
Dengan emosi yang masih menggebu-gebu dan nafas yang terasa berat, ia mencoba untuk menenangkan dirinya dengan duduk diatas ranjang.
"Mas kau habis telfonan dengan siapa?" tanya Handini dengan menyelidik.
Farhan kaget karna mendengar suara istrinya lalu ia menoleh kebelakang dan benar saja saat ini istrinya sedang duduk bersender diranjang.
Tatapan mata yang menyelidik kini terbaca sempurna dimatanya, ia berfikir pasti istrinya terbangun saat ia berbicara dengan nada yang tinggi tadi.
"Kau kenapa bangun?" tanya Farhan mencoba memastikan.
Dengan mata yang masih sayu dan sesekali menguap, Handini mencoba menatap suaminya tersebut.
"Kau tadi menelfon sambil teriak jadinya aku terbangun" katanya dengan masih menatapnya.
"Oh benarkah? Maaf aku jadi membangunkanmu, tidurlah kembali" senyuman yang mengembang ia berikan kepada istrinya.
Handini menghela nafas, ia tahu bahwa suaminya sedang mengalihkan pembicaraan. Tapi karna ia pun masih lelah dan mengantuk, akhirnya mencoba untuk membaringkan tubuhnya kembali dan memejamkan matanya.
Farhan menunggu istrinya sampai benar-benar terlelap. Arah pandangnya tertuju kepada istrinya namun pikirannya mengarah ke yang lainnya.
Tentang pria yang menelfonnya tadi itu menjadi salah satu yang ia pikirkan. Sungguh sangat muak jika mengingatnya, Farhan bukan type orang yang pendendam namun ia kalau sudah tersakiti lebih baik tidak perlu mengenal satu sama lain.
Toh, ia sudah mengikhlaskan apa yang terjadi dulu. Dan sebaiknya bersikaplah seolah tidak saling mengenal. Farhan pun tidak ada kepikiran untuk membalasnya. Hidup dengan tenang dan tanpa merugikan orang lain itu sudah cukup baginya.
Tak ada yang sempurna didunia ini, namun tidak ada yang mustahil juga didunia ini. Semua atas kehendak yang di Atas.
----
Panas terik matahari yang menyengat sangat dirasakan oleh Farhan yang saat ini berada diteras rumah. Sambil menunggu istrinya terbangun, ia bersantai dengan ditemani es kopi yang barusan dibuatnya sendiri.
Cukup lengah jalanan yang berada di depan rumahnya karna letaknya yang berada di komplek perumahan. Terbilang cukup sepi jika dibanding rumah Handini yang lebih dekat dengan jalan raya utama tetapi masih banyak ditumbuhi pepohonan, hawa sejuk masih bisa tercipta disana walaupun siang hari sekalipun.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu "Aku belum bertanya kepada Dini, dia mau kuliah dimana, besok aku mulai kerja lagi"
Terdengar suara berisik dari dalam rumah, Farhan dengan segera mencari asal suara tersebut.
"Din, kau sudah bangun?" langkah kakinya berhenti tepat dibelakang istrinya yang sedang berada didapur.
"Mas, kau habis darimana?" Handini tidak mengetahui akan suaminya yang berada diteras, karna ia pikir suaminya sedang pergi.
"Aku dudukan diteras, kau sedang mencari apa?" tanyanya saat melihat istrinya tersebut membuka pintu kulkas.
"Hmm ini bisa dibuat masakan apa ya mas?" Handini terlihat memegang beberapa ikat sayuran hijau yang tinggal sedikit.
__ADS_1
"Kau mau memasak? kita bisa cari makanan diluar lagi kok, mas belum belanja kebutuhan dapur"
"Hmm bagaimana kalau sekarang kita belanja saja disupermarket ?" usulnya dengan muka berseri-seri membuat Farhan tak bisa menolaknya.
"Baiklah, cepat bersiap" Farhan lalu menuju mobilnya.
Supermarket dari rumahnya memang tidak terlalu jauh, jadi hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai.
"Mas mau makan apa? nanti aku masakin" tanya Handini yang saat ini sedang memilah-milah sayuran yang tersusun rapi dibox supermarket.
"Hmm ayam, ayam goreng tepung" jawabnya sesaat setelah berpikir.
