
Sebulan berlalu,Agnes tidak lagi berjumpa dengan Panji,Panji pun seperti sudah tidak lagi berniat mendatangi Agnes,Sejak pengusiran Panji secara tidak terhormat dari kediaman Agnes.itu yang dipikirkan Agnes terhadap Panji selama sebulan ini.
Agnes mulai kembali menata hidup nya lebih baik lagi,walau dia tidak berniat menerimah surat kepemilikan harta orang tua nya dari tangan Panji.
Agnes ingin mengubah pejalanan hidup nya,di kampung itu,mulai mengikuti dan belajar cara orang kampung itu mencari nafkah.
Walau bibik nya tidak memperbolehkan Agnes bekerja,Agnes tetap berusaha.
Pagi itu,Agnes sedang beres-beres di kediaman nya,tiba-tiba suara mobil terdengar dari depan rumah itu.
Agnes sedikit was-was,takut Panji lah yang datang berkunjung.
Agnes tidak berpikir untuk membuka Pintu,namu tak berselang lama,terdengarlah ketokan Pintu dengar suara yang berbeda dari yang Agnes kenal.
"Tok.. tok..tok.."Agnes pun mulai mendekat ke arah pintu dan mengintip dari kaca jendelah.
"Permisi" ucap suara sang pengetok Pintu.
Agnes berpikir mungkin itu tamu jauh bibik nya,karena dia jarang melihat sosok laki-laki mudah itu di kampung ini.
"Ya sebentar," ucap Agnes sambil membuka pintu pelan.
Saat Agnes membuka pintu,Agnes langsung menatap laki-laki itu,yang berparas tampan nan tinggi dan badan yang kekar,tak jauh dari perawakan Panji,tapi masih tampan Panji.
"Laki-laki itu pun membalas menatap Agnes lekat,seakan sangat kagum akan kecantikan Agnes,yang jarang di lihat nya di kampung itu
"Ma'af mas cari siapa ya" tanya Agnes,karena laki-laki itu tak kunjung menyampaikan niat kedatangan nya kerumah itu.
__ADS_1
"Eh..emmmm...,Saya mau cari pemilik rumah ini,apa kah rumah ini masih bemilik buk sari,??" Ucap laki-laki itu dengan sedikit nada gugup,karena terlalu lama menatap kecantikan Agnes.
"Iya masih" jawab Agnes sekenah nya.
"Apa bu sari nya ada"ucap laki-laki itu sambil melihat Agnes yang tak kunjung mempersilakn,laki-laki tersebut untuk masuk.
"Ma'af mas,bibik nya lagi bekerja di kebun teh begitu juga dengan yang lain nya,jadi hanya saya di rumah,kalau mas nya ada keperluan dengan bibik,tunggu di pulang saja,karena..ma'af saya tidak berani mempersilakan anda masuk,karena saya tidak berwenang atas itu" ucap Agnes langsung ke inti nya.
"Baiklah,saya paham kok,nanti tolong sampaikan kalau ada anak pak kades datang berkunjung,ucap laki-laki tampan itu.
ohh..!!iya mas,ma'af ya tidak bisa mempersilakan mas nya masuk,"
"Tidak apa-apa" jawab laki-laki itu dengan aenyum ramah nya kepada Agnes,namun tak membalas senyum laki-laki itu.
Laki-laki itu pulang,dan Agnes kembali menutup Pintu rumah dengan rapat,
"Ternyata ada juga laki-laki setampan itu di kampung ini" gumam Agnes dan kembali mengerjakan pekerjaan rumah nya.
"Siapa kira-kira gadis itu,dia sangat cantik" gumam nya masih dengan senyum-senyum sendiri.
Di villa kediaman Panji,Panji masih sibuk dengan rencananya utuk berusaha mencari cara mendekati Agnes dan memintam'af kembali,hingga dia bisa mendapatkan ma'af dari Agnes,Panji berul-betul tidak lagi memata-matai Agnes seperti dulu,dia lebih konsen mencari jalan,agar Agnes bisa kembali dekat dengan nya.
