My Adult Man

My Adult Man
Tinggal Bersama


__ADS_3

Kilat petir yang bersaut-sautan disertai hujan lebat yang mengguyur seluruh kota, kini membuat seluruh badan Handini membeku ketakutan. Wanita itu hanya bisa diam dengan kaki yang ditekuk dan mulut yang tak hentinya mengucapkan kalimat perlindungan dengan nada pelan hampir tak terdengar. Keadaan yang mencekam tersebut hanya dirinya sajalah yang merasakan didalam rumah.


Sang suami telah meninggalkan rumah sekitar satu jam yang lalu dengan alasan ada urusan sebentar diluar. Entah urusan apa, istrinya tidak tahu.


Handini tidak menangis, walaupun ia sangat ketakutan. Boneka pemberian Farhan ,ia raih dan dipeluknya erat. Merasa tenang saat memeluk boneka itu. Menyalurkan rasa hangat dan tentram.


Walaupun masih jam 11 siang, tapi serasa malam hari karna langit yang begitu gelap karna hujan. Padahal sebelum suaminya pergi, sinar matahari masih terlihat jelas dan tak ada tanda-tanda akan turun hujan.


---


Jam dipergelangan tangannya terus bergerak. Membuang waktu percuma hanya untuk menunggu seseorang yang tak diinginkan.


Suasana sepi yang tercipta di cafe ini menambah kejenuhan yang sedari tadi ia rasakan. Hanya ditemani secangkir kopi beraroma capuccino, yang kini sudah tak mengepulkan uap panas lagi.


Pintu cafe terbuka. Pria yang tak asing dikedua matanya kini berjalan menghampirinya. Mendudukkan tubuhnya persis didepannya. Memberikan senyuman kepadanya yang ia duga hanya tipuan semata.


"Maaf aku terlambat, jalanan sangat pa-- "


Pria itu belum selesai berbicara namun Farhan langsung menyelanya.


"Tak usah berbasa-basi, aku kasih waktu 10 menit untuk kau berbicara"


Farhan membuang muka, tak ada keramahan yang terpancar diwajahnya. Ia ingin segera mengakhiri pertemuan ini.


Waktu yang diberikan Farhan selama 10 menit ternyata tidak cukup untuk pria itu berbicara. Dengan sabar Farhan menunggu sampai pria tersebut selesai berbicara hingga tak terasa langit semakin mendung.


Saat dirasa pembicaraan mereka berdua telah usai, Farhan tanpa berpamitan segera melangkahkan kakinya keluar dari cafe.

__ADS_1


---


Suara mesin mobil berhenti didepan rumah membuat Handini segera berjalan keluar. Ia tersenyum saat melihat seseorang yang dinantikannya pulang juga.


Baju suaminya terlihat sedikit basah dibagian atasnya. Handini berlari untuk mengambil handuk lalu menyuruhnya untuk mengganti pakaian.


Matanya tak henti memandangi suaminya yang saat ini memasang wajah seperti orang yang habis marah.


Handini tak cukup nyali untuk menanyakan habis darimana suaminya pergi. Terlalu canggung untuk menanyakannya. Namun ia juga penasaran.


"Mas.. " Farhan menoleh dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak membuat Handini seketika membeku akan ekspresi dari suaminya. Tak ada jawaban yang terucap dari bibir suaminya hanya dahinya yang terangkat keatas.


Handini diam beberapa saat, mencoba merangkai kata yang pas. Namun Farhan malah memilih pergi meninggalkannya sendirian dikamar. Pria itu keluar kamar dan tak tahu akan kemana.


Suara televisi terdengar ditelinganya, dengan cepat ia menyimpulkan bahwa suaminya berada disana. Hujan lebat baru saja berhenti dan kini hanya tersisa gerimis kecil saja.


Langkah Handini sekarang menuju dapur, ia akan membuatkan minuman hangat untuk suaminya. Ia tak merasa sakit hati akan keacuhan yang suaminya tadi lakukan. Handini sangat mengerti bahwa suaminya sekarang kondisi moodnya sedang tidak baik.


"Din " Handini merasa terkejut namanya dipanggil secara tiba-tiba. Padahal ia tadi sedang mencoba menyusun kata kembali untuk mencairkan suasana.


"Iya mas" jawabnya cepat seakan ini pembicaraan yang sangat langka. Handini mencoba tersenyum walaupun tak dibalas.


"Nanti kalau kau sudah masuk kuliah, belajarlah yang sungguh-sungguh. Aku tak akan menuntutmu apa-apa, tak perlu kau setiap saat melayani semua kebutuhanku. Aku akan mencari pembantu untuk dirumah ini, kau bisa leluasa dalam belajar tanpa dibebani urusan rumah."


Perkataan suaminya tidak ada yang salah, malah justru sangat menguntungkan sang istri bukan?


Namun malah ditangkap Handini seolah-olah suaminya tidak senang akan apa yang ia lakukan selama ini. Dengan mata yang hampir memerah, Handini memberanikan diri menatap suaminya.

__ADS_1


"Mas tidak suka sama apa yang aku lakukan selama ini? Apa ada yang kurang? " ia menyudahi pertanyaannya, takut air matanya akan lolos.


Farhan mengernyit heran. Apa maksud dari istrinya tersebut.


"Aku hanya ingin mencarikan pembantu untuk rumah ini, karna nanti--" ucapannya terjeda sebentar, pandangannya menatap kesembarang arah. "Bibi dan sepupuku minggu depan akan tinggal disini, aku tidak bisa membiarkan kau nanti kelelahan sendiri"


Handini terdiam, ia gagal mencerna apa yang dikatakan suaminya barusan. Apa mungkin mereka akan tinggal bersama-sama?


"Aku tak bisa membiarkan Bibiku tinggal dikampung sendirian, ia sedang sakit, aku harus membawanya kesini agar aku bisa merawatnya ,kau tak keberatan kan?"


Handini mengangguk. Bukan masalah keberatan, namun ia yang hanya tinggal bersamanya suaminya saja ,kadang masih merasa canggung apalagi ditambah dengan kehadiran anggota keluarga yang lain dari suaminya tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf kemarin tidak update ya... karna ada kesibukan...


Selamat membaca...


__ADS_2