
Jam berdenting menunjukan pukul 12.00 siang. Salsa terlihat sibuk untuk mengemasi beberapa baju dan barang yang akan ia bawa ke puncak. Sedangkan Handini hanya bisa melihatnya saja, karna Salsa tidak membutuhkan bantuannya.
Handini benar-benar tidak ikut untuk acara perpisahan kelasnya. Setelah balasan yang ia terima dari Farhan sudah cukup membuatnya tidak bisa berkutik.
"*Din, sebaiknya kamu ijin ke Ayah dan Ibu. Mereka yang masih berhak atas diri kamu."
Farhan*
"Din, kamu tidak apa-apa aku tinggal pergi ke puncak?"
"Iya tak masalah, Sal." Handini mencoba tersenyum.
"Apa aku gak usah ikut acara perpisahan kelas aja?"
"Kau tak perlu seperti itu, aku tidak apa-apa kok. Aku malahan yang gak enak tinggal disini terus"
"Kau ini sudah dianggap seperti anak sama mama aku, gak usah sungkan"
"Hmmm iya ,Sal"
Dan mereka pun berpelukan.
"Makasih Din, selama ini kamu sudah jadi sahabat aku"
"Aku yang harusnya mengucapkan beribu terima kasih, udah selalu ada disaat aku susah" Handini meneteskan air mata.
"Uhhh jangan nangis, Din" mengusap air mata Handini.
"Hmm iya iya aku gak nangis, udah buruan kemasin lagi barang-barang kamu"
Setelah Salsa selesai mengemasi barangnya, mereka berdua menuju ruang makan untuk makan siang bersama.
"Sayang, kamu sudah selesai mengemasi barang yang akan kamu bawa?" tanya Mama Salsa.
"Sudah ma " jawab Salsa sambil mengunyah makanan.
"Handini beneran gak ikut?" Mama Salsa menatap Handini.
"Hmm iya gak ikut tante " jawab Handini sambil menunduk.
"Ya udah di rumah sama tante nanti, kalau kamu butuh apa-apa bilang tante ya"
"Iya tante makasih"
Setelah selesai makan siang, Handini dan Salsa balik kekamar.
"Aduh... perutku mules, Din"
"Kebanyakan makan si, hahaha"
Salsa yang sudah tidak tahan langsung menuju ke toilet.
Tiba-tiba Handini teringat akan sesuatu ,lalu bola matanya mengitari seluruh isi ruangan berharap menemukan benda itu.
"Waktu itu aku melihatnya disini, tapi kenapa sekarang tidak ada? Atau mungkin sudah disimpan Salsa? Ahhh kenapa semalam itu aku tidak jadi membukanya, ini semua gara-gara aku mengantuk" sebal Handini
-----
Angin malam yang dingin dengan bebasnya menyentuh kulit lengan Handini yang terbuka membuatnya menggigil kedinginan.
Dengan langkah yang cepat ia segera meninggalkan balkon dan menuju kamar tidur.
__ADS_1
Sesudah diatas ranjang, tangannya tergerak untuk mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Siapa tahu ada yang mengirimnya pesan.
Dan benar saja saat ia baru membuka kunci ponselnya, ada beberapa pesan masuk yang belum ia baca.
Perhatiannya kini teralihkan akan pesan dari seseorang yang mengirimnya satu pesan singkat.
"*Din, beberapa hari kedepan Om akan disibukkan sama persiapan pernikahan kita. Kamu jaga kesehatan"
Om Farhan*
Senyuman manis kini terukir indah dibibirnya. Cukup lama senyuman itu bertahan, sampai ia kembali membuka pesan yang lainnya.
"*Dini... aku kangennn sama kamu, disini udaranya sejuk banget tau. Tapi sepi gak ada kamu (emot sedih) "
Salsa*
Handini juga merasa kangen akan sahabat satu-satunya itu. Padahal baru beberapa jam ditinggal. Setelah membalas pesan dari Salsa, masih ada satu pesan lagi yang belum ia baca.
"Radit" Bibirnya bergerak tatkala melihat nama yang mengirimnya pesan.
"Din, kamu mau kuliah dimana? Terus jurusan apa?"
Ia mengeryitkan dahi merasa aneh mendapatkan pesan dari ketua kelasnya. Ia merasa tidak pernah akrab dengannya, bahkan dikelas jarang sekali mereka berdua mengobrol.
