
Seminggu berlalu, sejak kejadian penyerangan ke rumah tua itu, Agnes tidak lagi menerima Pesan dari Panji, Agnes sebenarnya menunggu kabar dari Panji, Namun dia gengsi untuk menelpon lebih dulu, atau sekedar bertanya kepada pengawal Panji di rumah itu.
Agnes sedikit was-was kalau Panji tidak datang lagi untuk menjenguknya,
" Apa Panji akan meninggalakan ku di pulau terpencil ini" gumam Agnes si kamarnya,dia sibuk mengecek Hp beberapa kali,namun tetap tidak ada pesan dari Panji.
Akhirnya Agnes mengalakan gengsinya hari itu,dan mencoba menelpon Panji,
beberapa kali Agnes menelpon, namun tidak di angkat oleh siapa pun, yang terakhir, baru telpon itu tersambung,itupun di angkat oleh asisten Panji.
Hallo..!!!" jawab sang asisten Panji.
"Kemana Panji,??" tanya Agnes yang sangat mengenal suara Panji,namun yang mengangkat dengan suara yang berbeda.
"Ma'af nona Agnes,tuan masih dalam perawatan, karena tertembak sa'at penyerangan.
"Apa..!!!?, tertembak..!??" teriak Agnes yang membuat Asisten Panji kaget dan Panji tersenyum akan suara Agnes,yang terdengar Panik.
"Apa Panji,baik-baik saja??" tanya agnes dengan suara bergetar di sana.
"Tolong jemput aku kesini, aku ingin melihat keadaan Panji" ucap Agnes dengan perasaan kawatir.
membuat Panji langsung mematikan telpon dan segera bergegar menemui Agnes, walau dengan luka tembak yang belum sembuh total.
Sebenarnya kejadian tembakan itu, terjadi kepada dalang dari pembunuh orang tua Panji dan Agnes, untung saja pada sa'at yang tepat, anak buah Panji datang, dan melumpuh kan,Penjahat itu,dan langsung menembah secara brutal dan berkali kali di bagian kepala dan punggungnya, sehingga membuat dia mati di tempat sa'at itu juga.
"Hallo..!!, hallo..!!" ucap Agnes karena Telpon itu terputus.
"Apa sinyal di sini sangat buruk, kenapa telponnya terputus" ucap Agnes,lalu keluar dari kamar dan meminjam telpon para pelayan,pelayan itupun langsung memberikan kepada Agnes.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, kenapa tidak di angkat," membuat Agnes semakin panik,muka Agnes memerah menahan air matanya
"Tidak mungkinkan" ucap Agnes tidak kuat melanjutkan ucapannya, lalu berusaha berpikir positif tentang pikirannya.
"Ya tuhan..!!! lindungi Panji," ucap Agnes sambil duduk gelisa di sopa ruang tamu, sambil menggenggam Hp,menunggu kabar, satu jam berlalu,kabar dari Panjipun belum ada tanda-tanda.
Agnes berinisiatif untuk menyusul Panji ke villa,walau harus menempuh resiko,
"Pengawal, antarkan aku ke villa Panji"
"Tapi non,kami tidak punya kuasa untuk mengajak non,keluar dari pulau ini" ucap sala satu pengawal itu.
Tapi Panji terluka, aku harus melihat nya, aku disini hanya duduk santai, namun kita tidak tau kondisi Panji sekarang" Ucap Agnes berteriak kepada pengawalnya, sari kejauhan Panji menatap tingka Agnes,yang menghawatirkan dirinya.
Agnes berpikir untuk Pergi sendiri,namun dia bingung,harus bagaimana melewati danau itu, sedangkn dia tidak bisa menggunakan speedboat tersebut.
Dengan keputusasaan,Agnes duduk dengan menekuk kedua kaki dan menunduk,menyembunyikan matanya,yang sudah di genangi air mata, dia tidak tau lagi harus bagaimana, bahkan di Saat-saat seperti ini, Agnes merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk Panji.
"Agnes!!" ucap Panji, membuat Agnes mengangkat kepala, dengan muka yang sudah penuh dengan air mata.
"Panji..!!?, Apa ini benar-benar kamu,??, ini bukan mimpikan" ucap Agnes berdiri lalu menyentuh tangan beserta muka Panji, untuk memastikan,bahwa dia tidak bermimpi.
