
Saat kata-kata itu terucap dari bibir Panji, Agnes dan Panji sudah mulai menyiapkan tentang pernikahan mereka, Agnes kembali ke kota, menempati rumah orang tua Agnes, dan menjadi miliknya kembali, begitu juga dengan perusaan-perusaan Dan usaha lain, sudah mengatas Nama Agnes sebagai ahli waris tunggal, semua harta peninggalan Orang tuanya.
Panji sangat ingin memberikan semua hartanya atas nama Agnes, tapi Agnes tidak mengiginkan itu, dia mau Panji akan selalu bersamanya, itu sangat lebih dari cukup.
Kondisi kembali normal seperti dulu, walau tanpa orang tua, dan bibik sari juga ikut kembali kerumah Agnes, malah satu keluarga bibik sari di ajak ke kota dan tidak bekerja di kebun teh lagi, walau keluarga bibik sari tidak tinggal satu rumah bersama Agnes, namun Agnes sudah memberikan rumah pribadi untuk keluarga bibik yang sudah di anggap sebagai keluarga itu, cuma bibik sari yang tinggal bersama Agnes.
Bibik sangat bahagia melihat keadaan Agnes kembali normal dan juga tidak sedih seperti dulu lagi, banyak pelayan-pelayan rumah Agnes yang baru, untuk meramehkan rumah yang cukup lama sepi itu.
Bibik sari di tunjuk Agnes sebagai ketua dari semua pelayan rumahnya, karena ibu sari sudah sangat mengetahui, apa saja yang boleh di kerjakan dan tidak boleh di lakukan.
dalam seminggu ini Agnes dan Panji begitu sibuk dengan persiapan pernikahan mereka, sebenarnya Agnes ingin sedikit menunda waktu, sekitar sebulan, agar lebih siap dengan pernikahan mereka.
Namun Panji sudah sangat tidak sabar, dan ingin secepatnya menikah dengan Agnes, agar bisa menatap Agnes setiap menit.
walau selama ini hampir 24 jam mereka bersama,namun masih harus berpikir untuk menyentuh Agnes.
Kini Agnes berada di kediaman Panji, walaupun Panji sangat kaya, tapi dia tidak mempunyai Art untuk rumahnya, karena dia selalu di bawakan sarapan atau makan siang beserta malam Oleh Agnes kerumahnya.
kalau tidak...Ya, seperti sa'at ini, Agnes memasak untuk Panji.
Agnes sedang sibuk dengan masakan tanpa menoleh atau pun menghiraukan Panji yang menatapnya, dari samping Agnes.
"Sayang..??!" ucap Panji manja, namun Agnes tidak peduli dengan panggilan itu, Agnes tetap konsen dengan masakannya
__ADS_1
Beberapa menit, Agnes selesai dengan memasak lalu mengidangkan di atas meja makan, lalu dia membereskan dapur yang cukup berantakan, karena baru selesai memasak.
Agnes mengumpulkan barang-barang yang kotor, kemudian mencucinya.
"Greepp..!!" Panji memeluk Agnes dari belakang dan mencium pucuk kelapa Agnes.
"Sayang nanti aja nyucinya ya, nanti aku bantu" ucap Panji mulai mencium tengkuk Agnes, sikap Panji yang mulai liar, membuat Agnes merinding.
Pan..panji, hentikan, aku sedang mencuci, nanti tidak bersih kalau kamu seperti ini" Ucap Agnes, namun itu sama sekali tidak mengubah niat Panji, malah semakin menjadi-jadi.
Bib*r Panji malah turun ke leh*r Agnes dan mengh*s*p hingga meninggal kan bekas.
"Egghh..!!" des*h Agnes, Sa'at Panji mengh*s*p leh*r Agnes, Namun tidak hanya itu yang di lakukan Panji, Tangan yang tadi memeluk perut Agnes dari belakang, sekarang sudah berpindah tempat juga, Tangan itu sudah M*s*k ke dalam kaos tipis yang di pake Oleh Agnes, dan menyentuh benda Kenyal milik Agnes, tidak hanya sekedar menyentuh, Panji juga merem*s Benda itu.
