
Aditya dan Kania
Dua tahun berlalu, rumah tangga Agnes dan Panji, yang berjalan bahagia, keromantisan Agnes dan Panji tidak luntur di makan waktu, karena Panji yang selalu mengerti keadaan istri, dan begitu juga Agnes yang paham, yang selalu paham kondisi apa saja yang harus di lakukan terhadap sang suami.
Anak mereka, Rafael pun sudah beranjak besar, kebahagian yang membuat pasangan ini semakin lengkap dsn sempurna, kehidupan bak dongeng ini, benar-benar ada di keluarga Panji, punya kekayaan yang tidak akan habis, punya kecamtikan yang sempurna, kepribadian yang baik, dan kesetian dari pasangan Agnes dan Panji yang gidak di ragukan lagi.
Mereka saling mengerti kondisi, itu yang membuat keromantisan mereka tidak berkurang, Apabila bosan mereka bisa jalan-jalan keluar negri atau pun dalam negri, sepuasnya, bersama orang-orang yang selalu ada di rumah mereka.
Mereka yang royal kepada orang lain, membuat Agnes dan Panji di hormati, di kalangan Atas, menengah, sampai kurang mampu sekalian. bukan di takuti karena tingginya derajat dalam harta, tapi mereka di segani, karena kebaikan hati, dan uluran tangan tanpa pamri.
Membuat keluarga Panji, dengan sangat mudah mendapat bantuan di luar, karena banyaknya orang yang mereka tolong.
"Sayang, apa tidak sebaiknya kita mengunjungi kebun teh besok, mama sudah sangat ingin jalan-jalan kesana lebih sering" Ucap Agnes, yang sibuk memeluk sang putra untuk bermain dengannya, di ranjang luas kamar mereka.
"Boleh juga ma, kan sudah cukup lama kita tidak kesana, sejak rafael lahir kita belum pernah mengajaknya kesana bukan" ucap Panji menanggapi ucapan sang istri dan menyetujui itu.
"Ya sudah besok kita kesana ya, nginap beberapa hari di vila, hari ini biar papa telpon dulu, penjaga di sana, agar mereka tau kita akan datang."
Oke..!!!" ucap Agnes bahagia dan memeluk suami dan anaknya, Rafael yang merasa risih di peluk Agnes yang cukup erat itu, mendorong muka Agnes, membuat Panji tertawa bahagia, Melihat tawa mengejek Panji, Agnes merasa gondok, lalu mencubit Paha Panji cukup leras, lalu mengigit sedikit lengan Panji.
"Awww..!, sakit ma, kalau mau minta jata jangan di sini dong, pake acara gigit-gigit manja segala," ucap Panji, membuat Agnes tambah kesal dan memanggil bik sari, untuk mengambil rafael, agar Agnes bisa membalas kekesalannya itu. Bik sari pun mengambil rafael dari gendongan Panji,Tanpa sang tuan berani protes, karena itu, perintah nyonya besar.
Bik sari pun membawa rafael untuk bermain keluar dari kamar itu, membuat Agnes mulai melancar kan balas dendam itu.
Hal sepele seperti itu, memang sering di lakukan Agnes dan Panji, sejak mereka belum menjadi pasangan pun, sampai sekarang masih berlanjut tingka mereka yang sedikit kekanak-kanakan untuk menghilang kan rasa bosan mereka.
Agnes pun mulai mendekat, lalu duduk di pangkuan Panji untuk memukul dan mencubit Panji sebanyak mungkin.
Karena cukup kewalahan dengan cubitan Agnes yang bertubi tubi, hal itu juga membuat Panji merinding, membuat tongkat pusaka Panji Berdiri.
Panji langsung merebahkan dan menindih Agnes, lalu melepas Paksa kain berkaret di pinggang Agnes, lalu menurun kan cel*n* miliknya, Agnes yang mengetahui maksud dari suaminya itu, sedikit membrontak, sampai Agnes bisa lepas dari tindihan tubuh Panji.
Dia sedikit berlari ke arah Pintu, saat Agnes ingin membuka Pintu, Agnes baru sadar, bagian bawah yang sudah tidak tertutup lagi.
__ADS_1
namun sudah terlambat untuk mengambil kembali dan musthil juga untuk keluar kamar dengan keadaan seperti itu.
Melihat Agnes tidak beranjak dari Pintu, Panji menyeringai mesum, lalu mendekat ke arah istrinya itu.
Membuat Agnes menoleh, menatap seringai mesum suaminya, yang seperti Agnes, tidak lagi menggunakan penutup bagian bawah.
Agnes menelan saliva, saat menatap pusaka Panji yang sudah hidup sempurna, sudah siap dengan pertempuran itu.
"Sayang, apa kamu mengiginkan ini," ucap Panji sambil membawa cel*n* Agnes.
Lalu membuang cel*n* itu asal. Panji semakin mendekat, dan membuat Agnes berlari mengelilingi ruangan kamar luas mereka.
Panji menuju pintu, mengunci pintu tersebut, lalu mengejar Agnes, yang berlari menjauh dari Panji.
Panji pun dengan gesit menangkap tubuh mungil istrinya, lalu mengendong Agnes di bahu untuk membawa keranjang mereka.
