My Adult Man

My Adult Man
Hari Istimewa


__ADS_3

"Mba Dini, makan malam dulu." Lita yang melihat pintu kamar kakak iparnya tidak tertutup rapat, memberanikan diri untuk melihat ke dalam kamar tersebut. Dilihatnya kakak ipar tengah asyik dengan ponselnya dengan kaki ia selonjorkan di atas kasur. Tanpa membuka pintu sepenuhnya, gadis tersebut memanggil kakak iparnya untuk mengajaknya makan malam terlebih dahulu.


"Iya Lit." jawab Handini sambil tersenyum ke arah keponakan suaminya. Handini merasa senang, entah kenapa Lita sekarang bisa bersikap manis kepadanya. Lita bisa menghormati dirinya sekarang yang menjadi kakak iparnya.


Menu makan malam hari ini, semuanya yang memasak Bi Nam. Handini tadi hanya membantu sebentar lalu kembali ke kamar karna mendengar ponselnya berbunyi.


"Din, sepertinya akhir-akhir ini kau sibuk. Banyak tugas kuliah ya?" tanya Bi Nam. Wanita paruh baya itu bertanya sambil menaruh nasi di piringnya dan sesekali menatap Handini.


"Iya Bi, banyak tugas kuliah." jawabnya kemudian sambil mengangguk. Memang benar, akhir-akhir ini ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar untuk mengejarkan tugas. Pekerjaan rumah ia kerjakan saat senggang, bahkan terkadang sudah dikerjakan semua oleh Lita.


Farhan kali ini tidak bersuara saat makan malam ini, ia seperti tidak mendengar pembicaraan istri dan bibinya.


Saat berada di mobil siang tadi seusai menjemputnya di rumah Salsa pun, Farhan tidak mengeluarkan suara. Handini yang sudah terlanjur letih seakan cuek saja, mungkin Farhan sedang banyak masalah dikerjaan, pikirnya.


Tak ada sisa makanan yang tertinggal dipiring Farhan, lelaki itu menghabiskan makanannya dengan cepat. Dan ia buru-buru menuju kamarnya tanpa berpamitan kepada orang yang berada di meja makan.


"Han, kau tidak tambah nasinya? sepertinya kau masih lapar" teriak Bi Nam ,memanggil Farhan yang berjalan cepat ke arah kamar.


"Din, tadi siang apa kalian berdua tidak makan siang diluar?" Bi Nam mengalihkan pandangannya kepada Dini.


Handini tidak mengerti arah maksud dari perkataan Bi Nam barusan.


"Maksud Bibi?" tanya Handini karna tidak paham.


Bi Nam meletakkan sendok yang ia pegang dan kini menatap Handini.


"Kau tadi pagi sampai siang kan pergi dengan suamimu, apa kalian tadi siang tidak makan diluar?" Bi Nam mencoba menjelaskan secara detail.


Handini tambah dibuat bengong atas perkataan dari Bi Nam barusan.


"Aku memang tadi pagi pergi dengan Mas Farhan, tapi dia kan hanya mengantarkanku ke rumah Salsa saja. Lalu setelah mengantarkanku, dia pergi kemana?"


Entah kenapa perasaan tidak tenang menyelimuti hatinya saat ini. Dini berusaha menepis pikiran yang tidak-tidak. Dengan cepat ia menyudahi makan malamnya kali ini. Dini segera menyusul suaminya ke dalam kamar setelah berpamitan kepada Bi Nam dan Lita.


Dengan hati-hati ia membuka pintu kamar. Tak terlihat suaminya berada diatas kasur. Suara gemericik air yang berasal dari dalam kamar mandi, membuat Handini paham bahwa suaminya sedang disana.

__ADS_1


Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, Handini menoleh kesumber suara.


"Mas, kata Bi Nam kau tadi pergi?"Handini merutuki pertanyaannya sendiri yang terkesan terlalu frontal.


"Hmm maksudku, kau tadi kemana sehabis mengantarkanku ke rumah Salsa?"tanyanya kembali, dengan suara lebih dipelankan.


"Harusnya aku yang tanya, kau tadi kemana saja?" Farhan menatap Handini dengan tajam, entah apa yang sedang lelaki itu fikirkan. Kata-katanya terkesan menyindir, seolah sudah tahu sesuatu.


