
Lampu tidur yang berwarna biru kini telah dinyalakan oleh sang pemiliknya. Salsa yang saat ini memakai piyama bermotif doraemon menghampiri Handini yang sedang bersender diranjangnya.
"Din, kamu sering-sering deh nginep disini. Jadi aku ada teman tidurnya. Hehe" Salsa mencoba mengajak sahabatnya untuk bercanda, karna ia tau Handini sedang bersedih atas apa yang telah terjadi pada keluarganya.
Salsa telah mengetahui semuanya saat Handini tiba dirumahnya dan menceritakan apa yang menimpa keluarganya, juga masalah pernikahannya yang akan dilaksanakan 1 minggu setelah acara perpisahan sekolah.
"Mungkin ini terakhir kalinya aku nginep dirumah kamu, Sal"
"Dini... " Salsa memeluk Handini.
"Ketika aku menikah nanti kata Ibu aku harus patuh terhadap suamiku ,kalau kemana pun harus ijin. Dan jika aku tidak diijinkan untuk menemui teman-te..... "
Salsa tiba-tiba memotong perkataan Handini.
"Sssstttt.... aku yakin suami kamu kelak akan pengertian sama kamu, Din. Maafkan aku, soal cerita tentang sepupuku waktu itu membuat kamu takut. Aku tak bermaksud untuk membuatmu takut."
"Ya tidak apa-apa, Sal. Kamu tidak salah. Cepatlah tidur, kamu pasti sudah mengantuk. Aku mau ke toilet dulu."
"Perlu aku antar? " tawar Salsa
"Aku bukan anak kecil "
"Dasarrr... "
Selesai dari toilet, Handini akan segera tidur karna ternyata Salsa sudah terlelap terlebih dahulu.
"Cepat sekali dia tidurnya.. " Handini menarik selimut Salsa hingga menutupi lengan sahabatnya.
Handini sudah bersahabat sejak SMA dengan Salsa, walaupun terhitung baru sekitar 3 tahun. Tapi ia merasa nyaman, begitupun Salsa.
Mereka sudah sering nginep bareng, entah dirumah Handini atau Salsa.
Saat Handini ingin memejamkan matanya, ia dikagetkan akan bunyi notifikasi pesan masuk, dengan segera ia meraih ponselnya yang berada diatas nakas.
"*Din, besok kamu dirumah? Aku boleh main?
Radit*
Handini mengerutkan keningnya merasa aneh atas pesan yang diterimanya, buat apa ketua kelasnya ini ingin main kerumahnya. Jika mau membahas soal perpisahan kelas harusnya digrup saja bukan?
"*Rumahku pindah, aku tidak tinggal disitu lagi. Dan maaf sepertinya aku tidak bisa ikut acara perpisahan kelas nanti."
Handini*
Setelah membalas pesan dari Radit, ia langsung memejamkan matanya. Berharap esok akan ada kebahagiaan yang datang.
----
Drrttt... Drrrttt... Drrrtttt
Getaran yang berasal dari ponsel Handini, kini diraih Salsa karna sahabatnya belum bangun.
__ADS_1
"Om Farhan"
"Din, Dini... bangun... Om Farhan nelfon nih.."
Namun usaha Salsa untuk membangunkan sahabatnya tidak berhasil, ia juga tak tega kalau dengan cara yang kasar.
Akhirnya ia yang mengangkat telfon dari Om Farhan setelah panggilan yang kedua.
"Haloo... Dini" belum sempat Salsa bersuara namun dari sebrang sana sudah memanggil-manggil Handini.
"Maaf, Handini masih tidur ,tadi aku bangunin gak bangun-bangun"
"Oh begitu, kamu bisa share loc.in lokasi rumah kamu? "
"Iya bisa"
"Oke aku tunggu"
Farhan saat ini sedang menyetir mobil dijalanan yang begitu padat, hari ini ia berencana untuk mengajak Handini jalan-jalan. Sebenarnya ia sudah mendapatkan alamat rumah Salsa, tapi karena takut jika tersesat akhirnya ia meminta untuk share loc saja.
"Hooaaammmmm... Hei udah bangun Sal. Hehe maafkan tamu kamu ini ya, yang bangun siang" jawab Handini saat ia melihat jam dinding menunjukan pukul 09.00
"Buruan mandi, terus sarapan karna bentar lagi calon suamimu akan kesini"
Handini yang belum sadar sepenuhnya merasa bingung atas kata suami yang ia dengar.
