
Sudah memasuki tengah malam tetapi mata Handini masih terjaga. Entah apa yang sedang ia pikirkan, padahal Handini harus banyak istirahat karna beberapa minggu lagi akan menghadapi ujian.
Dia memutuskan untuk ke kamar kecil dulu membuang yang tertahan di kantung kemihnya dan akan segera tidur.
"Belum tidur, Din? " suara tak asing dari belakang Handini.
Karna sudah tak tahan Handini berlari menuju kamar kecil tanpa menjawab.
Ceklekk..
"Om ngagetin aja" kaget Handini karna saat membuka pintu Farhan ternyata berdiri didepannya.
"Bilang aja takut, malam-malam kekamar kecil sendirian" ledek Farhan
"*Men*yebalkan" sebal Handini
Tanpa menjawab ia berlalu pergi dari sana dan menuju kamar.
"Om gak bilang sekarang mau nikah, tapi entah kapan waktunya dan kalau ada calonnya juga akan nikah. Om pernah gagal ,jadi gak mau terburu-buru memilih calon." jawaban Farhan pada saat perbincangannya tadi diruang keluarga bersama Handini.
"Om Farhan umur berapa si? "tanya Handini dalam hati
Handini hanya tau kalau Farhan belum menikah karna Ayah pernah cerita. Dan untuk masalah umur Farhan, Ayah tidak pernah menyebutkan.
----
"Semangat, Din" Farhan menyemangati Handini dari dalam mobil.
Handini hanya tersenyum dan langsung masuk kedalam sekolah.
Karna hari ini adalah ujian nasional bagi tingkat SMA.
Dan Farhan masih setia mengantar jemput Handini walaupun sudah tidak tinggal lagi dirumah Handini. Farhan mendapatkan rumah barunya yang ternyata tidaklah jauh dari rumah Handini,karna kebetulan ada tetangga sekitar yang ingin menjual rumahnya.
Tanpa pikir panjang Farhan langsung membelinya karna letak yang strategis walaupun tidak terlalu besar.
Karna hanya ujian satu mapel jadi Handini pulang lebih awal dan memilih untuk menebeng mobil Salsa. Dan sebelumnya ia juga sudah memberitahu Farhan.
"Din, yang suka nganterin kamu berangkat sama jemput itu temen Ayah kamu kan? itu temen apa sopir kamu? " tanya Salsa.
"Iya itu temen Ayah, tapi udah dianggep kaya keluarga. Awalnya karna tempat kerja sama sekolah aku searah, jadi Ayah minta tolong buat nganterin aku berangkat sekolah. Dan Om Farhan gak keberatan terus sampai sekarang deh. " jawab Handini
"Oh.. gitu" Salsa mengangguk
Di Kamar
Handini saat ini sedang belajar dengan serius, tapi ketika mendengar ketokan pintu ia langsung mengalihkan pandangannya dari buku.
__ADS_1
"Ayah, ada apa? " sesaat setelah pintu berhasil Handini buka.
"Kamu lagi belajar, Nak? Ayah mau ngasih ini, titipan dari Om Farhan" Ayah memberikan paper bag yang lumayan besar.
"Apa ini Ayah?" Ayah hanya menaik turunkan bahu mengisyaratkan tidak tau.
Karna penasaran Handini langsung duduk dan membuka paper bag itu dan ternyata boneka beruang warna coklat yang sangat lucu sekali dimata Handini.
Dan refleks Handini memeluk dan menciumnya.
"*T*unggu deh.. aku kan gak ulang tahun, kenapa Om Farhan ngasih aku hadiah"
Dan besok Handini akan menanyakannya.
Di Ruang Makan
"Nak, kamu berangkat sama Ayah. Sekarang Om Farhan gak bisa nganterin kamu lagi. " jawab Ayah saat sendokan terakhir berhasil mendarat dimulutnya.
"Kenapa, yah?" tanya Handini sambil menatap Ayahnya yang juga menatapnya.
"Om Farhan balik ke kampung halamannya, karna bibinya lagi sakit. Mungkin 2hari disana, tapi sekarang biar Ayah aja yang nganterin kamu. Toh, bentar lagi kamu lulus" jawab Ayah yang dijawab anggukan dari Handini.
------
Ujian pun telah Handini lalui semua.