Sekarang keadaan Panji yang sedikit berubah,dengan brewok yang mulai memanjang,begitu juga dengan rambut nya,tubuh nya pun sudah mulai berkurang berat nya,karena sebulan ini Panji jarang istrhat dan makan teratur.
Dia seakan selalu memikirkan kesalahan nya kepada Agnes dan mencari jalan agar bisa menebus nya secepat mungkin,
Andai saja dulu Panji menyelidiki rekaman dan surat itu,secara baik-baik,mungkin Agnes sekarang sudah sangat dekat dengan nya,mungkin sekarang Agnes sudah menjadi kekasih nya,karena Agnes tipe orang yang bisa menaklukkan hati pria dengan mudah.
Sekarang hanya sesal yang tertinggal di hati Panji,dan jalan yang sangat rumit untuk kembali dekat dan menyentuh hati Agnes.
__ADS_1
Tapi nyatanya masih ada kesalan besar yang belum Panji ungkapkan kepada Agnes,yang kemungkinan besar ma'af itu sangat sulit di dapatkan dari Agnes.
terlepas dari itu,Panji juga sudah menyelidiki dengan benar tentang penelpon misterius yang menyebab kan dia harus seperti sa'at ini.
"Andai saja ku menyelidiki dengan teliti tentang rekaman itu,semua tidak akan terjadi,tidak akan salah sasaran seperti ini,tapi semua sudah terlanjur terjadi,aku hanya ingin berusaha menebus kesalahan ku."
Sambil mengusap mukanya kasar,Panji sangat menyesal akan semua yang di lakukan nya,dia juga akan mengakhiri semuanya,kepada seorang Penjahat yang selama ini,bersembunyi dari dari kejadian tragis keluarga nya,dan sudah membuat dia membunuh orang yang salah.
"Agnes aku Pasti bisa menebus kesalahan ku,walau pun suatu sa'at aku tidak mendapat ma'af dari mu sedikit pun," ucap Panjj meyakinkan.
"Tok..tok..tok.."pintu rumah kediaman Agnes kembali di ketok siang itu,membuat Agnes menoleh ke arah pintu,saat dia bersantai di ruang tamunya.
"Siapa lagi ini,tidak mungin bibik sudah oulang kerja jam segini" gumam Agnes sambil berdiri dan berjalan menuju pintu tersebut.
Agnes kembali mengintip dari kaca jendela,dan tidak melihat ada orang di luar rumah,tapi terlihat sebuah kotak yang di tinggalkan di depan pintu itu.
"Apa bibik memesan paket" ucap Agnes sambil bejalan untuk membukakan pintu.
Lalu Agnes membuka pintu dan melihat kotak itu,yang terlihat pengirim menulis paket tertuju kepada nama lengkap nya.
Agnes mengernyitkan jidat nya dan bepikir.
"paket dari siapa,bukan kah jarang orang mengetahui nama lengkap ku kecuali bibik dan Panji."
Agnes sambil mengangkat kotak itu dan langsung membuka nya.
"Akkkkhhh" teriak Agnes sa'at mengetahui isi kotak itu dan langsung melemparnya.
Dan telihatlah sebuah potongan tangan berbahan karet yang sekilas sangat mirip dengan kulit manusia dan sudah di lumuri darah,Agnes sedikit ketakutan dan namun berusaha menenangkan dirinya,dan di antara kotak yang di lempari Agnes,terdapat sebuah kertas yang ada tulisan nya.
__ADS_1
Agnes dengan sedikit keberanian nya,mengambil kertas itu dan membaca lebih jelas isi dari pesan di kertas itu.
"Hai Agnes..!!!Kamu berikutnya..!!" yang membuat Agnes melotot kaget dan benar-benar membuat nya sangat takut kali ini,dia lari ke dalam rumah mengunci Pintu,dengan tubuh yang gementar dan menangis.