MY BODYGUARD PANJI

MY BODYGUARD PANJI
KELAHIRAN SANG BABY TAMPAN


__ADS_3

RAFAEL PUTRA LESMANA



kini waktu yang Panji tunggu-tunggu telah tiba, yaitu hari yang di prediksi dokter, hari yang pas untuk kelahiran sang baby.


Namun Agnes belum merasakan sakit, seperti yang di katakan dokter, Agnes hari ini masih sibuk dengar kegiatan-kegiatannya, Panji pun tidak ke kantor, ingin menjaga istri dan menemaninya menyaksikan kelahiran baby pertama mereka.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit sekarang, kan kata dokter jadwalnya hari ini" ucap Panji, melihat sang istri tidak ada persiapan apa-apa untuk ke rumah sakit.


Suami ku, istri mu ini belum merasakan kontraksi apa-apa, sakit pun belum," jawab Agnes.kepada sang suaminya lebih was-was dari pada Agnes.


"Tapi sayang... ki.." ucap Panji terpotong, melihat Agnes mengerutkan keningnya, dan mulai merasakan sakit pada perutnya.


"Ma..s, ahhhh... perut ku," Panji langsung berlari menuju sang istri dan langsung panik, sambil berteriak memanggil seisi rumah, bik sari yang sudah berpengalaman dalam melahir pun ikut panik.


Panji segera menggendong istrinya yang cukup berat itu, menuju mobil, dan sopir pun sudah bersiap.


Panji yang panik berusaha menenang kan Agnes yang mulai terlihat sangat kesakitan.


Agnes yang merasakan sakit mulai melampiaskan hal itu dengan menarik rambut Panji.


Panji hanya pasra saja, karena dia sadar, apa yang di rasakan istrinya tidak sebanding dengan sakit sa'at di lakukan Agnes pada Panji saat ini.


"Sayang.. sabar ya, sebentar lagi, sabar baby jangan nakal dulu sama mami mu ya," ucap Panji sambil membantu mengelus-elus perut Agnes, dan menahan sakit di kepalanya karena tarikan Agnes pada rambutnya.

__ADS_1


Panji terus berusaha menenangkan Agnes semampunya, sampai ke rumah sakit. beberapa menit berlalu, kini sampai lah mereka di rumah sakit tersebut, dan parah dokter pun segera membantu Agnes menuju ruang operasi. dan operasi pun di mulai membuat Panji sangat takut dan tegang, sa'at melihat Agnes yang sudah bersusah paya, memperjuang kan melahirkan anak nya, Panji sedikit mengeluar kan air mata, menyaksikan pengorbanan Agnes itu.


beberapa jam berlalu, terlihat lah bayi mungil nan tampan, yang di urus para dokter, dan Panji memeluk dan mencium Agnes dengan sangat sayang, karena perjuangan besar istrinya, Panji di anjurkan para dokter untuk memeluk sang bayi, untuk menyalur kan Panas dari tubuh Panji ke tubuh bayi.


Panji menatap sang bayi dengan rasa haru dan bangga, setelah berapa menit, barulah bayi mulai di bedong oleh dokter, untuk di peluk Agnes dan Panji kembali.


"Gampan sekali sayang, kayak kamu," ucap Agnes, menatap sang bayi dan Panji, yang sangat bangga akan baby tampan mereka.


"Makasih sayang, selalu memberiku, kebahagian yang gak terhingga" ucqp Panji, mencium Agnes, lalu mencium sang bayi tampan.


"Kalau tidak ada mas, apa bisa bayi kita sangat tampan" jawab Agnes, dengan senyum indahnya.....


"Mas apa anak kita masih dengan nama yang sudah kita siap kan, atau mau di rubah" tanya Agnes kepada Panji, dengan Panji yang selalu menatap anak mereka, yang tersenyum dari tadi, mungkin Panji belum terlalu yakin, kalu dia memang sudah menjadi seorang ayah.


Panji pun sedikit kaget, lalu menoleh kepada sang istri yang sedikit cemberut.


