
Suara bising kendaraan yang melintas terdengar jelas ditelinga Handini walaupun ia berada didalam mobil.
Ia masih sibuk melihat kearah samping kaca mobil, melihat apa saja yang bisa ia lihat.
Mencari-cari kesibukan agar ia tak terlalu bingung untuk melakukan apa sekarang, saat ini disebelah kanannya ada seorang lelaki yang dari tadi sibuk akan menyetirnya.
Setelah acara makan siang tadi, Farhan dan Handini disuruh untuk melakukan pendekatan terlebih dahulu.
Tetapi entah cocok atau tidaknya, Ayah Handini akan tetap menikahkan mereka.
Farhan yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri ,ingin rasanya untuk menjadi bagian keluarganya juga.
Bukan Ayah tega memaksakan mereka berdua, namun tak ada yang salah.
Farhan lelaki baik sangat pantas untuk bersanding dengan putrinya, jarak umur yang jauh tak jadi masalah.
Toh menurutnya, Farhan tidak terlihat tua seusianya malah terlihat masih muda seperti lelaki 25 tahunan.
"Din, apa kamu setuju atas rencana pernikahan kita? "
Farhan bertanya tanpa menoleh ke Handini, ia masih sibuk menyetir. Karna jalanan hari ini sangat padat.
Handini menoleh ke arah Farhan, ditatapnya lama-lama wajah Farhan. Ia menebak-nebak umur Farhan, tetapi sangat sulit sekali untuk mengiranya.
"Udah ngeliatinnya..." Farhan menoleh sekilas sambil mengembangkan senyumannya.
Handini malu lalu membuang muka.
"Om bukannya udah punya pacar ya? "
"Siapa? "
"Om "
"Iya siapa, pacar om? "
"Yang di cafe waktu itu sih " Handini merasa kesal kalau mengingatnya
"Oh itu... " Farhan menjawabnya acuh
"Jadi benar itu pacar om? kalau gitu om jujur aja sama Ayah, kalau om sudah ada calonnya. Dan... "
"Ssssstttt.. " Handini belum selesai berbicara,tiba-tiba Farhan menempelkan jari telunjuk pada bibirnya.
Handini kaget akan apa yang dilakukan oleh lelaki disampingnya ini.
"Dia itu sepupu Om, anak dari bibinya Om . Waktu itu liburan disini sebentar. "
Seketika Hati Handini merasa lega.
"Jadi Om belum punya pacar? "
__ADS_1
"Apa Om masih pantes buat pacaran? " tanya Farhan
Tidak ada jawaban dari Handini, ia bingung harus menjawab apa.
Dan Farhan pun masih fokus akan menyetirnya.
----
Setelah pulang dari jalan-jalannya bersama Om Farhan, Handini langsung merebahkan tubuhnya dikasur yang empuk.
Ia hanya diajak keliling kota dan berburu makanan ringan dijalanan, tak ada yang special menurut Handini. Karna Om Farhan juga sangat kaku, namun ia nyaman bersamanya.
Sejujurnya Handini tidak ada kepikiran sama sekali untuk menikah muda, tapi ketika melihat Ayahnya yang sangat bahagia sekali ia tak mampu untuk bilang tidak mau.
Dan sebenarnya pilihan Ayahnya tidak terlalu buruk, karna Handini memang sudah mengenal Om Farhan dengan baik.
"Nak, makan malam dulu " Suara Ayah dari balik pintu kamarnya.
Handini lalu bangkit dari kasur setelah mengiyakan.
Di Ruang Makan
"Gimana tadi pdktnya, Din? " tanya Ibu menggoda putrinya.
"Jalan-jalan aja Bu, keliling kota " jawab Handini sambil masih mengunyah makanannya.
"Kamu mulai sekarang belajarlah memasak sama Ibumu, Nak " perintah Ayah.
"Kamu masih bisa kuliah saat menikah nanti, Ayah sudah membicarakan hal ini sama Farhan, dan dia tidak keberatan"
Ayah meneguk air putih saat makanannya sudah habis tak tersisa. Ia memandang putrinya dan tersenyum.
"Ayah sudah menentukan tanggal pernikahanmu" lalu Ayah berlalu pergi menuju kamar.
