
Handini saat ini berada di dalam kamarnya sedang memainkan ponselnya.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, Handini segera bangkit dan membuka pintu karna sebelumnya ia kunci.
"Ayah, ada apa?" tanya Handini.
"Kau sedang sibuk, Nak? " tanya Ayah dengan mimik muka yang tidak bisa ditebak.
"Tidak yah, aku kan sudah tidak belajar lagi " Handini terkekeh akan pertanyaan dari Ayahnya.
"Ayah ingin berbicara sebentar denganmu, Nak "
"Masuklah yah " Handini mempersilahkan Ayahnya untuk masuk.
Ayah dan Handini duduk diatas kasur, pandangan Ayah menatap kesembarang arah.
Mungkin beliau sedang menyusun kata, agar putrinya bisa paham maksud Ayahnya.
"Nak, kamu kan sudah 18tahun. Kamu sudah cukup dewasa untuk memilih mana yang baik dan yang buruk." Ayah menjeda ucapannya sejenak lalu menatap putrinya dengan tatapan sendu.
"Kamu anak Ayah satu-satunya, perempuan lagi. Ayah sangat mengkhawatirkan masa depan kamu, Ayah tak ingin kamu salah pilih pendamping hidup, Nak"
"Ayah... aku belum memikirkan soal pendamping ,Ayah tak perlu khawatir" Handini bingung akan Ayahnya yang tiba-tiba berbicara seperti itu.
"Tapi Nak, rumah ini sepi sekali " Ayah melirik sekilas ke Handini.
Handini tambah merasa bingung akan maksud perkataan Ayahnya.
"Ayah ingin punya anak lagi? Bicaralah kepada Ibu jangan ke Handini "
"Tak mungkin, Nak. Ibumu sudah tua, rentan jika mengandung lagi "
"Iya, lalu? " sekarang Handini menatap intens ke Ayahnya, berharap bisa membaca jawaban dari raut wajah Ayah yang sudah nampak keriput disana.
"Ayah ingin kamu menikah saja, Nak. Ayah kan sudah tua, ingin menggendong cucu sepertinya menyenangkan " senyuman Ayah mengembang dengan mata yang berbinar-binar.
"Menikah itu ada mempelai laki-laki dan perempuan, yah. Dan aku belum memiliki calon mempelai laki-laki, Ayah harus bersabar " Handini terkekeh akan keinginan sang Ayah, jelas-jelas ia pun tak punya pacar, mau menikah dengan siapa.
"Ayah sudah menyiapkan calon untukmu, Nak. Besok siang kita akan bertemu dengannya. Persiapkan diri kamu, Nak. Dan Ayah selama ini tak pernah meminta apapun kepadamu, Ayah harap kamu tidak menolak untuk hal ini. Ayah tak butuh jawabanmu, Ayah harap kau mengerti. "
Sebelum meninggalkan kamar putrinya, ia tak lupa mengelus rambut Handini menandakan ia sangat menyayangi putri semata wayangnya.
Handini masih kaget dan tak dapat berbicara apapun.
"Ayah akan menikahkan aku dengan siapa? Apa seperti di film-film, dinikahkan dengan pria kaya raya yang sudah berumur dengan kumis yang lebat dan muka yang sudah banyak keriput. Tidak Tidak Aku tidak mauuuu. Tapi Ayah tak mungkin setega itu terhadapku. "
__ADS_1
Jarum jam sudah menunjukan pukul 00.30 ,tapi saat ini masih ada sepasang mata yang terjaga.
Ia terlihat sedang menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Boneka yang ada disebelahnya, itu Boneka pemberian dari Farhan.
Sudah sekitar 1 minggu, ia tak bertemu dengannya. Terakhir bertemu saat di cafe pagi itu.
Handini merasa sesak akan ingatannya yang ada di cafe tersebut. Yang menampakkan Farhan sedang duduk dan makan bersama wanita yang lumayan masih muda, dan saat ia menggandeng tangan wanita tersebut.
Handini mencoba untuk memejamkan matanya agar segera tertidur, karna matanya sudah lelah.
Tak butuh lama akhirnya Handini tertidur.
---
"Din, kamu mau gak jadi istri Om Farhan? " Tanya Farhan sambil memegang tangan Handini
Handini hanya tersipu malu dan segera melepaskan tangannya dari genggaman Farhan
"Om, emangnya mau sama abg kaya Handini ?"
