
Perkataan yang terlontar dari mulut suaminya memang benar, tak ada ruko yang bisa ia jadikan sebagai alasan.
"Hmmm sudah terlewat " jawabnya meyakinkan suaminya tersebut.
"Baiklah disana aku akan putar balik, kau akan membeli apa?" tanya Farhan yang saat ini sudah menginjak pedal gas untuk melanjutkan perjalanan setelah lampu hijau menyala.
"Tidak usah mas" jawabnya cepat
"Kenapa? tidak apa-apa" saat ini Farhan sudah memutar balikkan mobilnya membuat Handini tidak bisa berbuat apa-apa jika ia meminta mobilnya berhenti pun akan sangat membahayakan pengendara yang dibelakang maka dari itu Handini memutar otaknya untuk mencari alasan akan membeli apa.
Tak ada yang menarik disepanjang jalan, hanya terdapat ruko-ruko yang sebagian kosong karna mungkin pemiliknya pindah ketempat lain sehingga banyak ditempeli kertas bertuliskan DI JUAL CEPAT.
Gerobak yang terlihat sudah reyot dan catnya hampir seluruhnya terkelupas menjadi perhatian Dini dari kejauhan. Bapak tua dengan memakai kaos serta topi diatas kepalanya dan handuk yang menggantung dilehernya, kini sedang duduk di emperan toko. Meninggalkan gerobaknya dipinggir jalan, mungkin ia sedang berteduh dari teriknya panas matahari siang hari ini.
"Mas, aku mau beli itu" tunjuk Handini pada gerobak tersebut membuat Farhan mengangguk.
Farhan tidak tahu yang ditunjuk Handini itu gerobak menjual apa, karna tidak ada tulisan yang menempel digerobaknya. Hanya terlihat panci dan beberapa botol sambal diatas gerobaknya.
Dengan mudahnya ia menebak pasti menjual siomay atau makanan lain yang memakai sambal. Tapi lebih yakin menjual siomay.
"Kau tau bapak itu menjual apa?" tanyanya memastikan karna biasanya perempuan lebih tau karna mereka doyan jajan. hehehe
"Hmm tidak tahu" jawabnya lalu langsung turun dari mobil setelah Farhan menepikan mobilnya.
"Eh ternyata dia juga tidak tahu, kenapa dia tadi mau turun dilampu merah, ini jaraknya sangat jauh sekali, wanita memang susah dimengerti"
Handini menghampiri gerobak yang catnya sudah hampir mengelupas keseluruhan namun masih terlihat sedikit warna biru.
Tak perlu memanggil penjualnya pun sudah langsung dihampiri yang tadi bapak penjualnya sedang duduk di emperan toko.
"Mau beli berapa, neng? " tanyanya ramah sambil membuka tutup panci yang sekarang mengeluarkan asap menandakan masih panas.
"Lima ribu aja pak tapi gak pake tahu ya" jawabnya setelah melihat isi didalam panci tersebut yang menampakan beberapa siomay yang masih banyak juga beberapa pelengkap seperti telor, tahu dan kol.
"Aku lupa tidak meminta uang ke mas Farhan"
"Bentar ya pak, mau ambil uang di mobil" pamitnya kepada si penjual yang masih memasukan siomay kedalam plastik.
"Mas" panggilnya saat membuka pintu mobil membuat Farhan sedikit terkejut.
"Iya din, kau sudah membelinya? jual apa si itu?"
__ADS_1
"Siomay mas"
"Aku pesenin juga dong din, lima ribu aja"
"Hmm iya mas"
Setelah mendengar jawaban istrinya, Farhan kembali memegang ponselnya yang sedari tadi ia sedang membalas chat dari teman kantornya.
Tak ada pergerakan dari Handini membuat Farhan menolehnya kembali. Membuat Handini mengembangkan senyumannya berharap suaminya akan peka.
"Kau tidak mau memesankan siomay untukku? Baiklah aku akan turun sendiri" Farhan segera turun dari mobil karna ia pikir mungkin istrinya lelah dan ingin gantian duduk didalam mobil.
Namun sang istri malah mengikutinya membuat Farhan tambah dibuat pusing olehnya.
"Kau kenapa ikut? " dengan menatap dalam-dalam kedua mata istrinya.
