
Langit kembali bergemuruh, mengatakan sesuatu lewat petir kecil yang membelah suara air laut.
Minami beringsut, mendekati Yamashita dengan tatapan marah. Pria itu seperti orang gila baginya, tapi ia tidak bisa mengabaikan kekuatan Nekomata yang menghuni tubuh Yamashita.
Menepis tangan Yoshio, Minami beringsut, mendekati Yamashita. Air laut tiba-tiba terasa seperti pasang, meniupi kedua kaki suami istri itu. Yoshio tak bisa berbuat apapun, tubuhnya seakan terpaku oleh sesuatu.
Di tepian lain, malaikat kematian muncul, menjelma bersama cahaya matahari sore yang sebentar lagi tenggelam di tengah laut.
"Apa kau menginginkan kematianku? Ayo akhiri saja, angkat katanamu dan tebas leherku." Minami berbisik, nyaris tidak terdengar serius. Tapi, tatapannya sangat tajam dan dalam.
Malaikat kematian tertawa hambar. Mendengar ancaman dari reinkarnasi Kaguya, bukanlah hal baru baginya. Bahkan serasa ada yang menggelegak dalam perut, ingin muntah. Jika bukan karena pemimpin langit, ia tidak akan mau membuang waktunya hanya untuk sepasang kekasih bodoh. Mereka sudah menghabiskan hampir separuh umur bumi, bereinkarnasi ratusan kali dan selalu berakhir seperti ini.
Nekomata peliharaannya butuh istirahat panjang, tapi masalah tetap saja belum menemui ujung yang jelas. Dewa kematian muak kalau harus melihat pemandangan yang sama untuk ribuan kali.
Kebencian...kebencian... Kebencian... Bagaimana mungkin ada kebencian yang sanggup membuat sakura bermekaran?
"Tidak semudah itu, wanita sial. Kau telah banyak menjebakku. Kau harus menemui kepedihan panjang sebelum jantungmu berhenti berdetak."Yamashita merengkuh tubuh Minami, mendorong Yoshio dengan angin yang digerakkan lewat ujung jari.
Reinkarnasi Hiroshi itu terjengkang. Dengan mudah menjerit hanya karena Yamashita mengeluarkan sedikit kekuatan Nekomata.
__ADS_1
Minami mendengkus, menatap keramaian di sekelilingnya yang lagi-lagi membeku. Ia menangkap bayangan dewa berwajah pucat yang menatap ke arah mereka. Minami tahu, itu dewa kematian. Seringai hitam yang mengumpul di mulut sang dewa seperti memberinya kabar buruk yang menyedihkan.
Minami kemudian menoleh pada Yoshio. Pria itu masih bisa bergerak, melawan kematian waktu dengan geliatan sakit di punggungnya.
Dia Hiroshi, bisik gelembung ingatan yang meletus di kepalanya. Minami mengernyit, mendorong kencang Yamashita yang tengah mengurung tubuhnya dalam lingkaran lengan.
"Apa kau akan mengulanginya? Berapa banyak lagi reinkarnasi yang harus kita lalui hanya karena kesalahpahaman!" teriak Yamashita memelototi Minami. Istrinya seperti menusuki harga dirinya dengan memutuskan untuk berlari ke arah Yoshio. Bedebah yang sama--sosok rendahan yang tatapannya tidak pernah berbeda. Terselubungi oleh sebuah dendam.
Yoshio tergelak dalam hati, tentu saja, tanpa sadar ia melakukan ejekan samar saat membalas musuh ribuan tahunnya--Yamashita Kasetsu, kaisar, atasannya di masa lalu.
Ia hanya butuh sedikit kepintaran untuk menghasut Kaguya. Di masa itu, sebenarnya, Yoshio tidak sendiri. Ajudan tampan, polos dan penuh dengan dedikasi di buat kotor oleh dendam, rasa malu juga penghinaan. Para dewa terlalu lemah karena membiarkannya masuk untuk mengacaukan persatuan dua elemen dunia.
Yoshio tidak yakin dengan apa yang tengah menguasai dirinya secara tiba-tiba. Tapi, ia tahu makhluk itu--Yamashita adalah musuhnya sekarang. Melarangnya menyentuh Minami seperti ajakan berperang.
Jika dulu, Kaguyalah yang dibutakan oleh amarah, kali ini Yoshio. Reinkarnasi ajudan Hiroshi itu mengepalkan tangannya. Bangkit, mengabaikan ucapan Minami.