Hanya sesekali mengobrol dan itu pun soal pelajaran namun bisa dihitung sangat jarang sekali.
Tapi kali ini Radit mengirimnya pesan yang menurutnya bersifat pribadi.
Entahlah, mungkin Radit hanya sekedar bertanya.
Tapi Handini mengabaikan pesan itu, tidak membalasnya sama sekali.
Karna malam semakin larut, ia memejamkan matanya berharap bisa langsung tertidur.
----
"Din, Dini.. bangun bangun" teriak dari seseorang yang saat ini sedang duduk dipinggir ranjang.
Tak ada pergerakan sama sekali dari Handini, mengharuskan seseorang itu mengguncang tubuhnya dengan kasar karna hari semakin siang.
Perlahan mata Handini terbuka.
"Hooaaammmm" Handini kaget bukan main melihat seseorang yang ada didepan matanya saat ini.
Seseorang itu tersenyum.
"Tarraaaa.... aku sudah pulang"
"Kau kenapa sudah pulang, Sal?" tanya Handini merasa kaget
"Aku kesepian disana tidak ada kau" jawab Salsa sambil mencebikkan bibirnya
"Kau yang benar saja baru semalem dipuncak sudah main pulang aja, bagaimana teman yang lain?"
"Hmmm tak tau, aku sudah bilang ke Radit, aku mau pulang aja ngurus pendaftaran kuliah. hehehe"
"Ya sudahlah aku mau mandi dulu"
Handini segera menuju kamar mandi.
Selesai mandi, mereka sarapan bersama diruang makan.
__ADS_1
"Din, kamu nanti ngelanjutin kuliah tidak setelah menikah? " tanya Mama Salsa
"Ngelanjutin tante"
"Oh baguslah, calon suami kamu gak ngelarang? "
"Hmm gak kok tan"
Selesai sarapan, Handini dan Salsa menuju balkon kamarnya.
"Sal, yang gak ikut ke puncak aku doang ya? " tanya Handini
"Gak kok Din, Mira sama Seto juga gak ikut katanya ke luar kota"
"Oh.... "
"Eh Din, si Radit disana nanyain tentang kamu terus tau. Tanya-tanya kamu mau kuliah dimana dan juga nanyain Om Farhan itu benar pacar kamu bukan, katanya dia melihatnya kok dewasa banget." cerocos Salsa
"Terus kamu jawab apa? "
"Aku gak jawab, suruh tanya sendiri ke kamu."
"Ya udah deh bagus."
"Oh ya, kamu ngundang teman-teman kelas ke acara pernikahan kamu tidak? "
"Tidak usah lah, aku takut mereka berfikiran yang macam-macam aku menikah muda dan sama lelaki yang dewasa"
"Hmm iya juga."
Karna hari semakin panas, mereka memutuskan untuk balik ke kamar.
Handini sebenarnya sudah menentukan akan kuliah dimana namun ia akan melakukan pendaftaran setelah hari pernikahannya.
"Din, nanti kalau kau menikah jangan lupakan aku ya"
"Kau ini berbicara apa, mana mungkin aku bisa lupa dengan sahabat macam kau hahahahaha" tertawa meledek
"Aku serius... kalau nanti sewaktu-waktu kangen sama kamu, boleh ya aku main kerumah kamu? "
"Lebih tepatnya rumah suamiku, hahahaha"
Salsa mendengus kesal.
"Om Farhan kira-kira batasi pergaulan kamu sama teman-teman kamu gak Din? "
"Sepertinya tidak"
"Dilihat-lihat si Om Farhan emang keliatannya lembut, penyayang"
"Dasar tukang peramal"
"Terus aku lihat-lihat juga gak keliatan tua Din, kata kamu kemarin Om Farhan berumur tiga puluh tiga tahun kan? Gak keliatan umur 30-an tau"
Sejenak Handini membayangkan wajah Om Farhan yang masih terlihat awet muda di usianya yang menginjak tiga puluh tiga tahun.
Tak lupa ia mengembangkan senyumannya.
"Awwww" Salsa tiba-tiba memukul dahinya membuat Handini mengaduh kesakitan.
Sedangkan Salsa, ia tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
.
Selamat membaca. like like like