Mr. Cat

Mr. Cat
episode 22


__ADS_3


Minami memasuki kelasnya dengan seragam olahraga. Alas kaki khusus ruang musik dan jepitan rambut yang terikat setinggi telinga.


Mungkin air kotor yang disiramkan padanya sejenis rendaman natto. Meski menyempatkan mandi, baunya masih tercium hingga hitungan meter.


Saat Minami duduk di bangkunya, hampir seisi kelas menyingkir. Mengibaskan udara dengan tangan.


Gadis itu tidak peduli. Sekalipun diusir, ia tidak akan keluar dari kelas begitu saja.


"Mina-san, apa akal sehatmu sudah putus? Baumu menjijikkan!"ucap seseorang berdiri kemudian menendang bagian belakang tempat duduk Minami.


Hampir separuh kelas menggerutu. Sedangkan Kotomi yang duduk di barisan paling depan tersenyum, menikmati hasil kerja anak buahnya hari ini.


Tak sampai di situ, kepala Minami dijadikan sasaran pelemparan remasan kertas dan bungkus makanan. Tapi, gadis itu mencoba untuk menahan emosinya. Amarah yang tidak pernah ia rasakan, serasa siap membuncah.


Jika menangis adalah sifat seorang pecundang, kali ini Minami tidak melakukannya. Sesuatu dalam jiwanya mengubah butir air mata menjadi energi lain.


"Ada apa?" Seseorang tiba-tiba melangkah masuk, menjijing tas dan tiga buah buku tebal. Itu adalah sensei Sakurai, pengajar bahasa inggris yang sedang proses pengajuan cuti hamil.


Minami memasang ekspresi kacau. Ujung uwabaki pengganti sepatunya yang basah, dijapitnya erat-erat. Kekesalan terkumpul di sana. Percuma berteriak, semua masalah yang ditimbulkan Kotomi akan lenyap seperti asap tanpa api.


Ditengah ketidak pedulian siapapun, sensei Sakurai hanya melirik sekilas pada Minami. Ia menggeleng kecil kemudian berjalan acuh menuju pintu, menyuruh seseorang ikut masuk.


Minami bisa mendengar detak jantungnya sendiri begitu mendengar suara ketukan sepatu si 'tamu'.


Seharusnya ia tidak menganggap ucapan Yamashita sebagai lelucon. Meninggalkan si kucing jantan di toilet bukanlah keputusan bagus. Terbukti mata Minami membeliak saat menemukan sosok 'lain' yang berjalan di belakang sensei Sakurai. Menatapnya--setengah menyeringai.


Kini bukan lagi kegaduhan, tapi suara bisikan yang memuji.


Apa kucing itu sinting? Bagaimana bisa dia menyamar menjadi seorang guru tapi berpenampilan seperti boyband Korea?


"Ini adalah sensei Yamashita. Pengajar sementara. Kalian akan belajar dengannya hingga semester akhir. Dia lulusan Harvard dengan nilai yang nyaris sempurna,"ucap Sensei Sakurai memberi isyarat agar Yamashita maju ke depan untuk memperkenalkan diri.

__ADS_1


Minami tidak mengerti sihir seperti apa yang bisa mengubah pangeran dari zaman purbakala menjadi seorang jenius?


Sedang dari tempatnya berdiri, Yamashita menatap dingin pada istrinya. Minami memilih membuang wajah, menyingkirkan beberapa bungkus makanan juga remasan kertas pada bahunya.


Suasana berubah gaduh, pertanyaan demi pertanyaan dari seisi kelas seakan


tenggelam berganti dengungan tak berguna di telinga Minami.


Awalnya ia tetap tak peduli hingga tatapan Kotomi pada


Yamashita membuat alisnya menyatu. Jelas Minami tidak suka dengan senyum gadis penindas itu. Anehnya di saat bersamaan ia malah kesal dengan dirinya sendiri karena menggerutu untuk sesuatu yang tidak jelas.


_____


Jam menunjukkan pukul 4 sore. Setengah berlari, Minami menembus hujan yang tiba-tiba turun di sepanjang jalan menuju trotoar.


Seragamnya masih basah dan ia terpaksa pulang memakai kaus olahraga dan celana training.


Ini adalah hari rabu, Yoshio selalu mengikuti klub tenis yang diadakan di lapangan sekolah hingga jam 7 malam. Tadinya Minami akan menunggu, tapi karena ia harus mencuci seragam, niatnya batal.


Berjejer bersama yang lain, Minami duduk di bangku toko yang telah tutup.


