
Keesokkan harinya Handini yang terus merengek minta pulang, akhirnya disetujui oleh dokter yang menanganinya.Cukup semalam saja Handini dirawat di rumah sakit, karna kondisi Handini yang cepat pulih jadi diperbolehkan pulang pagi ini.
Dokter memberitahu bahwa penyebab Handini bisa pingsan karna tekanan darahnya yang sangat rendah.Dokter menyarankan agar diperhatikan lagi makanan yang dikonsumsi.Harus perbanyak sayuran dan daging merah.
Pak Handoyo dan Ibu Ratih yang semalam menemani putrinya hingga ikut tidur disana, terpaksa pagi ini harus segera kembali ke kampung.Karna melihat kondisi putrinya yang sudah membaik, mereka sedikit lega untuk meninggalkannya.
"Sayang, Ibu sama Ayah pamit pulang ya, kamu jaga diri baik-baik."Bu Ratih melirik sekilas ke arah Farhan.
"Kalau ada apa-apa kamu langsung kabari Ibu ya, Nak."
"Iya Bu."
"Jangan iya iya aja, kamu harusnya setiap hari nelfon Ibu sama Ayah."
"Dini kan sekarang sudah menjadi seorang istri dan pastinya sibuklah Bu, gak bisa setiap hari Dini suruh mengabari kita.Lagi pula apa yang kau cemaskan, kita sudah menitipkan Dini dengan Farhan yang pasti akan menjaga putri kita."
"Tidak, Ibu tidak percaya dengannya."Farhan seketika mendelikkan matanya, merasa kaget akan perkataan dari mertuanya.
Pak Handoyo dan Handini pun sama kagetnya.Pak Handoyo langsung menyenggol lengan istrinya yang berada disamping.
"Kau ini bicara apa sih, Bu"katanya dengan suara pelan, namun tetap saja masih terdengar di telinga Farhan dan Handini.
"Maaf mba, kalau saya lalai menjaga Handini."Farhan merasa sangat bersalah atas apa yang telah terjadi pada istrinya.
"Bu, mas Farhan gak salah kok Bu. Dini aja sampai gak tau kalau sedang gak enak badan, karena tiba-tiba aja kepala Dini pusing terus pingsan." Dini berusaha membela suaminya.
"Ya karena makanan yang kamu konsumsi tidak diperhatikan."Ibu Ratih masih menggebu-gebu.
"Dini makan seperti biasanya kok Bu, semuanya bergizi."
"Sudahlah Bu, ayo kita pulang sekarang."Pak Handono mencoba melerai perdebatan istri dan putrinya. Karna ia tidak enak dengan Farhan yang merasa terpojok saat ini.
**
Setelah Farhan menyelesaikan biaya administrasi, mereka langsung menuju ke parkiran. Sedangkan orang tua Dini sudah pulang dari tadi. Walaupun Bu Ratih sempat tidak rela jika harus berpisah dengan putrinya, bahkan dia meminta Dini ikut dengannya tinggal di kampung.Namun Dini menolaknya dengan halus, karna sekarang ia sudah menjadi seorang istri yang harus melayani suaminya disini.
Farhan pun tak hentinya meminta maaf kepada Bu Ratih dan Pak Handono, jikalau dia lalai menjaga putri mereka.
__ADS_1
"Din, kau serius sudah merasa baikan?" tanya Farhan saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
Handini hanya mengangguk. Tangannya bergerak menurunkan kaca mobil disampingnya, karna ia ingin menghirup udara segar di pagi hari ini.
"Jangan terlalu lebar kacanya, nanti kamu malah jadi masuk angin, Din."
"Mas, gak masuk kerja hari ini?" tanya Handini saat ia tersadar bahwa ini sudah lewat dari jam masuk kantor suaminya.
"Bagaimana mungkin aku berangkat kerja saat kau baru saja keluar dari rumah sakit." Farhan menghela nafas.
Handini tidak menjawab, pandangannya masih sibuk melihat ke arah luar kaca mobil.
***
"Dini, maafkan Bi Nam ya karna kemarin tidak bisa menjenguk kamu." Bi Nam meminta maaf karna dirinya tidak bisa datang kerumah sakit saat Handini dirawat.
