
Farhan tersenyum saat mendengar pertanyaan polos dari istrinya tersebut. Handini hanya bisa menunduk karna ia malu untuk melihat suaminya.
"Cowok kok, Din"
Handini entah kenapa merasa lega akan jawaban dari suaminya. Namun ia menyembunyikan rasa itu dan sebisa mungkin merasa biasa saja.
"Mas, itu ada kursi kosong" tunjuk Handini yang menangkap ada kursi kosong yang posisinya di pojok warung.
Mereka berjalan kearah kursi kosong itu melewati beberapa orang yang sedang makan, membuat hawa disekitar warung menjadi panas akan sesaknya pengunjung.
Keringat yang keluar dari dahi Handini tak bisa ia bendung. Satu persatu air keringatnya mengalir hingga sampai mengenai kelopak matanya.
Hal itu pun tak luput dari pandangan Farhan karna ia pun merasakan hawa panas. Setelah sampai di kursi, Farhan langsung meraih kotak tisu dan mengambil beberapa helai tisu untuk diberikan ke Handini.
"Terima kasih" ucap Handini yang merasa senang karna diperhatikan.
"Dini.. " suara yang tak asing memanggil namanya membuat ia seketika menengok ke belakang.
"Radit.. " jawabnya setelah mengetahui siapa orang yang memanggil namanya.
"Kau disini?" tanyanya kepada Handini, namun mata Radit menatap pria yang ada disebelah temannya tersebut.
"Iya aku mau sarapan disini, kau sendiri ngapain disini? dan memakai pakaian---" Handini tidak melanjutkan perkataannya kembali karna ia tahu jika itu pakaian seorang pelayan disini, namun apakah benar Radit ini pelayan disini. Apa setelah lulus dia bekerja disini? Karna setahunya Radit akan melanjutkan kuliah karna keluarganya pun berasal dari keluarga yang berada.
"Ohh iya aku disini bantu-bantu sambil menunggu masuk kuliah, ini warung soto punya pamanku" Radit menyelipkan senyumannya disela-sela ia menjelaskan.
Farhan cuek karna ia pun tak mengenal temannya Handini tersebut. Dan Handini hanya mengangguk akan penjelasan dari temannya tersebut.
"Dan kau kesini sama siapa? Lelaki ini bukannya yang menjadi pendamping kamu waktu perpisahan sekolah kemarin, yang kata kau ini kekasihmu?"
"Aku bukan kekasihnya tapi--" ucapan Farhan terpotong
"Hahahaha iya om, aku juga gak percaya waktu Handini bilang bahwa kau ini kekasihnya." Radit menertawai kebohongan Handini
"Aku belum selesai bicara, aku ini bukan kekasihnya tapi aku suaminya sekarang" jawab Farhan dengan lantang
Kedua bola mata Radit membulat secara sempurna. Ia terkesiap akan pernyataan dari laki-laki yang berada disamping temannya tersebut.
Ia tak langsung percaya akan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu, ia beralih menatap Handini yang saat ini sedang menundukan pandangannya.
__ADS_1
Handini bukan malu akan pernyataan dari suaminya tersebut, namun ia menjadi takut akan asumsi yang dipikirin teman sekelasnya tersebut. Ia takut jika temannya tersebut berpikiran yang macam-macam tentang pernikahannya yang terbilang cepat.
Bagaimana tidak, Handini baru saja lulus SMA beberapa minggu yang lalu dan sekarang statusnya sudah menikah dengan laki-laki yang lebih dewasa dengannya.
"Kau sudah menikah, Din?" tanyanya memastikan.
Handini perlahan mengangkat kepalanya keatas berusaha menjangkau pandangannya ke temannya tersebut.
"Iya Dit, aku udah nikah kemarin"
"Kenapa aku gak di undang, Din? " tanya Radit yang merasa janggal. Bagaimana bisa teman sekelasnya tidak ada yang diundang, karna Radit yakin semua temannya tidak ada yang tahu tentang pernikahannya.
"Maaf ya, Dit. Aku cuma ngundang temen terdekatku saja Salsa soalnya acaranya juga tidak besar, kebanyakan dari pihak keluarga saja"
"Eh Dit layanin buruan, masih banyak tuh yang belum kamu layanin" teguran dari sesama pelayan warung soto menghentikan percakapan mereka.
