
"*J*antungku masih normalkah? kenapa berdetak lebih cepat dari biasanya" tanya Handini dalam hati
"Kamu laper Din? ambil aja" Farhan mengambil minuman dan langsung meneguknya sedangkan Handini menarik tangannya kembali walau tadi sudah tersentuh bungkus rotinya.
Akhirnya Farhan mengambilkan roti dan memberikan kepada Handini.
Hening.
Hening..
Tidak ada percakapan diantara mereka, hanya ada bunyi suara mesin kendaraan dijalan dan bungkus roti yang telah dibuka Handini.
Tak terasa mobil sudah sampai dihalaman rumah, Handini sejenak melepaskan seatbelt lalu turun dari mobil menyusul Farhan yang berjalan mendahuluinya.
Handini bukannya langsung segera mandi malah duduk di ruang keluarga dan menyetel televisi. Hal itu pun tak luput dari pandangan Farhan yang melihatnya dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Ya ampun Nak, kenapa kamu pulang sekolah malah nonton tv bukannya mandi sana" omel Ibu Handini merasa sebal akan kelakuan putri semata wayangnya.
"Iya Bu, istirahat bentar" jawab Handini santai.
"Istirahat itu dikamar bukan disini" Ibu Handini lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Setelah selesai makan malam, karna Handini malas untuk menonton televisi akhirnya dia ke teras untuk sekedar mencari angin dengan ditemani cemilan kesukaannya.
Terdengar dari arah belakang ada suara kaki yang mendekat, dan benar saja ternyata Farhan yang kebetulan mau pergi. Entah mau kemana, tapi saat ini Farhan terlihat tampan dengan kaos warna putih dan jaket denim beserta celana jeans yang senada.
Handini tidak berani bertanya akan kemana kepergian teman dari Ayahnya tersebut, lebih tepatnya malu.
Farhan berjalan melewati Handini begitu saja tanpa melihat kearahnya.
Handini yang merasa tak dianggap keberadaannya memilih meninggalkan teras dan menuju ke kamarnya.
Handini yang dari tadi sudah tertidur pulas, akhirnya kebangun karna kebelet buang air kecil.
Saat melihat kearah jam dinding, ternyata masih pukul 23.20.
Selesai buang air kecil, dia yang akan menuju kamarnya kembali terurungkan niatnya karna mendengar ketokan pintu.
Tak lupa menyalakan lampu ruang tamu agar memudahkan Handini berjalan, saat dibuka pintunya ternyata Farhan yang saat ini sedang berdiri hanya memakai kaos dan jaket yang menggantung ditangannya. Sangat berbeda sekali dengan penampilan Farhan yang sering Handini liat. Karna tadi waktu Farhan pergi, dia hanya melihatnya sekilas.
__ADS_1
Handini tidak melihat kerutan di wajahnya, setitik wajah tua pun tak ada. Yang ia tangkap hanya wajah rupawan dan karismatik.
Farhan yang merasa diperhatikan dari tadi akhirnya menerobos Handini yang hanya diam mematung. Dia enggan berbicara karna terlalu lelah akan kesibukkannya.
Handini berdecak sebal, sebal, sebal sekali...
"*Ke*napa Om Farhan dari tadi diam terus, biasanya juga banyak ngomong" bingung Handini
Tak lupa mengunci kembali pintu rumahnya dan Handini melanjutkan tidurnya.
"Din.. Handini sayang.. bangun Nak" Ibu mencoba membangunkan Handini, walaupun hari ini libur sekolah tidak seharusnya malas-malasan.
Karna sudah kebiasaan dari dulu, setiap libur maka Handini akan membantu beres-beres rumah.
Sebenarnya Rumah Handini tidak terlalu besar, karna mereka hanya tinggal bertiga. Dan mereka tidak memakai pembantu karna Ibu Handini yang tidak menginginkannya.
"Awww... sakittt" Ibu Handini mencubit tangan putrinya karna merasa gemas, sangat susah sekali membangunkannya.
"Ibu... sakittt" rengek Handini karna sudah sering terkena cubitan Ibunya, walaupun tidak terlalu membekas namun cukup sakit.
