My Adult Man

My Adult Man
Teman Ayah


__ADS_3

Handini adalah gadis remaja umur 18 tahun yang saat ini masih berstatus pelajar kelas XII di SMA kota A.


Satu bulan lagi Handini akan menghadapi Ujian Nasional, tentu akhir-akhir ini sangat disibukkan oleh pelajaran tambahan disekolah hingga mengharuskan pulang sampai petang.


Jam menunjukan pukul 16.20 ,pelajaran tambahan telah selesai dari 20menit yang lalu.


Saat ini Handini sedang di halte yang berada di samping sekolahnya, menunggu ayahnya menjemput.


Handini semakin takut karna hari sudah semakin sore walaupun masih terang tapi lumayan sepi disekitar halte yang hanya menyisakan dia dan satu pria berumur sedang menunggu bis.


Handini ingin menghubungi ayahnya tapi belum sempat ia menelfon ternyata Ayah sudah menelfonnya.


"Hallo yah, Ayah dimana?" tanya Handini tanpa sabar mendengar jawaban sang ayah.


"Iya Nak, Ayah sedang dijalan dan macet. Tunggu sebentar Nak, jangan kemana-mana" jawab sang ayah merasa cemas dengan putrinya.


Lalu panggilan telefon terputus setelah Handini mengiyakan.


Terlihat mobil berwarna hitam menuju kearahnya. Saat Handini ingin membuka pintu didepan, suara Ayah menghentikannya.


"Duduk dibelakang Nak" perintah Ayah saat kaca mobil diturunkan dan terlihatlah ada seseorang yang duduk bersamanya.


Handini diam mematung karna jarak yang begitu dekat dengan orang itu, pintu mobil hanyalah pembatas keduanya.


"Kok diem Nak" tanya Ayah heran karna Handini tidak kunjung membuka pintu belakang.


"Dini, mau duduk didepan? Biar Om Farhan aja yang duduk dibelakang" tawar lelaki itu yang ternyata Farhan.


Farhan hampir saja membuka pintu mobil untuk turun namun Handini mencegahnya.


"Gak usah Om, biar Dini dibelakang" tolak Handini karna tidak merasa keberatan sama sekali.


"Nak, kamu masih inget kan sama Om Farhan? Dulu waktu kamu masih SD, Om Farhan suka beliin kamu coklat kalau main kerumah. Dan tadi Ayah jemput Om Farhan dulu di stasiun. Untuk beberapa hari kedepan, Om Farhan akan nginep dirumah kita. Sambil cari-cari rumah yang murah disini, karna Om Farhan akan menetap disini." panjang lebar Ayah bercerita.


"Iya Din, kamu masih inget Om kan? " sambil nengok kebelakang dan tersenyum kepada Dini.


"Om ada kerjaan disini dan kayaknya mau menetap, kamu udah gede sekarang. Udah punya pacar?? " bukannya menjawab malah Dini berdecak sebal.


Ayah dan Farhan hanya tertawa melihatnya.


"Boro-boro pacar, punya temen cowok aja gak ada" ledek Ayah.


"Ihhhhh... kan aku juga masih sekolah ,belum mikir pacar" Handini membela.


"Tapi pas Om seumur kamu ,udah punya pacar banyak tauuu" Farhan meledek sambil nengok kebelakang.


Perdebatan diantara mereka selesai saat mobil sudah masuk ke halaman rumah.


Handini dengan tidak sabar langsung membuka pintu mobil dan berlari.

__ADS_1


"Ngambek dia, aku ledekin mas" Farhan menggeleng-gelengkan kepala.


"Biarin aja lha han" jawab Ayah.


Ayah Handini berumur 42tahun, pertemanannya dengan Farhan 33tahun terjadi saat dulu pernah satu kantor.


Farhan merasa Ayah Handini seperti kakaknya yang selalu memberi nasihat dan membantu saat dirinya kesusahan, begitupun sebaliknya. Hingga pertemanan mereka terjalin sampai sekarang.


DI RUANG MAKAN


"Din, mulai besok yang anter jemput kamu sekolah Om Farhan ya. Karna jarak tempat kerja sama sekolah kamu searah. Daripada Ayah harus muter balik dulu, dan kerjaan Ayah akhir-akhir ini banyak jadi kemungkinan harus lembur" Ayah berhenti sejenak dari makannya dan menatap putrinya.


"Hmm.. iya Ayah" jawab singkat Handini.


