aku tidak suka saat aku bicara, kau pergi begitu saja!"bisik pangeran berambut perak itu mengancam. Di matanya, Yoshio tidak lebih dari sampah. Seribu kali kehidupan, ratusan kali ia merebut milik orang lain.
"Lepaskan. Atau aku...,"
"Atau apa? Dasar omong kosong!"potong Yamashita menggeram kesal. Ditatapnya Yoshio yang kini tengah berdiri untuk mengatur napasnya.
__ADS_1
"Kenapa kau belum pulang?"Yoshio menggeleng bingung. Pertanyaan juga caranya bersikap seakan menyiratkan bahwa ia tidak menyadari keberadaan Yamashita.
Minami tergagap, tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Jika Yamashita tidak terlihat, kenapa wajah Yoshio tegang?
"Ayo, pulang. Aku akan mengantarmu." Berusaha abai, Yoshio menarik ujung tangan Minami. Sore sudah berganti malam dan jalanan mendadak sepi tanpa kehidupan. Lalu lalang kendaraan juga barisan manusia di atas trotoar, lenyap, dihisap oleh tenaga yang lebih kuat dan besar.
Yamashita Kasetsu semakin mempererat cengkeramannya. Ia seakan tidak peduli tenaganya itu akan melukai Minami. Tak lagi tahan dengan sandiwara palsunya, Yoshio mengalihkan pandangannya.
"Makhluk apa kau? Pergi atau aku akan meremukkan jasadmu!"Yoshio marah, mengacungkan telunjuknya pada Yamashita.
Petir kembali terdengar, kali ini lebih keras-- mirip lolongan sang penguasa langit. Minami yang berada di tengah dan ditarik dari kedua sisi adalah korban pertama. Jemari juga bahunya terluka, tapi mulutnya entah kenapa memilih diam. Seakan rasa perih terhapus oleh perasaan takut luar biasa.
Wujud Nekomata membayang jelas melalui kulit juga kuku tajam Yamashita. Itu tentu saja adalah sihir yang tidak mungkin bisa di pulihkan oleh Yoshio--reinkarnasi biasa.
"Kau melukainya! Lepaskan!"Yoshio mengeratkan jarinya, tidak mau mengalah meski Minami kini telah merintih kesakitan.
Mendengkus keras, didorongnya tubuh Minami ke arah Yoshio. Gadis lemah itu terhempas kuat, masuk ke dalam pelukan kekasihnya.
Ada seringai puas yang disembunyikan oleh Yoshio saat Minami mendekap tubuhnya. "Pergi! Atau kupanggil polisi!"teriaknya, berdiri setegak yang ia bisa. Hujan bukan hanya membuat mereka basah, tapi menggigil kedinginan.
"Cih! Dasar pesuruh rendahan. Lihat saja, aku akan menyeretmu kembali ke masa lalu. Saat hal itu terjadi, dewa bahkan tidak akan bisa mengubah apapun!"Yamashita tertawa geli. Polisi? Penjaga neraka sekalipun, tidak berkutik pada statusnya.
Minami menangis, bukan karena ancaman menakutkan Yamashita, tapi apa yang tengah dirasakan hatinya.
Gelembung ingatan yang bersatu dengan buih hujan, masuk ke dalam mata Minami. Ada ratusan kenangan, luka dan air mata.
Apa yang kau rasakan, putri? Nekomata menjerit dari dalam hati Yamashita. Siluman itu menatap kepedihan dari reinkarnasi Kaguya. Jika kenyataan tidak seperti fakta, apakah kau akan membencinya?
__ADS_1