My Adult Man

My Adult Man
Anak Angkat


__ADS_3

Memejamkan mata sejenak, menghirup dalam-dalam udara malam yang dingin mungkin hanya wanita ini saja yang mau melakukannya. Siapa memang yang menyukai udara malam? tidak menyehatkan bukan, berbeda dengan udara pada pagi hari.


"Din, kau sedang apa? " suara laki-laki yang sangat familiar ditelinganya, menghentikan aktivitasnya. Ia dengan segera menutup jendela kamar dan menghampiri suaminya yang sudah mendudukkan tubuhnya diatas ranjang.


Farhan mengernyit heran, istrinya tidak menjawab pertanyaannya. Wanita itu malah membalutkan selimut ditubuhnya pertanda akan segera tidur.


"Din, kau mau tidur? " tanyanya lagi berharap istrinya akan menjawab. Namun sudah sekian detik ia menunggu, tidak ada jawaban dari istrinya.


Tok tok tok..


Terdengar ada yang mengetuk pintu kamarnya, Handini menyibakkan selimut yang membalut tubuhnya tadi dan segera turun dari ranjang untuk membuka pintu sebelum didahului suaminya.


Ia sudah memasang hati setegar baja untuk apa yang akan dihadapinya nanti.


Ceklek...


"Din, Bibi lupa tadi ingin memberikan ini untukmu" Bi Nam memberikan satu botol minuman rempah-rempah yang Handini sendiri tidak tahu khasiatnya untuk apa.


"Iya makasih Bi, tapi ini untuk apa? " tanyanya sambil menerima botol itu.


"Ini jamu biar cepat punya anak" jawabnya setengah berbisik. Mata wanita itu membulat secara sempurna, ia kaget bukan main. Rahangnya terkatup, tidak bisa berkata apa-apa.


"Ada apa Bi Nam? " tanya Farhan menghampiri mereka berdua di ambang pintu.


"Hmm sudah ya, Bibi mau kembali ke kamar" senyum tulusnya tak lupa ia sematkan kepada keponakannya tersebut.


"Ini botol apa ,Din? " Farhan meraih botol itu dan diamatinya lekat-lekat.


"Jamu" jawabnya singkat ,wanita itu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


Farhan menutup pintu kamarnya dan menghampiri istrinya.


"Jamu buat apa? " Farhan mencoba menatap istrinya namun wanita itu malah memalingkan wajahnya.


"Biar cepat punya anak" Mata Farhan melebar, ia seperti mendengar suara bom yang sangat mengagetkannnya.


"Simpanlah saja, aku takkan meminumnya juga" suaranya penuh akan perintah, membuat suaminya merasa heran.


"Minumlah besok" Farhan memberikan botol jamu itu kepangkuan istrinya.

__ADS_1


"Untuk apa? tidak mengefek apa pun." Handini menghela nafasnya.


"Din, kalau kita sudah menikah nanti, aku tidak akan menuntut untuk kau cepat mengandung. Aku masih membebaskanmu untuk meneruskan kuliah dan fokus akan kuliahmu"


Perkataan suaminya kala itu, tiba-tiba melintas dikepalanya. Lelaki itu pernah mengatakannya saat di Taman waktu itu. Ia tak pernah berpikiran jika mungkin alasan itu yang menyebabkan suaminya tak pernah menyentuhnya.


Handini merangkak naik ranjang yang sebelumnya telah menaruh botol jamu pemberian Bibinya di atas nakas. Ia menarik selimut sampai lehernya. Tak ada jawaban yang terlontar dari mulut suaminya, membuatnya mengakhiri percakapan dengan Farhan.


Farhan tak bergeming akan posisinya saat ini, ia masih tak bisa berkata apa-apa akan perkataan dari istrinya tadi.


"Jamu untuk cepat mengandung" hati Farhan perih sangat mengatakannya.


-------


"Mas, aku boleh main kerumah Salsa? " Handini menghampiri suaminya dikamar yang akan segera berangkat ke kantor setelah tadi menyelesaikan sarapan.


Farhan mengambil tas kerjanya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan istrinya.


"Boleh kok Din, tapi sebelum mas pulang kau sudah ada di rumah ya? " pintanya.


"Makasih mas" Handini segera mengambil jaket denimnya dan tak lupa sling bag-nya.


"Tak perlu mas, jaraknya jauh nanti mas bisa terlambat, aku bisa naik gojek saja atau kendaraan umum" namun Farhan menatapnya dengan dingin, mengisyaratkan ia tak menerima penolakan.


