My Adult Man

My Adult Man
Meminta Ijin


__ADS_3

Kebaya berwarna merah jambu membalut badan Handini dengan sempurna.


Polesan make up yang tipis kini menghiasi wajahnya dan juga tatanan rambut yang cantik.


"Makasih ya, Tante udah mau dandanin Dini"


"Iya Din, sama-sama. Kamu mau berangkat bareng kita? " tanya Mamanya Salsa.


"Gak ma.. dia dijemput calon suaminya" Salsa menahan tawa. Satu cubitan mendarat dipahanya.


"Awww" pekik Salsa


"Nanti Dini dijemput kok, Tan"


"Oh ya udah, Tante mau siap-siap dulu. Kalian tunggu aja diteras."


"Siap ma... " jawab Salsa dan Handini hanya mengangguk.


"Din, kamu cantik banget tau" puji Salsa


"Kau baru sadar ya, sahabat kamu ini memang sudah cantik " bangga Handini


"Hari ini cantik karna dipoles make up ,Hahahaaha"


Titt Tiitt Tiiitt


"Itu kayanya Om Farhan sudah jemput" Handini langsung keluar kamar dan diikuti oleh Salsa.


"Iya Din, itu mobil Om Farhan. Ya sudah kamu berangkat duluan sana"


"Iya Sal, bilangin mama kamu ya aku berangkat duluan. Sampai ketemu di sekolahan ,Dahhh"


"Iya ati-ati, Din"


Farhan turun dari mobil membukakan pintu untuk Handini karna melihatnya kesusahan berjalan.


Farhan terkesima akan penampilan Handini, dengan polesan make up terlihat seperti wanita dewasa.


"Kamu sudah sarapan kan, Din" tanya Farhan setelah ia melajukan mobilnya.


"Hmm iya udah" jawab Handini


Suara dering ponsel yang berasal dari tas Handini mengalihkan perhatian mereka berdua.


Ayah memanggil


"Haloo Ayah" jawab Handini dengan bahagia


"Haloo Nak, kamu sudah disekolah? "


"Belum yah, ini masih dijalan"


"Ya sudah ati-ati ya, Nak. Maaf Ayah dan Ibu gak bisa buat dampingi kamu. "


Sebisa mungkin Handini menahan air matanya.


"Iya Ayah tidak masalah, Ibu mana yah?"


"Sebentar, Nak"


"Hallo sayang" suara ibu menyaut


"Ibu.... sudah sarapan?"


"Sudah sayang, kau sendiri bagaimana? "


"Sudah juga, Bu. Aku masih dijalan menuju sekolah sama Om Farhan."


"Iya Nak hati-hati, berikan ponselnya kepada Farhan sebentar, Ibu mau bicara"

__ADS_1


Tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Ibunya terhadap Farhan, Handini hanya menangkap suara dari Farhan yang menjawab iya iya terus dengan sesekali tertawa.


"Nih ,Din udah" Farhan menyodorkan ponsel Dini.


"Haloo bu"


"Iya sayang, sudah ya Ibu mau beres-beres dulu. Kamu baik-baik ya sama Farhan"


"Hmm iya bu"


Setelah panggilan terputus, Handini melirik Farhan yang sedang menyetir.


Setelan kemeja bercorak batik lengan panjang nampak pantas sekali pria itu kenakan.


Rambut yang rapi, kumis yang baru saja ia pangkas dan tanpa ada rambut yang menghiasi dagunya.


Umur? Iya Handini teringat akan berapa umurnya Farhan, selama ini ia belum pernah bertanya tentang itu.


Tidak masalah untuk berapa pun umurnya namun hanya penasaran saja.


"Om sekarang umurnya berapa sih? " Handini agak ragu untuk menanyakannya namun rasa penasarannya lebih besar.


Farhan sekilas menoleh kearahnya.


"Tiga puluh tiga tahun"


"Hah yang benar saja kenapa keliatan masih muda sekali"


"Kenapa? masih keliatan muda ya?" tebak Farhan karna melihat ekspresi Handini yang kaget.


"Iyaa" Aduh Handini keceplosan.


Farhan tersenyum saat mendengarnya. Dan seketika mobil berhenti menandakan sudah sampai.


Acara perpisahan sekolah yang berlangsung sampai siang hari membuat Handini merasa lelah.


