My Adult Man

My Adult Man
Bangkrut


__ADS_3

Handini sedang berjalan menuju kamarnya setelah ia mengunci pintu depan saat Radit berpamitan untuk pulang.


"Nak, teman kamu sudah pulang? Ada perlu apa datang kemari?" Handini merasa kaget akan kedatangan Ayahnya.


"Sudah, Yah. Bahas soal perpisahan kelas, mau ngadain acara sendiri juga setelah perpisahan sekolah."


"Kamu ingin mengikuti perpisahan kelas itu? "tanya Ayah Handini


"Kenapa tidak, Yah." Handini merasa bingung akan pertanyaan Ayahnya tersebut.


"Kamu sebentar lagi akan menikah, banyak-banyaklah beristirahat. Tak perlu kamu menghadiri perpisahan kelas, cukup perpisahan sekolah saja. Dan Ayah beritahu, pernikahanmu akan dilangsungkan 2 minggu lagi. Tepatnya 1 minggu setelah acara perpisahan sekolahmu, biar surat-surat segala macam Ayah yang ngurus. "


Handini merasa Ayahnya sekarang sudah berani mengekangnya, ia merasa sedih karna sekarang kegiatannya dibatasi.


"Dan kamu perlu menjaga jarak dengan lawan jenismu, karna kamu akan menikah. Teman lelakimu hanya suamimu kelak, tidak ada teman lelaki selain dirinya didalam hidupmu."


Handini menatap punggung laki-laki yang selama ini telah menjadi Ayahnya selama 18 tahun .Ayah Handini melangkahkan kakinya pergi dari kamar putrinya setelah usapan lembut ia daratkan dikepala anak semata wayangnya.


"Apa benar kata Salsa, jika aku menikah nanti kegiatanku akan dibatasi. Bagaimana jika nanti aku tidak bisa bertemu lagi dengan teman-temanku apalagi Salsa."


Handini teringat akan Farhan, bagaimana pun sebentar lagi ia akan menikah dengannya. Tapi ia masih bingung, kenapa sepertinya Farhan terlihat tenang-tenang saja. Kenapa dia mau-mau saja untuk dinikahkan dengan gadis labil sepertinya.


Sebenarnya sudah lama ia mempunyai nomer ponselnya Farhan tapi tidak pernah bertukar pesan, pernah sesekali saat sering menjemputnya dulu. Dan setelah itu tidak pernah lagi, entah Handini yang mengirimi pesan ataupun Farhan, tidak sama sekali.


Ingin bertanya saat Farhan tiba-tiba memberinya boneka pun, ia tak berani.


----


Handini dengan malas membuka kedua matanya tatkala mendengar kebisingan yang terdengar cukup keras ditelinganya.

__ADS_1


Dengan langkah gontainya ia keluar dari kamar dan mencari-cari sumber suara yang berhasil membuatnya terbangun di pagi buta ini.


Karna terlihat belum ada cahaya matahari yang masuk disela-sela kamarnya, menyimpulkan bahwa ini masih sangat pagi.


Handini terkesiap akan apa yang ia lihat saat ini, banyak pria yang berpakaian hitam-hitam dengan badan yang cukup besar sedang mengambil barang-barang yang ada di kamar orang tuanya.


"Ayah, ada apa ini? dan siapa orang-orang ini?" Tanya Handini dengan hati yang tak karuan.


"Nak, mari ikut Ayah." Ayah berjalan kehalaman belakang dan betapa kagetnya saat ia melihat ada Ibu disana sedang menangis.


Ayah menghampiri Ibu lalu mengusap lembut bahunya untuk sekedar menenangkan dan Ayah memberi kode untuk Handini menemani Ibu.


Handini langsung memeluk Ibunya dan tanpa sengaja ikut menangis juga, karna hatinya hancur saat melihat Ibunya menangis. Padahal ia tak tahu, apa penyebabnya. Sedangkan Ayah kembali kedepan lagi, mungkin untuk mengawasi orang-orang yang sedang mengambil barang-barang dirumah.


"Ibu... tolong ceritakan kepada Handini, apa yang sebenarnya terjadi? "


"Din, maafkan Ibu sama Ayah." Ibu semakin deras menumpahkan air matanya membuat Handini tidak tega, tapi ia benar-benar penasaran akan apa yang terjadi saat ini.


