Mr. Cat

Mr. Cat
episode 10


__ADS_3


Kamar pengantin itu tidak dihias oleh apapun. Pencahayaannya sangat redup, bahkan seketika berubah buruk saat rintikan salju tiba-tiba bercampur angin lalu hujan sekaligus.


Fenomena itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Entah apa yang sebenarnya alam ingin katakan, Minami hanya mampu diam, membawa kucing jelmaan Yamashita menyusuri bagian remang kamar itu.


Diluar, para pelayan telah pergi. Menembus badai dan berjaga semalaman di teras lain untuk menunggu perintah di tengah malam.


Saat petir tiba-tiba menggelegar, angin musim dingin memaksa masuk, meniupi setiap lentera yang digantung di tiap-tiap penjuru.


Minami meletakkan Yamashita di atas alas tidur yang berisi bulu angsa berselimutkan sutra.


Mata pria dalam wujud Nekomata itu, bersinar kecil. Mulutnya yang dipenuhi taring mengeong, seolah memerintahkan sesuatu.


Seakan mengerti, Minami segera bergerak ke arah lain, mencari tumpukan pakaian bersih di atas meja warna kecokelatan. Ia lalu memutuskan untuk menarik sebuah hakama sederhana berbahan ringan. Mungkin, itu baju tidur jaman dulu.


Tidak butuh waktu lama, hanya lima menit setelah bulu-bulu halus kucing itu mengering, wujud manusia sang pangeran secara perlahan mulai kembali.


Minami mencoba untuk tidak menjerit, karena ia jelas tahu perubahan yang akan terjadi. Tapi, lebih dari itu. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya, menatap tubuh polos seorang pria. Meski tidak jelas, matanya sempat menangkap punggung juga perut pria di hadapannya itu.


Ya, mungkin ia akan bertanya nanti kenapa saat berada di apartemennya dulu, Yamashita tetap memakai pakaiannya saat mengalami perubahan yang sama.


"Putri, bersikaplah seperti reinkarnasimu. Ini sudah malam, dan meski badai menenggelamkan semua suara, tapi tidak untuk telinga para penjaga. Beberapa dari mereka menunggu tepat di depan pintu masuk." Yamashita bergumam, mengaitkan obi dalam lingkaran pinggangnya lalu menyuruh Minami mendekat.


Tatapan tajam pria itu, membayang samar diantara nyala lampion yang bergoyang. Segalanya memang terlihat aneh sekarang, bahkan setelah bermandikan hujan, aura Yamashita ikut menguat.


"Kau juga butuh istirahat. Ganti pakaianmu dengan Yukata sederhana dan berbaringlah di dekatku. Sekalipun kau tidak berpakaian, aku tidak akan menyentuhmu,"ucap pangeran itu menyibak rambut panjangnya yang diikat dan dikumpulkan di atas kepala.


Sebenarnya, ada yang mengganjal di hati Minami. Awalnya, ia pikir Yamashita adakah sosok yang ramah, tapi makin ke sini, sifat aslinya mulai terlihat. Atau itu adalah sesuatu yang wajar untuk seorang putra mahkota? Dibesarkan dalam lingkungan yang serba tunduk di bawah kakinya, membentuk karakter egois dan sedikit semena-mena.


Entahlah, Minami tidak mau ambil pusing. Ia kemudian berjalan ke arah meja untuk menemukan pakaiannya.


Semenit kemudian, ia sudah berdiri di balik papan penghalang yang berisi sebuah lentera kecil.

__ADS_1


Gadis itu tidak tahu, saat pakaiannya terlepas satu demi satu, Mata Yamashita yang awalnya terpejam, kembali membuka.


Ia menatap bayangan Minami, melihat bagaimana istrinya mengganti kimono pengantin dengan yukata tipis. Lekuk tubuh gadis itu terlihat membayang jelas, mengundang keinginan liar dalam otak prianya.


Tapi, janji tetap janji, ia tidak boleh melanggarnya meski tubuhnya akan meledak.


Lima menit menatap setiap gerakan Minami, Yamashita buru-buru memejamkan matanya saat gadis itu keluar, dengan rambut terurai dan helaan nafas panjang.


Malam itu, keduanya sama-sama tidak bisa tidur. Lain dengan Yamashita yang terus berperang dengan hasratnya, Minami berpikir, ada baiknya ia mengutarakan keinginannya untuk pulang ke masa depan.


Ya, ia telah memenuhi janjinya untuk menikah dengan Yamashita. Kutukan itu memang masih ada, tapi ia tidak peduli. Hidup dalam dunia yang asing, membuatnya seperti terkurung dalam sebuah kotak hitam.


