
Bintang-bintang yang ada dilangit malam hari ini tak bosan untuk Handini pandang. Terkadang ia dengan bodohnya menghitung ada berapa banyak bintang yang ada dilangit, tapi selalu saja gagal.
Susah untuk menghitung ribuan bintang itu. Mungkin tak ada manusia yang bisa untuk menghitungnya dengan benar.
"Din, masuk yuk. Kamu sudah lama duduk disini, angin malam sangat tidak baik buat kesehatan."
Salsa menghampiri Handini yang sedari tadi duduk di balkon kamarnya.
"Hmm.. baiklah." Handini mengalah karna tidak mau merepotkan sahabatnya jika ia benar-benar akan sakit karna angin malam.
"Oh ya Din, kamu nanti perpisahan didampingi siapa? "
"Om Farhan, Sal"
"Cieee... sama calon suami, aku jadi iri deh"
"Ya sudah ,kamu minta orang tua kamu aja suruh jodohin"
"Oh.. Tidak Tidak. Aku tidak mau. Kau ini...."
"Hahhaahaa. "
Suara dering ponsel kini mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Ponsel kamu yang bunyi, Din"
Ayah memanggil
Seketika Handini tersenyum.
"Hallo.. Ayah.. " jawab Handini bersemangat
"Iya Nak, kamu sudah makan? "
"Sudah, yah. Ayah sama Ibu sudah makan? "
"Ayah sudah ,tapi Ibumu hari ini baru makan sekali." suara Ayah melemah.
"Ibu kenapa ,yah? " tanya Handini dengan tidak sabar.
"Ibumu masih bersedih, Nak. Ayah bingung membujuknya untuk makan, coba kamu yang bujuk ya, Nak. Ayah akan ke kamar menghampiri Ibumu."
Dan Handini mengiyakan.
"Dini...sayang.. " suara Ibu menyaut dari sebrang sana.
"Ibu.. Ibu.. Ibu kenapa tidak mau makan? "
"Ibu kepikiran kamu, Nak. Ibu kangen... Hiks hiks hiks"
Handini yang mendengar tangisan Ibunya tidak bisa membendung air matanya, membuat Salsa kebingungan dan mencoba menenangkannya.
"Han-di-ni ju-ga ka-ngen Ibu...." Handini berbicara sambil sesenggukan.
"Kamu sudah makan, sayang? Jangan menangis"
Kali ini Ibunya mencoba untuk tidak menangis lagi karna mendengar putrinya menangis juga, ia merasa bersalah.
"Sudah, Ibu makanlah, kasian Ayah kebingungan membujuk Ibu untuk makan. Handini disini baik-baik saja, lagipula Om Farhan juga tadi membelikan aku sama Salsa makanan, Bu."
Ibu Handini tersenyum mendengar calon menantunya itu begitu perhatian terhadap putrinya.
__ADS_1
"Syukurlah, Nak. Ayah dan Ibu akan ke kota saat akad kamu nanti, Nak. Karna Ayah dan Ibu disini akan mengurus usaha baru dahulu, dan soal acara pernikahan kamu sudah dihandle Farhan."
"Iya, Bu. Ayah dan Ibu jaga kesehatan."
"Iya Sayang ,berjanjilah kepada Ibu kalau kamu akan terus tersenyum, Nak. "
"Siap Ibu, Ayah dan Ibu juga semoga berbahagia selalu"
"Aamiin, Nak. "
Setelah panggilan terputus, Handini langsung menumpahkan tangisannya yang belum selesai dipelukan sahabatnya.
Hatinya hancur saat mendengar tangisan Ibunya. Ibu yang setiap hari menemani dia dirumah, menonton tv bersama, bersih-bersih bersama, memasak bersama dan juga bercanda bersama.
Handini juga rindu akan cubitan Ibunya setiap pagi, ia merasa beruntung memiliki Ibu seperti Ibu Ratih.
"Udah, cup cup cup. Jangan menangis terus ,nanti ibumu merasakan. Ikatan batin Ibu dan anak kan pasti kuat. "
Handini membenarkan apa yang diucapkan sahabatnya, seketika dia langsung menghapus air matanya.
Belum selesai menghapus air matanya, Handini mendengar ada bunyi notifikasi pesan masuk.
"Siapa, Din? " tanya Salsa kepo saat Handini sudah membuka ponselnya.
