My Adult Man

My Adult Man
Kedatangan Mereka


__ADS_3

Satu persatu helai pakaian telah Handini susun berdasarkan jenisnya. Pakaian kantor, pakaian untuk berpergian dan pakaian rumah telah ia pisah.


Matanya menatap tumpukan pakaian suaminya namun pikirannya entah kemana. Ia masih dalam posisi berdiri dengan tangan yang menggantung di pintu lemari.


Sejenak ia menetralkan nafasnya yang terasa berat. Bukan karna kelelahan namun banyaknya pikiran yang ada didalam kepalanya.


Ketukan pintu dan suara salam terdengar dari luar. Wanita itu segera membukakan pintu karna ia sudah tahu siapa yang akan datang.


"Bi.. " panggilan singkat ia layangkan kepada wanita yang telah merawat suaminya sedari kecil. Ia menyalami Bibi dari suaminya tersebut. Senyuman yang ia berikan kepada wanita tua itu juga terbalas. Handini merasa senang bahwa Bibi dari suaminya juga sepertinya menerima dirinya sepenuh hati.


Suaminya memanggilnya dengan sebutan Bi Nam.


Pandangan Handini sekarang mengarah kepada gadis belasan tahun yang pernah ia lihat di cafe waktu itu bersama suaminya.


Handini tersenyum kepada wanita itu namun ia tak membalasnya.


"Din, ini putrinya Bibi namanya Lita, waktu pernikahanmu tidak datang karna sedang liburan bersama Ayahnya. " Bi Nam mengarahkan tangan putrinya untuk bersalaman dengan Handini, namun ia menolak.


"Aku lelah Bu, boleh langsung masuk kamar gak? " Bi Nam menghela nafas, ia merasa tidak enak dengan Handini.


"Iya masuk aja Lit ,kamar kamu ada di depan dapur"


"Hah? yang benar saja kau menyiapkan kamar pembantu untukku? kenapa ada di belakang? " Raut wajah gadis itu sangat tidak bersahabat. Matanya menatap tajam Handini. Tidak ada keramahan yang terpancar diwajahnya. Ia seperti sangat membenci Handini.


"Bukan begitu, memang kamarnya ada disebelah situ " Handini berusaha menahan amarahnya, yang tak dapat ia pungkiri juga merasa kesal atas perkataan dari sepupu suaminya tersebut.


"Lita, kau bicaralah yang sopan, sudah sana masuk" Bi Nam menyuruh putrinya untuk segera masuk kamar. Lita mendengus kesal.


"Maafkan perkataan putri Bibi ya, Din" Bi Nam meminta maaf kepada Handini karena merasa tidak enak atas kelakuan putrinya.


"Tidak apa-apa kok Bi" Handini membantu membawa barang-barang untuk masuk kedalam rumah.


"Din, Farhan masih dikantor ya? pulang jam berapa kira-kira? " Bi Nam saat ini sibuk mengemasi pakaiannya didalam lemari. Sedangkan putrinya sedang berbaring diranjang sambil memainkan ponselnya.


Rumah Farhan hanya terdapat dua kamar. Jadi Bi Nam dan putrinya akan tidur satu kamar.

__ADS_1


"Iya Bi, jam 4 biasanya sudah pulang kerumah" Tangan Handini tak berhenti bergerak untuk menyusun beberapa helai pakaian ke dalam lemari.


"Sudah Din, tidak usah biar Bibi saja" Bi Nam tidak enak karna takut merepotkan istri dari keponakannya tersebut.


"Hmm, Dini buatin minum dulu ya buat Bibi" Handini menoleh kearah Lita, ingin menawari mau minum apa namun rasa kesalnya belum hilang. Ia berlalu pergi menuju dapur.


Dua gelas es jeruk telah tersusun rapi di atas nampan. Warna kuning yang menyala serta bongkahan es batu yang menyegarkan, membuat ia menelan air liurnya sendiri. Namun ternyata sisa jeruk di dalam kulkasnya hanya mampu dibuat es jeruk dua gelas saja.


"Bi, Lita ini silakan diminum" Handini menaruh nampannya diatas nakas.


"Iya Din, terima kasih" dibalas anggukan dari Handini.


