
Guncangan yang diakibatkan injakan rem yang berhasil menghentikan mobil, membuat Handini terbangun dari tidur singkatnya. Matanya berkeliling menyadarkannya bahwa ia ternyata tertidur dimobil Salsa.
Tatapan tajam yang diberikan Salsa kepadanya tak membuat ia takut, malah ia balik menatap sahabatnya tersebut.
"Kau ini sedang diajak dibicara malah seenaknya tidur" Salsa mendengus kesal, tak habis pikir dengan sahabatnya satu ini yang cepat sekali bisa tertidur.
"Berbicara apa? Kau seperti burung beo tidak ada habisnya mengeluarkan suara, membuat telingaku sakit saja" Handini beranjak turun dari mobil setelah ia mengucapkan terima kasih kepada Pak Jo supirnya Salsa yang sudah mengantarkannya pulang.
"Din, tunggu" Salsa segera menyusul sahabatnya yang sedang berjalan menuju pintu rumahnya.
Handini tidak berhenti menghentikan langkahnya karna ia akan menuju kursi yang berada diteras rumahnya.
"Ada apa? " tanya Handini yang sudah melihat Salsa mendudukan tubuhnya dikursi sampingnya.
Salsa berfikir sejenak, matanya menatap keatas. Ia sebenarnya tidak terlalu yakin akan apa yang ia lihat tadi.
"Din, waktu tadi dikampus aku seperti melihat Radit dari kejauhan." ucapnya dengan serius.
Handini mengernyit, tidak paham akan maksud dari sahabatnya berbicara seperti itu. Lalu apa permasalahannya? pikirnya.
"Terus? " tanya Handini yang sudah enggan menanggapi perkataan dari sahabatnya, namun ia sebisa mungkin menghargainya berbicara.
"Dia terlihat memandangimu terus!" kali ini intonasi bicaranya semakin tinggi membuat Handini tersentak kaget.
"Iya mungkin karna dia melihat aku ada disitu, jadi memandangi aku terus, ingin memanggil tapi jaraknya jauh kali" Salsa membenarkan apa yang diucapkan sahabatnya tersebut ,tapi dia juga bersamanya, kenapa yang hanya dipandang Handini saja.
"Tapi aku kan berjalan disampingmu juga"
"Kau kan tertinggal dibelakang mungkin tidak kelihatan, hahaha" Handini tertawa sambil menjulurkan lidahnya.
"Ahh benar juga" Salsa percaya saja.
----
Mata yang sudah memerah dan berkilat-kilat serta panas kini ia rasakan, jika ini kompetisi memasak tentu akan menyerah saja.
Sayangnya ini bentuk dari tanggung jawab sebagai seorang istri yang harus menyiapkan makanan untuk suami.
Bawang merah memang jahat, gerutunya dari tadi. Tidak menyerah untuk mengakhiri pengirisan bawang merah ini, justru ia semakin bersemangat untuk memasak. Berharap suaminya akan menyukai masakannya.
Sayuran sudah ia potongi semua, saatnya untuk menumisnya. Farhan cenderung lebih suka sayuran yang ditumis daripada sayuran berkuah. Banyak hal yang baru ia ketahui setelah kemarin mereka berdua saling menanyakan satu sama lain.
Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Handini masih tidak percaya jika ia saat ini bisa menikah, dan suaminya adalah orang yang tak pernah ia duga sebelumnya.
__ADS_1
Perasaan syukur dan bahagia sangat ia rasakan.
Namun disisi lain perasaan sedih juga ia rasakan. Ia tidak bisa setiap hari melihat kedua orang tuanya yang saat ini tinggal jauh darinya.
Setelah selesai memasak, ia bertujuan untuk mencuci pakaian. Walaupun suaminya pulang nanti sore, ia bisa menghangatkan masakannya kembali.