"Aku mau mengambil siomayku" jawabnya seraya mengambil siomay yang sudah dibumbui sambal kacang oleh bapak penjualnya.
"Biarinlah, nanti dia juga akan tahu" dalam hati Handini
"Pak, siomay lima ribu"
"Iya mas, mau campur?"
Tidak butuh lama akhirnya siomay pesenannya selesai dibuatkan.
"Jadi sepuluh ribu mas" penjualnya mengatakan semua jumlah pesenan mereka berdua karna ia pikir wanita tadi pasti juga keluarganya.
"Oh.. Handini tadi ingin meminta uang"
Farhan baru sadar akan senyuman yang istrinya berikan tadi, sungguh diluar batas kemampuannya untuk mengertikan kode-kode dari wanita.
Ia memberikan selembar uang lima puluh ribu dan mengatakan tidak usah kembalian membuat sang penjual berkali-kali mengucapkan terima kasih dan hampir meneteskan air mata.
Membuat Farhan pun ikut merasakan senang karna telah sedikit membantu orang kecil dan bisa sedekah semampunya.
Farhan bukan kalangan dari orang yang berada, namun ia tak pernah pelit dengan siapapun.
Langkah kakinya menuju mobilnya yang tidak terlalu jauh ia parkiran dengan menenteng satu plastik siomay. Walaupun tidak jauh namun cukup membuat satu keringat muncul dan menetes didahinya.
Saat ia kembali kedalam mobil ,dilihatnya Handini yang sedang memakan siomay dengan lahapnya. Dan kini terlihat sisa sedikit siomay didalamnya.
__ADS_1
"Kau mau lagi? " tawarnya dengan memberikan siomay miliknya dihadapan istrinya.
"Tidak mas, aku kenyang" jawabnya seraya melahap habis siomaynya dan mengusap perutnya menandakan ia sudah cukup kenyang.
"Ya sudah, kita pulang" dijawab anggukan dari istrinya tersebut.
----
Suara yang tercipta dari benturan sendok dan piring kini memenuhi isi ruang makan yang menampakan kedua pasang suami istri yang sedang makan malam bersama.
Tidak ada percapakan disela-sela makan mereka. Hingga suara dering ponsel menyita perhatian mereka.
"Ponsel mas bunyi" Handini memberitahu suaminya yang saat ini masih sibuk menyendokan nasi kedalam mulutnya.
Farhan mendengarnya namun ia tidak suka jika makan malamnya diganggu.
"Biarin saja, nanti habis makan mas lihat siapa yang menelfon" ponsel yang berada didalam kamar membuatnya malas untuk langsung menghampiri. Karna jarak ruang makan dan kamar tidurnya dekat jadi suara dering ponsel pun masih bisa didengar.
Rumah Farhan lebih kecil dari rumah Handini yang dulu, jadi tiap jarak keruangan yang lain berdekatan.
"Mas sudah selesai makan, mas mau kekamar dulu ya"
"Iya mas, aku cuci piring dulu nanti menyusul kekamar" lalu Handini langsung membereskan piring-piring yang kotor serta gelas untuk dicucinya.
Lima belas menit kemudian akhirnya Handini selesai mencuci piring. Ia berniat untuk kekamar namun pikirannya tiba-tiba memikirkan sesuatu yang menggelikan.
"Menurut sepengetahuanku tentang menikah, orang yang menikah akan merasakan malam pertama tapi malam pertamaku kemarin itu tidak terjadi apa-apa, akankah hari ini? Oh tidak-tidak, aku belum siap, tapi sampai kapan aku harus menghindar terus-menerus?"
"Din, kau sudah selesai cuci piring? kemarilah" teriak Farhan dari dalam kamar membuat Handini semakin takut.
"Mas Farhan sudah memanggilku untuk menghampirinya, bagaimana ini?? dia pasti ingin melakukan malam pertamanya, bagaimana bagaimana ini???"
Tak ada jawaban dari istrinya membuat Farhan menjadi khawatir, ia turun dari ranjang dan berniat akan menghampiri istrinya didapur.
Saat mencapai pintu kamar, Farhan terkejut tatkala melihat istrinya sedang menautkan jari jemarinya dengan kepalanya menunduk kebawah.
.
.
.
__ADS_1
Selamat membaca ya... like kalau kalian sukaa....