MY BODYGUARD PANJI

MY BODYGUARD PANJI
BERPIKIR UNTUK MEMAAFKAN


__ADS_3


Agnes melihat Panji sedang berbaring di ranjang, lalu masuk kekamar Panji dengan kotak obat di tangan nya.


"Panji..!, Apa kamu tidur..???!, Tanya Agnes sambil mendekat ke ranjang Panji.


Mendengar suara Agnes membuat Panji,membuka mata kembali,


"Agnes.?," ucap Panji, sambil membuka selimut dan duduk.


"Aku kesini untuk memastikan luka mu, yang berdarah tadi,"


"Apa kamu ingin membantu ku menggantikan perban nya,.??" ucap Panji,dengan sedikit senyum jahil, namun tak di ketahui Agnes,karena Pandangan matanya, mengarah ke luka Panji,dan tidak menatap muka Panji.


"Iya, aku membantu mu mengantikan perban luka mu." jawab Agnes dengan muka serius nya.


Panji tanpa permisi,sengaja membuka,baju di depan Agnes, dan itu, spontan membuat Agnes sedikit melotot dan kaget,


"Kenapa kamu membuka baju mu Panji" ucap Agnes dengan perasaan was-was.


"Kan tangan mu yang terluka" jawab Agnes sedikit memalingkan wajahnya.


"Yang terlihat di perban hanya tangan ku, Tapi luka tembak ku, juga terdapat di beberapa bagian tubuh ku" jawab Panji,sambil melihat bahu nya yang juga tertembak, dan menyingsingkan celana Panjang,untuk di perlihatkan kepada Agnes,bagian mana saja yang tertembak.


Agnes pun melihat luka tembak Panji, yang cukup parah, kenapa sebanyak ini," ucap Agnes menyentuh kaki Panji yang terluka.


"Apa kamu yakin ingin mengantikan semua perbannya,!??" tanya Panji, guna memastikan Agnes,untuk mengantikan perban, luka tembak itu.


Agnes sedikit berkaca-kaca, karena melihat tubuh Panji, banyak terdapat luka tembak, dan itu juga demi kenyamana dirinya.


"Iya, aku yakin," jawab Agnes duduk di ranjang Panji, dan mulai membuka pelan perban-perban itu.Dan mulai membersikan,luka yang nampak sedikit menganga itu.

__ADS_1


"sisssstttt" ucap Panji pelan, karena merasakan sakit, sa'at Agnes memberikan obat pada luka panji yang belum sepenuhnya mengering itu.


"Ma'af..ma'af..!!!" ucap Agnes kawatir, Karena melihat Panji sedikit mengerutkan dahi dan mengigit bibir bawah,menahan sakit itu.


"Iya tidak apa-apa Agnes" jawab Panji, tidak ingin Agnes merasa bersalah,walau luka itu cukup sakit, sampai membuat Panji,sedikit berkeringat,menahan sakit.


Lalu Agnes mulai membalut luka Panji pelan, dengan Perban-perban itu.


"Selesai" ucap Agnes dengan sedikit mengangkat tangan,seperti meminta.


"Makasih Agnes!!!" Agnes turun dari ranjang,dan membereskan perban-perban bekas, dan memasukan obat-obat itu kembali ke kotaknya.


"Ya sudah, Aku keluar dulu, dan Agnes mukai beranjak dari kamar Panj, sa'at Agnes memegang gagang Pintu, Panji berkata.


"Agnes, musuh ku sudah m*ti, Aku menunggu hukuman dari mu.!!" ucap Panji, membuat Agnes mengurungkan niat, untuk membuka Pintu, lalu menoleh ke arah Panji.


"Sembuhkan dulu luka mu, baru kita pikirkan apa hukuman yang Pantas untuk mu," jawab Agnes dengan muka sendu.


"Ma'af Agnes, aku memang tidak pantas dekat dengan mu, kamu terlalu baik menjadi seorang gadis di dunia yang kejam ini," ucap Panji masih dengan menatap Agnes, Agnes hanya sedikit terpaku, lalu keluar dari kamar Panji, dan menutup pintu itu.


"ma, pa, Apa salah, kalau seandainya,Agnes mema'af kan Panji, aku tau dia melakukan kesalahan teramat besar dan tidak terma'af kan oleh keluarga kita, Tapi, apa dendam akan menyelesaikan semua itu." ucap Agnes masih dengan mengelus foto itu.


