
Hari demi hari berlalu dan tibalah hari dimana sepasang manusia akan melangsungkan pernikahan.
Tak begitu mewah namun terlihat sangat elegan itulah yang pantas untuk memuji dekorasi yang menghiasi rumah mempelai laki-laki.
Iya, mereka melangsungkan pernikahan dirumah mempelai laki-laki. Tidak ada salahnya entah dirumah siapa, yang terpenting mereka menjalankan sesuai syariat dan aturan yang berlaku.
Tepat pukul 08.00 pagi tadi, akad nikah sudah berlangsung tanpa kendala apapun.
Handini dan Farhan sekarang sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Tangis haru dari orang tua dan sahabatnya membuat Handini merasa sangat dicintai.
Sedangkan dari pihak Farhan, Bibinya lah yang saat ini masih menetaskan air mata melihat keponakan satu-satunya tersebut telah menjadi seorang suami.
Bibinya lah yang selama ini mengurus Farhan dari semenjak orang tuanya meninggal.
Farhan sudah 25 tahun menjadi yatim piatu, saat umurnya 8 tahun ia sudah kehilangan kedua orang tuanya karna kecelakaan.
Handini baru mengetahuinya sekarang karna ia pikir orang tuanya berada di kampung. Dan ia pun sempat menetaskan air mata, mengingat Farhan selama ini hanya sendirian tanpa saudara karna ia anak tunggal.
"Sayang, kamu cantik banget pakai gaun ini" puji Ibu Handini
"Ibu... " mata Handini berkaca-kaca, dengan cepat Ibunya mengambil tisu untuk berjaga-jaga jika air mata putrinya tiba-tiba menetes.
"Jangan menangis sayang, bentar lagi kamu naik ke pelaminan bersama suamimu"
"Iya bu"
"Tersenyumlah, Nak. Jangan bikin malu suami kamu ,kamu harus terlihat bahagia"
Handini mengangguk.
Seseorang menghampiri Handini dengan gagahnya.
"Itu suami kamu" menunjuk Farhan dan Ibu Handini meninggalkan mereka berdua
"Ayooo keluar" Farhan mengulurkan tangannya untuk ia gandeng.
"Hmm iyaa..."
Sekitar 4 jam berlalu, akhirnya resepsi yang mereka adakan telah berakhir.
Para tamu undangan sudah perlahan pulang satu persatu, hanya tinggal beberapa sanak saudara yang masih duduk dan mengobrol satu sama lain.
"Kau lelah ,Din?" tanya Farhan
"Hmm iyaa" jawab Handini lesu
"Ya udah aku antar ke kamar terus kamu bisa langsung mandi dan beristirahat"
Sesampainya dikamar Handini langsung duduk diatas ranjang, merenggangkan otot-ototnya sebentar.
"Om mau kemana?" terlihat Farhan akan keluar kamar karna Handini fikir suaminya juga akan istirahat.
"Hmm mulai sekarang jangan panggil om ya.. "
"Lalu panggil apa? "
"Hmmm... Mas aja" Farhan merasa malu saat mengatakannya.
__ADS_1
"Aku mau ke depan dulu, masih banyak saudara yang belum pulang. Aku mau menemani mereka sebentar"
Handini menganggukan kepala. Kata "mas" masih terngiang-ngiang dipikirannya ,membuat pipinya merona karna malu.
--------
"Kau kenapa kesini Han? mana istrimu?" tanya salah satu sanak saudaranya yang bernama Bimo
"Dia lagi bersih-bersih"
"Kenapa tidak kau temani, sana temani nanti diculik"
Dan mereka tertawa bersama.
"Kau ini hebat Han, menikahi daun muda "puji Bimo
"Aku menikahi wanita bukan daun muda"
"Ahh kau ini, tapi ngomong-ngomong Sella sudah cerai tau dengan suaminya itu" Bimo memberitahu Farhan akan Sella calon istrinya dulu.
"Hissss kau ini tak perlu memberitahu Farhan ,dia sudah move on sekarang" kata Riri sepupunya
"Kan aku hanya berbicara saja dan kau mau tahu penyebab keduanya bercerai? "Bimo menatap Farhan
"Memangnya kenapa? " tanya Farhan
"Hmmm aku juga tak tahu, karna aku hanya tau mereka sudah pisah saja"
"Huuuu dasarrrr" Riri memukul Bimo karna kesal.