"Tidak. Apapun yang mereka perbuat dalam kehidupan ini, hanya akan berakhir dengan beberapa memar juga tetesan darah. Kekuatan saudaramu yang bersemayam dalam tubuh calon Kaisar tidak cukup besar untuk meremukkan Hiroshi. Berdoalah, agar Kaguya mengalami hal buruk. Aku melihat takdirnya tiba-tiba memutus. Ada yang sedang merencanakan sesuatu di luar kendali kita." Malaikat kematian menoleh, mencari kekuatan lain, yang lebih besar dan mengancam.
Tak ada apapun di tepian laut dengan waktu yang telah membeku. Tetesan air bahkan berhenti bergerak. Hanya orang yang berkaitan di masa lalulah yang diberi kesempatan untuk ikut ambil bagian.
"Dia, Tuan." Nekomata kembali menggerakan ekornya, mengeong kencang pada sosok wanita lain yang sedang berdiri tak jauh dari mereka. Ia memang tidak sedang bicara atau menggerakkan inderanya, tapi tatapannya yang begitu hidup, memancar, mengikuti setiap kejadian di depan matanya.
__ADS_1
Yoshio yang saling mencengkeram dengan Yamashita. Pria yang menurut gadis itu adalah kumpulan pejantan bodoh yang meributkan wanita kualitas rendah. Ia mendengus, berbisik kecil --nyaris tanpa suara.
"Dia putri Yuka, aku tidak menyangka, ada reinkarnasi seperti itu--sudah cukup dengan Hiroshi. Kenapa dia ikut mengacau?" Malaikat kematian memangku dagunya. Dengan berekspresi santai, ia melayang, menatap lebih jelas pada gadis culas itu. Di masa lalu, ia di hukum mati dengan Yoshio. Tuduhan mereka hampir sama, melakukan tindakan tak senonoh dengan niatan memikat Yamashita.
"Lama tidak bertemu, putri. Apa ingatanmu sedang memperdaya akal sehatmu? Pergilah. Kau bisa merusak rencana pensiun peliharaanku,"katanya mencoba mencuri perhatian gadis itu.
Matanya gelap dan kosong. Kotomi serasa dirasuki oleh dirinya yang lain. Malaikat kematian sengaja memberi gelembung ingatan hanya pada Yamashita dan Kaguya. Jika Kotomi juga Yoshio bertindak di luar kesadaran, kemungkinan besar itu adalah arwah mereka dari masa lalu.
"Lama tidak melihatmu. Kau tidak berubah, Dewa. Pucat, pendek dan bau mayat,"decihnya mengibaskan tangan. Ia sama sekali tidak peduli, ketika suara meongan Nekomata terus-menerus terdengar di telinganya. Pandangan matanya menyala penuh gairah, menanti 'hasil' dari perbuatannya.
"Hentikan! Kita bisa bicara tanpa melibatkan siapapun! Ini masalah kita, jadi jangan lukai orang lain." Minami menjerit, mencoba membuat celah di antara keduanya.
Sia-sia. Bahkan Kotomi terkekeh senang melihatnya. Ia bersidekap, membuang wajahnya kepada sang dewa,"kau harus menjadi saksi pertama. Kaguya Arashi kupastikan tidak akan pernah bahagia. Meski ia telah berbuat segunung kebaikan, para dewa telah mengutuknya, bukan?"Gadis itu menyeringai senang, seolah penderitaan Minami layaknya hiburan orkestra.
Yamashita merasa heran karena kekuatan Nekomata serasa hilang dari tubuhnya. Ia mengerjap, mendorong penuh kekuatan. Sepertinya sia-sia. Yoshio semakin mendesaknya.
Minami sudah kehabisan akal, mencoba memutar otaknya. Hingga tiba-tiba saja, di titik akhir, ia merasa aneh karena mendapati kepala juga perutnya sakit luar biasa.
Kotomi terkekeh, Dewa kematian mengeryit dan kedua pria yang tengah berkelahi langsung berhenti--menatap panik pada Minami yang jatuh tidak sadarkan diri.
Senja seharusnya sebentar lagi lenyap, berganti kegelapan total. Tapi waktu yang terhenti belum juga dipulihkan.
__ADS_1
Sang dewa mengintip, melihat dengan matanya bagaimana reinkarnasi Kaguya tergeletak tak berdaya.
Ada darah segar yang mengalir lewat hidung juga kuping Minami. Apa aku akan mati? Bisik jiwa Kaguya Arashi. Aku menyesal, telah membuat perjalanan panjang denganmu. Jika aku lagi-lagi mati, kita tidak akan bertemu lagi.