
2 bulan kemudian
Sudah 2 bulan lebih Handini dan Farhan menjadi suami istri. Tak ada yang berubah dari rumah tangga mereka. Farhan masih dengan sikap misteriusnya.
Handini juga mulai masuk kuliah dengan setiap hari menaiki ojek langganan yang sudah Farhan pilih. Dan ternyata bapak ojeknya adalah suami dari Bu Mae. Tetangga belakang rumah yang pernah Handini kunjungi.
Dan Lita juga sudah bekerja. Ya, gadis berambut pendek itu sudah bekerja satu kantor dengan Farhan. Karna keinginan Bi Nam yang menginginkan anaknya bisa satu kantor dengan keponakannya. Membuat Bi Nam pun tidak khawatir melepaskan Lita bekerja di kota ini.
"Kau mau kemana, Din?" tanya Farhan yang baru saja selesai mandi. Tangannya sibuk mengelap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Ia berjalan menghampiri istrinya yang sedang sibuk memasukkan beberapa barang kedalam sling bag.
"Aku mau ke rumah Salsa mas." jawabnya tanpa menoleh ke arah suaminya. Saat dirasa tidak ada barang yang tertinggal, ia segera memakai sling bagnya.
Bunyi klakson terdengar dari luar. Pertanda Pak Dar sudah menunggunya di depan.
"Mas, aku pergi dulu. Pak Dar sudah menungguku diluar. Kau tak kemana-mana kan? Aku ada urusan sebentar dengan Salsa, nanti siang akan pulang."
"Ya, mas tidak kemana-mana." jawabnya cepat. Dini pun langsung melangkah kakinya keluar kamar.
Lalu Farhan segera memakai kaos dan berjalan menyusul istrinya.
"Din.. " Handini menoleh kaget saat tiba-tiba suaminya memanggil dirinya.
"Kenapa mas?"
Cukup lama untuk Farhan menjawab, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara.
"Mas aja yang nganter kamu ke rumah Salsa, mas akan bilang ke Pak Dar." Tanpa mendengar jawaban dari istrinya, ia langsung menuju ke teras rumah.
"Maaf Pak Dar, istri saya gak jadi dianter bapak, biar saya saja." Farhan memberikan uang lembaran berapa puluh ribu untuk permohonan maaf karna sudah membatalkan.
"Oh gitu mas, udah gak usah, kalau Mba Dini mau dianter masnya."jawabnya sambil mengembalikan uang pemberian Farhan.
"Tolong terima Pak, untuk jajan Jojo."
"Ahh Mas Farhan ini bikin saya gak enak aja, kan tenaga saya belum terkuras dan bensin saya juga utuh, paling habis beberapa tetes saja dari rumah saya kerumah Mas Farhan. Gak enak mas, saya belum kerja udah dapat uang. Tapi gimana lagi ya, saya juga butuh sih.Hehe."
Pak Dar tertawa, membuat Farhan ikut tertawa karna sikap Pak Dar yang menurutnya kocak. Tinggal terima saja uang pemberiannya, kenapa harus berbicara panjang lebar.
"Iya Pak, sekali lagi saya minta maaf."
"Gak apa-apa Mas, sering-sering juga boleh." katanya pelan.
__ADS_1
"Apa Pak?" tanya Farhan yang memang mendengar perkataan Pak Dar barusan. Membuatnya ingin tertawa lagi namun ia tahan.
"Ah tidak Mas Farhan, ya sudah saya pulang dulu. Mba Dini saya pulang dulu, kalau butuh dianter saya lagi silahkan whatsapp ya mba." Pak Dar sedikit berteriak karna posisi Dini yang lumayan jauh darinya.
"Tadi pagi saya whatsapp malah centang satu Pak, akhirnya saya telfon." jawab Dini sambil berjalan ke arah Pak Dar dan suaminya.
Pak Dar menggaruk helmnya dan menjawab "Oh itu, kuota saya habis mba."
Farhan dan Handini pun tertawa bersama sedangkan Pak Dar hanya tersipu malu.
***
"Kau ada keperluan apa ke rumah Salsa?" tanya Farhan yang saat ini sedang mengemudikan mobilnya.
"Hm.. aku mau, mau tanya materi aja." jawab Handini yang terkesan berfikir. Perempuan itu sibuk akan ponselnya. Tiba-tiba terdengar notifikasi pesan masuk.
Farhan menoleh sebentar lalu fokus lagi menyetir. Lelaki itu merasa aneh dengan sikap Handini yang terkesan mengacuhkannya.
