
Bulan pun mulai berganti, pertumbuhan bayi tampan Agnes dan Panji pun mulai terlihat kepandaian nya, hal itu membuat Panji, sangat sering tidak berada di kantor, Panji sering memantau pekerjaan kantor dari rumah saja.
Karena Panji tidak ingin melewati pertumbuhan si tampan,rafael kecil tersebut, sering Agnes menasehati Panji, dan membujuk agar bekerja di kantor saja, walaupun Panji bekerja di kantor, di selalu video call kepada Istri untuk melihat dan mengecek anak semata wayangnya itu.
Panji selalu kangen, kepada anaknya, bik sari yang di tunjuk sebagai pengasuh pun, sering tidak mengasuh bayi itu, karena Panji lebih sering bersama rafael.
Agnes sebagai ibunya saja, kadang susah untuk mendapat giliran mengasuh rafael, karena Panji selalu saja merebut, Rafael dari pelukan Agnes, kadang Agnes juga kesal, ketika sang putra ingin menyusui,Panji sudah sibuk untuk ingin mengendong dan mengajak sang anak, yang mulai pandai itu.
"Sayang, apa sebaiknya kamu mulai masuk kantor saja besok,kan kasian asistent, kalau harus tiap hari mengantar berkas penting, untuk menandatangani itu" ucap Agnes menasehati sang suami.
Tapi sayang, nanti mas, gak bisa lihat Rafael bobok, merangkak, dan mulai belajar berbicara" Jawab Panji kepada istrinya.
" Kalau tidak mas bawa rafael ke kantor aja mulai besok, setip hari, biar mas bisa konsent kerjanya," timpal Panji lagi, dengan hal yang membuat Agnes menggeleng-geleng kan kepala melihat tingkat kecintaan Panji terhadap anak mereka.
"Mas, rafael masih kecil, kan bisa video call kalau kangen, anak kita masih dalam masa aktif, kalau dia di kantor, kita tidak tau kebersihanya sayang, nanti di malah sakit," Jawab Agnes meyakin kan sang suami, yang sangat ingin tiap hari bersama anak mereka.
"Sayang..!" ucap Panji manja dan merengek seperti anak kecil, karena kemauannya tidak di truti.
" Mas, apa kamu gak kasian lihat anak kita naik mobil, seharusnya dia di rumah dengan tenang, malah tiap pagi haris di gendong bolak balik Kantor, belum lagi susunya, kalau di bawa dari rumah, kan susu udah lama mas, dia masih butuh aku susuin," jawab Agnes membalas rengekan Panji yang mulai cemberut.
Agnes kadang merasa seperti mengasuh bayi besar, sejak Mereka punya baby, karena Panji yang sering merengek, karena tidak di turutin, dan harus di kasih pengertian yang jelas, agar dia mengerti tentang kondisi anak mereka.
__ADS_1
Panji pun mencoba memikirkan pendapat istrinya, tentang kondisi anak mereka yang belum sepenuhnya bisa terkena polusi dan di ajak kemana-mana, pekerjaan kantor memang tidak terbangkalai, tapi benar kata istrinya, kasian asistent harus mondar-mandir minta tanda tangan, karena Panji yang sering tidak maauk kantor.
Panji berpikir, mungkin asistentnya pun mau beraktifitas lain pulang kerja, tapi karena urusan kantor, dia harus menunda hal itu.
Panji membenarkan ucapan sang istri yang lebih mengerti keadaan orang lain, dari pada dia yang lebih berumur dari istrinya, Panji benar-benar beruntung, punya istri yang cantik, pintar, penyabar, pema'af, dan sangat mengerti keadaan sekitar, membuat Panji semakin, tidak akan bisa mencari sosok istri dengan rasa yang komplit itu seperti istrinya ini.
Mungkin sedikit saja lengah, istrinya bisa di embat orang, karena kesempurnaan itu, membuat rasa cinta dan cemburu Panji semakin membesar saja terhadap Agnes.
"Sayang, Besok mas mulai masuk kantor ya," ucap Panji kepada Agnes, sa'at di dalam kamar mereka malam ini, hal itu membuat Agnes tersenyum, karena sedikit memahami kondisi yang sebenarnya, walau pun mereka punya segalanya, bukan berarti, mereka bisa melakukan hal dengan seenak nya.