"Ma, Pa, Agnes juga berniat memberikan Panji hukuman seberat mungkin, tapi hati Agnes tidak bisa, Panji sudah berubah, dia juga tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, sama seperti Agnes,. Ma'af ma..!!! ma'af pa..!!! mungkin Agnes salah, dengan mudah mema'af kan Panji, tapi mungkin ini pilihan yang tepat,yang harus Agnes ambil." ucap Agnes, karena hatinya sudah tegu dan yakin mema'af kan Panji, Agnes pun berbaring dan tertidur, masih dengan memegang foto orang tuanya.


Hari sudah mulai siang, Panji berusaha keluar dari kamar, karena merasa perutnya mulai lapar, dari tadi di menunggu Agnes, namun tak kunjung datang, sambil berjalan ke arah meja makan, panji menatap pintu kamar agnes, yang masih tertutup.


"Apa Agnes marah pada ku," batin Panji.


" Bik..?"


"Ya tuan,.??" jawab pelayan itu, dengan sedikit berlari menuju Panji.

__ADS_1


" Apa Agnes sudah makan,..??" tanya Panji.


"Sepertinya belum tuan, dan bibik juga tidak melihat non Agnes keluar dari kamarnya, hanya terlihat pagi tadi saja.


"Baiklah, siapkan makan siangnya, saya akan membangunkan Agnes dulu."


"Baik tuan" jawab pelayan itu.dan Panji pun bejalan menuju kamar Agnes.


Panji mengetok Pintu kamar Agnes beberapa kali,namun belum ada tanda-tandi pintu itu akan di bukak, Panji mencoba membuka pinyu, dan pintu itu, tidak di kunci oleh Agnes.


"Gadis ceroboh" gumam Panji, sambil membuka Pintu itu, lalu melihat keadaan Agnes,yang tertidur tanpa selimut, di tangan Agnes masih terdapat Foto orang tua nya.


Panji mendekat ke ranjang Agnes,lalu memcoba membangunkannya.


"Agnes..??" ucap Panji pelan,sambil mengoyangkan bahu Agnes pelan, bebrapa kali Panji memanggil, barulah Agnes membuka matanya, yang terlihat sedikit bengkak,karena tadi menangis dan itu tidak luput dari pengamatan Panji.


"Bangun dulu Agnes, kita makan, kata bibik dari pagi kamu belum keluar dari kamar,kecuali dari kamar ku." ucap Panji, membuat Agnes mendudukkan badannya, lalu mengucek-ngucek mata bengkaknya.


Agnes hanya menjawab dengan anggukan,sambil turun dari ranjang menuju kamar mandi,untuk membasu muka.


Panji pun keluar dari kamar Agnes,sambil berkata.


"Aku tunggu di meja makan Agnes," Panji keluar dengan menutup kembali pintu kamar Agnes, lalu kembali ke meja makan untuk menunggu Agnes keluar dari kamar.


Beberapa menit, Agnes pun keluar dengan muka segar dan menguncir sedikit tinggi rambutnya, membuat Panji yang melihat leher Agnes yang terekspor, itu terlihat ****, walau pun selama ini Agnes sering melakukan itu, tapi mungkin karena Panji yang cuek, membuat dia tidak memperhatikan semua itu, dan baru menyadari sekarang.


Dan itu membuat Panji sedikit batuk, untuk mengilangkan rasa gugup yang tiba-tiba datang, hanya karena melihat leher Agnes yang **** di matanya.


Seakan Panji baru sadar, kalau Agnes sangatlah cantik dan ****, mungkin banyak di luar sana yang menginginkan Agnes menjadi pasangan mereka.


Melihat Agnes yang tidak memakai make-up saja, sudah sangat cantik, dengan tubuh tinggi, langsung, beserta kulit putih bersih, dan terdapat beberapa bagian tubuh Agnes yang berisi, yang membuat kaum Adam menelan saliva mereka, mungkin saja sebagian kaum adam menjadikan Agnes sebagai objek pantasi l**r mereka.

__ADS_1


Agnes pun duduk tanpa melihat kearah Panji, yang menatapnya lekat dari tadi, mungkin Panji juga sa'at ini tidak sadar dengan sikap sedikit lancangnya itu.


Beberapa detik, barulah Agnes menoleh kepada Panji, dan sedikit " Hemmm..!!" Ucap Agnes membuyarkan Panji, dan itu membuat Panji salah tingka, hingga sendok di piring Panji terjatuh


__ADS_2