"Ma'af sayang, mas gak sadar barusan, natap anak kita yang tampan ini, ma'af ya sayang," jawab Panji dengan ma'af berkali-kali. dan mengecup bibir Agnes, lalu menggenggam tangan Agnes, kemudian menciumnya.


Melihat perhatiannya Agnes kembali melele dan bertanya kembali.


" Gimna nama anak kita sayang,??" tanya Agnes lagi, dan di respon cwpat oleh Panji.


"Tetap masih yang lama sayang, RAFAEL PUTRA LESMANA" Jawab Panji menatap istrinya yang sedikit pucat.


Agnes pun tersenyum, lalu izin untuk istrhat kepada Panji, karena suasana Agnes yang cukup lemas, sehabis operasi.

__ADS_1


Panji pun, mulai membantu sang istri untuk memperbaiki tubuh Agnes, agar berbaring lebih nyaman, setelah meletak kan baby rafael di box bayi.


Selesai dengan membantu Agnes Panji pun membaringkan tubuhnya di sofa terdekat, dengan bayi rafael yang sudah tidur duluan dari mereka, Biasa kebiasaan bayi kalau baru lahir, dan sudah di susui, akan tertidur dengan pulas dan nyaman.


Beberapa hari berlalu, kini barulah Agnes siap-siap untuk pulang kerumah dengan penghuni baru, di sambut bahagia dan oleh mereka yang tinggal di rumah Panji, Bik sari pun datang untuk menyambut dan mengendong sang bayi, atas izin Agnes, lalu mereka bertiga pun, langsung kekamar rafael yang sudah cukup lama di siap kan oleh Panji dan Agnes.


Sekarang bik sari di tunjuk oleh Agnes dan Panji, menjadi pengasuh RAFAEL PUTRA LESMANA, karena bik sari sudah sangat di percaya oleh Panji, dan lebih sangat di percaya oleh Agnes, karena kebaikan bik sari tidak di ragu kan lagi.


Bik sari orang yang paling tulus dan peduli terhadap dirinya, di saat Agnes dalam keadaan tidak punya apa-apa lagi.


Bik sari Sampai menetes kan air matanya, karena sangat di percayai oleh majikan, untuk mengasuh baby tampan yang sangat berharga oleh mereka semua.


Bik sari seperti mendapatkan hadia besar, menerima tugas itu.


"Trimakasih non, den Panji, sudah mempercayai bibik untuk mengasuh baby yang sangat tampan ini" ucap bik sari, sesikit gementar, menahan haru, karena bik sari juga menangis sa'at ini.


Agnes pun memeluk Bibik dan mengelus punggung bibik.


" bibik sudah Agnes anggap kluarga sendiri, karena bibik terbukti sangat tulus, karena itu Agnes sangat percaya akan bibik" jawab Agnes dengan mata tulus menatap bik sari.


Bik sari yang tak sanggup menjawab pertanyaan itu pun, hanya mengagguk-angguk saja, bertanda dia begitu sangat bangga, akan nonnya, yang juga begitu sangat baik terhadap bik sari. sehingga keluarga bik sari pun di beri tempat tinggal, hingga pekerjaan yang baik untuk anak-anaknya.


Bik sari meletak kan baby RAFAEL di box bayi, karena bayi tampan itu masih tidur, lalu bik sari turun untuk menyuruh parah pelayan menyiap kan makanan untuk tuannya, Dan menyiap kan makanan untuk Agnes yang belum bisa sembarangan, memakan makanan yang terlalu ada rasanya.


Beberapa bulan berlalu, Pernikahan Aditya dan istri yang di jodohkan sang ayah, masih dalam suasana yang cukup baik, walau Aditya, bisa di bilang, belum mau menyentuh sang istri, karena hatinya masih belum mencintai sang istri, dia menerima perjodohan, karena sang ayah, dan Aditya pun tau bahwa istrinya dari keluarga yang baik, istrinya pun di kabarkan, belum pernah dekat atau pacaran dengan laki-laki manapun.

__ADS_1


__ADS_2