
Setelah kepulangan Salsa 1jam yang lalu, saat ini Handini sedang menyapu halaman rumahnya yang sedikit kotor karna daun-daun yang jatuh dari pohon yang ada diterasnya.
Matahari yang sebentar lagi akan terbenam kini menjadi pusat perhatiannya, walaupun tidak sejelas saat melihat di pesisir laut, namun cukup menarik perhatiannya.
"Din, kamu mau nyapu apa jadi model sapu? Kok gak gerak-gerak, berdiri terus sambil megang sapu." Ibu Handini meledek sambil berjalan membawa bungkusan sampah yang akan ia buang di tong sampah depan rumahnya.
"Ihhh.. Ibu.. ngagetin aja. Ini Dini lanjutin nyapunya."
"Buruan sayang. Udah mau malam ini, kamu juga belum mandi."
Dini mempercepat gerakannya dan segera masuk kedalam untuk mandi.
"Bu, Ayah kok belum pulang, tumben" Tanya Handini yang sedang mengambil air minum didapur karna merasa haus.
Ibu sejenak menghentikan aktivitasnya yang sedang memotong sayuran, lalu menengok kearah putrinya.
"Lembur, Din."
Dini melihat ada sebuah kecemasan dimata Ibu saat itu, namun ia tak mau menanyakannya. Karna Ibu orangnya sensitif, Dini takut jika melihat Ibunya akan menangis jika benar ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.
"Ya sudah, Bu. Dini mau mandi dulu nanti kesini lagi bantu-bantu Ibu masak."
"Baik, sayang." senyuman mengembang sempurna dibibir Ibu Handini, namun beberapa saat menyurut tatkala teringat akan nasib dari putrinya tersebut.
Selesai mandi, Handini langsung menghampiri Ibunya didapur.
"Bu, mana yang harus aku bantu? kata Ayah juga aku harus belajar memasak kan? "
"Hmm.. kamu halusin bumbu-bumbu itu" Ibu menunjuk sebuah cobek yang sudah terdapat bumbu dapur yang siap untuk dihaluskan.
"Baik, Bu. Ini aja nih " Tanya Handini yang merasa gampang akan perintah Ibunya.
"Iya... yang halus tapi"
"Siap... "
Handini dengan semangat menghaluskan bumbu-bumbunya, butuh waktu yang cukup lama untuk terlihat bumbunya halus.
Hal itu tak luput dari perhatian Ibunya, yang dari tadi menahan tawanya.
"Gimana, susah? " tanya Ibu Handini karna sudah tidak sabar untuk meledek putrinya.
"Hmm... susah" jawab Handini sambil memasang muka kasian.
"Gak susah kok, kalau kamu kesulitan menghaluskannya bisa pake blender. "
__ADS_1
Ibu Handini tersenyum sambil menunjuk blender diatas rak.
"Ahhh... Ibu, kenapa gak dari tadi aja pake blendernya" Handini merasa kesal
"Tapi lebih baik pakai cara tradisional aja, lebih enak nanti masakannya. "
"Apa ngaruh, Bu? " Saat ini Handini serius untuk mendengar penjelasan dari Ibunya.
"Iya, sayang. Kata orang jawa biar masakannya sedep."
"Sedep??? "
"Jaman sekarang itu Mantulllll "
"Hahaha Ibu ternyata gaul juga"
Dan mereka berdua tertawa bersama.
Sop ayam, tempe goreng, sambal goreng kentang, sambal tomat dan krupuk sudah terjejer rapi diatas meja makan.
Tidak terlalu banyak menu makanannya karna mereka hanya masak untuk bertiga saja.
Ibu dan Handini sepakat untuk menunggu Ayah pulang.
Karna mereka sudah biasa makan bersama.
Sekitar hampir 40 menit menunggu, terdengar bunyi mobil berhenti. Handini dengan tidak sabar menyambut Ayahnya didepan.
"Ayah.... " Handini menghampiri Ayahnya dan memeluk, entah refleks atau apa tapi ia sungguh merindukan Ayahnya. Karna biasanya Ayah pulang sore.
Sang Ayah membalas pelukan putrinya, yang ia sadari nantinya akan jarang sekali bisa terjadi moment seperti ini.
"Maafkan Ayah, Nak."
Lalu mereka makan malam bersama dengan sesekali bercanda. Membuat Handini merasa beruntung telah lahir ditengah-tengah keluarga ini. Ia merasa dicintai dan disayangi sekali oleh Ayah dan Ibunya.
