
Kini tibalah ambulan yang membawa Agnes di rumah sakit itu.dan parah dokter segera membawa Agnes, ke dalam ruangan operasi untuk segera menolong nyawa Agnes.
Panji yang menunggu di luar ruangan tesebut,hanya bisa menunggu hasil dari dokter,dan dia mondar -mandir di depan ruangan operasi dengan perasaan cemas dan takut.takut akan nyawa Agnes yang tidak tertolong.
beberapa jam kemudian,terbukaklah ruang operasi tersebut,dan membuat Panji segera menghampir sang dokter.
" Gimana dokter,?? ucap Panji dengan muka panik nya.
"Ma'af pa...k"
"Agggghh" teriak dokter,karena Panji sudah mendorong nya ke dinding dan hampir menc*k*k sang dokter.
"Sabar Panji" ucap bibik yang tadi hanya duduk menunggu hasil yang akan di sampai kan dokter.dan kini berdiri dan memisah kan Panji.
" Sabar..lepasan dulu dokter itu,dia bahkan belum menyelesaikan ucapan nya" ucap bibik kembali,sambil memisahkan dengan dokter yang hampir di celakai Panji tersebut.
Panji pun perlahan melepas kan cekalan nya dan samabil berkata.
"Akan ku h*ncurkan rumah sakit ini kalau sampai nyawa nya tidak tertolong" Ucap sengit Panji terhadap dokter itu.
Dokter itu mulai membuka mulut nya dengan sedikit gemetar,karena mendengar ucapan Panji.
Ma-ma'af pak,kami hanya bisa menyelamatkan ibu nya,tapi tidak dengan kandungan nya,karena pasien sudah banyak kehilangan darah,terpaksa ibu nya menjadi pilihan terakhir,kalau tidak semua nya akan tiada Pak" ucap sang dokter menjelaskan,alasan harus mengorbankan sang bayi yang belum bernyawa itu.
Panji lalu bersandar di dinding rumah sakit dengan mengusap muka nya kasar,perlahan dia duduk di lantai dengan menggusar rambut.
"Panji,kita harus bersukur,nyawa Agnes masih selamat.
Panji masih belum beranjak atau pun menoleh ke pada bibik dari tempat nya.
"Pasien akan segera di pindahkan keruang perawatan,Dan biaya nya tolong segera kan ya pak" ucap dokter itu dan segera beranjak dari tempat itu.
__ADS_1
Saat Panji masih dengan keheningan nya,Hp Panji pun berbunyi,dan menyadarkan Panji,dan mengangkat tlpon itu.
"Hallo Panji...!!! ucap suara seorang laki-laki dari sebrang sana,dengan nomor tanpa nama tersebut.
Panji hanya diam tanpa ingin menjawab ucapan dari penelpon tanpa nama itu.
"Bagai mana Panji..?? Pertunjuan yang menarik ini sangat sayang terlewatkan, Ha... ha... ha..." membuat Panji mengernyitkan dahi nya,dan mulai risih maksud dari sang penelpon
"Anda siapa.??" Panji mulai membuka suara dan mulai berdiri dari tempat nya.
"Jangan tergesa-gesa ingin mengetahui saya Panji, drama bagus ini belum selesai semua nya,masih ada yang tersisa" lalu sang penelpon mematikan telpon nya,karena merasa penasaran,Panji kembali menelpon nomor tersebut,tapi nomor itu tidak aktif lagi.
Panjipun menelpon orang kepercayaan nya,untuk melacak nomor tersebut.
" Cari informasih tentang nomor telpon itu,dan segera laporkan hasil nya kepada saya." ucap Panji lalu mematikan telpon nya.
beberapa jam kemudian orang kepercayaan Panji pun kembali menelpon dan memberi informasih tentang siapa dan di mana keberadaan orang tersebut.
" Panji apa tidak ingin menjenguk Agnes ke ruangan nya,??" ucap bibik.
Panji menoleh lalu beranjak dari tempat nya masuk keruangan perawatan Agnes.
Dan mulai medekati Agnes yang belum sadarkan diri itu,lalu duduk di samping Agnes,dan menatap nya tanpa mengatakan apa-apa.
tiba-tiba pintu ruangan perawatan Agnes terbuka pelan dan masuk lah beberapa pengawal Panji," Tuan kami akan menjaga nona,mungkin tuan butuh istirahat," ucap beberapa pengawal Panji,"
" Tidak perlu,kalian cukup berjaga di luar saja"ucap Panji dengan suara rendah nya.
"Baik tuan" dan pengawal pun keluar dari ruangan itu dan menunggu di luar.
tidak lama Hp Panji kembali berbunyi,dan membuat Panji sedikit menjauh dari ranjang Agnes.
dan tampaklah nomor asing kembali yang menelpon nya,tapi Panji sekali ini bisa menebak,bahwa orang yang sama menelpon nya lagi.
__ADS_1
"Hallo" ucap Panj dengan suara berat nya.
"Ternyata kamu pintar juga Panji,bisa mengetahui keberadaan ku, dengan cepat,.!!! Tapi ternyata kamu hanya seorang pengecut,yang hanya bisa mengirim anak buah mu untuk mendatangi keberadaan ku." ucap sang penelpon dengan sedikit menyindir Panji.
namun Panji sama sekali tidak terpancing akan omongan sang penelpon itu.dan malah memancing yang penelpon balik.
"untuk orang seperti mu,tidak perlu orang seperti ku yang datang,cukup dengan anak buah ku,itu cukup terhormat untuk mu" ucap Panji dan membuat sang penelpon sedikit emosi.
"Lancang sekali kau Panji..!!! dengan menaikan nada bicaranya.
"Kau bahkan belum tahu siapa aku.
ha..ha..ha.!!!"
" Aku tidak perlu mengetahui siapa kamu,karena bagi ku,anda tidak sepenting itu" Balas Panji.
"Aku yakin,kamu akan mencariku secepatnya tanpa harus ku paksa," ucap sang penelpon lalu mematiak telpon nya.
"Siap sebenar orang ini..!!"gumam Panji,masih dengan menggenggam Hp nya.
Panji pun kembali duduk di samping Agnes.
"Kenapa perasaan ku sedikit takut Agnes,takut melakukan hal yang salah pada mu," gumam Panji di depan Agnes yang belum menampakkan tanda-tanda Agnes akan sadar.
"Tok..tok..tok" Suara pintu ruangan di ketok lalu masuklah mantan Art Agnes,membawa beberapa makanan.
" Panji makan dulu,kamu belum makan apa-apa bukan,biar bibik yang menjaga nona Agnes,"
"Tidak usah bik,saya mau pulang sebentar ada urusan yang harus saya urus,nanti kalu ada apa-apa telpon saya,dan di luar juga ada penjaga." ucap Panji kepada bibik,sebelum Pulang Panji mengelus pipi Agnes yang pucat dan memandangnya dengan mata senduh.lalu beranjak keluar dari ruangan itu.
Di dalam mobil,Panji berpikir,bukan kah harus nya dia marah kepada Agnes,karena gara-gara dia,mereka harus kehilangan anak nya,Tapi Panji malah berpikir,apa reaksi Agnes mengetahui bahwa anak dalam kandungan telah tiada,akan kah Agnes akan marah besar pada nya,karena ulah nya,membuat Agnes setres dan berniat mengakhiri hidup Agnes.
Dan Panji lebih takut lagi kalau Agnes tidak memaafkan nya,dan membenci diri nya.
__ADS_1