"Ibu.. Handini yang harusnya minta maaf kepada Ayah dan Ibu. Maaf jika Handini selama ini belum bisa bahagiain Ayah dan Ibu." Ibu Handini menggeleng.


"Tidak, Nak. Ibu dan Ayah yang sudah memaksamu untuk menikah muda, padahal kita tau kamu belum ingin berumah tangga. Tapi yakinlah, Nak. Farhan orang yang baik, dia pasti bisa menjagamu."


Handini semakin bingung atas perkataan Ibunya.


"Tak masalah, Bu. Tapi apa maksud dari orang-orang itu mengambil semua barang-barang dirumah kita? " saat ini Handini menatap intens Ibunya.


"Ayah bangkrut, Nak. Ibu tak tahu persis apa yang terjadi dengan perusahaannya. Namun karna hutang yang terlalu banyak ,terpaksa rumah kita disita. Sebenarnya kita tidak ingin kamu mengetahuinya sekarang, Ayah dan Ibu berencana untuk mengantarkan dulu kamu kerumah Salsa. Tapi dari pihak bank memintanya sekarang, terpaksa kita harus cepat-cepat mengosongi rumah ini. Dan syukurnya perabotan kita tidak ikut disita, karna dibantu tambahan uang dari Farhan."


"Lalu aku di..."

__ADS_1


"Bukan, bukan seperti itu, Nak. Bukan berarti kita menjualmu kepada Farhan. Tapi Ibu dan Ayah akan pindah kekampung ,kita akan memulai usaha lagi disana. Kita ada sedikit tabungan untuk memulai usaha kecil-kecilan. Dan kita tidak mau menghancurkan masa depanmu, Nak. Kamu ingin kuliah dan Farhan dengan baik hati ingin membayarkan semua biaya kuliah kamu. Dan karna disini tidak ada saudara, jalan satu-satunya ya menikahkan kalian berdua. Ayah kan sudah menganggap Farhan seperti adiknya, maka dari itu Ayah ingin mengangkatnya sebagai bagian keluarganya juga. Nak, kita tidak menjual ataupun memaksa. Kita memberikan pilihan yang terbaik buat kamu, Ibu mengikhlaskan kamu untuk bersanding dengan Farhan, Ibu akan merasa lega."


Senyuman mengembang sempurna di bibir Ibu Handini membuat Handini merasa bahagia juga.


"Terima kasih, Bu. Ternyata kalian masih memikirkan masa depanku. Aku tau Om Farhan orang yang baik, Bu. Semoga aku bisa jadi istri yang baik ya, Bu." Handini terisak dipelukan ibunya.


"Maafkan kita ya, Nak. Tapi Ibu yakin Farhan akan bisa menjagamu disini. Oh ya.. kamu cepat kemasin barang-barangmu, Nak. Ibu dan Ayah akan mengantarkan kamu ke rumah Salsa, hari ini kita akan langsung ke kampung untuk mencari tempat tinggal disana. Dan pernikahan kamu nanti akan digelar di rumah Farhan."


Ibu bangkit dan menggandeng tangan Handini untuk membantu mengemasi barang putrinya.


"Ibu, akan selamanya menetap dikampung? " tanya Handini disela-sela ia mengemasi baju-bajunya. Sedangkan orang-orang yang berbaju hitam masih sibuk mengemasi barang yang ada di dapur dan ruang keluarga.


"Iya, sayang. Ayah tidak mau membuka usaha dikota lagi, persaingan sangat ketat disini."


"Handini disini sendirian, Bu." Ia menundukan kepalanya membayangkan bagaimana nanti hidupnya dan jika ia rindu dengan orang tuanya.


"Kamu akan bersama suamimu, sayang. Kalau ada waktu kita akan mengunjungimu disini dan kalau bisa memintalah kepada suamimu untuk sering-sering mengunjungi Ibu dan Ayah dikampung. Sekalian kamu jengukin Nenek dan Kakek disana."


"Baiklah, Bu." Ada suatu hal yang ingin ia tanyakan kepada Ibunya namun ia takut.


"Bu... "


"Iya Sayang... "


"Nanti setelah menikah, apakah Om Farhan akan membatasi kegiatan Dini?" Tanya Handini tanpa berani melihat Ibunya.


Ibu Handini tersenyum mendengar pertanyaan polos dari putrinya.


Selamat membaca.....

__ADS_1


__ADS_2