Ayah tak pernah mengekangnya untuk melakukan sesuatu hal, asal itu positif. Dan ibu juga demikian.
Handini merasakan ada sesuatu yang aneh jika ia melihat Ayahnya. Seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Ayahnya.
Ia menangkap ada begitu banyak beban dimatanya.
"Apa Ayah memikirkan soal pernikahanku? Ayah yang meminta seharusnya sudah dipikirkan matang-matang, bukan? "
"Nak, kamu perpisahan sekolahnya kapan?" tanya Ayah sambil memandang putrinya
__ADS_1
"Satu minggu lagi, Yah."
"Sepertinya Ayah tidak bisa datang, Nak. Ibu juga, karna kita mau ke kampung orang tua Ayah. Untuk memberikan kabar bahwa kamu akan menikah, dan akan menginap beberapa hari disana. Kamu nanti nginep dulu di Salsa, nanti Ayah ngomong sama orang tuanya."
"Semua murid membawa orang tua mereka masing-masing, Yah " Handini merasa sedih, bagaimana jadinya jika nanti ia sendiri yang tidak didampingi oleh orang tuanya.
"Calon suamimu yang akan mendampingimu, Nak" jawab Ayah dengan serius membuat Handini membulatkan seluruh bola matanya merasa terkejut.
"Iya ,Nak. Nanti Farhan yang akan mendampingi kamu di acara perpisahan nanti. Ibu dan Ayah berharap kalian berdua akan lebih bisa mengenal satu sama lain, sebelum acara pernikahan tiba nanti. " Ibu menimpali perkataan suaminya tadi dan Handini langsung menutup mulutnya saat satu kata hampir lolos dari bibirnya.
Handini tidak bersuara, ia sudah pasrah akan rencana yang dibuat oleh orang tuanya.
Saat mereka bertiga selesai makan, Handini yang hampir saja meninggalkan meja makannya seketika berhenti saat mendengar ketukan pintu dari arah luar.
Ibu memberi kode untuk ia membukakan pintunya dan Handini menurut.
"Iya.. sebentar" jawab Handini yang merasa tamunya ini sungguh tidak sabaran karna mengetuk pintu terus.
Ceklek...
Handini merasa terkejut akan sosok yang ada dihadapannya saat ini. Bagaimana.. Bagaimana bisa orang ini sampai dirumahnya.
"Radit... "
Radit tersenyum lebar saat melihat Handini yang membukakan pintunya.
"Hai, Din. Apa kabar? Aku gak disuruh masuk nih." tanya Radit.
"Siapa yang datang, Din? Apa si Far... " Perkataan Ibu terpotong saat sudah sampai diruang tamu, dan menampakkan seorang lelaki yang sangat asing untuknya.
"Radit, Bu. Teman Handini, dia ketua kelas. " Jawan Handini sesaat setelah mempersilahkan Radit masuk dan mendaratkan bokongnya disofa.
"Saya Radit, Bu." Radit menyalami Ibu Handini sambil mengembangkan senyumannya.
"Ya udah, Ibu pamit kebelakang dulu. " Handini menyusul Ibunya untuk kedapur karna ingin mengambilkan minuman untuk Radit.
"Din, kamu janjian sama teman kamu itu? Kok tiba-tiba kesini, ada perlu apa? "tanya Ibu Handini.
"Dini juga gak tau, Bu." Handini berlalu pergi saat nampannya sudah terisi minuman dan makanan ringan.
"Diminum dulu, Dit. Dan ngomong-ngomong ada perlu apa kamu kesini? Terus darimana kamu tahu rumahku? " tanya Handini yang merasa bingung. Karna seingatnya setiap dulu kerja kelompok dirumahnya, ia tak pernah satu kelompok dengan Radit.
Bagaimana Radit bisa tau rumahnya tanpa ia tanya dulu ke Handini.
"Hmm.. soal aku tau rumah kamu ,aku tanya Ferdi. Aku kesini mau ngomongin tentang rencana anak-anak dikelas, mereka mau ngadain acara perpisahan nanti sendiri setelah perpisahan disekolah. Aku sebagai ketua kelas punya tanggung jawab buat ngabarin anak-anak kerumah masing-masing, harusnya bareng Tita atau Nando tapi mereka lagi gak bisa. Dan aku minta nomer hp kamu, Din. Nanti aku masukin ke grup kelas kita untuk pembahasan lanjutannya." Radit menyodorkan hpnya.
__ADS_1
Like kalau sukaa.... hehehe