Sambil melirik Farhan yang ada di sebelah Ayahnya. Farhan cuek dan tetap menikmati makanannya.


Handini sudah menyelesaikan makannya dan berlalu pergi ke ruang keluarga untuk menonton televisi.


Handini anak tunggal jadi merasa kesepian kalau dirumah, hanya ada Ibu yang menemaninya. Karna Ayah biasanya melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja.


"Kamu gak belajar, sayang?? " Ibu Handini menghampiri putrinya yang sedang menonton televisi setelah ia selesai membereskan meja makan.


"Disekolah udah belajar Bu " jawab Handini karna merasa lelah harus belajar terus.


Ibu Handini terkekeh akan jawaban putrinya.


"Han, sini nonton tv bareng" Ibu memanggil Farhan yang terlihat melintas didepannya.


Handini cuek dan masih tetap fokus menonton tv.


-----


Keesokkan harinya


"Din, kamu pulangnya jam berapa?" tanya Farhan saat mobilnya meninggalkan halaman rumah.


Saat ini Farhan menggunakan mobil Ayah Handini yang satunya, karna mereka mempunyai dua mobil walaupun mobilnya terlihat sudah tua tapi masih layak pakai.


"Jam 4 " jawab singkat Handini sambil masih memandangi pemandangan di luar kaca mobil.


"Dini marah sama Om soal kemaren??" tanya Farhan menebak.


"*M*asih saja bertanya" gerutu Handini


"Maafin Om deh" sambil melirik Handini


"*Da*sar abg labil, gitu aja marah" dalam hati Farhan


"Udah sampe nih, jangan marah-marah lagi."

__ADS_1


"*N*anti gak aku jemput, baru tau rasa" lirih Farhan.


Ternyata Handini mendengarnya dan melirik kearahnya.


Belum sempat Handini menjawab sudah dipotong Farhan.


"Hahahahahaa gak gak, bercanda ko. Udah sana masuk nanti telat. Nanti om jemput jam 4" lalu Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"*D*asar om-om nyebelin, minta maaf aja gak ikhlas" sebal Handini


Dari kejauhan ada seseorang yang mengamati Handini.


"Tumben baru berangkat jam segini, biasanya pagi banget" Salsa menepuk bahu Handini dari samping.


"Iya Sal, kalau berangkat sama Ayah harus pagi banget karna masuk kantor juga jam 7. Tapi tadi sama Om Farhan, temennya Ayah." jawab Handini.


"Om Farhan siapa Din? teman Ayah kamu darimana? kok mau aja ditebengin" keponya Salsa keluar.


"Udah ahh... gak penting juga buat kamu" Handini meninggalkan Salsa yang masih kebingungan karna selama ini Handini selalu di anter oleh Ayahnya.


-----


Handini sedang jalan keluar sekolah menuju halte, tapi belum sampai di halte ternyata Om Farhan sudah menunggu dia di depan sekolah.


"Handini.. Din.. " teriak seseorang dari belakang Handini.


"Radit, ngapain kamu lari-lari? " tanya Handini yang melihat ketua kelasnya sampai lari-lari saat memanggil namanya ,kalau ada urusan kenapa tidak tadi saja pas masih didalam kelas.


"Aku pinjem buku matematika kamu dong, pas kemarin aku gak berangkat ada materi yang tertinggal. Dan punya kamu tulisannya rapi dan lengkap daripada aku pinjem sama yang lainnya" Jawab Radit dengan nafasnya yang belum teratur.


"Kenapa gak tadi aja pas didalam kelas sih Dit"


"Hahaa lupa aku Din" cengengesan si Radit.


Handini membuka pintu mobil dan langsung masuk.


"Cieee gebetan baru tuhhh " goda Farhan.


"Ketua kelas aku minjem buku matematika" Handini menjawab tanpa melihat ke Farhan, merasa enggan kalau di ledek terus.


"Kalau laper itu ada roti" menunjuk roti yang baru ia beli tadi di Supermarket.


Karna emang sedikit lapar, Handini ingin mengambil roti tersebut.


Bersamaan Farhan juga ingin mengambil minuman disebelah roti itu.


Deg..


Walaupun tidak saling menyentuh tapi kejadian refleks tersebut berhasil membuat keadaan hening sebentar.

__ADS_1


Like, klik favorit dan koment ya kalau kalian sukaaaa....


Salam hangat dari Putrie untuk kalian semuaaa... hehehe


__ADS_2