
"Mereka bukan saudara kandung, pantas saja aku merasakan ada yang berbeda"
"Tapi Lita tahu kalau dia bukan anak kandung dari Bi Nam?" tanya Handini lagi.
"Setelah Lita berumur 17 tahun baru dikasih tahu oleh Bi Nam, karena Ayahnya sudah pulang bekerja dari luar negri sebagai TKI."
Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah melihat jam dipergelangan tangannya. Lelaki itu takut jika telat datang kekantor, benar juga yang dikatakan istrinya, ini jaraknya lumayan jauh. Namun ia tak bisa membiarkan istrinya naik kendaraan umum sendirian atau naik gojek.
Handini merasakan jika mobil yang ia naiki melaju dengan cepat dan seketika menghentikan pembicaraan mereka berdua. Handini memegang pegangan yang ada didalam mobil.
***
Saat ini Handini dan Salsa sedang berada dihalaman belakang rumah Salsa. Yang terdapat taman kecil dan kolam ikan dengan ukuran sedang.
"Din, aku perhatiin kok sekarang kamu agak kurusan sih" Salsa mengamati badan sahabatnya dari atas ke bawah tanpa berkedip.
"Ah masa sih? " Handini seketika berlari ke arah cermin yang terdapat di jendela rumah Salsa yang tak jauh dari jangkauannya.
Salsa menghampiri sahabatnya tersebut.
"Hmm iya, kau agak kurusan, kau sedang tidak sakit kan?" Salsa masih mengamati badan Handini dengan seksama.
"Mungkin karna kau sudah lama tidak bertemu denganku, jadinya merasa beda, padahal badanku masih tetap segini"
"Hmm mungkin" Salsa mengiyakan perkataan dari sahabatnya.
Handini tiba-tiba terdiam membuat Salsa mengernyit heran.
"Kau kenapa, Din? " Salsa mengguncang tubuh sahabatnya. Namun alangkah terkejutnya ketika menyentuh badannya yang terasa panas. Salsa segera menyentuh dahi sahabatnya.
"Ya ampun, panas banget. Kau sedang sakit? Ayo ke kamarku" Salsa menuntun sahabatnya yang masih terdiam.
"Din, aku pinjem hp kamu" Salsa meraih slingbag milik Handini dan segera membuka.
"Kau mau apa, Sal? Jangan bilang, kau ingin memberitahu Mas Farhan" kini Handini mulai berbicara setelah dari tadi ia hanya diam.
"Kau diam saja" Salsa berjalan menjauh dari Handini, mencoba menghindar darinya. Handini pun merasa badannya lemas, sehingga ia tak mau mengejar Salsa.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, Salsa akhirnya kembali menghampirinya.
"Kau berbicara apa saja ke Mas Farhan? " tanya Handini.
Salsa mengembalikan ponsel Handini dan segera berlalu dari sana tanpa menjawab akan pertanyaan dari sahabatnya tadi.
Handini hanya mendengus kesal, merasa dicueki sama sahabatnya sendiri. Selang beberapa menit Salsa kembali kedalam kamar dengan membawa makanan dan minuman serta obat diatas nampan.
"Kamu makan dulu Din, terus diminum obatnya " Salsa menyodorkan nampan ke arah Handini.
Dengan rasa yang malas, Handini menerimanya. Padahal ia tidak mau makan karna cukup merasa kenyang akan sarapan tadi dirumah dan juga merasa tidak nafsu makan.
"Obat apa ini?" tanya Handini sambil mengamati obat tersebut.
"Penurun panas, kamu minum itu aja dulu biar panasnya turun"
Handini hanya diam saja membuat Salsa merasa heran lagi. Sebenarnya ada apa dengan sahabatnya ini, sepertinya dia sedang ada masalah. Tapi Salsa tidak pernah memaksa untuk sahabatnya langsung bercerita jika ada masalah. Salsa hanya bisa menunggu sampai Handini siap untuk menceritakannya. Dan Salsa takut jika itu privasi, kalau ia mendesak maka merasa tidak enak.
"Sal, makasih ya" Handini memegang jari jemari Salsa dengan lembut. Salsa pun merasa kebingungan dengan ucapan sahabatnya yang tiba-tiba mengucapkan terima kasih.