Handini tidak tahu akan senang atau sedihkah untuk saat ini. Dia tak bisa membayangkan bagaimana nanti menjadi seorang istri di usianya yang masih sangat muda.
Dan sisi lain, ia masih ingin bebas. Masih ingin melanjutkan pendidikan tanpa beban sebagai seorang istri.
----
Daun-daun bergoyang mengikuti arah angin yang membawanya kesana-kemari.
Dan juga bunyi jangkrik menemani Handini yang saat ini sedang duduk sendirian diteras.
Bayangan Farhan yang melintasi Handini begitu saja saat akan pergi malam itu, seketika membuat Handini tersenyum-senyum sendiri.
Walaupun kesal karna waktu itu diacuhkan tetapi penampilan Farhan yang seperti anak muda, membuat pipi Handini merona.
Tanpa Handini sadari, ada sepasang mata yang sedang mengamatinya dari jauh. Ia tersenyum saat melihat senyuman yang menghiasi wajah Handini.
Karna malam semakin larut dan angin yang semakin dingin, Handini akhirnya melangkah masuk untuk segera mengistirahatkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama untuk Handini terlelap karna ia sudah cukup mengantuk.
__ADS_1
Keesokkan harinya, ia bangun dan melihat arah jarum jam sudah menunjukan pukul 9.
"Tumben Ibu gak bangunin aku"
Handini langsung masuk kamar mandi dan setelah itu ingin langsung sarapan, karna mendengar perutnya sudah berdemo untuk segera minta diisi.
"Ini saya kasih contoh undangan yang sesuai dengan requestan bapak kemarin, karna saya tidak bisa berlama-lama. Nanti hubungi kantor saja ya pak.. Terima kasih"
"Iya mba, sama-sama."
Sayup-sayup Handini mendengar suara Ayahnya yang sedang berbicara dengan seseorang, namun ia tak menghiraukannya.
Dan segera mengambil piring dan nasi goreng yang sudah disiapkan Ibunya.
"Hmm.. enak. Bisa gak ya aku masak nasi goreng seenak ini " Handini terkekeh akan ucapan dirinya sendiri.
"Bisa dong... " jawab Ibu Handini dari arah belakang yang seketika membuat Handini malu bukan kepalang.
"Ahhh.. Ibu.. " jawab Handini malu.
"Ayah lagi ada tamu ya, Bu? " tanya Handini mengalihkan pembicaraan.
"Iya ada orang dari jasa percetakan undangan pernikahan "
"Hah?? Emang Ayah merencanakan pernikahanku kapan sih, Bu. Tiba-tiba udah mau nyetak undangan aja. Anaknya juga gak tau, mau nikah kapan"
"Tuh ,tanya aja sendiri" Ayah yang merasa tersindir malah menaikkan alisnya, memberi isyarat ada apa.
"Ayah sudah mau menyetak undangan untuk pernikahanku? Ayah saja belum memberitahuku tanggal pernikahannya."
"Secepatnya, lebih cepat lebih baik. Niat yang baik harus disegerakan bukan? " Ayah tersenyum lalu mengelus rambut putrinya, menyalurkan rasa kasih sayang yang tak terhingga.
----
"Handini... sayang...bangun nak, ada Salsa didepan " Ibu Handini mencoba membangunkan putrinya.
"Hoaam.. kenapa bu? " tanya Handini yang masih mengantuk, tumben sekali tanpa cubitan putrinya langsung bangun.
"Ada Salsa tuh didepan, buruan mandi terus ajak sarapan bareng"
"Hmm.. iya bu " jawab Handini yang masih lemas karna baru bangun dari tidurnya
"Tumben banget Salsa gak ngabarin dulu kalau mau kerumah. Oh ya.. sekalian aku cerita tentang pernikahanku, pasti dia kaget setengah mati" Handini tergelak akan ucapannya sendiri, menebak-nebak respon seperti apa dari sahabatnya tersebut.
"Hai Sal, ayo.. sarapan dulu. Disuruh Ibu." setelah Handini selesai mandi, ia langsung menghampiri Salsa di ruang tamu.
Salsa pun tak bisa menolak, karna ia dari rumah memang belum sarapan.
Mereka menuju ruang makan dan sarapan bersama.
Semoga suka ya.... like kalau sukaa...
__ADS_1