My Adult Man

My Adult Man
Belum Pernah


__ADS_3

Handini merasa bingung akan ekspresi dari suaminya yang mendadak menjadi kecemasan.


"Tidak mas, dia tidak berbuat apa-apa kok"


Farhan perlahan menurunkan tangannya yang berada dibahu istrinya. Ia menghela nafas. Walaupun istrinya mengatakan tidak terjadi apa-apa, namun Farhan harus waspada terhadap Riko.


"Mas, memangnya Riko itu siapa kamu? kalau dia memang teman kamu dari kampung kenapa kamu sepanik itu?"


Handini berusaha melihat wajah suaminya yang kini berbalik arah membelakanginya.


Farhan terdiam. Ia tak mungkin menceritakan apa yang telah terjadi dengan Riko. Itu hanya masa lalu, tak perlu diungkit.


"Mas" Handini menepuk pundak suaminya.


"Iya Din, tidurlah ini sudah malam katanya tadi kau sudah mengantuk" Farhan menoleh dan mencoba tersenyum disela-sela kekhawatiran yang masih dirasakannya.


Handini menghembuskan nafas dengan kasar. Pertanyaannya tidak dijawab membuat Handini pasrah dan berlalu masuk kamar. Farhan menyusul setelah ia menghabiskan teh yang istrinya buat tadi.


Didalam kamar, pikiran Farhan masih menerka-nerka akan apa tujuan Riko datang dihidupnya lagi. Dengan malasnya Farhan meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang. Setelah itu ia terlelap disamping istrinya.


---


Pipinya terasa dingin dan basah. Saat membuka mata, ia terkejut akan seseorang yang ada dihadapannya.


"Mas, udah jam segini kamu gak bangun? "


Farhan meraba pipinya yang sedikit basah.


"Hehe maaf mas, aku habis mencuci sayuran tadi tangannya masih basah"


Farhan tersenyum dan tanpa diduga mengacak-ngacak rambut Handini. Membuat pipi wanita itu bersemu merah akan perlakuan suaminya tersebut.


"Mas udah ijin gak masuk kerja, Din" jawab Farhan sambil menguap, mungkin ia masih mengantuk dan lelah akan kegiatannya kemarin.


"Kenapa mas? " Handini mengikuti langkah suaminya keluar kamar.


"Mas masih agak pegel saja badannya" Farhan mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.


"Mau aku cariin tukang pijet ,mas ? " teriak Handini ,takut suaminya tidak dengar dari dalam kamar mandi.


"Tidak usah, Din" jawab Farhan sedikit berteriak.


Selesai mandi, mereka berdua sarapan bersama. Satu sendokan terakhir berhasil mendarat dimulut Handini, menyisakan suaminya yang masih belum menyelesaikan sarapannya.


"Mas, kau sakit? " tanya Handini dengan cemas.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya pegal saja badannya" Farhan menghentikan makannya karna merasa sudah kenyang, padahal nasi lauknya masih tersisa banyak diatas piring.


"Kok makannya gak dihabiskan mas? Hmm tidak enak ya?" Suaranya melemah. Tidak bisa dipungkiri jika Handini juga masih tahap belajar dan dia juga sesekali melihat tutorial masak dari youtube. Namun dari kemarin suaminya selalu menghabiskan makanan yang ia buat, namun kali ini masih tersisa banyak bahkan mungkin hanya dua suap saja yang ia makan.


Farhan mengibaskan tangannya mengatakan tidak.


"Bukan karna tidak enak, namun mas sedang tidak nafsu makan saja, simpanlah dulu makanannya nanti kalau laper, mas makan kembali" Farhan berusaha menenangkan hati istrinya. Bukan maksud menyinggungnya. Namun sungguh ia sedang tidak berselera makan.


Handini masih menampakkan wajahnya yang sendu. Farhan jadi tidak tega.


"Hmm mas makan lagi deh ini " Satu suapan mendarat dimulutnya. Ia dengan susah payah mencoba menelannya.


"Mas kalau gak nafsu makan gak usah dipaksa" Handini menarik piring suaminya dan meletakkan dimeja dapur.


"Kau marah? " Farhan mendekati istrinya.


"Tidak mas, buat apa marah, kau mau aku belikan obat? " Handini menatap suaminya dalam-dalam.


"Obat apa? " tanya Farhan yang juga menatapnya.


"Hmmm obat buat menghilangkan pegal-pegal" Handini menyudahi menatap suaminya dan beranjak duduk dikursi.