"Buat apa?" Salsa memperhatikan sahabatnya yang saat ini terlihat mukanya sangat pucat.
Handini memejamkan matanya mencoba menetralisir rasa pusing kepalanya. Salsa yang seolah tahu apa yang sedang dirasakan sahabatnya, ia dengan segera memindahkan nampan yang berada dipangkuan Handini ke atas nakas.
Saat akan menuntun Handini untuk bersender diranjang, tiba-tiba badan Handini ambruk dengan kepala hampir jatuh kepangkuan Salsa.
Handini pingsan dan Salsa langsung berteriak meminta tolong. Dengan segera Salsa membawa Handini ke rumah sakit terdekat dari rumahnya.
***
"Ibu... " suara lirih yang terdengar dari bibir pucatnya kini membuat suaminya yang saat ini disampingnya tersenyum.
"Syukurlah kau sudah sadar ,Din" Farhan masih mengembangkan senyumannya.
"Aku dimana mas? " saat Handini membuka kedua matanya yang dilihat pertama kalinya adalah suaminya. Matanya kini menyorot seisi ruangan yang sudah jelas berada dimana ia sekarang.
"Kau sedang berada di rumah sakit sekarang, kau sedang sakit kenapa tidak bilang? kalau mas tau kau sedang sakit, mas tidak akan mengijinkanmu pergi ke rumah sahabatmu." Farhan menerocos tanpa henti, karna ia terlihat sangat mengkhawatirkan istrinya tersebut.
__ADS_1
Belum sempat Handini menjawab, tiba-tiba pintu terbuka yang menandakan ada orang yang akan masuk.
"Sayang... " suara wanita paruh baya dengan wajah yang cemas menghampiri Handini.
Dan juga pria paruh baya yang terlihat wajahnya sangat sedih.
Handini kaget akan kedatangan mereka yang ternyata adalah orang tuanya.
"Ayah, Ibu... " Handini berusaha bangun dan dibantu oleh suaminya.
Pelukan yang lama tidak ia rasakan, kini telah ia rasakan kembali. Kedua orang tuanya menangis haru karna melihat putri semata wayangnya bisa masuk rumah sakit.
"Ibu, kenapa menangis? Handini tidak apa-apa kok, cuma sedikit pusing." Handini mencoba menenangkan Ibunya yang terus meneteskan air mata, membuatnya menjadi ingin menangis juga tapi ia tahan.
Sedangkan Pak Handoyo terlihat menyeka air matanya terus menerus, mungkin tak ingin dilihat oleh putrinya.
"Bagaimana mungkin hanya pusing, kamu bisa masuk rumah sakit." Ibu Ratih merasa cemas sekali, apalagi setelah ia amati betul bentuk tubuh putrinya yang sekarang terlihat sedikit kurus.
"Hmm, tapi Dini gak kenapa-kenapa kok Bu, cuma pingsan aja tadi dirumah Salsa, sebentar lagi pasti dibolehin pulang sama dokternya."
Handini masih berusaha membuat tenang Ibunya.
"Din... "
"Iya Bu" Handini menatap heran Ibunya yang saat ini terdiam.
"Ibu... kenapa Bu?" Handini mencoba memanggil Ibunya kembali.
"Kau terlihat kurus sayang sekarang." Ibu Ratih menoleh kearah suaminya mencoba meminta pendapatnya tentang tubuh putrinya yang terlihat kurus.
"Mana ada kurus sih Bu, Dini dari dulu badannya segini aja kok. Iya kan Din? " Pak Handono merasa tidak setuju dengan istrinya.
"Ahhh bapak ini sama anak sendiri gak pernah diperhatiin, jelas-jelas ini coba liat sampai tulangnya kelihatan." Bu Ratih mencoba menunjukkan beberapa anggota tubuh putrinya.
Farhan yang sedari tadi mendengar perdebatan kedua mertuanya, kini beralih mengamati tubuh istrinya.
..."Apa benar, sekarang Handini kurusan? Tapi aku kok gak menyadarinya."...
__ADS_1
"Ibu kan lama gak ketemu aku, jadi perasaan ibu aja paling, padahal dari dulu tubuh Dini segini-segini aja kok, Bapak juga lihatnya biasa aja."
Ibu Ratih tetep kekeh akan pendapatnya, dan kini beralih menatap menantunya si Farhan.