Panji suka dengan sikap jual mahal Agnes sa'at ini, membuat Panji semakin ingin memasuki Agnes.
Agnes semakin berontak, memukul punggung Panji, namun itu tidak berarti apa-apa untuk tubuh Panji yang gaga itu.
Panji membaringkan gubuh Agnes, memegang kedua tangan Agnes, lalu meletakkan di atas kepala Agnes. Agnes yang tidak bisa melawan lagi dengan tangan, dia berusaha menedang Panji, namun Panji sudah berada di antara kedua Paha Agnes yang sudah tidak memakai penutup lagi.
Merasakan itu, membuat Agnes langsung di tidak berdaya melawan Panji, dan mulai membuka bibir sexinya, lalu menutup mata, menikmati Pusaka Panji yang sudah masuk dengan sempurna.
Begitu juga dengan Panji, matanya menatap Agnes dengan sayu, karena sudah menyatukan miliknya ke dalam istri cantik Panji.
Membuat Panji memompa cukup cepat, d*****n mereka memenuhi kamar luan dan kedap suara itu, mereka melakukan dengan berbagai gaya, sampai Panji mengeluar kan benih itu ke rahim Agnes.
Panji membisik kan sesuatu ke telinga Agnes.
"Sayang, kalau sampai mama mencubit papa lagi, hukuman ini yang akan mama nikmati setiap hari, tapi papa sangat suka, papa akan buat mama kesal lebih sering, ucap Panji, dengan sangat mesum.
"mama juga menikmati hukuman itu sayang" jawab Agnes, lalu menutup tubuh dengan selimut, mengindari ronde kedua dari Panji, namun siapa yang bisa mencegah Oanji untuk melakukan itu kepada istrinya berkali-kali.
"Sayang, kita buat dedek untuk rafaelnya, Panji langsung ikut masuk ke swlimut tebal milik mereka, dan melanjutkan ronde yang di ingin kan Panji itu.
__ADS_1
Keesokan hari, Keluarga Panji, beserta yang lain, ikut bersama mereka, ke kampung buk sari, tapi tidak ke rumah bik sari lagi, melainkan mereka ke Villa mewah milik Panji dulu, namun sekarang sudah milik Panji bersama Agnes.
Sampainya di kebun teh, Agnes langsung berniat untuk mengelilingi Kebun teh dengan mobi mewah mereka, dari kejauhan, Agnes melihat sosok laki-laki yang dia kenal.
"Pa, bukannya itu Aditya dan istrinya ya,??" ucap Agnes, membuat Panji menoleh, ke arah yang Agnes tunjuk, lalu berniat untuk menghampir mereka, mngkin Aditya dan Istrinya, juga jalan-jalan di area kebun teh itu.
"Kita samperin yuk ma," ucap Panji, membuat sedikit seyum pada wajah canti Agnes, mereka pun menghampiri Aditya beserta istrinya.
"Hai..!!?" ucap Panji, menyapa Aditya dan istri, Aditya cukup kaget, melihat keberadaan Panji dan Agnes yang juga di sana.
"Panji, Agnes," jawab Aditya mengajak istrinya untuk bersalaman kepada Panji, dan Agnes.
Panji melihat, Aditya cukup berubah, tidak lagi menatap sang istrinya, namun memeluk istri Aditya dengan senang, dan juga terlihat Perut sang Istri yang sedikit membuncit.
"Sudah berapa bulan,??" tanya Agnes langsung ke istri Aditya.
"Lima bulan mbak, jawab lembut Istri Aditya, Aditya tersenyum bahagia, melihat istrinya menjawab pertanyaan Agnes itu.
Yang ternyata Aditya lulu juga dengan pernikahan dengan perjodohan itu.
"Kapan kalian sampai di kampung??" tanya Aditya kepada Panji.
"Baru saja, karena pas sampai, Agnes langsung ingin ke sini, dan kami langsung kesini bertiga" jawab Panji.
Aditya tersenyum melihat anak tampan Panji dan Agnes yang mengemaskan itu.
"Siapa namanya," tanya aditya, sambil menoel-noet pipi cubbi anak Panji, yang di gendong oleh Panji sendiri.
Putra Panji pun tersenyum, mungkin sedikit geli, karena pipi cubbinya di toel-toel Manja oleh Aditya.
Kini hubungan Aditya dan Panji, sudah membaik, tidak ada lagi kilatan permusuhan atau pun saingan di antara mereka berdua, dan persahabatan di antara Panji dan aditya cukup membaik, karena terlihat, Aditya yang sangat menyayangi sang istri, saat bertemu di kebun teh tersebut.
CUKUP SAMPAI SINI CERITANYA YA, READERS, AUTHOR AKAN MELANJUTKAN NOVEL BARU, SUDAH DI UPDATE MULAI HARI INI.
JUDULNYA:
__ADS_1
*tetangga ku om mafia tampan*
TRIMAKASIH KEPADA SEMUA TEMAN-TEMAN YANG SUDAH MENDUKUNG KARYA KU, MEMBERI SUPORT DAN KRITIK MEMBANGUN UNTUK AUTHOR. TANPA TEMAN-TEMAN NOVEL KU BUKAN LAH APA-APA. TRIMAKSIH WASSALAM. AUTHOR DARI BENGKULU.