Membuat kesadaran Agnes pudar, karena sikap Panji yang l**r itu. karena mereka sudah di ambang n*fsu yang memuncak, Panji mengangkat Agnes ke atas meja dapurnya, dan mengangkat baju Agnes ke atas beserta br* milik Agnes, Lalu Panji melahap Buah kepunyaan Agnes.
Sudah Puas dengan buah itu, Panji, kemudian beralih ke atas, dan melahap b*b*r Agnes liar, dengan tangan kembali mer*m*s buah Agnes, Panji tidak ingin membuat tangannya menganggur saja, sa'at tangan Panji mulai turun ke perut Agnes, telpon Panji berbunyi, mengagalkan niat mereka yang hampir terjadi semuanya.
Panji mulai sadar dengan apa yang dilakukannya, dan merapikan kembali baju Agnes, menyatukan kening mereka sesa'at, lalu Panji mencium kening Agnes dan memeluk Agnes.
"Ma'af sayang, aku hampir melakukannya lagi, Apa kita bisa menikah dulu besok sayang, aku takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan sebelum resepsi kita terjadi." ucap Panji masih dengan memeluk Agnes.
"Tapi, bukanya kita sudah bilang mau nikah seminggu lagi,.??" jawab Agnes memandang calon suami super tampannya, Agnes bahkan tidak berpikir kalau Panji akan segila ini, jatuh cinta dengannya, Agnes berpikir, bahwa dia yang akan terus mengejar-ngejar Panji dulu.
Namun sekarang sangat berbeda, Panji sudah sangat mengilainya, sehari saja di melihat Agnes,Panji bisa menunda kerja Penting, dan bisa semangat lagi sa'at sudah melihat dan menyentuh Agnes,walaupun hanya perpegangan tangan.
__ADS_1
"Tidak apa sayang, tenang saja, nanti bisa kita rubah lagi, mempercepat akad kita" ucap Panji melepas pelukan,lalu menurunkan Agnes, dan mengajak Agnes untuk melanjutkan makannya, dan Panji tidak mengiraukan, atau mengecek siapa yang menelpon.
Panji dan Agnes pun melanjutkan makan mereka dengan canda ala mereka.
"Sayang, nanti aku mau anak enam ya,biar rame rumah kita" ucap Panji, membuat Agnes menoleh tajam kepada Panji.
Lalu Agnes mencubit paha Panji dan menepuk cukup keras lengan berotot Panji itu.
"Awwww, sayang..!! kamu kenapa sih, kok nyubit aku," ucap Panji, sok tidak mengerti, alasan Agnes mencubit dan menepuk Panji cukup keras.
"Kamu, tu ya..!!, di kira kucing apa, kamu kira mudah lahirin anak enam, minta yang wajar dong," jawab Agnes cemberut dan melipat tangan di dadanya.
Panji mendekat lalu mencium pipi Agnes, untuk membujuk calon istrinya yang merajuk.
"Iya sayang, ma'af ya" jawab Panji sambil mengelus kepala Agnes lembut.
" jadi kamu maunya brpa sayang,??" ucap Panji memeluk bahu Agnes dan menarik pelas Agnes ke dada bidangnya.
Mendengar itu, Agnes pun menoleh,menatap Panji tak kala lembut, dan tersenyum, Panji oun membalas senyum itu.
"Paling banyak tiga, kalau lebih dari itu, kamu yang urus ya sayang" jawab Agnes, membuat Panji mengerutkan alisnya,
" La, kenapa gak urus sama-sama sayang, kan semuanya anak kita" jawab Panji bingung.
"Makanya kalau tidak mau urus sendiri, jangan lebih dari tiga, kan kalau kamu melakukan dengan aman, bisa gak nambah lebih dari tiga," ucap Agnes sambil mencubit pipi Panji pelan.
__ADS_1
"Tapi kan kamu bisa pake alat juga untuk tidak lagi menambah anak sayang," jawab Panji,
"Emmm..!! jawab Agnes dengan ucapan itu saja.