"Mau dong, daun muda siapa yang gak mau. Hahaha " Farhan tergelak akan pertanyaan Handini.
"Harusnya Om yang tanya, Handini mau sama Om Farhan yang udah tua ini? " Farhan memasang wajah yang cemberut.
Lalu Handini menangkup pipi Farhan tanpa malu-malu, matanya menyiratkan kekaguman akan sosok Farhan yang sudah berumur namun masih terlihat tampan dan badannya atletis.
"Awwwww...."satu cubitan yang terasa dilengannya membuat Handini mengaduh kesakitan lalu ia membuka mata, dan ia kaget akan sosok Ibu yang sudah menatapnya dengan tajam.
"Kamu ini, susah banget dibanguninnya. Liatlah sudah jam berapa. Gadis kok bangunnya siang terus."
"Ahh.. tadi hanya mimpi" keluh Handini.
"Mimpi apa kamu, sampai belum bangun-bangun. "
"Mimpiin Ibu punya anak lagi." Handini langsung berlari kearah kamar mandi saat Ibu melemparkan bantal kearahnya.
"Anak itu kalau ngomong suka ngawur "
Ibu Handini saat ini sedang merapikan kasur putrinya yang sangat berantakan, sudah kebiasaan Ibu setiap hari.
---
"Ayah, kita mau kemana? " Tanya Handini yang saat ini sedang berada didalam mobil bersama Ayah dan Ibunya
"Ayah kan sudah bilang kemarin, kita akan bertemu dengan calon suamimu, Nak . Bersikaplah yang sopan, Ayah sudah mendidikmu dengan baik, jangan bikin malu Ayah. "
__ADS_1
"Tapi kalau Handini tidak suka, bagaimana? Boleh Dini tolak kan, yah? " Handini merasa ketakutan akan sosok seperti apa calon suaminya nanti.
"Ibu yakin sih, kamu pasti suka. Dia sudah dewasa, penyabar, mandiri dan tampan kok. " Ibu menahan tawanya saat memuji calon menantunya tersebut.
"Ibu tidak bohong kan? " Tanya Handini seksama.
"Kamu ini cerewet sekali, lihatlah dulu nanti. Pendekatan saja dulu. " Ibu tersenyum kepada Handini, mencoba menenangkan putrinya yang terlihat cemas.
Mobil sudah terparkir dihalaman restoran yang tidak terlalu mewah di kota ini.
Handini merasa kakinya sangat sulit digerakan, padahal ia sudah terbiasa berjalan. Apalagi kalau bukan rasa nervous yang mendera, dan rasa takut yang menyergap.
"Cepat sedikit lah, Nak. Kita sudah ditunggu. " Ayah menoleh kebelakang disaat putrinya masih tertinggal jauh dibelakang.
Dari kejauhan Handini menatap sesosok orang yang tak asing, semakin mendekat ia semakin yakin akan sosok itu. Dan berhenti tepat didepan meja besar yang menampakkan sosok-sosok yang pernah Handini lihat sebelumnya.
"Maafkan kami karna terlambat, karna terjebak macet sedikit tadi dijalan" Ayah meminta maaf akan keterlambatan kita.
Handini masih diam mematung ,Ibunya dari tadi menyenggol lengannya memberikan isyarat untuk bersalaman kepada orang yang ada dihadapannya.
"Din, apa kabar? " tanya Farhan sambil mengulurkan tangannya
"Ba-ik om " jawab Handini terbata
"Apa maksudnya ini semua, apa Om Farhan calon suamiku, Ayah...... "
Handini mengalihkan pandangannya kepada Ayahnya, berharap mendapat penjelasan dari ini semua. Namun Ayah malah seperti acuh dan menyuruh semuanya untuk memesan makanan.
Farhan dari tadi memperhatikan Handini yang nampak kebingungan.
Setelah acara makannya selesai.
Ayah dengan segera membuka percakapan.
Ayah melirik sekilas ke Handini lalu sekarang menatap Farhan.
"Farhan, kamu teman baikku dari dulu. Aku yakin kamu lelaki yang baik, dan juga pantas untuk menjadi menantuku" Ayah tersenyum kearah Handini.
Deg..
Deg..
Handini tidak mampu berkata apapun akan apa yang diucapkan Ayahnya.
Tidak mungkin jika ini hanya sebuah lelucon, tapi terlalu mustahil untuk ia percayai begitu saja.
__ADS_1
Like ya kalau kalian sukaa...