My Adult Man

My Adult Man
Berganti Baju


__ADS_3

Handini menatap lekat-lekat kedua bola mata suaminya yang sama sekali tak terlihat sedang bercanda. Ia mencoba memejamkan matanya berusaha untuk tidak menanggapi serius apa yang barusan suaminya katakan.


Baru sebentar memejamkan mata, ia merasakan ada yang bergerak disekitar tubuhnya. Dan perlahan ia membuka mata untuk memastikan yang bergerak itu apa.


"Kenapa membuka mata kembali? " tanya Farhan yang saat ini tangannya berada diatas tubuhnya. Mata Handini melirik tangan suaminya yang saat ini masih tak berpindah.


Farhan yang menyadari akan arah mata istrinya tersebut langsung mengangkat tangannya.


"Aku hanya ingin menarik selimutmu" katanya.


Lalu Handini tersadar akan posisi selimutnya yang hanya membalut kakinya saja. Handini tak berpikiran akan selimut yang ia kenakan, karna terlalu memikirkan kecanggungan yang menyelimuti dirinya saat ini.


Handini ber"Oh" tanpa suara, lalu langsung menarik selimutnya sampai batas leher. Farhan tak sedikit pun melepas pandangannya kepada istrinya tersebut dan seketika mengembangkan senyumannya.


Tak butuh lama untuk Handini terlelap, karna mungkin ia sudah sangat lelah akan acara pernikahannya hari ini.


Dan beberapa saat kemudian suaminya pun terlelap juga. Dengan posisi saling berhadapan namun memiliki jarak sekitar 3 jengkal.


----


Sinar matahari yang menyusup di sela-sela kamarnya membuat Handini terbangun. Perlahan ia membuka kedua matanya dan sedikit menutup wajahnya dengan telapak tangan akan sinar yang menyilaukan.


Kedua bola matanya melihat ke sisi kiri tempat tidurnya namun ia tak melihat suaminya.


"Jam berapa ini, apa dia sudah terbangun?"


Kemudian kedua matanya mengitari seluruh ruang kamarnya berharap menemukan jam dinding namun ia tak melihatnya.


Lalu ia mengambil ponsel yang berada di nakas.


"Oh astaga ternyata jamnya berada disini, kenapa semalam aku tidak menyadarinya"


ia menyentuh jam yang berbentuk bulat ini dan melihat arah jarum jam yang sekarang menunjukan pukul 08.35.


Handini bergegas menuruni ranjang untuk mencari keberadaan suaminya tersebut. Merasa tidak enak jika sebagai seorang istri malah bangun siang.


Belum mencapai pintu kamar ,ia mendengar suara knop pintu akan dibuka dari luar seketika menghentikan langkahnya.


Ceklek..


"Din, kau sudah bangun?" senyuman suaminya yang mengembang menyejukkan hati Handini.


"Iya mas, maaf aku baru bangun" Handini menunduk berharap suaminya tidak akan memarahinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa aku juga baru bangun kok, barusan mandi di kamar mandi luar, karna kamar mandi dalem krannya rusak"


"Oh apa ya? semalem kayaknya baik-baik saja tidak rusak. "


"Entahlah" Farhan menghendikan bahu merasa tidak tahu apa penyebab krannya bisa rusak.


"Cepat mandi, nanti kita cari sarapan bersama diluar"


"Ayah, Ibu mana? " tanya Handini


"Oh iya lupa, Ayah dan Ibu sudah pulang ke kampung dari pagi tadi jam 6 ,mereka buru-buru untuk mengurus bisnisnya dikampung"


"Kenapa tidak membangunkanku? "


"Aku juga tidak tahu, aku baru bangun tadi dan melihat ada sebuah pesan dari Mas Handoyo"


"Ayah, ibu kenapa buru-buru sekali pulangnya, Handini masih kangen"


Farhan bisa melihat jelas kesedihan yang Handini rasakan. Namun ia tak bisa berbuat apapun.


Dengan langkah yang gontai, Handini keluar kamar dan bergegas untuk mandi.


Suara berisik dari kran yang memenuhi bak kamar mandi kini menjadi suara yang memenuhi pendengarannya, namun berbeda dengan pikirannya yang masih memikirkan kedua orang tuanya.