Handini sedang mencari-cari kampus yang bagus buat dirinya melanjutkan kuliah.
"Nak, ayo kamu siap-siap kita main ke rumah Om Farhan" ajak Ibu Handini yang saat ini sudah rapi.
"Mau ngapain Bu? Biasanya juga Om Farhan yang main kesini" Handini tidak bersemangat karna terlalu pusing untuk memikirkan akan dimana dia kuliah.
"Maka dari itu, kita gantian kesana. Bawain bingkisan sebagai ucapan terima kasih waktu itu udah mau nganter jemput kamu. Buruan Ibu sama Ayah nunggu dimobil."
Dengan rasa malasnya Handini ganti baju dan segera menyusul ke mobil tidak lupa untuk mengunci pintu.
Handini kesal karna saat tadi dirumah Om Farhan, ia hanya diam saja karna tidak ada yang mengajaknya berbicara.
Ayah sibuk ngomongin bisnis sama Farhan dan Ibu juga sibuk ngobrol dengan bibinya Om Farhan yang sekarang tinggal bersama.
Karna merasa diacuhkan Handini merengek untuk segera pulang saja karna tidak enak putrinya merengek terus lalu akhirnya mereka memutuskan pulang.
Dikamarnya Handini langsung membanting boneka pemberian Farhan.
"*Me*nyebalkan, menyebalkan" Handini sangat kesal
Disisi lain, Farhan tersenyum-senyum karna dia sebenarnya tau Handini kesal karna merasa diacuhkan.
__ADS_1
"Anak labil itu lucu juga" katanya dalam hati
Keesokkan harinya karna Handini tidak berangkat sekolah lagi dia memutuskan untuk mengajak Salsa melihat-lihat kampus yang ada dikotanya.
"Din, laper nih. Makan dulu yuk" Handini melirik sekilas karna baru aja berangkat udah merasa laper tadi katanya udah sarapan.
Saat ini Handini berada di mobil Salsa karna memudahkan mereka untuk pergi menggunakan sopir.
Handini melihat ada cafe yang sudah buka dan menunjuknya berharap Salsa menyetujui untuk makan disana saja.
Salsa mengangguk pertanda setuju.
Saat masuk kedalam cafe, Handini melihat ada sesosok orang yang tidak asing baginya.
Walaupun orang itu membelakanginya tapi Handini yakin ia kenal.
Ia memilih untuk duduk disamping meja yang orang tersebut duduki.
Handini terkejut karna orang tersebut sedang duduk bersama wanita cantik yang masih sangat muda, mungkin seumuran dengannya. Orang tersebut menoleh kesamping dan menyapa Handini.
"Eh Din, kamu disini? Pagi-pagi udah nongkrong aja" tanya orang itu yang ternyata adalah Farhan.
"Om juga disini" ketus Handini "*B*areng abg lagi" sangat lirih mungkin Farhan tidak mendengar.
"Iya, Om lagi sama---" belum selesai bicara pelayan datang untuk memberikan buku menu kepada Handini.
"Silakan kak, mau pesen apa? " tanya pelayan dengan ramah.
Lalu Handini fokus untuk memilih menu makanan yang akan ia pesan begitupun Salsa.
"Din, Om pulang dulu ya." pamit Farhan sambil menggandeng gadis yang bersamanya.
"Cih.. kayak mau nyebrang pake digandeng" gerutu Handini saat Farhan sudah keluar Cafe**.
"Eh Din.. itu tadi teman Ayah kamu kan? cewek tadi siapanya Din? anaknya ya?" tanya Salsa dengan keponya.
"Gak tau.. kata Ayah dia belum nikah" jawab Handini sambil masih membolak-balikan buku menu.
"Kalau anaknya kayaknya gak mungkin deh, misal anaknya masa udah segede itu. Kalau misal keponakan, beruntung banget punya Om kaya dia di ajakin ke cafe pagi-pagi lagi. Oh.. atau mungkin pacarnya? jaman sekarang kan gitu, om-om ngincer daun muda" cerocos Salsa.
Handini diam, dugaan terakhir Salsa sama persis yang dipikirkan Handini.
Seketika dia jadi lemas tak bertenaga, tak berselera makan.
Handini ingin pulang saja.
Kalian suka cerita ini?? Like dan klik favorit. Okehh.... hehehe
__ADS_1