Langit tidak mendung, bagaimana bisa hujan? Minami bergumam, menolak setiap pikiran negatif yang mulai menyerangnya. Sudah cukup kejutan untuknya hari ini. Sepanjang waktu di kelas tadi, pria itu berhasil mengalihkan perhatian semua murid perempuan. Minami yakin, tidak lama lagi dunianya akan penuh dengan tangisan.


Baru saja ia akan melamun, saat tiba-tiba saja dari belakang, terdengar suara yang sangat familiar.


Dua orang di samping Minami bergeser, memberi jalan pada seseorang.


"Sensei, maaf saya tidak melihat Anda."Minami mengukir senyum masam di bibirnya. Buru-buru ia bangkit, memasukkan sebelah kakinya ke dalam sepatu kets.


Darimana siluman itu muncul, Minami tidak peduli. Jika dia mampu mengikutinya seperti sekarang, kenapa harus menjadi seorang guru?


"Seperti biasa, kau sangat kasar. Ayo, cepat pulang atau kau akan mati kedinginan di jalan!"seru Yamashita meraih sebuah topi dari sakunya.

__ADS_1


Minami tidak suka saat tangannya ditarik keluar dari sana. Sebuah payung berukuran besar muncul, seperti keajaiban yang tidak di sadari siapapun.


Minami akhirnya menurut, berjalan bersebelahan dengan Yamashita. Pria itu begitu tinggi, seperti pagar yang melindungi Minami dari hujan juga angin.


"Ini tidak akan berhasil, Pangeran. Kau tidak bisa mengubah perasaanku. Sekalipun kau berteriak aku adalah milikmu, di kehidupan sekarang, besok dan seterusnya, kita akan terus seperti ini."Minami membuka suaranya, menikmati air yang berlarian masuk ke dalam lubang saluran air di sepanjang perjalanan mereka.


Pria yang melindungi kepalanya dengan topi itu menoleh, helaan nafas terdengar dari mulutnya.


"Tapi aku butuh ingatan itu, putri. Sebenarnya apa yang telah kita perbuat sampai-sampai menerima hukuman seburuk ini?"Ia berbisik, mengimbangi ucapan Minami.


Gadis itu, baginya begitu kecil dan rapuh. Kecantikan Kaguya memang mulai terpancar dari wajah 17 tahunnya, tapi hal menyedihkan justru keluar setiap ia memperlihatkan kemarahan.


"Ya, sekarang apa yang kau inginkan? Mengikutiku? Lihat apa hasil dari pernikahan konyol kita. Perjanjian tinggal perjanjian. Kutukan itu sepertinya akan tetap melekat pada tubuhmu sampai kapanpun." Minami mengeratkan giginya, berharap emosinya masih bisa dijaga.


"Seharusnya aku membiarkan kau bunuh diri bukan? Itu akan lebih mudah."Yamashita menyeletuk kesal, mengigiti ujung bibir tipisnya.


Tak lama, seperti diberi aba-aba langkah mereka berhenti di sebuah jalan sepi. Berpandangan di bawah payung yang melindungi dari hujan, suara dari hati masing-masing keluar, menyatu dengan gemericik tetesan air.


"Aku melihatmu seperti sebuah hal yang menyakiti mata juga hatiku. Kau pernah bilang ingin mengabulkan tiga dari seluruh permohonanku. Apa janjimu itu masih berlaku?" tanya Minami menyingkirkan helaian basah yang menutupi wajahnya. Payung itu tidak mampu melindungi, membuat basah keduanya.


Mata tajam Yamashita Kasetsu sedikit melebar. Iris gelapnya memberi ancaman kecil.


"Tentu saja. Katakan, aku masih punya sedikit sihir dari Nekomata untuk memenuhi keinginanmu, istriku."


Yamashita yakin, ia saja tidak suka dengan sebutan istri,apalagi Minami yang selalu menahan gerutuannya.


"Pangeran, pergilah sejauh mungkin. Aku tidak ingin melihatmu."


Tiba-tiba terdengar suara petir. Yamashita memegang dadanya, merasakan sesuatu yang menusuki jantung. Tidak ada darah, itu adalah hatinya yang terluka.


"Aku melihatnya." Nekomata dalam jiwanya berbisik," Kaguya Arashi yang mencampakkanmu seperti ini. Ia melakukannya ratusan kali di setiap kehidupan yang kalian jalani."


Hujan kemudian berubah menjadi badai, seakan alam ikut bergejolak, mengekspresikan luka yang dirasakan oleh Yamashita.

__ADS_1


Kau milikku Kaguya Arashi, milikku.


__ADS_2