"Pesan dari siapa?" tanya Farhan tiba-tiba saat mobilnya kini sedang berhenti karna lampu merah.
Handini merasa kaget akan pertanyaan dari suaminya, tidak biasanya sang suami kepo terhadap dirinya.
"Dari Salsa, Mas." jawabnya setelah selesai mengetikkan balasan kepada sahabatnya tersebut.
"Tidak bisa."
"Kenapa?" tanya Farhan dengan cepat, sesaat setelah Handini menjawab dengan cepat juga.
Wanita itu semakin dibuat heran akan sikap suaminya. Matanya menyorot bola mata sang suami dari samping, wajah lelaki itu yang kadang terlihat dingin kini berubah menjadi merah seperti sedang menahan amarah.
Farhan akhirnya menoleh ke arah istrinya saat mengetahui Handini mengamatinya sedari tadi. Mata mereka saling bertemu namun hanya beberapa detik karna Farhan harus fokus menyetir kembali.
"Aku sekalian ingin main kerumah Salsa, sudah lama aku gak main kesana." Handini menjawab setelah cukup lama terdiam. Dan Farhan hanya mengangguk singkat.
Saat sudah sampai di rumah Salsa, Farhan pun mengingatkan Handini untuk mengabarinya jika dia ingin pulang agar Farhan bisa menjemputnya.
Wanita itu tetap berdiri di depan gerbang rumah sahabatnya, sambil melihat mobil suaminya yang sudah berjalan jauh meninggalkannya.
"Din, kenapa jadi gini sih, aku jadi bolak balik dong." Salsa menggerutu saat ia menghampiri Handini di depan rumahnya.
"Hehe maaf, ya udah yuk berangkat. Mobil suamiku sudah gak kelihatan juga."
__ADS_1
Kedua wanita sebaya itu pun masuk ke dalam mobil bersama.
"Kenapa kamu malah dianterin suami kamu sih, katanya dianterin Pak Dar."
"Iya tiba-tiba Mas Farhan tadi mau nganterin, padahal Pak Dar udah ada didepan."
"Untung aku baru setengah jalan, jadi bisa balik lagi kesini."
"Uummhhh makasih sahabatku." Handini memeluk Salsa untuk merendamkan rasa kesalnya.
Hanya butuh 20 menit, mereka berdua akhirnya sampai di tempat tujuan. Dengan tidak sabar keduanya turun dari mobil dan melompat kegirangan.
"Akhirnya aku bisa nge-mall, setelah sekian lamaaaa." ucap Handini yang merasa ini peristiwa langka.
"Iya Din, aku juga seneng bisa kesini bareng kamu lagi.Hmm...tapi gak apa-apa nih kamu gak ijin ke suami kamu dulu?"
"Gak usah lah, dia juga pasti kalau tau bakal ngijinin kok.Kan aku kesini demi dia juga."
Salsa hanya mengangguk dan mengejar Handini yang berjalan mendahuluinya.
Dan tidak terasa, sudah 2 jam lamanya Handini dan Salsa berada di mall. Mereka berdua mengelilingi disetiap outlet didalam mall tersebut, mencari apa sedang mereka inginkan. Setelah mendapatkan apa yang akan mereka beli, dengan berat hati mereka berdua harus segera pulang.
"Cepat amat Din, kita pulangnya. Gak nanti sore aja, kamu main dulu di rumahku." rengek Salsa sambil mengguncang lengan sahabatnya.
Handini menghela nafas panjang, bukannya ia tak mau berlama-lama dengan sahabatnya namun ia sudah terlanjur janji kepada suaminya bahwa ia akan pulang siang ini.
"Tidak bisa Sal, aku sudah janji ke Mas Farhan kalau aku akan pulang siang." katanya.
Mata mereka berdua menangkap mobil yang tak asing dari kejauhan berjalan ke arah mereka.
"Hmm jemputannya sudah datang tuh." kata Salsa. Mereka berdua memang sudah berada di rumah Salsa tepatnya masih di depan gerbang. Handini sudah mengabari suaminya untuk menjemput saat mereka masih didalam perjalanan ke rumah Salsa tadi.
Handini melambaikan tangan dan disambut lambaian tangan juga dari sahabatnya. Salsa menatap sahabatnya dengan pandangan sendu.
"Dini sudah punya kehidupan yang baru."
.
.
.
__ADS_1
.
Selamat membacaa.....