"Ayah sama Ibu mau pergi jenguk tetangga sebelah yang sakit ,sarapan sudah Ibu siapkan dimeja makan, kamu nanti nyapu, ngepel dan sikat kamar mandi" tegas Ibu Handini
"Habis jenguk tetangga mau kerumah Nenek sama Kakek sebentar, nanti sore bisa langsung pulang. Om Farhan juga udah pergi tadi pagi-pagi sekali, jadi kamu dirumah sendirian"
Terdengar bunyi klakson mobil dari luar "Udah ya Nak, Ayah sama Ibu pergi dulu. Kamu jaga rumah" tanpa mendengar jawaban putrinya, Ibu Handini langsung pergi meninggalkan kamar.
"Kerja keras sendirian deh hari ini"
"Uhh... Semangat" Handini menyemangati diri sendiri
"*E*h tunggu dulu deh, Om Farhan kan baru pulang tadi malem. Masa pagi-pagi tadi udah pergi lagi sih" Handini merasa penasaran
Pukul 08.45 Handini baru saja menyelesaikan semua pekerjaan yang disuruh ibunya. Lalu ia pergi mandi dan sarapan.
Saat ini Handini sedang duduk di sofa ruang keluarganya sambil menonton televisi.
Terdengar bunyi mesin mobil yang berhenti didepan rumah, Handini berjalan ke pintu depan dan dilihatnya Om Farhan turun dari mobil.
Dia tampak keletihan terlihat dari matanya yang memerah seperti kurang tidur dan rambut acak-acakan seperti belum mandi.
__ADS_1
Handini tertawa dalam hati melihat penampilan Om Farhan yang seperti itu.
"Om habis darimana? " tanya Handini yang tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.
Farhan melirik sekilas ke Handini dan menjawab "Habis cari rumah, Din" suaranya terdengar melemah seperti tak bertenaga.
Handini yang menyadari itu segera menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu, dan tanpa disuruh ia juga membuat teh untuknya.
"Nih Om, kalau kurang manis tambahi gula sendiri ya" Handini menaruh cangkir teh disamping piring makan Farhan.
"Liat kamu aja udah manis, Din" gombal Farhan sambil tersenyum jahil.
Farhan yang nyebelin ternyata sudah kembali dan tidak mendiamkan Handini lagi.
Handini tersenyum karna merasa senang akhirnya Farhan mau berbicara dan bercanda lagi dengannya.
"Jangan ge-er dulu, cuma manis gak cantik kok ,hahahaa" ledek Farhan sambil menjulurkan lidah.
Handini tidak menjawab dan berlalu pergi dari sana melanjutkan menonton televisi.
"Din, Mas Handoyo dan Mba Ratih kemana? " tanya Farhan menghampiri Handini dan duduk disofa sebelahnya.
"Jengukin tetangga yang sakit dan sekalian mampir kerumah Kakek dan Nenek, nanti sore pulang" Handini menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
"Oh... " singkat jawaban dari Farhan.
"Hmm.. Om udah dapet rumah barunya? " tanya Handini memecah keheningan.
"Belum Din, semalem ada rumah yang mau dijual pas cek lokasi bangunannya gak bagus. Terus tadi pagi juga sama bangunannya gak bagus, udah tua kayaknya harus direnovasi. Padahal Om butuhnya yang langsung bisa dipakai aja. Kapan lagi cari rumah, waktunya susah Din, karna libur cuma hari minggu. Adapun yang bagus tapi terlalu jauh dari tempat kerja" Farhan menerocos tanpa henti.
"Kenapa Om gak cari kos-kosan aja sih, apa kontrakan kecil gitu pasti banyak ko sekitar sini" usul Handini.
Farhan tersenyum harus bagaimana menjelaskan kepada anak abg labil satu ini.
"Om kan mau menetap disini Din, otomatis kalau Om nikah juga bakal tinggal bareng disini bareng istri dan anak Om" jelas Farhan
"Om bentar lagi mau nikah? " tanya Handini dengan mata yang sedikit melebar karna merasa kaget.
Entah apa yang ditangkap oleh Handini akan penjelasannya .Padahal Farhan bilang kalau dia nikah, maka akan tinggal bareng istri dan anaknya jadi membutuhkan rumah bukan sekedar untuk tinggal hidup dia saja.
__ADS_1
Like, like, like.... Hehehe