Radit merasa lupa kalau temannya tersebut juga pengunjung, namun ia malah meninggalkannya dan melayani orang yang baru saja datang.
Membuat Farhan mendengus kesal bukan main. Lalu ia memanggil pelayan yang lain.
Setelah pesanan datang, mereka langsung memakannya tanpa ada percakapan disela-sela makan mereka.
Mungkin mereka terlalu lapar sehingga tidak memperdulikan satu sama lain, karna sebenarnya ini sudah termasuk siang untuk dibilang sarapan.
Jalanan kota yang begitu padat pada siang hari ini menjadi salah satu pemandangan yang bisa Handini liat. Tak banyak gedung-gedung menjulang tinggi namun banyak ruko-ruko yang berjejer.
"Din, kamu mau beli jajanan apa buat dimakan dirumah? " tanya Farhan tanpa menoleh kearahnya.
"Gak deh mas, aku gak pingin apa-apa" jawabnya dengan masih menatap lurus kedepan untuk melihat kendaraan yang berada didepannya.
Lampu merah yang masih menyala dengan detik yang masih lama, disempatkan Farhan untuk memandang istrinya tersebut yang berada disampingnya.
"Kau memikirkan apa, Din? " tanya Farhan yang dari tadi mengamati wajah Handini tidak seceria biasanya.
"Hah?" Handini merasa kaget akan pertanyaan yang terlontar dari bibir suaminya tersebut.
"Kau ada masalah? " tanyanya lagi.
"Tidak ada kok mas, aku baik-baik saja" jawabnya dengan mata yang sayu, menandakan ia sangat lelah.
__ADS_1
Handini berniat untuk memejamkan matanya sebentar namun ternyata ia tak bisa menahan dan akhirnya ketiduran didalam mobil.
"Oh dia dari tadi mengantuk, pantas saja diem"
Setelah sekian menit akhirnya mereka sampai dirumah, tepatnya rumah Farhan.
Farhan turun dari mobil dan menggendong Handini sampai kedalam kamar, bukan hal yang susah untuk menggendongnya karna badannya pun bisa dibilang setengah darinya.
Dia tak merasa kesulitan ataupun keberatan, karna memang Handini tidak terlalu berat. Sesampainya di kamar, ia langsung membaringkan istrinya tersebut dan melepas flatshoes yang masih menempel dikakinya.
Sejenak ia memandangi wajah istrinya, tak ada yang istimewa darinya namun sikapnya yang polos dan apa adanya menjadi nilai plus sendiri di penilaian laki-laki.
Bunyi dering ponsel mengalihkan perhatiannya dari istrinya tersebut, ia meraih benda pipih itu dari saku celananya.
Ada sebuah panggilan masuk dari nomer asing, namun karna penasaran ia mengangkatnya.
"Halooo, ini siapa?" tanyanya
"Haloo, kau sudah lupa dengan suaraku? " jawab suara pria disebrang sana.
Setelah mendengar jawaban dari si penelfon, ia merasa kaget. Dari siapa laki-laki ini memiliki nomer ponselnya ,karna ia sudah memblock semua nomer atau social medianya.
"Kau mau apa? " tanya Farhan dengan emosi yang masih bisa ia tahan.
"Aku mau apa? yang jelas aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu dan semoga tidak berakhir seperti pernikahanku"
"Tidak perlu mengucapkan jika kau tidak ikhlas"
"Kau ini tidak ada berterima kasihnya kepada sahabatmu, aku mengucapkannya dengan ikhlas"
"Kau bukan sahabatku lagi!!" Farhan kali ini tidak bisa menahan emosinya lagi, tanpa sadar ia pun telah membangunkan istrinya yang sedang tidur.
Handini terbangun karna mendengar sebuah teriakan dan ternyata itu dari suara suaminya yang menerima telfon dengan posisinya membelakanginya.
"Mulai sekarang kita bersahabat lagi, karna apa yang kau miliki waktu dulu akan aku kembalikan" jawab pria dari sebrang sana dengan tenang.
.
.
__ADS_1
.
Selamat membaca ya... like kalau kalian sukaa....