My Adult Man

My Adult Man
Khawatir


__ADS_3

Senyuman Handini sedari tadi tidak menyurut. Perasaan bahagia masih menyelimuti hatinya. Tidak disangka respon dari tetangga belakang rumah sangatlah baik, Handini berasa seorang ratu yang telah ditunggu kedatangannya. Hehe


Ternyata Ibu tersebut bernama Ibu Maemunah yang katanya biasa disebut orang sekitar dengan panggilan Bu Mae.


Bu Mae bekerja sebagai buruh cuci harian. Setiap pagi Bu Mae mengambil cucian kotor disetiap rumah yang menggunakan jasanya.


Seperti tadi, Bu Mae juga menawarkan Handini barangkali ingin menggunakan jasanya untuk cuci baju.


Bu Mae mengucapkan terima kasih kepada Handini yang mau membagikan makanan kepadanya.


Bu Mae mengetahui akan tetangga depan rumahnya yang sudah menikah dengan wanita yang jauh muda darinya.


Setelah Bu Mae menerima kotak makanan yang diberikan Handini, dengan alasan masih banyak pekerjaan rumah, Handini berpamitan untuk pulang.


Saat perjalanan pulang, Handini bertemu dengan gerombolan Ibu-ibu komplek yang sedang berada di pinggir jalan dengan membawa masing-masing stoller bayi.


Sambil mengemong bayinya mungkin sekalian ngerumpi, pikirnya. Namun kok bisa bersamaan memiliki bayi semua ya?


"Neng, pengantin baru ya? " celetuk salah satu Ibu-ibu yang memakai daster berwarna biru namun sudah terlihat agak tua, usianya sekitar diatas suaminya.


Handini hanya tersenyum malu tanpa mampu menjawabnya. Sedangkan Ibu-ibu yang lain hanya tertawa pelan.


"Saya denger-denger neng ini baru lulus SMA ya? kenapa milih nikah muda sih neng? saya aja umur 30 tahun baru nikah lhoo, karna saya ngejar karir dulu" jawabnya agak menyindir.


"Eh gak apa-apa, saya saja seusia mbanya udah nikah kok tapi---" Ibu yang memakai kaos dengan celana pendek selutut ikut menimpali. Namun perkataannya digantung diakhir kalimat.


"Tapi cerai" dijawab kompak Ibu-ibu yang berjumlah lima orang itu.


"Makanya kalau mau menikah itu dipikir dulu matang-matang, jangan suka berkhayal kalau menikah itu gampang dan menyenangkan."


"Betul itu" Ibu-ibu yang lain ikut menimpali dan menciptakan suasana yang penuh dengan kerumpian.


Tanpa diketahui oleh Ibu-ibu yang lain, Handini melanjutkan langkahnya kembali untuk segera sampai rumah.


Handini berusaha untuk tidak kemakan atas perkataan yang mereka ucapkan barusan. Namun tidak bisa dipungkiri, ia merasa kepikiran akan hal itu.


Mereka secara tidak langsung menyindir dirinya yang memilih untuk menikah muda. Padahal kebanyakan orang yang menikah muda lalu bercerai bahkan dengan umur pernikahan yang hanya seumur jagung.


---


Hari semakin larut, namun tak membuat mata Handini mengantuk sedikitpun. Entah kenapa matanya masih tetap terjaga, padahal sekarang sudah pukul 23.00 malam.


Suara bunyi mobil berhenti terdengar jelas ditelinganya, karna suasana yang sepi jadi suara sekecil apapun pasti terdengar.

__ADS_1


"Mas Farhan" ucapnya didalam hatinya.


Tidak perlu menunggu lama, suara pintu terbuka pun telah ia dengar. Suara langkah kaki melewati depan kamarnya sangat jelas ditelinganya. Mungkin Mas Farhan akan membersihkan badannya terlebih dahulu dikamar mandi. Karna kran kamar mandi dalam masih rusak, belum ada waktu untuk memanggil tukang ledeng.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka memperlihatkan Farhan yang bertelanjang dada dengan handuk yang melilit dipinggangnya.


Badannya yang atletis serta bulu-bulu halus yang tumbuh disekitar dadanya menambah kesan sexy sebagai seorang pria.


Handini mengintip dari bawah selimut yang kini menutupi seluruh badannya. Perasaannya menghangat saat takdir indah ini mempersatukan mereka berdua.