Sesampainya diruang laundry, ia segera memasukan beberapa helai pakaiannya dan pakaian suaminya kedalam mesin cuci. Karna kerja mesin cucinya lama, ia sejenak membaringkan tubuhnya diatas bangku panjang yang terdapat dihalaman belakang rumah.
Tok.. tok.. tok
Terdengar sayup-sayup suara ketokan pintu dari luar namun tak mengindahkan posisi Handini yang sedang berbaring. Ia pikir mungkin suara dari tetangga sebelah. Siapa juga yang akan bertamu, keluarga dia dan suaminya saja jauh kalaupun akan kesini pastinya terlebih dahulu memberitahunya.
Namun semakin lama suara ketokan pintu terdengar cukup keras. Dengan langkah penasaran, Handini berjalan mendekati pintu rumahnya. Dan benar saja ternyata suara itu berasal dari pintu rumahnya.
Ceklek...
"Permisi dek, saya mau bertemu dengan Farhan, apa sekarang dia ada dirumah? " Pria asing yang ia tebak seumuran dengan suaminya kini tersenyum lebar kepadanya.
"Mas Farhan sedang bekerja, anda siapa ya? " tanyanya tanpa mempersilahkan tamunya untuk masuk atau sekedar duduk diteras. Karna Handini takut menerima tamu yang tidak ia kenal.
"Saya temannya dari kampung, sudah bekerja ya? bukannya dia baru saja menikah bukan? kalau istrinya dirumah tidak? " tanyanya ramah kepada anak remaja yang ada dihadapannya saat ini, ia mengira anak remaja ini mungkin saudara dari istri temannya tersebut.
"Saya istrinya" Handini bersungut merasa kesal. Tatapan tajam ia berikan kepada lelaki yang ada dihadapannya saat ini, tidak ada keramahan yang terpancar diwajahnya. Namun tidak membuat takut si lelaki itu.
Handini berniat akan menutup pintunya karna lelaki ini sungguh tidak sopan pikirnya.
"Tunggu jangan tutup dulu" cegahnya sambil menahan lempengan kayu tersebut.
Handini tidak menjawab, ia masih menunjukan ketidakramahannya kepada lelaki itu.
"Beri tahu jika suamimu pulang nanti, kalau Riko sahabatnya dari kampung ingin bertemu dengannya" ia segera berbalik badan tanpa mendengar jawaban dari istri temannya tersebut.
Tanpa berlama-lama lagi, Handini langsung menutup pintu dengan keras menghasilkan dentuman yang mengagetkan telinganya sendiri.
"Siapa sih itu orang, seenaknya saja kalau berbicara, bermain dengan anak kecil, dia pikir pernikahan itu mainan"
Handini mengatur nafasnya sejenak yang terasa menggebu-gebu sedari tadi. Guratan-guratan kekesalan terlihat sekali diwajahnya.
Dengan langkah yang cepat, ia berjalan menuju wastafel. Tangannya menengadah akan air yang keluar dari kran yang barusan ia putar, lalu diusapkan diseluruh wajahnya. Berharap kekesalannya akan hilang dan juga panas yang membakar badannya menyurut.
Tak berniat menyalahkan orang tadi yang mengaku sebagai teman suaminya, wajar saja kalau tidak mengetahui bahwa dia adalah istrinya Farhan mungkin saja waktu pesta pernikahan kemarin tidak datang.
Namun respon yang Handini terima saat mengatakan dialah istrinya, dengan tidak sopannya ia berbicara seperti itu. Seakan-akan mengejek dirinya dan suaminya yang menikahi wanita yang jauh lebih muda.
__ADS_1
Setelah sejenak menenangkan amarahnya didepan wastafel, ia teringat akan cuciannya. Ia berlari ke ruang laundry.
----
Handini tak hentinya menoleh ke arah jam dinding yang sekarang sudah menunjukan pukul 16.30. Namun suaminya belum juga kunjung pulang, ia merasa khawatir.
