
Aditya
Kehidupan Agnes, sekarang terasa sempurna, walau tanpa orang tuanya lagi, karena Agnes mempunyai seorang suami yang selalu siaga.
Walau pun di rumah itu, punya banyak pengawal, tapi untuk sang istri, selalu dalam pengawasannya Panji sendiri. Apapun yang istrinya ingin kan, slalu Panji sendiri yang turun tangan, Agnes ingin ke mall saja, Panji Pasti akan menemaninya, walau pekerjaan Penting sekali pun, karena Bagi Panji Istrinya adalah sumber kebahagian utama baginya, dia bahkan tidak akan tenang, kalau tidak melihat istrinya dalam waktu tiga jam,
Panji dan Agnes, berada di ruang tamu, karena masih menikmati hari libur, pengantin baru mereka.
Sambil bercanda, Panji selalu tidak malu untuk mengumbar kemesraan di depan orang, memeluk, sampai mencium Agnes pun, Panji tak pernah pikir Panjang, selalu terkam saja.
Kadang Agnes berpikir, apa sikap dia yang dulu liar dan agresif sudah pindah ke tubuh suaminya, dan sekarang Agnes yang sering melarang suaminya untuk tidak terlalu menampakkan kemesraan di depan umum, namun siapa yang bisa melarang Panji, untuk menghentikan dia, bermesraan terhadap istri sendiri.
Panji sebenarny orang yang patuh terhadap ucapan istrinya, namun kalau masalah mes*m terhadap istri, dia tidak mau mendengarkan.
Terdengar suara bell rumah Mereka berbunyi, menandakan ada tamu yang datang.
pelayan pun langsung membuka lalu melihat siapa yang bertamu di waktu libur, dan waktu Agnes dan Panji masih menikmati liburan pengantin baru mereka.
Datang lah pelayan, yang mengatakan siapa tamu yang di maksud, membuat Panji mengernyitkan dahinya, sambil menoleh kepada sang istri.
"Sayang, ada keperluan apa kira-kira anak pak kades datang kemari??, bahkan tempat kita jauh dari kampung" ucap Panji, dan itu membuat Agnes mengangkat sedikit bahu, pertanda dia juga tidak mengetahui, Maksud Aditya, datang bertamu ke rumah mereka.
Mereka juga merasa tidak mengundang Aditya untuk mengganggu acara liburan mereka.
"Mas, coba deh kamu tanya dulu, siapa tau Penting, kan dia jauh-jauh datang ke sini, Pasti ada sesuatu yang ingin di sampai kan," ucap Agnes, Panji pun, langsung menghampiri Aditya.
__ADS_1
Dengan muka sedikit tak besahabat, Panji bertanya.
" mau apa datang kesini,??, anda tau bukan, kalau saya.." ucapan Panji lansung di terpotong, sa'at aditya menyodor kan undangan, di depan muka Panji.
"Aku ingin memberi kalian ini, semoga kalian berkenan datang," ucap Aditya, Muka Panji sedikit berubah, tidak terlalu kaku seperti tadi.
Panji mengambil dan langsung membuka undanga itu di depan Aditya.
sa'at melihat itu, Panji sedikit tersenyum samar, namun tetap tidak mengizin kan aditya untuk masuk kerumah itu.
Karena merasa Panji cukup lama di luar, Agnes penasaran, dan mengusul sang suami.
" Mas...! Siapa yang datang..??" Tanya Agnes menghampiri Panji lalu melihat ke arah luar.
"Aditya..??" ucap Agnes menyapa.
"Emmm.., baiklah saya pulang dulu, sorry sedikit menganggu acara kalian," ucap aditya, karena melihat Panji yang tak kunjung mempersilakan dia untuk sedikit bertamu.
"ehhhmm" ucap Panji tanpa menyampaikan kata-kata apapun. Panji pun langsung memeluk pinggang Agnes, mengajaknya untuk langsung masuk kerumah dan menutup Pintu rapat.
"Mas..!?" ucap Agnes sambil menatap muka Panji yang sedikit tidak bersahabat, walau pun tadi Panji tau, kalau Aditya mengantar kan undangan pernikahan.