"Tidak usah lah, Din ,mas hanya butuh istirahat aja" Farhan berjalan menuju ruang televisi. Sedangkan Handini membereskan meja makan.


"Mas, kau tidak tidur saja? katanya butuh istirahat kok malah nonton tv" Handini menghampiri suaminya.


"Ya sudah, aku tinggal nyuci baju dulu ya mas" Belum sempat melangkah, Farhan menyuruh Handini untuk menemaninya sebentar. Ia menepuk-nepuk sisi kursinya yang masih kosong mengarahkan Handini untuk duduk disampingnya.


Handini tidak bisa menolak, ia segera mendudukkan tubuhnya persis disamping suaminya, hingga badannya menempel dengannya. Membuat darahnya berdesir dengan hebat.


"Oh jantung, tolong tenanglah" dalam hati Handini


"Kau menyukai acara apa, Din? kalau mau diganti, ganti aja" Farhan menyodorkan remote. Namun Handini menggeleng. Ia tak perduli akan apa acara yang ada ditelevisi. Sekarang ia sedang sibuk untuk menetralkan jantungnya yang berdetak cepat.


"Din.. " Farhan menoleh kearah istrinya.


"Iya mas" jawabnya memberanikan diri menatap suaminya. Namun baru beberapa detik, ia memalingkan wajahnya kembali kearah televisi.


"Kau serius tidak pernah pacaran? " pertanyaan dari suaminya berhasil membuatnya mengalihkan perhatiannya dari televisi dan menatap suaminya kembali.


"Memangnya kenapa mas? " Handini menjawab dengan nada datar.


"Mas hanya bertanya saja, Din, kau tak perlu marah " Farhan terkekeh akan jawaban Handini yang terkesan dingin.


"Siapa yang marah" Handini menyilangkan tangannya didepan dada.

__ADS_1


"Hmm jadi benar, kau belum pernah pacaran? " Farhan menggodanya membuat Handini mendengus kesal.


"Iya aku gak ada waktu buat mikirin pacaran" Handini menjawab dengan nada tinggi.


Farhan tertawa terbahak-bahak. Handini yang kesal lalu memukuli badan suaminya tanpa ampun.


"Aduhh.. aduh.. mas kan lagi sakit Din, malah dipukuli sih"


Farhan mengaduh kesakitan. Handini merasa bersalah.


"Maaf mas, aku kesel sama kamu" Wajahnya yang penuh dengan rasa bersalah bercampur kekesalan sangat lucu dimata suaminya.


"Kesel apa kesel? " Farhan mendekatkan wajahnya ke wajah Handini yang berada disampingnya. Handini refleks menarik tubuhnya kebelakang.


Deg...


Jarak wajah Handini dan Farhan sekarang hanya berjarak 5 cm saja. Nafas yang keluar dari hidung suaminya pun, dapat ia rasakan.


Hawa panas disekujur tubuhnya tak bisa ia hindari. Ia ingin lari tapi tidak bisa. Tangan suaminya sekarang mengunci pergerakannya yang berada disamping sisi kiri tubuhnya, dan suaminya berada disisi kanan tubuhnya.


"Kau berarti belum pernah merasakan ciuman kan? " Mata Farhan masih tak lepas memandangi seluruh wajah istrinya.


Handini merapatkan bibirnya ,tidak bisa berkata apa-apa. Serta matanya melebar menunjukkan kekagetannya akan pertanyaan dari sang suami.


Dubraakkkk...


Suara seperti barang jatuh terdengar ditelinga mereka berdua. Perhatian mereka teralihkan sebentar, lalu tanpa sengaja mereka saling tatap kembali.


"Mas, aku mau liat kebelakang dulu" Farhan mengendurkan tangannya yang berada disisi kiri istrinya.


Handini beranjak berdiri dan segera melangkahkan kakinya menuju sumber suara, meninggalkan suaminya yang masih betah duduk disofa.


Karna Farhan pun penasaran, akhirnya ia pun mengikuti istrinya pergi.


"Apa yang jatuh, Din?" tanya Farhan yang sekarang berada persis dibelakang istrinya. Badan Handini sedikit berjingkat merasa kaget akan kehadiran suaminya yang ia rasa tiba-tiba.


"Gak ada apa-apa mas, mungkin suara dari belakang rumah kita" Handini sudah mengecek semua halaman belakang namun tidak ada satu pun barang yang jatuh ataupun bergeser.


.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih sudah mau membaca karyaku...


Salam hangat dari Putrie untuk kalian semuaa.....


__ADS_2