Dalam keheningan dan hawa dingin, Minami akhirnya tertidur.


Saat itu, malam semakin merangkak naik, merangkul mendung yang mulai meredakan tangisannya.


...


Jam pasir di atas gerabah membuat bayangan silau yang menyakiti mata Minami.


Tepat di sampingnya, Yamashita masih tertidur, bergelung di bawah selimut dalam posisi yang membelakanginya.


Mungkin pagi sudah terlewat sejak tadi. Matahari sudah lumayan tinggi dan jejak salju menumpuk di beberapa ventilasi ruangan itu.


"Jangan pergi kemanapun. Kita harus membicarakan sesuatu."


Lengan panjang milik Yamashita Kasetsu, menahan kaki putih Minami untuk menjauh dari ranjang mereka.


Gadis itu terkejut, secara perlahan berusaha melepaskan kontak fisik itu dengan penolakan halus.


"Kau bisa bicara tanpa harus menyentuhku, Pangeran. Baiklah, aku juga berencana membicarakan sesuatu denganmu,"ucap Minami merapikan rambut panjangnya yang berantakan dengan jemarinya.


Yamashita berpaling, menelan ludahnya pagi-pagi. Sepertinya, ia harus mengembalikan Minami ke masa depan sebelum ia tidak lagi bisa menahan dirinya.

__ADS_1


"Kau, bicaralah dulu." Yamashita berkata tanpa menatap mata Minami. Pria itu memilih menunduk, memandangi selimut tebal yang menutupi kakinya.


"Bisakah aku pulang? Seburuk apapun kehidupanku di sana, aku ingin tetap menjalaninya dengan baik." Minami tiba-tiba beringsut mendekat, mencari mata Yamashita agar menatapnya.


Entah bagaimana Yamashita mendadak gugup, mencoba mengembalikkan wibawanya yang sempat datang dan pergi seenaknya.


Sejak bertemu Minami, kepribadiannya memang gampang berubah. Yamashita juga heran kenapa Nekomata tidak juga pergi dari tubuhnya meski ia telah menikahi reinkarnasi putri Kaguya.


"Apa kau berniat pergi tanpa suamimu?"bisikan lirih dan tajam dari mulut pria yang tengah menatap lurus padanya, memancing keanehan dari diri Minami Muruka.


Mata coklatnya berkedip, merasakan sesuatu dalam hatinya.


"Bukankah urusan kita telah selesai? Aku sudah memenuhi janjiku padamu. Jadi, kupikir ini akan berakhir dengan mudah,"kata Minami mulai bingung dengan sikap juga situasi yang diciptakan Yamashita.


Alis pangeran Kasetsu itu mengeryit sebal,"Aku tidak pernah mengatakan kau bisa lepas begitu saja dariku, Putri."


"Jadi, apa arti semua ini? Aku tidak mengerti. Haruskah kita terikat hubungan ini selamanya? Jujur aku tidak--bisa." Minami hampir gagal menahan amarahnya. Ia merasa ditipu. Jika sejak awal ia harus menjalin hubungan palsu selama hidupnya, ia akan lebih memilih mati, terjun dari ketinggian seperti rencana awal.


Bukannya melihatnya sebagai bentuk kekecewaan, di mata Yamashita ia malah merasa harga diri sebagai pangeran pewaris kerajaan, telah diinjak-injak oleh gadis biasa.


Matanya seketika memerah kesal, di waktu yang sama, ia mengepalkan tangannya.


"Kau menolakku?"


Minami terkejut, tidak sempat menghindar saat tangan Yamashita menariknya, membekap tubuh juga bibirnya dengan sebuah ciuman kuat dan liar.


Di saat yang sama, lidah Yamashita terulur masuk, menyapu rongga mulut Minami yang dipaksakan untuk membuka.


Bisa saja, gadis itu memberontak seperti gadis baik-baik yang enggan menyerahkan kesuciannya. Tapi, ada yang aneh dengan kendali tubuhnya.


Bagai dikontrol oleh sesuatu, Minami merespon sentuhan Yamashita justru dengan hal yang paling tidak terduga.


Ia menarik kerah Hakama pria itu, merespon lidah juga lumatan pada bibirnya. Hingga--Yamashita tidak lagi bisa mengontrol keinginannya.

__ADS_1


Dalam erangan di atas ranjang tanpa kaki, sebutir air mata meleleh pada pipi Minami.


Ia merasa sakit. Dan--berdebar untuk hal yang tidak bisa dijelaskan.


__ADS_2