"Kepo deh" jawab Handini
"Selamat malam dan selamat tidur, besok aku jemput jam 8 pagi. Kita pergi mencari kebaya untuk acara perpisahan sekolah kamu dan akad nanti, dan kalau resepsi kita menyewa saja"
Om Farhan
Handini baru tersadarkan akan pakaian yang harus ia kenakan di acara perpisahan sekolah nanti, karna diwajibkan untuk memakai kebaya.
"Kenapa, Din? kenapa kamu gak bisa ikut acara perpisahan kelas nanti? kamu gak dibolehin sama orang tua kamu? biar aku aja yang bantu ijinin."
Radit
Handini ingin membalasnya namun ia malas "Nanti sajalah saat acara perpisahan sekolah, aku ngomong langsung ke Radit"
"Din, kamu ditanyain kok, pesan dari siapa tadi? " tanya Salsa yang saat ini sedang bersender diranjangnya.
"Dari Om Farhan "
"Terus? "
"Teruss.... tidur deh... " Handini langsung menarik selimut sampai kepalanya membuat Salsa mendengus kesal.
Jam berdenting menunjukan pukul 12 malam, Handini terbangun karna ingin buang air kecil.
Setelah menuntaskan apa yang ia tahan, ia akan memejamkan matanya kembali.
Namun kedua matanya menangkap suatu benda yang membuatnya penasaran.
Handini melihat Salsa sudah tertidur dengan pulas, dengan hati-hati ia meraih benda itu.
Dan saat akan membukanya ternyata terkunci, ia mencari-cari kunci disekitar laci dan akhirnya ketemu.
Sebenarnya Handini bukannya tidak sopan membuka privasi orang, namun Salsa pernah bercerita kalau dia menyukai seseorang disekolahnya dari SMP namun ia tak pernah membocorkan siapa namanya.
Handini berniat setelah mengetahui siapa namanya, ia akan mencoba mendekatkan mereka berdua.
----
__ADS_1
"Sal, bangun... aku sebentar lagi akan pergi sama om Farhan" Handini menepuk-nepuk pipi sahabatnya berharap akan segera terbangun.
Kali ini Handini yang bangun duluan karna semalam ia sudah pasang alarm jam 7.
"Hooaaammm.. " Salsa membuka matanya dan seketika terkejut melihat sahabatnya sudah rapi.
"Kamu mau kemana?" tanya Salsa.
"Aku mau pergi sama Om Farhan nyari kebaya buat akad sama acara perpisahan sekolah nanti"
Handini meraih tas selempangnya dan menghampiri cermin sebentar.
"Udah cantik kok.." Salsa menggoda sahabatnya membuat Handini meliriknya tajam.
"Kamu sudah ada kebayanya, Sal? "
"Sudah, punya Mamaku "
"Hmm, baiklah aku pergi dulu ya. "
"Heiii.. gak sarapan dulu, Din?"
"Gak usah, aku sarapan diluar saja." teriak Handini yang sudah berada diluar kamar.
Handini langsung masuk mobil Farhan, yang dari 5 menit yang lalu sudah berada di depan rumah Salsa.
"Din, kamu mau beli kebaya dimana? " tanya Farhan yang bingung akan mengantarkan Handini kemana.
"Di Butik Rose saja, tau kan? "
"Aku baru di kota ini, bagaimana aku hafal semua butik-butik yang ada disini " jawab Farhan
"Hehe, baiklah nanti aku tunjukin jalannya" Handini terkekeh.
Sesampainya di Butik Rose, Handini langsung melihat-lihat koleksi kebaya disana.
Hampir 30 menit ia mondar-mandir kesana-kemari namun belum ada yang menarik perhatiannya.
Farhan yang lelah mengikuti Handini, saat ini sedang duduk dikursi yang tersedia di butik.
Sudah berulang kali Farhan memilihkan kebaya buat dirinya, namun Handini terus menolak.
"Wanita ribet sekali, ia cari yang bagaimana."
"Mbak, ada koleksi kebaya yang lain tidak? " tanya Handini kepada pegawai butik.
"Ada mbak, mari ikut saya"
Handini mengikuti pegawai toko itu yang berjalan kearah ruangan yang cukup besar.
"Ini mbak, koleksi barunya. Mbaknya nyari buat acara apa? "
"Buat acara nikah sama perpisahan sekolah mbak"
"Oh.. mbaknya habis lulus mau langsung nikah? "
"Hmmm iya" jawab Handini canggung.
.
Selamat membaca..... like like like
__ADS_1