"Apa maksud kamu? " tanya Handini sambil menyipitkan matanya
"Si Om Farhan katanya mau kesini tadi nelfon kamu, tapi aku yang angkat"
"Barusan. Buruan sana mandi.. "
Salsa mendorong tubuh sahabatnya untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
----
Botol minuman yang berwarna coklat kini menjadi sasaran Handini untuk ia ambil dan juga beberapa makanan ringan dengan berbagai rasa tak lupa ia taruh dikeranjang belanja.
Saat ini Handini dan Farhan sedang berada di supermarket. Rencananya mereka akan ke taman kota, jadi perlu untuk membeli minuman dan makanan ringan untuk cemilan disana.
Farhan dari tadi hanya berdiri mengamati Handini. Setelah dirasa cukup, Handini memberikan keranjang belanjaannya kepada Farhan untuk dibayar.
"Udah nih segini aja? " tanya Farhan
"Iya udah, udah banyak kok" jawab Handini dan dibalas anggukan dari Farhan
Setelah selesai membayar, mereka berdua segera menuju ke taman kota.
Suara anak-anak yang tertawa, suara berisik dari kendaraan yang lewat dan juga suara orang dewasa yang sedang bercerita kini memenuhi pendengaran Handini.
Ini sangat menyenangkan sih, melihat taman kota yang terawat juga bersih dan orang yang mengunjunginya pun patuh akan kebersihan.
__ADS_1
Lalu ditengah-tengah taman juga ada air mancur yang tidak terlalu tinggi namun sangat indah dipandang.
Bangku berwarna putih yang terbuat dari besi kini menjadi tempat duduk mereka berdua. Sibuk dengan pandangan masing-masing yang masih mengamati berbagai macam manusia.
"Din... "
Handini kaget karna tiba-tiba Farhan memanggilnya namun pandangannya masih tertuju kedepan.
Dan tak lama ia menoleh kearah Farhan.
"Apa kamu terpaksa dengan pernikahan kita nanti? " tanya Farhan tanpa melihat Handini
Handini sungguh tak mengerti, kenapa Farhan baru menanyai sekarang.
"Tidak.... Om"
Panggilan Om saat ini sangat sulit sekali untuk Handini ucapkan, karna pastinya setelah menikah nanti ia tidak akan memanggilnya dengan sebutan itu lagi.
"Aku tak melarangmu jika setelah menikah nanti kamu akan kuliah atau ingin masih bersenang-senang dengan dunia kamu, asal kamu tau batasan"
"Batasan? " tanya Handini seksama
Kini Farhan menatapnya, membuat Handini salah tingkah namun dengan cepat ia meredamnya.
"Kamu sudah menjadi seorang istri, jadi jaga jaraklah dengan lawan jenis kamu"
"Benar yang Ayah katakan waktu itu"
"Baiklah... " jawab Handini
"Dan satu lagi "
Farhan merasa sulit untuk mengatakannya, namun mau tidak mau ia harus mengatakannya.
Sepanjang perjalanan Handini hanya diam, ia terfikirkan akan perkataan Farhan ditaman tadi.
Ia tak menyangka bahwa Farhan akan memikirkan hal itu dan masih memikirkan masa depannya.
Tiba-tiba Farhan menghentikan mobilnya membuat Handini menoleh.
"Sebentar " Farhan lalu turun dari mobil, tak mengatakan mau apa hanya berucap sebentar membuat Handini bingung.
Namun saat ini mereka berhenti disebuah restoran dan mungkin saja Farhan ingin membeli makanan untuknya atau untuk dirinya sendiri.
15 menit kemudian Farhan kembali kedalam mobil sambil membawa kantung plastik berisikan makanan.
"Aku membelikan makanan untukmu, setelah sampai rumah cepatlah makan dan aku membelikan untuk temanmu juga"
Handini hanya mengangguk, padahal ia masih kenyang walaupun tadi di taman hanya memakan makanan ringan.
Sebenarnya ia sedang tak berselera makan, karna merasa rindu Ibu dan Ayahnya.
__ADS_1
"Ayah...Ibu... Dini kangen. Semoga Ayah dan Ibu sehat-sehat selalu, maafkan Dini belum bisa bahagiain Ayah dan Ibu"
Selamat membaca...