"Iya sayang itu lebih baik, agar kita mengerti kondisi orang lain juga, siapa tau sekretaris mas, ounya urusan pribadi juga, kan kita tidak tau," jawab Agnes membuat Panji memeluk lalu mencium sang istri.
"Sayang...! ucap Panji yang mulai menarik sang istri ke pangkuan, membuat Agnes mengerti apa yang di ingin kan suaminya, namun Agnes pura-pura tidak mengerti itu.
"Mas kayaknya aku ngantuk deh" jawab Agnes yang mulai turun dari pangkuan Panji, namun Tangan Panji menahan pinggang Agnes, tak berniat untuk melepas kan.
Sayang... jangan pura-pura tidak mengerti" jawab suara serak Panji, yang mulai menyibak rambut Agnes yang menutup leher jenjang dan putih mulus Agnes.
Panji mengigit dan memberi tanda pada leher Agnes, lalu memasukkan tangan kedalam pakian tidur Agnes, mencari pengait bra Agnes, Agar lebih leluasa meremas benda kenyal milik Agnes.
Panji tersenyum mes*m, Saat berhasil melepas pelindung buah Agnes, yang sangat di sukai Panji itu, Panji mulai meremas buah itu, lalu membuka dan membauang asal baju Agnes dan melahap dengan rakus buah itu.
Membuat Agnes mendongakkan kepalanya, karena menikmati kegiatan yang di lakukan Panji terhadap tubuh Atasnya, Panji mulai membaringkan tubuh indah Agnes, Agar lebih leluasa menjelajahi tempat-tempat vaforit Panji.
__ADS_1
Tangan itu mulai Tambah nakal, dan turun ke arah yang seharusnya tempat pelabuhan terakhir mereka nanti, Agnes semakin gelisa karena Panji bermain di sana cukup lama, tanpa ingin memasuki benda pusaka panjang dan Besar kepemilikan Panji.
Agnes semakin mend*s*h menikmati, cara Panji memajakan tubuh Agnes.
"Mas..!!!!, rengek agnes dengan serak, membuat Panji tersenyum lalu mendekat kepada Agnes.
"Kenapa sayang..??" ucap Panji, dengan suara serak sambil melahap bibir Agnes rakus.
"Masukin, nanti baby bangun," ucap Agnes dengan beralasan. Panji yang juga sudah di ambang, membuka cel*n*nya dan cel*n* Agnes, lalu memasuki Agnes perlahan, mereka pun mendesah bersama dalam penyatuan itu, Panji mulai memaju kan Pinggul Agar merasa lebih dalam dan Ni****.
Panji berpikir sedikit tentang penyatuan mereka pertama kali di gubuk itu, kalau saja hal itu tidak seni**** ini, mungkin tidak akan terjadi hal yang akan menghacurkan masa depan Agnes saat itu.
Tapi karena rasa yang pertama kali, Panji rasakan, membuat Panji ketagihan untuk menyentuh Agnes, dan tidak mengingin kan
wanita selain Agnes lagi, rasa suka Panji sudah tumbuh, namun kesalapahaman, membuat dia menutup rasa itu, namun tetap mau menyentuh dan melakukan itu lebih sering.
Panji sering melakukan hal itu sendiri, dengan membayang kan Tubuh Agnes, di dalam kamar mandi, andai saja Panji seorang yang hanya memikir kan kepuasan, mungkin sudah banyak wanita yang mau di tiduri oleh Panji, namun Panji bukan seorang yang mau memasuki Sembarang Wanita.
Apa yang di ingin kan seorang wanita semua ada pada diri Panji.
Kini tubuh Panji menikmati tubuh istri yang sangat dia cintai, dengan segenap ketulusan.
Cukup lama dengan penyatuan itu, akhirnya Panji meledakkan benih itu di rahim istrinya, dengan di akhiri, desahan kepuasan dari pasangan itu di dalam kamar luas dan kedap suara milik pasangan yang sudah memiliki seorang putra tampan, hasil dari penyatuan mereka.
__ADS_1