Ia berniat akan menelfonnya saja, namun belum sempat menekan ikon hijau pada ponselnya, ada panggilan masuk dari nomer suaminya.
Dengan cepat ia segera mengangkatnya, memberikan senyuman yang lebar walaupun suaminya tidak bisa melihatnya.
"Din, mas ada acara kantor mendadak, kemungkinan pulang larut malam, kamu jangan lupa makan dan tidur saja duluan, mas bawa kunci cadangan kok" Farhan tidak menyapanya terlebih dahulu, namun langsung mengatakan hal yang ingin ia sampaikan kepada istrinya tersebut.
Terdengar suara lelaki yang memanggil nama suaminya, membuat Farhan mengakhiri cepat panggilannya sebelum Handini mengeluarkan satu patah kata pun. Kata terakhir yang ia ucapkan hanyalah selamat makan dan beristirahat.
Handini terduduk lemas diatas ranjang king sizenya, entah kenapa ia merasa sesak dibagian dadanya. Seakan kesulitan bernafas.
Matanya kini memanas, seakan sesak dadanya membuat sekujur tubuhnya mati rasa. Bibirnya tertutup rapat seakan sulit sekali untuk dibuka.
Tidak ada yang salah dengan ucapan dari suaminya tadi, kata-katanya yang lembut bahkan jelas sekali terdengar ditelinganya. Lalu apa yang membuat ia merasakan sesak didada?
Padahal ini hanyalah acara kantor, bukan acara bersama teman-temannya saja. Bukan berarti suaminya lebih memilih acara kantor dibanding dirinya, namun ini bukan masalah memilih siapa tapi karna semua ini sudah tanggung jawabnya sebagai karyawan kantor.
Handini memahami itu namun... apa yang sudah ia siapkan dari siang tadi, akan dibuang sia-sia. Ia sudah menyiapkan makanan yang pasti akan disukai suaminya, namun tidak akan tersentuh sama sekali olehnya.
Kalau ia mengatakan akan pulang nanti malam mungkin Handini masih bisa ada kesempatan untuk mengajaknya makan malam bersama, namun katanya larut malam ia baru akan pulang.
Sudahlah tidak apa itu yang saat ini ia tanamkan kedalam pikirannya. Satu ide muncul dikepalanya. Tanpa berlama-lama ia segera meraih beberapa kotak makan untuk diisi nasi dan beberapa lauk lainnya.
"Kasih aja ke tetangga atau pengemis yang ada disekitar jalan" pikirnya
Walaupun rumah suaminya berada di komplek perumahan, namun ini bukanlah perumahan yang elit. Ada beberapa tetangga yang memang keliatan kurang mampu secara finansial. Dengan memberi sedikit makanan, barangkali saja Handini bisa nambah teman disini dan untuk menjalin silahturahmi juga.
Setelah mengunci pintu rumah, ia segera melangkahkan kakinya menuju rumah tetangga yang berada dibelakang rumahnya. Cat rumah berwarna biru muda yang sudah sedikit pudar kini menjadi tujuan kakinya melangkah semakin dekat. Dengan perasaan yang canggung dan malu, Handini memulai mengetok pintunya dan tak lupa mengucapkan salam. Terdengar suara menyaut dari dalam, menghentikan ketokan pintu yang ia layangkan kepintu tetangganya itu.
Bibirnya mengulum senyum saat pintu sudah dibuka. Menampakan seorang ibu-ibu yang sudah terlihat tua berdiri dengan wajah kebingungan.
"Sore bu, maaf menganggu waktunya." Handini belum selesai berbicara namun ibu tersebut mempersilahkan untuk masuk kedalam rumahnya. Membuat Handini mengucapkan terima kasih terlebih dahulu sebelum meneruskan tujuannya datang kemari.
.
.
Gimana suka gak sama cerita Handini dan Farhan?? Koment, like kalau sukaa.....
__ADS_1