
Minami yakin, ia sedang tidak mengingau. Suara hujan yang kembali berbaris memenuhi kebisuan tempat tidurnya, saat ini telah bercampur dengan kehadiran sosok lain.
Yamashita Kasetsu, pria berekor kucing yang tengah bersimpuh di atas lantai berdebu kamarnya, tidak juga bergeming. Ia terus menunggu Minami terjaga dengan semangkuk bubur dan sehelai kain basah hangat yang ia letakkan di atas kening gadis itu.
"Putri, ini adalah masa depan. Saya bingung bagaimana caranya menemukan tabib di sini,"gumam pria itu kembali mencelup kain yang mulai dingin itu ke dalam baskom air hangat.
Minami bergumam, merasakan kompres itu menyentuh dahinya lagi. Ia lebih baik sekarang. Bahkan, perutnya tiba-tiba saja berbunyi.
"Tapi kau bisa membuat bubur di atas kompor,"ucap Minami menunjuk mangkuk berisi bubur panas.
Yamashita berdiri mengangkat makanan itu lalu mengambil sesendok penuh ke mulut Minami.
Gadis itu cukup canggung saat Yamashi meniupinya sebelum dimakan olehnya.
"Enak, tapi bagaimana kau bisa memasak? Yang aku tahu di masa lalu, bubur tidak di buat semudah ini,"ucap Minami memberi isyarat kalau ia bisa makan sendiri.
Yamashita mendorong sebuah meja kecil ke tengah lalu membiarkan Minami beranjak menuju ke sana.
"Sejak menemukan reinkarnasi Anda, saya belajar mengenai hal tentang masa depan. Tapi, terlalu banyak yang berubah jadi saya sedikit kesulitan."
Yamashita ikut duduk, menurunkan tatapan matanya kebawah, seolah menghindari kontak mata.
Minami yakin, Yamashita hanya mempelajarinya sedikit. Gaya bicara, baju dan rambut... ya, rambut panjangnya sangat mengganggu. Tubuh pria itu juga terlihat kotor seperti seminggu tidak menyentuh air.
"Aku belum bisa percaya dengan semua ucapanmu. Maaf bisakah kau memberiku satu bukti saja, agar aku tidak menganggap pikiranku lah yang gila?"
Minami menangkupkan tangan pada mangkuk kosong di hadapannya. Isinya telah habis dan lumayan enak.
"Bukti? Berikan saja perintah, saya akan melakukannya saat ini juga!"
Yamashi langsung menegakkan wajahnya, menatap tajam pada Minami yang mungkin telah menyinggung pribadinya.
__ADS_1
"Aku tidak akan menjadikanmu budak, Pangeran. Tapi, ini hanya sebuah permintaan. Kalau kau bisa memenuhinya, aku berjanji akan melakukan apapun untuk membebaskanmu dari kutukan itu," ucap Minami bersungguh-sungguh.
Yamashita terpaku, sadar kalau itu adalah ucapan serius.
"Katakan apapun Putri. Saya akan mengabulkan semua permintaan Anda."
Keduanya saling tatap dan Minami terlihat sangat khawatir tentang permintaannya itu.
"Bisakah kau mengubah takdir? Aku ingin memperbaiki situasiku. Ada hal yang sangat buruk menimpaku kemarin. Seandainya kau tidak bisa membantuku, jujur saja jangankan menikah. Melanjutkan hidup pun rasanya tidak mungkin."
Ucapan pahit yang keluar dari bibir Minami sontak membuat Yamashita terusik. Ia pikir meski reinkarnasi putri Bulan mengalami masa sulit, tidak ada alasan apapun untuk mengakhiri hidup. Kecuali masalah harga diri.
"Maafkan saya, putri. Mengubah takdir termasuk pelanggaran berat. Selain itu saya tidak punya wewenang."
Yamashita menundukkan kepalanya, merasa bersalah sekaligus kecewa dengan permintaan sulit Minami.
Wajah gadis itu berubah mendung, siap menitikkan hujan di pinggir kelopak matanya. Sungguh, Minami terlalu menaruh harapan besar pada kehadiran Yamashita.
"Tapi, bukan berarti saya tidak bisa melakukan apapun. Meski tidak bisa mengubah, kita bisa membelokkan keadaan. Putri, sebutkan saja tanggal, waktu juga tempatnya. Saya akan melompat ke masa itu untuk melakukan apa yang Anda perintahkan."
