My Adult Man

My Adult Man
Tugas Istri


__ADS_3

"Rencanaku adalah untuk membiarkan kalian hidup untuk sekarang, aku akan mendukung kalian yang punya mimpi dan ide yang unik. Jadi, kalian mau bersahabat denganku? "


"Yaa... "


"Apa kalian mau membuat masa muda kalian bersinar? "


"Yaa... "


"Apakah kalian akan memilihku? "


"Yaa... "


"Beritahu aku siapa namaku? "


"Ye Muxi! Ye Muxi! Ye Muxi! Ye Muxi! Ye Muxi! "


"Berhenti! Pilihlah aku. Terima kasih. "


Saat ini Handini dan Salsa sedang menonton drama korea yang berjudul The Big Boss di laptop Salsa.


"Din, aku kebelet nih.. "


"Ya sudahlah sana ke toilet, ganggu aja deh"


Selesai juga Handini menonton episode satu ,lalu ia akan menonton episode dua. Namun, ia tersadarkan akan Salsa yang tak kunjung ke kamarnya ,karna seingatnya Salsa pamit ke toilet dari tadi.


Handini akan menyusul Salsa ke toilet namun ia melihat pintu terbuka dan munculnya Salsa dari balik pintu kamarnya.


"Sal, lama banget kamu. Sekalian mandi ya... Hahaha" Handini tertawa meledek temannya.


Namun Salsa hanya diam saja dan tak hentinya menatap tajam Handini.


Handini yang merasa ditatap seperti itu, seketika bingung. Ia menaikkan alisnya, mengisyaratkan ada apa.


"Kamu menyembunyikan suatu rahasia terhadapku? " tanya Salsa tanpa mengalihkan pandangan dari sahabatnya tersebut.


"Apa? " tanya Handini pura-pura tidak tahu, karna memang benar ia sedang menyembunyikan suatu rahasia. Dan rencananya hari ini, akan menceritakannya. Namun, setelah dipikir-pikir, Handini tidak cukup berani untuk menceritakannya. Ia terlalu malu dan takut diledek oleh sahabatnya.


"Kamu tidak mau jujur? "


"Emangnya apa yang kamu tahu? " tanya Handini balik.

__ADS_1


"Hmm.. tidak ada. Hahhaa.. aku hanya bercanda, kamu terlalu serius menanggapinya. Aku tadi mules banget di toilet makanya lama. Hehe"


Handini melemparkan bantal kesahabatnya tersebut, merasa kesal telah dikerjai.


"Din, bosen nih. Ngapain yuk.. "


"Aku mau melanjutkan nonton nih "


"Ahh.. aku sudah menontonnya sampai habis, masa aku bengong doang"


"Ya udah, nonton lagi aja sih kenapa. "


"Aku sudah berkali-kali nonton, bosen. Eh Din, ini boneka kamu? " Salsa mengambil boneka beruang coklat yang ada dipojok tempat tidur.


"Iyalah.. punya siapa lagi coba."


"Aku paham betul kamu Din, kamu bukan cewek-cewek koleksi boneka. Tidak mungkin tiba-tiba kamu merengek minta dibeliin boneka atau jangan-jangan... "


Salsa tersenyum menyelidik.


"Jangan-jangan apaan si.... "


"Diem-diem punya pacar ya? Apa jangan-jangan yang selalu kamu bilang teman Ayah kamu itu, ternyata pacar kamu? Iya kan? Om-om dewasa itu pacar kamu? "


"Aku mau lihat respon Salsa"


"Hahahaha. . gak mungkin. Ayah kamu pasti tidak merestui hubungan beda umur kamu sama Om-om itu."


"Sudah merestui kok, mau dinikahkan malahan." Handini kali ini memasang wajah yang serius.


"Terus nikah kapan coba? Emangnya kamu gak mau nglanjutin kuliah? " Salsa kali ini meladeni omongan sahabatnya.


"Kata Ayah, secepatnya"


"Jadi benar yang tadi aku dengar samar-samar dari kamar orang tua kamu, Din? "


"Kamu dengar apa? "


"Aku dengar.... "


"Mas, apa keputusan kamu udah bulat? Dini masih sangat belia untuk membangun rumah tangga ,sedangkan Farhan dia laki-laki dewasa yang sudah matang. Aku takut Dini gak bisa nyeimbangin si Farhan, dan takut jika Farhan nantinya akan kecewa sama Dini. Dan takut jika... "

__ADS_1


"Sssttt.... sudah-sudah, kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya dan kamu setuju."