Satu gayung, dua gayung sampai tiga gayung membasahi seluruh badannya. Sabun beraroma melati ini menjadi daya tarik tersendiri untuk ia hirup dalam-dalam, merasakan sedikit ketenangan akan bau dari bunga melati.


Hanya ada selembar handuk yang kini membalut atas dadanya dan bawah lututnya.


Tiba-tiba pikirannya buntu akan apa yang harus ia perbuat, akankah ia harus masuk ke dalam kamar dengan seperti ini atau ia akan meminta tolong suaminya untuk mengambilkan pakaiannya.


Tidak sopan jika dia harus menyuruh suaminya untuk mengambilkan pakaian,pikirnya.


Namun ia terlalu malu untuk kembali ke kamar karna pasti suaminya berada di dalam kamar.


Tidak mungkin ia mengusir suaminya dengan alasan akan berganti baju. Mereka sudah sah menjadi suami istri, tidak ada salahnya jika suami istri melihat tubuhnya satu sama lain.


Namun sungguh Handini belum siap akan hal itu.


Dengan langkah yang pendek, ia mulai berjalan menuju kamarnya. Sampailah didepan pintu kamarnya, dengan hati-hati ia mulai membuka pintu kamarnya.


Dan seketika ia merasa lega karna tak mendapati suaminya di dalam kamar.


"Aman" begitu suara hati Handini yang tak terdengar.

__ADS_1


Dengan cepat ia segera memakai baju dan melempar handuknya di atas ranjang. Saat semuanya sudah selesai ia pakai, ia berbalik untuk mengambil handuknya yang ia lempar di atas ranjang.


Betapa kagetnya saat ia berbalik dan melihat suaminya sedang berdiri didepan pintu kamar mandi dalam.


Hatinya seketika mencelos dan mukanya seperti udang rebus yang benar-benar sudah matang untuk diangkat, ia malu bukan kepalang jika ternyata dari tadi berganti baju suaminya sudah berada disitu.


Hening untuk beberapa saat, tak ada suara yang keluar dari mulut mereka berdua.


Handini pun bergegas keluar dari kamar untuk menjemur handuknya yang basah.


Farhan pun masih berdiri mematung akan apa yang ia lihat barusan. Namun dengan segera ia menyusul istrinya untuk mengajaknya mencari sarapan diluar.


Dari kejauhan ia melihat istrinya sedang berada di halaman belakang dan segera menghampiri.


"Din, mas tunggu dimobil kita cari sarapan diluar" begitu katanya dan segera berbalik badan.


Handini hanya mengangguk namun Farhan tak melihatnya karna ia segera berbalik badan.


Setelah mereka berdua sudah sama-sama masuk kedalam mobil, Farhan pun segera menjalankan mobilnya.


Handini sibuk melihat pemandangan diluar kaca mobilnya sebelah kiri, sedangkan Farhan hanya sibuk menyetir dengan pandangan lurus kedepan.


Tak ada percakapan diantara mereka hingga beberapa saat. Karna Handini tidak betah akan kecanggungan ini, ia memberanikan diri untuk memulai obrolan.


"Mas, kita mau sarapan apa? "


"Hmm.." cukup lama untuk Farhan menjawab karna sebetulnya ia juga bingung.


"Soto ayam bagaimana? "


Handini mengangguk pertanda setuju. Lalu keheningan itu pun tercipta kembali sampai mereka sampai ditujuan.


"Ramai sekali mas, apa masih ada tempat duduk yang kosong?" tanya Handini yang melihat warung soto ayam dipenuhi oleh banyak pengunjung.


"Kalau tidak kebagian tempat duduk ,kita makan didalam mobil saja, soto ayam disini memang enak makanya ramai terus"


"Ohh gitu.. mas sering makan disini? bukannya mas disini masih baru ya."


"Pernah sekitar 3 sampai 4 kali bareng teman kantor ,aku tau juga darinya"


"Ohh teman cowok apa cewek mas? "


Handini seketika kaget akan apa yang ia ucapkan barusan, tidak ada maksud apapun namun pertanyaan tadi tiba-tiba keluar sendiri dari mulutnya. Ia merutuki akan kebodohannya sendiri, emang apa pentingnya teman cowok atau cewek itu hanyalah sebatas teman kantor saja bukan?

__ADS_1


.


Selamat membaca... Like like like


__ADS_2