"Apa aku bisa ikut? Biarkan aku melihatnya dan membuktikan sendiri."
Sang Nekomata dalam diri Yamashita menggerakkan ekornya, menandakan bahwa ia juga ingin mengajak calon istrinya itu. Tapi, tidak sama halnya dengan sang pemilik tubuh, Yamashita. Terlalu berbahaya membiarkan manusia yang sama bertemu dalam satu waktu.
"Tidak, putri. Tunggulah di sini."
...
Kucing belang jelmaan Yamashita Katetsu berlari, menembus rintik gerimis yang sesekali terhalang oleh bangunan tinggi. Genangan air di sepanjang tempat kumuh itu, membuat bulunya basah kuyup
Lubang waktu dimana ia keluar, sedikit jauh dari apartemen Minami. Lokasinya di sebuah gang sempit pada ujung bangunan tua--tempat yang biasa digunakan Kotomi untuk menindas para korbannya.
__ADS_1
Yamashita mulai mengerti saat mendengar bagaimana, calon istrinya mengatakan sesuatu yang sedikit mengerikan tentang dirinya.
Jika benar reinkarnasi putri Kaguya diperlakukan seperti itu, bukan hanya dia, Nekomata yang bersemayam dalam tubuhnya sudah pasti akan marah.
Peliharaan dewa kematian yang menghinggapi Yamashita punya alasan kenapa ia memilih reinkarnasi putri Kaguya untuk melepaskan kutukan itu.
Alasan kuat yang menyebabkan Yamashita Kasetsu tidak bisa bereinkarnasi.
Lima menit kemudian, hujan tiba-tiba berhenti. Mengganti langit muram dengan setitik cahaya kecil ke sebuah lubang gelap dimana Yamashita yang berwujud kucing duduk--menunggu sesuatu.
"Siapa?"seseorang bertanya dari dalam lubang itu, tanpa wujud.
"Yamashita Katetsu. Berikan saya jalan menuju tanggal juga waktu yang saya inginkan,"jawab kucing itu mengeong kecil. Yamashita mengeluh, saat lidahnya tanpa kendali menjilat kaki juga bahunya. Makhluk itu selalu menampakkan kebiasaan hewannya saat ia sedang menjelma penuh.
"Ditolak,"kata suara dalam lubang yang mulai berpusar cepat itu. Nadanya melengking jatuh, sedikit kesal.
Yamashita berdiri dengan keempat kakinya, menggeram kecil.
"Pergi! Nekomata tidak diperbolehkan mencampuri urusan manusia. Segala perbuatan juga keinginan untuk mengingkari takdir, tidak diperbolehkan di sini. Yamashita Kasetsu, seorang keturunan klan bangsawan seharusnya tahu benar izin melompati waktu tidak bisa dilakukan sembarangan."
Yamashita kembali duduk, mencoba bernegosiasi dengan emosi Nekomata dalam tubuhnya.
"Maafkan saya, tapi ini menyangkut reinkarnasi putri Kaguya,"ucap Yamashita merasakan tubuhnya mulai mengering. Dan, angin kemudian menerbangkan helaian bulu kucingnya yang menandakan sebentar lagi wujud manusianya akan kembali.
"Sebutkan alasannya dan takdir apa yang ingin diubah,"ucap suara itu akhirnya.
Selama ribuan tahun, karena sebuah kejadian besar di masa lalu, reinkarnasi putri Kaguya selalu menjadi perhatian para dewa, karena itu sang penjaga waktu sedikit tertarik dengan masalah Nekomata juga kutukan yang melibatkan sang putri.
"Baiklah. Pastikan kau melompat kembali dalam waktu yang telah kutentukan. Ini adalah kesempatan terakhir. Tidak ada alasan lagi untukmu meminta akses ke masa lalu--kecuali saat kau berdiri di depanku dengan membawa calon pengantinmu." Suara dari dalam lubang itu, untuk sesaaat melembut setelah mendengar alasan yang baru saja ia dengar.
Yamashi tersenyum, bukan hanya karena ijinnya diterima tapi tubuhnya yang telah kembali menjadi manusia. Ekor Nekomata yang mengganggunya di saat terakhirpun kini ikut menghilang.
__ADS_1
Pria itu lalu berdiri, bersiap mengambil ancang-ancang untuk melemparkan dirinya ke lubang yang semakin lama berpusar semakin kencang.
Saatnya menolong sang putri--calon istriku.