"Maksudnya Mas?" Handini kini merasa takut saat ditatap suaminya seperti itu. Ia paham telah membohongi suaminya dengan alasan akan menanyakan soal materi kuliah ke Salsa namun pada akhirnya mereka malah ke mall.


"Kau ingin jujur atau tetap berbohong?" tanya Farhan kembali namun perkataannya ia lembutkan karna melihat Handini ketakutan.


Mulut Handini susah sekali untuk digerakkan, kenapa untuk mengatakan kejujuran rupanya sulit. Handini pasrah saat ia berterus terang nanti, ia sudah siap jika Farhan memarahinya.


"Aku tadi ke Mall bareng Salsa, karna aku mau beli....." Handini segera meraih sling bagnya, diambilah kotak kecil berwarna navy yang terdapat pita diatasnya.


Farhan kaget jika sandiwaranya untuk mengerjai Handini ternyata tak terduga mendapat kejujuran dari istrinya tersebut.


Farhan tertawa terbahak-bahak. Handini langsung mengangkat kepalanya untuk melihat suaminya yang tiba-tiba tertawa.


"Mas tertawa kenapa?" tanyanya kemudian saat dirasa suaminya sudah berhenti tertawa.


"Lihatlah ini." Farhan membuka laci nakasnya dan mengambil kotak kecil berwarna merah muda. Kotak itu terlihat sangat girly, karena terdapat beberapa renda disampingnya dan juga hiasan bunga pita.


"Apa ini Mas?" Handini menerima kotak kecil itu saat Farhan memberikan kepadanya. Kotak ini hampir sama ukurannya dengan kotak navy yang ia beli untuk Farhan.


"Dan ini apa?" Farhan juga tak kalah penasaran saat mengambil kotak berwarna navy tersebut dari pangkuan istrinya.


"Hari ini kan tepat 3 bulan pernikahan kita, aku ingin memberikan sedikit hadiah untuk kamu, Mas." ucap Handini dengan senyuman mengembang.


"Kau ingat juga rupanya." Farhan juga mengembangkan senyumannya.


"Ini apa, Mas?" tanya Dini kemudian saat mengamati kotak kecil berwarna merah muda tersebut.


"Buka saja." perintah Farhan. Ia mendudukkan tubuhnya persis disamping istrinya.

__ADS_1


Handini perlahan membuka kotak berwarna merah jambu tersebut. Matanya berbinar saat melihat isi didalamnya.


"Kalung" ucapnya singkat dan beralih menatap suaminya. Ia mengembangkan senyumannya namun kali ini disertai air mata yang dengan cepatnya menganak dimatanya, tanpa ragu air mata itu pun akhirnya jatuh dari tempatnya.


Farhan dengan sigap memeluk istrinya dan mengusap-usap punggungnya memberi ketenangan.


"Kau diberi hadiah malah menangis, lain kali tak perlu lah aku berikan hadiah lagi." Handini yang mendengar ucapan suaminya pun dengan cepat melepaskan dekapan Farhan darinya.


"Kenapa seperti itu, aku hanya menangis bahagia bukan sedih." Handini merasa kesal atas ucapan suaminya tadi.


Farhan pun tertawa mendengar pembelaan dari istrinya. Ia mengacak-acak rambut istrinya merasa gemas.


"Oh ya, Mas buka itu pemberian dari aku." ucap Handini kemudian.


Farhan pun membuka hadiah pemberian dari istrinya.


"Maaf aku hanya bisa memberikan itu." Handini hanya memberikan sebuah sapu tangan. Tak ada istimewanya dari sapu tangan itu, tapi setelah berumah tangga dengan Farhan, Handini jadi tau kebiasaan Farhan. Farhan sering membawa sapu tangan disakunya. Walaupun tidak setiap saat, namun saat ia berangkat kerja pasti selalu membawanya.


Handini fikir mungkin dengan ia berikan sapu tangan itu, Farhan bisa mengingatnya sewaktu kerja sekalipun.


"Terima kasih, Din." ucap Farhan. Mereka berdua menatap satu sama lain, memberi isyarat bahwa mereka bahagia atas pemberian dari masing-masing.


.


.


.


.


Selamat membaca...


Kalau ada yang merasa, ini ceritanya gimana si...Suami istri tp kok gini, denger ya Sayangkuh..


Disini aku belum bahas lebih detail ya tentang perasaan Farhan dan Handini, jadi mereka masih adaptasi..

__ADS_1


Di tunggu aja kelanjutannya ya... Hehehe


__ADS_2