"Maaf Din, bukannya aku lancang karna waktu ke toilet aku gak sengaja dengar pas lewat depan kamar orang tua kamu. Dan kamu juga dipancing gak mau cerita, ya sudah aku cari-cari bahan aja biar kamu bisa terbuka"


"Maaf Sal, bukannya aku gak mau cerita cuman belum siap aja. Aku disuruh nikah sama Ayah, dan sudah disiapkan calonnya. Aku gak tau kalau calonnya itu Om Farhan, setelah aku tau ternyata Om Farhan entah kenapa ada sedikit rasa kelegaan dihati aku. Dan aku setiap berdekatan dengannya, aku merasa nyaman. Sal, kamu tau sendiri aku gak pernah pacaran ,suka sama cowok pun gak pernah. Eh pernah, aku sampai saat ini suka sama Lee Min Ho. Hahaha"


"Kamu ini malah bercanda. Terus gimana dengan kuliah?"


"Kata Ayah, aku boleh melanjutkan kuliah dan Om Farhan gak keberatan"


"Kamu ini santai banget sih Din, menikah itu apa menurut kamu? "


"Menikah itu, penyatuan dua anak manusia"


"Heii... dasar kamu ini. Menikah itu bukan hal yang main-main, Din. Kamu nanti akan melayani suami kamu setiap hari, mencuci, nyetrika, nyapu, ngepel, bersih-bersih rumah, memasak dan juga kuliah. Kamu sanggup ngelakuin itu semua? Belum lagi kalau kamu punya anak. Kamu sanggup?"


"Hmm... "


"Dan soal Om Farhan itu, apa dia mencintaimu? "


"Tak tahu.. "


"Apaan-apaan ini, kenapa menikah bisa segampang itu. Kau yakin bahagia dengan lelaki yang tidak mencintaimu? "


"Aku tak tahu, dia mencintaiku atau tidak. Tapi dia baik sama aku buktinya dia ngasih boneka ini dan soal di cafe itu, cuma sepupunya dari Kampung" Handini memeluk boneka pemberian Farhan.


"Dia memberi boneka mungkin karna sebatas kamu itu anak dari sahabatnya. Aku tidak menjelek-jelekannya, tapi kamu ini masih muda, banyak hal yang masih bisa kamu kejar. Jangan karna kamu menurut dengan orang tuamu, malah nantinya akan membuatmu kesusahan seumur hidup."


"Kamu ini menakut-nakutkan saja."


"Aku paham, mungkin kamu sudah merasa nyaman dengan lelaki itu, tapi apa perlu langsung menikah sekarang? "


"Hmmm Sal.. "


"Aku hanya memberi masukan, karna sepupuku ada yang mengalaminya. Ia menikah muda setelah lulus SMA, tapi sekarang ia menyesal kenapa harus terburu-buru menikah dengan pacarnya yang baru pacaran 1 tahun. Ia tidak bebas karna harus selalu melayani suaminya,mengurus uang belanja, dan setiap ia ingin berkumpul dengan teman-temannya selalu saja tidak diijinkan. 24 jam harus dirumah, kalaupun pergi paling hanya ke supermarket. Walaupun dia tidak mengerjakan pekerjaan rumah tangga karna ada pembantu, tapi ia harus menyiapkan pakaian kerja suaminya, mengambilkan makanan, menyiapkan air hangat kalau suaminya pulang malam. Ya, itu tugas Istri tapi alangkah baiknya kalau kita menikah disaat kita sudah matang. Umur-umur kita saat ini lagi labil-labilnya. Hahahahaa. Tapi semoga suami kamu nanti tidak seperti itu ya, aku selalu mendoakanmu" Salsa memeluk sahabatnya, dan Handini membalas pelukannya.


"Terima kasih Sal, sebenarnya aku juga takut tapi aku gak bisa nolak permintaan Ayah. Aku belum bisa bahagiain orang tuaku, tapi saat liat Ayah tersenyum bahagia membayangkan bisa menggendong cucu. Aku gak bisa membuyarkan impiannya. "


"Kamu ingin punya anak berapa? 11 aja, Din. Hahahhahaa" Salsa tertawa terbahak-bahak


Handini merasa kesal karna terus diejek sahabatnya. Tapi sekarang ia lega karna bisa jujur dengan sahabatnya, walaupun perkataan Salsa soal sepupunya masih terngiang-ngiang dipikirannya.

__ADS_1


Like, coment kalau kalian sukaa......


__ADS_2