Setelah acara makan siang pun akhirnya selesai juga acaranya. Ia berniat untuk segera pulang namun ia teringat akan sesuatu hal.


"Hmm baiklah"


Handini menghampiri gerombolan anak laki-laki itu dan Farhan dari kejauhan tak melepaskan pandangannya ke Handini.


"Radit..."


"Dini, ada apa?"


"Aku mau minta maaf, aku gak bisa ikut acara perpisahan kelas nanti"


"Iya kenapa? Kau tak membalas pesanku"


"Hmm iya maaf, aku mau nyari kampus"


"Kan perpisahan kelasnya cuma 2 hari aja, rencananya kita mau nginep di puncak. Di villa orang tuanya Niko"


"Hmmm gak bisa, Dit"


"Aduh... semuanya udah setuju sama rencana kita, Salsa juga ikut kok Din. Dan itu siapa pacar kamu? Ngliatin kamu mulu dari tadi." tanya Radit.


"Hmmm iya"


"Benar pacar kamu? Kok keliatan dewasa banget. Oh kamu gak dibolehin sama pacar kamu? Biar aku yang ijin."


Radit akan menghampiri Farhan seketika ditarik Handini.


"Eh... gak usah Dit, aku gak dibolehin orang tua aku kok. Orang tuaku lagi dikampung, jadi gak bolehin aku pergi-pergi."


"Terus kamu tinggal dimana sekarang? katanya kamu pindah rumah."


"Aku nginep dirumah Salsa untuk beberapa hari ,emang acaranya kapan? "

__ADS_1


"Besok Din. Anak-anak mintanya dipercepat karna ada yang mau berangkat ke jogya untuk kuliah, kamu beneran gak bisa Din? "


"Nanti deh aku pikirin lagi"


"Oke kalau kamu bisa ikut langsung kabarin aku ya, kita berangkat besok sore"


"Iya Dit, aku pulang dulu"


"Hati-hati Din" Radit tak henti menatap punggung Handini yang sedang berjalan dengan tatapan sendu.


Farhan melihat Handini yang sedang berjalan kearahnya seketika langsung masuk mobil tanpa menunggunya.


Saat Handini masuk kedalam mobil pun, Farhan langsung melajukan mobilnya.


Tak ada percakapan di dalam mobil. Handini dan Farhan terhanyut akan pikirannya masing-masing.


"Apa aku minta ijin aja ya sama Om Farhan, kalau aku minta ijin Ayah Ibu pasti gak dibolehin. Aku ingin banget ikut acara perpisahan kelas, sebelum aku akan jadi seorang istri yang pasti akan jauh dari teman-teman"


Handini sesekali menengok ke arah Farhan, namun ia tak berani untuk mengucapkannya.


"Nanti saja deh, aku kirim pesan saja"


Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit akhirnya sampai juga dirumah Salsa.


Handini langsung turun dari mobil dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Din, kamu baru pulang kemana aja? "


"Dari sekolahan lah Sal"


"Lama sekali, tadi aku mencarimu tidak ketemu"


"Ohh.. tadi aku ketemu Radit dulu membahas soal perpisahan kelas"


"Katanya kamu gak bisa ikut"


"Emang"


"Lalu? "


"Aku ingin meminta ijin dulu sama Om Farhan, siapa tau pendapatnya beda dengan Ayah Ibu"


"Terus tadi udah minta ijin? "


"Belum, ini mau meminta ijin"


"Kenapa gak sekalian tadi pas bareng??" Salsa kesal.


"Hmmmm aku malu Sal"


"Ampun deh" Salsa menepuk jidat


"*Om Farhan, kelasku mengadakan acara perpisahan kelas besok selama 2 hari. Apa aku boleh mengikutinya?"


Handini*


Belum ada balasan mungkin saja Farhan masih didalam perjalanan dan belum mengecek ponselnya, pikirnya.


"Sal, kamu sudah tau nanti acara perpisahan kelasnya diadakan dimana? "


"Tau, di puncak kan? di Villa orang tua Niko"


"Hmm iya, kau sudah tau rupanya" Handini mengangguk-ngangguk


"Kan di grup sudah dibahas, kamu sih gak pernah ngecek grup kelas"


"Hehehehe" Handini tertawa


Farhan yang saat ini sedang memegang ponselnya langsung mengerutkan keningnya tatkala membaca pesan dari seseorang.

__ADS_1


.


Selamat membaca ya...


__ADS_2