"Tidak apa-apa ,Bi Nam juga sedang sakit." Handini tersenyum ,ia tak mempermasalahkan Bi Nam yang tidak menjenguknya.
Pandangan mereka teralihkan saat mendengar pintu kamar terbuka.Dilihatnya seorang gadis berambut pendek yang sedang berjalan kearah mereka.
Gadis itu menghembuskan nafas pelan seperti hendak mengatakan sesuatu namun tak kunjung terbuka mulutnya.
"Bu, liatin sotonya sudah matang belum,Lita gak tahu soalnya."Gadis itu tidak membalas panggilan Handini, ia malah menyuruh ibunya untuk melihat masakan sotonya di dapur.
"Ya udah, kamu disini dulu jagain mba Handini ya."perintah ibunya dan terpaksa gadis itu menurut.
"Mba Dini disini sendirian gak apa-apa kok Lit." Handini merasa tidak enak kepada Lita karna ia paham bahwa gadis itu pasti terpaksa menemaninya.
Tak ada jawaban dari gadis itu. Ia terus menutup mulutnya namun matanya sesekali melirik ke Handini.
Handini pun semakin dibuat tidak enak hati. Tiba-tiba ia merasakan tenggorokannya kering, namun ia tak melihat ada air didalam kamarnya.
Gelas yang biasanya terisi air putih diatas nakas, saat ini tak ada. Kakinya hampir turun dari ranjang namun dicegah oleh Lita.
"Mau ngapain?" tanya Lita dengan tatapan matanya yang terkesan cuek.
"Mba mau mengambil air minum, Lit." jawabnya.
__ADS_1
"Biar aku aja." jawab Lita singkat.
Handini terheran-heran akan sikap Lita yang ia rasa begitu aneh.Tidak sampai satu menit Lita kembali ke kamar dengan membawa segelas air putih. Dengan hati-hati gelas itu ia berikan ke Handini. Handini mengucapkan terima kasih namun Lita tidak merespon.
Handini tiba-tiba penasaran akan Lita yang tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah. Ia malah memilih untuk langsung bekerja.
Walaupun umur Handini lebih muda dari Lita, namun mereka berdua lulus SMA ditahun yang sama.
"Lit, kamu kenapa gak kuliah aja, bukankah kamu juga baru lulus SMA?"
Lita menatap Handini dengan tajam, membuat Dini merasa kaget.Gadis itu tiba-tiba melangkah keluar kamar.
"Apa aku salah berbicara?" Handini berucap pelan.
"Salah apa?" Farhan yang baru selesai mandi kini berjalan mendekati istrinya diatas ranjang.
"Ahh mas ngagetin aja." Handini merasa kaget saat ada suara yang menyauti ucapannya tadi.
"Salah apa?" tanya Farhan lagi.Lelaki itu mendudukan tubuhnya dipinggir ranjang.
"Tadi aku bertanya kepada Lita, kenapa dia tidak melanjutkan kuliah saja. Tapi dia malah pergi dan tidak menjawab apapun."
"Lain kali tidak usah bertanya seperti itu lagi kepadanya." Jawab Farhan cepat dan dibalas anggukan oleh Handini.
Handini menurut saja perintah dari suaminya. Lagi pula tidak ada haknya mencampuri urusan Lita.
"Kau disini saja, aku akan ambilkan makanan."
Farhan melangkah keluar kamar namun saat berada diambang pintu, tiba-tiba ia menoleh ke arah Dini dan tersenyum kepadanya.
Handini yang merasa kaget pun sampai tak sempat membalaskan senyum yang suami tujukan kepada dirinya. Ia masih merasa kaget atas perlakukan suaminya yang ia rasa manis saat pagi hari ini.
Ia berfikir, mungkin setelah ia jatuh sakit, suaminya akan berusaha menjaga dia dengan lebih baik lagi.
Dini beranjak turun dari ranjang, ia berjalan ke arah jendela kamar. Salah satu tempat yang sangat ia sukai, karna di balik jendela kamarnya ia bisa melihat burung-burung yang berterbangan di awan sana.
Selamat membaca ya... Maaf updatenya lamaaaaaaaa bangetttttttt karna aku ada kesibukkan lain..
__ADS_1
Hehehehe