Handini terdiam sejenak, memikirkan bagaimana membuat ayam tepung ,karna ibunya belum pernah mengajarinya hanya memasak sayur, tempe atau tumis-tumis saja.
Terlalu malu jika Handini menolaknya, tapi ia tidak bisa memaksakan apa yang belum diketahuinya.
"Bagaimana ini, aku yang menawarinya mau makan apa ,masa aku gak bisa memenuhi keinginannya"
"Hmmm tapi tumis kangkung kayaknya enak sama tempe goreng" Farhan tiba-tiba mengatakan akan keinginannya yang berubah.
"Uhhh...." Handini seketika lega akan keinginan suaminya yang berubah, namun Farhan malah menahan tawanya dengan menutup mulut membuat Handini menyadarinya.
"Mas kenapa ketawa?" Tanya Handini yang merasa bingung.
Handini diam dan pergi meninggalkan suaminya, saat ia sudah menaruh satu ikat kangkung dikeranjang belanjaannya.
Ia menghindari percakapan dengan suaminya karna merasa malu.
"Din, tunggu" teriaknya karna supermarket lumayan padat hari ini, ia takut akan tertinggal jauh dan sulit menemukan istrinya.
"Mas disini gak ada tempe"
"Hmm ya udah gak usah, beli ayam aja tuh" tunjuknya.
Handini menatap suaminya seperti memberikan kode bahwa dia tidak bisa memasak ayam tepung.
"Nanti kita beli bumbu praktis aja buat ayam tepung" jawabnya santai
"Hah? apa ada mas?"
"Ada nanti kita kesebelah sana mencari bumbu praktisnya" dan dijawab anggukan dari istrinya.
"Din, aku lupa menanyakan kau akan kuliah dimana?"
__ADS_1
"Di kampus yang sama dengan Salsa, mas"
"Kau sudah mendaftar?" Handini menggeleng.
"Besok kau mendaftar saja bareng temanmu Salsa, mas gak bisa nganter karna harus berangkat kerja"
"Iya mas, nanti aku kabarin Salsa" jawabnya.
Tidak terasa keranjang belanjaan mereka sudah penuh dan sekarang sedang berada dikasir.
Dan mereka segera pulang saat semua kantong plastik belanjaannya sudah masuk semua dibagasi.
Saat sudah berada didalam mobil, Handini sibuk akan ponselnya karna ia ingin segera mengabari Salsa untuk mendaftar kuliah besok. Sebenarnya ini yang ia tunggu-tunggu untuk segera mendaftar kuliah.
"*Sal, besok daftar kuliah yuk. Hmmm.. Mas Farhan sudah memberiku ijin untuk segera mendaftar kuliah"
Handini*
Ia merasa canggung saat mengatakan panggilan mas farhan, karna yang Salsa tau selama ini ia memanggilnya dengan sebutan om.
Tiba-tiba mobil yang ia tumpangi berhenti, menandakan mungkin sudah sampai tapi terlalu cepat pikirnya namun ia tidak terlalu ambil pusing.
Saat ia akan membuka pintu mobil, suara Farhan menghentikannya.
"Kau mau kemana, Din? " tanya Farhan yang merasa kebingungan akan istrinya yang akan membuka pintu mobil.
"Tu----run" jawabnya terjeda saat menyadari banyak kendaraan motor yang berhenti disamping mobilnya, ia bisa melihat lewat kaca mobil samping.
"Astaga belum sampai ternyata"
"Turun kemana? ada yang ingin kau beli lagi?" tanya Farhan
"Hmm iya ada" jawab Handini asal karna merasa malu jika ia harus jujur dirinya saat ini sedang tidak fokus karna mengira sudah sampai rumah.
"Mau beli apa? disebrang sana ada toko apa? itu hanya ada toko eletronik dan beberapa ruko yang tutup kok Din." tanya Farhan yang masih dibuat kebingungan oleh istrinya tersebut. Ia berfikir kalaupun istrinya menginginkan sesuatu sebelumnya bisa memberitahunya agar bisa berhenti tepat didepannya bukan ditengah-tengah jalan begini dan sedang lampu merah juga.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat membaca ya.. jangan lupa like...