Panji menoleh kepada Agnes, Agnes pun langsung menakup muka Panji dengan tangan kecilnya, lalu menarik, mendekat kepadanya,
" Cupp.." Agnes mencium bib*r Panji, lalu ke pipi dan kening Panji, membuat Panji langsung menampak kan senyum lebar, dan langsung mengendong Agnes menuju kamar mereka.
"Mas..!!, turunin, malu di liat orang," ucap Agnes, namun tak di hiraukan Panji, Panji bahkan tidak berniat untuk menurun kan Agnes dari gendongan.
__ADS_1
Panji pun memasuki kamar mereka, membaring kan Agnes di ranjang empuk nan luas milik mereka, lalu Panji mengukung tubuh Agnes.
"Sayang.., buat dedek yuk.." ucap Panji manja, dan membuat Agnes tersenyum akan sikap Panji, yang jarang di perlihat kan kepada Agnes.
Tanpa menjawab Apa pun, Agnes langsung mengalungkan tangan keleher Panji, lalu ******* pelan bibir Panji.
Melihat sikap Istrinya, Panji langsung memakan umpan yang di berikan Agnes itu.
Panji langsung menindih tubuh Panji, tangan Panji mulai liar, masuk kedalam Celan* kain Agnes, meraba sesuatu di sana.
Panji mulai melepas celan* kain itu, tapi tidak dengan atasan Agnes, Panji yang mulai di selimuti N*fs* melihat hal itu, mulai membuk* kain bawahnya, dan mulai kembali menenggelamkan Pusaka besar itu ke milik Agnes. membuat mereka sama-sama memjamkan Mata, menikmati penyatuan itu.
Panji mulai liar dengan pinggulnya, dan terus berusaha, Agar bisa memanen hasil dari jeri paya mereka itu.
Cukup lama Panji dan Agnes berusaha, akhirnya tuntas juga, dengan benih yang di tabur Panji, Seperti biasa, Agnes selalu lemas dengan usaha penaburan benih itu, karena Panji yang begitu gagah, membuat Agnes kewalahan.
Agnes mulai memejamkan matanya, untuk istrhat, memulihkan tenaga yang cukup terkuras, karena ulah Panji, Tapi Agnes sangat bahagia dengan semua itu, Panji selalu memeluk dan mencium kening Agnes, selesai dengan penaburan benih.
"Mas sangat bahagia sayang," ucap Panji memeluk dan menyelimuti Agnes dengan sangat sayang, yang mungkin tidak di dengar Agnes, karena sudah lelap dengar tidurnya, akibat dari ulah Panji.
Sambil menatap Agnes, Panji berpikir tentang Aditya, yang datang ke rumah untuk mengantar undangan pernikahan kepada mereka.
" Bukan kah, Aditya selama ini tidak punya pasangan" Panji membatin, karena undangan pernikahan itu, cukup mengejukan Bagi Panji, karena undangan aditya datang, tidak jauh bedah dengan pernikahan mereka, beda beberapa hari saja.
Panji turun dari ranjang, untuk membersikan diri, lalu memakai Cel*n*nya kembali, sambil mengambil telpon untuk menelpon bawahannya.
"Selidiki tentang pernikahan Aditya, aku ingin tau berita itu secepatnya" ucap Panji, lalu menutup telpon itu, selesai dengan telpon itu, Panji menyusul kembali istrinya dan ikut berbaring, untuk beristrahat sejenak sambil menenami sang istri cantiknya
__ADS_1
Anak buah yang di utus Panji pun sudah menemukan titik terang, tentang pernikahan Aditya, yang sedikit mencurigai menurut bos mereka, dari hasil penyelidikan selama beberapa jam, ternyata Pernikahan Aditya, nyata adanya, dan pasangan Aditya, bukan kekasih yang di pacari Aditya, tapi wanita yang di jodohkan Ayah Aditya, dan Aditya menerima perjodohan itu, tanpa ada kata-kata penolakan, baik dari ucapan maupun tindakan Aditya.