"Kalian mau menginap disini? " tawar Farhan
"Tidaklah Han, kita akan pulang nanti malam." jawab Riri
Farhan hanya mendengus kesal.
"Baiklah, aku ke kamar dulu" pamit Farhan
"Jangan kasar ya Han" teriak Bimo
Dan semua sanak saudaranya pun tertawa terpingkal-pingkal.
Ceklek
Terdengar bunyi pintu kamarnya yang dibuka, dengan segera Handini memejamkan matanya.
Setelah selesai mandi ,ia berniat untuk segera tidur karna cukup lelah. Tapi entah kenapa ia sulit terlelap.
"Sudah tidur rupanya" dalam hati Farhan
Farhan segera mengambil handuk dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan badannya yang sangat lengket akan keringat.
Karna terlihat Handini sudah tertidur, ia berencana untuk ganti baju di kamarnya saja. Karna saat masuk kamar mandi ia hanya membawa handuk saja.
"Kenapa dia malah ganti baju disini, uhh tidak sopan. Tidak tidak ,aku tidak boleh melihat" dalam hati Handini
Setelah selesai ganti baju, ia segera naik keatas ranjang. Karna posisi tidur Handini yang ditengah, membuat Farhan kesempitan dan mencoba menggeser-geserkan badannya agar tidak terjatuh.
"Apa maksudnya ini, apa dia berusaha untuk membangunkanku? Apa dia menginginkan.... oh tidak tidak... aku belum siap" dalam hati Handini
__ADS_1
Karna Farhan juga kelelahan, ia langsung memejamkan matanya. Dan tidak butuh waktu lama untuk ia terlelap.
Namun saat ini ada dua pasang mata yang masih terjaga, ia saat ini sedang mengamati wajah lelaki yang ada disebelahnya tanpa berkedip.
"Tampan"
Setelah puas memandangi wajah lelaki yang sudah menjadi suaminya itu, ia berniat untuk mengambil air minum karna merasa haus dan akan menyusul suaminya tidur.
Saat ia akan turun dari ranjang, ia seketika kaget.
"Oh.. Tuhan.. pantas saja dia menggeserkan tubuhnya tadi, karna aku berada ditengah-tengah. Dia kesempitan ternyata."
Handini malu akan pikiran kotor yang telah melintas dikepalanya tadi.
"Din, kau mau kemana? " tanya Ibu Handini yang melihat putrinya keluar dari kamar
"Mau ke dapur ambil minum, Bu"
"Oh... kau mau mengambilkan untuk suamimu. Ya sudah sana"
"Apa-apaan sih Ibu, sok tau deh. Tapi sekalian deh ambilin buat Om Farhan Eh Mas Farhan"
Handini menahan tawanya merasa geli saat menyebut Mas Farhan, sepertinya ia belum terbiasa.
Setelah selesai mengambil minum, ia segera kembali kedalam kamar. Namun ia terkejut saat melihat Farhan terbangun dan sedang bersender diranjang.
"Mas belum tidur? " tanya Handini
"Tadi sih udah, tapi kebangun saat merasa ada goncangan dari ranjang "
"Oh.. gara-gara aku turun ya dari ranjang. Maaf mas" Handini merasa bersalah telah tanpa sengaja membangunkan suaminya tersebut.
"Iya din, gak apa -apa kok"
"Aku tadi haus dan ingin mengambil minum terus aku juga ngambilin buat mas"
"Iya makasih Din, nanti mas minum kalau haus" Farhan tersenyum lalu dibalas senyuman juga dari Handini
Handini saat ini bingung, akankah ia pamit untuk tidur atau menemani suaminya yang masih terjaga matanya. Sangat tidak sopan sekali kalau ia tidur duluan, tapi sungguh kali ini mata Handini sudah lelah namun ia tahan.
"Kau mengantuk, Din? " tanya Farhan karna melihat mata Handini memerah
"Hmmm tidak mas" jawab Handini berbohong
"Tidak apa-apa, tidurlah duluan"
"Mas mau ngapain? "
"Aku mau melihatmu tertidur" jawab Farhan dengan muka serius
.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat membaca.. Sambil menunggu My Adult Man update, boleh dong baca karya novelku yang lain... hehehe
Makasih..