"Bi, Dini mau masak dulu sambil menunggu mas Farhan pulang dari kantor"


"Aku aja yang masakin buat Bang Farhan, Bu" suara dari Lita menghentikan langkah kaki Handini, dengan cepat ia menoleh kebelakang.


"Lita... kan sudah ada Mba Handini yang masakin" Bi Nam mencoba memberi pengertian kepada putrinya.


"Kalau dirumah biasanya juga aku yang masakin, Bu" bujuk Lita kepadanya Ibunya yang sepertinya tidak memberi ijin untuk ia memasak.


"Aku aja yang masak, kamu kerjain apa kek" jawabnya ketus.


"Lita... yang sopan kamu! panggil Mba Handini, dia sekarang istri dari abang kamu" Bi Nam membentak putrinya, merasa emosinya telah terpancing.


Handini merasa bingung akan silsilah keluarga suaminya. Bi Nam tadi mengatakan Lita tidak bisa datang ke pernikahan mereka karna sedang liburan dengan Ayahnya. Sebegitu pentingkah liburan dibanding menghadiri pernikahan keluarga? dan Ayah Lita siapa? Farhan mengatakan jika ia tidak bisa meninggalkan Bibinya di kampung sendirian karena sedang sakit, lalu Ayah Lita bukan suaminya? atau mereka sudah berpisah? Entahlah, tidak ada hak untuk Handini menanyakan hal-hal seperti itu yang berbau privasi.


"Mba Handini.. Lita saja yang memasak, Bang Farhan sudah terbiasa kok dengan masakan Lita, dia pasti menyukainya" ucapnya dibuat selembut mungkin, namun masih terkesan menyindir.


"Litaaa...! " bentakan dari Ibunya membuat Lita segera berlalu dari dalam kamar ,ia tak menghiraukan teriakan dari Ibunya.


Handini menatap Bi Nam dengan berusaha terlihat baik-baik saja.


"Sudah Bi tidak apa-apa, Bibi beristirahatlah kan sedang sakit" Handini menuntun Bi Nam untuk duduk di tepi ranjang.


"Maafkan perkataan putri Bibi ya, Din." Mata penuh penyesalan terlihat sekali di kedua bola matanya. Handini tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


---


Pukul 16.15 mobil berhenti dihalaman rumah. Lita segera berlari kearah luar dan menyambut Farhan dengan merentangkan kedua tangannya. Handini yang melihat dengan jelas dikedua matanya, kini hanya mampu diam menyaksikan pemandangan yang menyesakkan dada.


Lita hanya sepupu dari suaminya. Namun entah mengapa Handini yang melihatnya bukan seperti seorang sepupu. Keakraban yang ia lihat seperti layaknya seorang kekasih yang telah tidak bertemu selama bertahun-tahun.


Handini tersenyum tatkala suaminya melempar senyum kepadanya. Handini masih berada di ambang pintu setelah suami dan Lita melewatinya tadi masuk ke dalam rumah.


"Bang, buruan mandi, Lita sudah memasakkan makanan kesukaan Abang" suara manja dari gadis tersebut sungguh menyesakkan telinganya. Handini masuk kedalam kamar untuk menyiapkan pakaian suaminya.


Setelah selesai mandi, mereka makan bersama di meja makan.


"Bi, maaf tadi Farhan tidak bisa menjemput Bibi di stasiun" Farhan menatap lekat-lekat Bibinya yang sudah ia anggap seperti Ibunya sendiri.


"Tidak apa-apa Han " Bi Nam tersenyum.


"Bang, masakan Lita enak kan? " tanya Lita dengan wajah sumringah.


"Enak dong, ini masakan kesukaan Abang, kau pandai sekali memasak" puji Farhan.


Sayur sop daging yang dimasak oleh Lita di puji habis-habisan oleh suaminya. Padahal dulu suaminya mengatakan lebih menyukai masakan yang ditumis daripada disayur.


Tapi kenapa sekarang ia malah mengatakan sayur sop itu adalah makanan kesukaannya?


Handini menundukkan pandangannya, ia merasa sakit atas perkataan dari suaminya tersebut. Ia tak menyalahkan Lita ataupun suaminya. Namun kenapa suaminya mesti berbohong mengatakan dulu lebih suka sayuran yang ditumis?


.


.


.


Haiiiii para my readers...


Semoga kalian suka ya sama ceritanya...

__ADS_1


Like kalau sukaaa......


__ADS_2