"Baik mas " Handini pasrah dan mengikuti suami yang sedang melangkah keluar.


"Din, kau mau kemana? " tanya Bibi yang berjalan menghampirinya.


"Aku mau ke rumah teman, Bi. " jawabnya tersenyum.


"Oh ya sudah hati-hati, jamunya sudah kau minum kan? " tanyanya tanpa berbisik lagi, kali ini Bibinya terang-terangan mengatakannya didepan Farhan serta Lita yang saat ini sedang berjalan menghampiri mereka bertiga. Gadis itu mendengar semua yang di ucapkan Ibunya.


"Jamu apa, Bu? " tanya Lita kepada Ibunya.


"Ahhh kamu anak kecil, tak perlu tahu" Bi Nam cekikikan serta Farhan yang menahan tawanya, tapi tidak dengan Handini yang memasang wajah datar.


"Apa di rumah ini yang anak kecil cuma Lita aja, Bu? " Lita melirik sekilas ke arah Handini. Wanita itu seakan paham kalau Lita sedang menyindir dirinya.


Lita gadis berumur 20 tahun, ia lebih tua dari Handini. Mungkin karna Lita lebih tua darinya, menjadikan Lita malas untuk bersikap sopan terhadap dirinya.

__ADS_1


"Itu jamu buat cepat punya anak Lit, kamu mau?" tawar Handini yang mendapat tatapan aneh dari suami dan Bi Nam "Hahahaa tidak-tidak aku bercanda, jamunya udah aku minum kok Bi, makasih udah mau bawain jamu dari kampung" Handini mengembangkan senyumnya, memang benar tadi pagi ia telah meminum jamu yang diberikan Bibinya karna ingin menghargai saja.


"Wah... syukurlah, semoga Bibi bisa cepat-cepat menggendong cucu dari kalian " jawabnya sambil terkekeh. Sedangkan gadis itu hanya memutar bola matanya merasa jengah atas perkataan dari istri sepupunya itu.


"Ya Bi, doakan saja." Farhan berucap sambil merangkul Handini, membuat wanita itu sedikit tersentak akan perlakuannya yang tiba-tiba. Bi Nam tersenyum dan mengangguk.


"Pasti Bibi doakan, selalu doakan " katanya bersemangat.


"Ya sudah kami pamit dulu ,Bibi jangan lupa diminum obatnya yang teratur "


"Iya Han, jangan lupa juga tanyakan ke atasanmu ya barangkali ada posisi kosong untuk Lita, biar kalian bisa kerja bareng jadi Bibi tenang melepaskan Lita untuk kerja di kota ini" katanya sambil mengusap lengan ponakannya tersebut. Handini menoleh ke arah suaminya, merasa kaget atas perkataan dari Bibinya.


"Iya Bi, nanti Farhan tanyakan" ucapnya lalu mereka berdua masuk kedalam mobil.


"Mas, Lita itu beneran sepupu kamu?" Mata wanita itu tak hentinya memandang suaminya dari samping. Banyak pertanyaan yang terkumpul di kepalanya.


"Kalau bukan sepupu terus apa? " Farhan terkekeh.


"Bi Nam kemarin bercerita kalau Lita waktu pernikahan kita tidak datang karna dia sedang berlibur dengan Ayahnya, berarti itu suami Bi Nam kan? kenapa kau waktu itu bilang Bi Nam tinggal sendiri di kampung? " hatinya seketika lega karna beban pikirannya yang sedikit berkurang.


Farhan menghela nafas, dengan cepat Handini menyimpulkan kalau semua ini ada sesuatu yang menurutnya janggal.


"Bi Nam mengatakan apa lagi? " tanya Farhan dengan masih fokus menyetir.


"Hanya itu saja" Handini dengan tidak sabar menunggu jawaban dari suaminya. Butuh beberapa detik untuk mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara.


"Lita itu sebenarnya bukan anak kandung dari Bibi, karna Bibi kehilangan suaminya saat ia masih muda dan mereka belum di karuniai anak, akhirnya setelah kepergian suaminya ia mengadopsi anak karna ia tak mau menikah lagi"


Handini membelalakan matanya merasa kaget dan shock.


.


.


.


.


Ada Konflik dong.... sabar yaaa...

__ADS_1


Namanya hidup pasti ada naik turun, naik turun emosinya... Hahahaaa


__ADS_2