"Tidak..!!, ini nyata" ucap Panji, dan di sambut pelukan oleh Agnes,dan membuat Panji sedikit kaget,dengan tindakan Agnes, namun pelukan itu cuma sebentar.
"Ma'af.. it..itu, emmm..!!! aku sedikit khawatir," ucap Agnes, malu dengan tindakan nya,sa'at dia sadar.
"ehhh.. tidak apa-apa" jawab Panji sedikit mengaruk tengkuk yang tidak gatal itu.
"Apa kamu tidak apa-apa, bagian mana yang tertembak,??" tanya Agnes sambil memperhatikan bagian tubuh Panji.
"Sudah mulai sembuh, tapi aku butuh istrahat yang cukup,karena menempuh jarak cukup jauh, membuat aku sedikit kelelahan" ucap Panji, dan membuat Agnes langsung memapa Panji untuk masuk kedalam, Panji sangat menerima Bantuan Agnes.
__ADS_1
Sampai-sampai pengawal yang ingin membantunya, dilarang oleh Panji,dengan bahasa tubuh, membuat pengawal mengurungkan niat untuk membantu Panji.
Agnes membawa Panji ke kamar untuk beristrahat, dan menawarkan Panji untuk makan, dan memasak untuk Panji, panji pun mengiyakan tawaran Agnes untuk memasak untuk dirinya, membuat Panji cukup Bahagia,walaupun lukanya sedikit terbuka,karena menempuh perjalanan jauh dan beberapa gerakan, yang belum boleh tersentuh atau di gerakkan.
Namun Panji tidak terlalu mengawatirkan luka itu,dia akan sedikit meminta belas kasihan Agnes untuk merawat lukanya.
Beberapa menit kemudian,Agnes membawa semangkok bubur untuk Panji, karena luka Panji, belum bisa memakan makanan pedas.
Agnes meletakkan bubur itu di atas meja, lalu membantu Panji untuk bersandar di kepala ranjang tersebut,dengan meletakkan bantal di punggung Panji.
"Aku suapin" ucap Agnes, tanpa di duga oleh Panji,dan Panji menampilkan senyum samar karena bahagia.
"Trimakasih" jawab Panji,
Agnes pun mulai menyendok dan meniupkan bubur untuk Panji,karena masih cukup Panas.
Panji menatap lekat wajah cantik Agnes, yang sedang meniupkan bubur untuk nya, sa'at agnes mulai menyuapi bubur itu,Panji menatap bubur itu dengan cepat, untuk mengalikan Pandangan dari wajah cantik Agnes.
Lalu Panji memakan bubur itu, beberapa suap dan Panji merasa sudah kenyang.
Kemudian Agnes menyuruh Panji untuk beristrhat kembali, kemudian di turuti Oleh Panji
Panji sangat ingin mneyampaikan berita tentang kematian sang pembunuh keluarganya dan bersiap menerima hukuman dari Agnes, untuk menebus kesalahan yang tak terma'afkan itu.
Agnes pun keluar dari kamar Panji. sa'at Agnes sudah keluar dari kamar itu, Panji menatap punggung Agnes senduh, mungkin dia tidak akan lagi bisa menatap Agnes, karena hukuman yang di terima dari Agnes.
"Agnes mungkin ini terakhir aku bisa melindungi mu, karena pembunuh seperti ku, memang Pantas menerima hukuman Atas perbuatan yang ku lakukan terhadap mu, dan keluarga yang tidak bersalah.
"Ma'af Agnes, andai aku lebih cepat mengetahui, mungkin hubungan kita sekarang akan menjadi sepasang kekasih," gumam Panji dengan penyesalan dan muka nya yang sendu.
"Aku memang tidak Pantas menjadi orang terdekat mu, untuk menjaga amana orang tua mu pun aku sudah ingkar, aku menyesal dan sangat menyesal atas smua perbuatan ku," ucap Panji lalu perlahan nenutup Mata dan beristrahat untuk memulikan luka tembakan, yang di alami Panji, selama seminggu ini.
__ADS_1
Di kamar, Agnes pun berpikir tentang kesembuhan Panji,dan berniat untuk mengurus Panji sampai benar-benar sembuh.