
erbangun tepat pukulmalam. ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya. sesekali ia meringis karena tubuhnya menggigil dan kepalanya masih Pusing. ia merasa sangat lemPikirannya kembali ke kejadian tadi Pagi, saat seorang anak laki-laki seumurnya datang dengan senyum hangat ke Kafenya Pangeran sempat tertegun dan terkejut ketika anak laki-laki itu meminta maaf padanya, karena itu agak mustahil bagi Pangeran ia kira kebencian seseorang tidak akan hilaangeran merasa kecewa ketika tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Zea di kamarnya. Tas sekolahnya sudah tidak ada dan Pintu kamarnya di tutup. ia menghela nafaebenarnya Zea Sayang Padanya atau tidangeran munafik iya, ia sangat mengharapkan kehadiran Zea di sisinya saat sedang sakit seperti ini. ia ingin Zea merawatnya. Manja memanesungguhnya tadi sore ia merasa tidak enak ketika Zea terus-menerus meminta maaf. ia ingin sekali memeluk gadis itu dan mengatakan bahwa ia Memanfaatkanya, tetapi egonya masih terlalu tinggngeran merasa kepalanya Pusing lagi ,"Sialan " gumamnya kesalntu kamarnya tiba-tiba terbuka. Pangeran melirik sosok yang sedang melangkah masuk ke kamarnya itu. Zea masuk membawa semangkuk air hangat dan lap kecil. jadi Cewek itu tidak pergi dan tetap merawatnya sampai selarut ini Mau tidak mau Pangeran masih terhareksipun reaksinya lambat, ia pura-pura tidur. ia memejamkan matanya dan menunggsa hangat menjalar di dahinya. Kompres hangat yang diletakkan oleh Zea membuatnya tenang. Tanpa ia sadar ia mengembuskan napasnya lega yang tidak menyadari keadaan menguap lebar. ia sebenarnya mengantuk, tetapi Pangeran masih demam. ia sangat ingat Pangeran sembuh dengan cepangan asal-asalan ia mengikat rambut panjangnya, lalu kembali Fokus mengompres dahi Pangera sangat tidak tega. ingin rasanya ia membuka matanya dan menyuruh Zea untuk segera tidur. Tetapi tubuhnya terlalu lemah bahkan untuk membuka matanya saja
" Zeatah mengapa dua kata itu keluar dari bibir Pangeran Zea yang mengantuk refleks membuka matanya dan segera mengambil air. Tetapi dengan bodohnya ia malah mengambil mangkuk air kompresan, bukan air minum
Menyadari kebodohannya ia hendak menarik mangkuk itu dari hadapan Pangeran, namun airnya sedikit tumpah, mengenai wajah Pangeran dan membuatnya terbangun
" Aduh Maaf Pangeran enggak sengaja,"
Zea menggigit bibir bawahnya khawatir, tangannya sibuk mengelap wajah Pangeran yang basah dengan tisu. Pangeran terbatuk
" kamu ngapain jam segini masih ada di rumah ku ?" tanya Pangeran pura-pura tidak mengerti
Zea menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Yaa .. ngerawat kamu. lah kamu kan lagi sakit, "
" kamu enggak Pulang ? keluarga kamu enggak nanyain "
" Mereka lagi pergi keluar kota,"
Pangeran yang kebingungan memperhatikan Zea dengan lebih seksama. Ada yang sedikit aneh dengan Pakaian yang dikenakan Cewek itu.
" kamu ... Pake baju aku , " tanyanya lemas
Zea meringis menahan malu
" Aku enggak sempet pulang, jadinya minjem baju kamu dulu. Gak pa-pa kan,"
Pangeran tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya, mengusap rambut Zea dengan lembut. Gadis itu menatapnya dengan mata berbinar
" kamu maafin aku, Pangeran "
Lama Pangeran menatap Zea, kemudian ia mengganguk
Zea Tersenyum lebar dan mengambil gelas air minum
" kamu tadi haus kan ya ? Maaf tadi salah ambil, " Zea membantu Pangeran untuk minum
Pangeran kembali berbaring, tetapi matanya tak lepas dari wajah cantik Zea , waluapun malam itu ia keliatan kusut
" Maaf kemarin aku Udah ninggalin kamu, Zea Aku Cuma enggak suka kamu nyebut-nyebut nama Cowok lain, "
Zea mengompres dahi Pangeran lagi
" kenapa kamu seposesif ini sih, Pangeran ? tanya Zea the Point
Pangeran tersenyum miring
" kamu tau yang sebenarnya, "
Zea menggaguk
" Tapi kalau Ceritanya Panjang nanti aja
setelah kamu sembuh baru cerita,"
" Sekarang aja, biar kamu ngerti, " kata Pangeran sebelum terbatuk-batuk
__ADS_1
" Tuh kan, Pangeran, " kata Zea khawatir
" Enggak , Pokoknya aku mau cerita sekarang," paksa Pangeran dengan suara serak
" Ya udah kalau kamu maksa, " sahut Zea pasrah
" Selain aku sayang banget sama kamu, Zea ada alasan lain yang bikin aku terlalu Posesif sama kamu, "
" Yaitu, "
" ini berhubungan dengan keluarga ku juga, " kata Pangeran, " kamu tahu kan aku punya Kakak yang namanya Alvero,"
Zea mengangguk
" Kakak kamu udah meninggal, Pangeran,"
kini giliran Pangeran menggaguk
" Alvero dan aku cuma beda dua tahun, Tapi sikapnya itu selalu bikin aku kesal. Dia sama sekali enggak bisa lebih