Handini merasa bahagia bisa bersanding dengan Farhan. Walaupun ia belum tahu perasaan sang suami terhadap dirinya.


Ia tiba-tiba memikirkan kembali tentang malam pertamanya yang belum terjadi. Farhan tak pernah menyentuhnya sama sekali. Memeluk pun tak pernah. Walaupun Handini masih merasa takut akan hal itu, tapi tanpa dipungkiri ia juga penasaran.


Ranjangnya sedikit terguncang, menandakan suaminya sudah menaiki ranjang. Helaan nafas yang keluar dari mulut suaminya, terdengar jelas ditelinganya.


Mungkin Mas Farhan lelah akan kegiatannya seharian ini, pikirnya.


Handini menyibakkan selimut yang sedari tadi menutupi wajahnya, tanpa menoleh ke arah suaminya, ia segera melangkah keluar menuju dapur membuat Farhan mengernyit heran.


"Dia belum tidur atau terbangun?" tanyanya dalam hati.


"Din? " Farhan mengikuti langkah kaki istrinya.


"Kenapa mas? " jawabnya dengan ramah.


"Kau belum tidur? " Farhan mendudukkan tubuhnya dikursi sedangkan Handini sedang berada dimeja dapur.


"Hmmm belum, aku mau membuatkan kamu teh manis hangat, mas" Handini meraih satu cangkir.


Farhan merasa tidak enak dengan istrinya yang rela menunggunya hingga ia pulang dan masih sempatnya membuatkan teh untuk dirinya.


"Kau tadi pura-pura tidur? " Farhan menopang dagunya diatas meja dengan pandangan yang tak lepas memandangi istrinya dari samping.


"Aku mencoba memejamkan mata dari tadi, namun tidak bisa tertidur"


"Oh... mungkin gara-gara memikirkan aku mungkin?" jawab Farhan dengan percaya dirinya.


Handini tidak menjawab. Ia masih sibuk menuangkan air panas kedalam cangkir.


"Hmm aku memikirkan perkataan ibu-ibu komplek tadi sore" Handini menaruh cangkir panas tersebut dihadapan suaminya.

__ADS_1


Sudut mata Farhan berkerut disertai alisnya yang hampir menyatu.


"Perkataan apa? " tanya Farhan seksama dengan mata yang melebar.


"Tentang aku yang memilih menikah muda, padahal di luar sana banyak yang menikah muda namun sebagian besar berujung perpisahan"


Handini tidak berniat untuk mengatakan hal itu kepada suaminya. Namun hal itu sedari tadi menghantui pikirannya. Ia tidak ada pilihan lain selain menceritakannya itu kepada suaminya, karna teman terdekat Handini adalah suaminya sekarang. Tidak mungkin ia membahas hal berbau rumah tangga dengan Salsa.


"Kau tak usah memasukkan perkataan yang seperti itu, jadilah istri yang patuh saja sudah cukup" Farhan menyeruput sedikit tehnya yang masih mengeluarkan uap panas. Dengan sesekali meniupnya perlahan.


Handini menganggukan kepala. Pikirannya masih mencerna perkataan dari suaminya.


"Menjadi istri yang patuh"


"Mas, aku mau kembali kekamar dulu, sudah mengantuk"


"Iya, beristirahatlah"


Namun langkah Handini terhenti saat teringat sesuatu. Handini kembali menghampiri suaminya namun sekarang duduk disampingnya.


Farhan menoleh dan bertanya ada apa lagi.


"Tadi ada yang kesini mas, katanya dia teman mas dari kampung"


Farhan menggeser tubuhnya agar leluasa menatap istrinya yang berada di samping.


"Siapa? " tanya Farhan tidak sabar.


"Hmmm siapa ya mas, aku lupa" Handini benar-benar lupa akan nama dari teman suaminya tersebut.


"Teman mas dikampung, apa namanya Jefri? " tebak Farhan


"Bukan mas, hmmm belakangnya kalau tidak salah ko ko gitu deh" Handini berpikir keras untuk mengingatnya.


"Riko?? " Farhan dengan refleks mengguncang tubuh istrinya untuk segera meminta jawaban. Handini terkejut akan apa yang dilakukan suaminya.


"I--ya mas" jawabnya yang merasa takut secara tiba-tiba.


"Kau tidak apa-apa kan? dia tidak menyakitimu? apa yang dia lakukan disini? " jawab Farhan sambil memegang bahu istrinya.


.


.

__ADS_1


.


Selamat membacaaa..... like like like


__ADS_2