dewasa daripada aku, "
Zea menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tidak mengerti, " maksudnya,"
" Dia selalu berpikir kalau kematian Mama adalah salahku," jelas Pangeran sambil mengusap wajahnya perlahan, " dari kecil dia udah enggak suka padaku. Bahkan dia sering bilang kalo aku enggak pantes hidup,"
Zea meringis prihatin
"Dan enggak tahu kenapa Papa juga bersikap bahwa apa yang selalu di pikirkan dan diucapkan Alvero itu benar. Dia selalu Pilih kasih Apa yang dia mau selalu diturutin. Cuma almarhumah nenek yang dulu nerima aku dengan lapang dada, "
Mata Pangeran mulai terasa Panas, tetapi ia tidak ingin setetes air mata jatuh ke pipinya. itu terlalu lemah untuk ukuran laki-laki menurutnya
" Tapi Alvero enggak pernah berhenti benci sama aku. Zea Apa pun yang aku punya pasti dia rebut, " Pangeran tertawa sumbang, " Apa pun,"
" mulai dari mainan yang aku beli dari uang pemberian Nenek. dia selalu rebut dan bilang anak pembawa sial enggak seharusnya dapet apa pun. "
Zea menggenggam tangan Pangeran yang sedang mengepal karena emosi
" segitu bencinya dia sama kamu,"
" Mungkin, " jawab Pangeran sambil mengerutkan dahinya karena pusing mendera
" Temen-temen aku pun dia hasut buat ngejauhin aku Ya hasilnya gini. Aku jadi terbiasa sendirian,"
Zea mengerjapkan matanya berkali-kali. Matanya terasa panas mendengar cerita Pangeran.
" Aku enggak Punya siapa-siapa selain diri aku sendiri semuanya dia rebut, " ucap Pangeran
" Empat tahun yang lalu Alvero kecelakaan mobil, dia meninggal aku enggak tau aku harus seneng atau sedih hari itu, yang jelas aku cuma diem. Dan milih ngurung diri di kamar, Papa juga enggak peduli, " jelas Pangeran pahit
" Tapi besoknya dia ngomong kalo aku dapet amanat dari dia, kalo aku udah gede aku harus nerusin perusahaan Papa,"
" Bisa di simpulin kan kalo aku cuma prajurit yang dipake jadi penerus perusahaan Dia sama sekali enggak sayang aku, Zea "
" Semenjak itu aku nyadar, kalo apa pun yang aku miliki itu harus aku jaga dengan baik. " simpul Pangeran," jadi Zea jangan heran kalo terlalu protektif atau posesif sama kamu, "
" Aku terlalu sayang kamu dan ... aku enggak ingin kehilangan kamu,"
__ADS_1
Zea mengeratkan genggamannya tangannya
" Maafin aku selama ini, Pangeran. Aku enggak tahu, " ucapanya " aku enggak bakalan ninggalin kamu. Kita udah janji kan "
" Aku sayang kamu, Zea, "
Zea tersenyum walua air mata menetes ke Pipinya
" Aku juga,"
sinar matahari yang menembus ke sela-sela jendela di rumah yang besar itu membuat seorang anak laki-laki yang tadinya tertidur kemudian bangun.ia menggeliat dan merasakan tubuhnya sudah terlalu nyeri lagi meskipun nafasnya masih agak tersendar
Pangeran menoleh dan mencari seseorang yang selalu mengisi hatinya akhir-akhir ini, tetapi anak perempuan itu tidak ada. Mungkin sudah berangkat ke sekolah, mengingat hari ini masih hari Kamis
Tapi dugaannya ternyata salah. Zea masuk dengan semangkuk bubur yang masih hangat ditangannya ia sudah mengenakan seragam di sekolahnya
" kamu belum berangkat, Zea, " tanya Pangeran dengan suara serak
" Belum sekarang kan baru jam enam lebih. lagian rumah kan deket dari sekolah,"
" kamu nanti ke sekolah sama siapa,"
Zea tampak mengerutkan dahinya, " jalan kaki juga nyampe,"
Pangeran seketika melotot, " Enggak boleh, "
Zea menaikkan sebelah alisnya, " Terus,"
" Minta jemput sama teman-teman kamu,"
Zea tersenyum jahil, " siapa Vino," godanya
" jangan sebut nama dia lagi Zea, " tukas Pangeran dingin
Kontan Zea tertawa melihat respons Pangeran
" Aku jalan dulu ya Pangeran Lagian jarak dari rumah kamu ke sekolah satu kilometer aja enggak,." sahut Zea sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut Pangeran
" Enggak ! kamu enggak boleh Capek,"
Zea Terkikih geli
" Iya deh. terserah kamu aja , Pangeran, "
Zea mengambil Ponselnya untuk mengirim Pesan ke Rani
Sekitar lima belas menit. kemudian mangkuk bubur itu sudah kosong. Zea yang merasa tugasnya Pagi itu sudah selesai segera berdiri
" Aku ke sekolah dulu ya, Pangeran get well soon, "
Pangeran mengerucutkan bibirnya, " Enggak di Peluk, nih Atau cium gitu,"
Zea mendengus, tetapi kemudian ia mencium kening Pangeran
" Cepet sembuh ya, Pangeran Nanti Pulang sekolah aku ke sini lagi, " Zea meninggalkan kamar sambil melambaikan tangannya
ketika Pintu sudah di tutup Pangeran tersenyum bahagia ia menutup wajahnya dengan selimut karena merasa bahagia
__ADS_1
" Zea I Can't stop falling in love with you,"