MY BOYFRIEND POSESIF

MY BOYFRIEND POSESIF
EPISODE 32


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Daniel dan Fito segera memanggil Perawat


Melihat Pangeran di dorong masuk ke ruang darurat, air mata Zea menetes lagi. ia takut melihat Pangeran yang belum sadar diri juga


Andai saja ia tidak meninggalkan Pangeran. Andai saja Vino tadi tidak datang. Andai saja ia tidak sibuk terus untuk berdebat hal yang menurutnya tidak penting dengan Vino


ia sangat menyesal, sungguh


Zea mencengkram ujung roknya


" Zea " ia menoleh sahabat-sahabatnya yang berlari menghampiri Tampaknya mereka juga ikut menyusul


" Yang kuat Zea, " Ucap Rani sambil mengusap Punggung Zea


" Pangeran, " bisik Zea dengan suara parau


ia sangat berharap Pangeran akan baik-baik aja


" Aduh Zea, jangan nangis terus dong Elo harus kuat," Ucap Rani sambil mengusap-usap Punggung sahabat di Pelukannya


Tangisan Zea seakan tidak pernah akan berhenti. Bahkan semakin menjadi-jadi setelah beberapa teman yang lain datang ke sana.


Mereka sekarang sedang berada di Selasar intalasi gawat darurat, menunggu dokter selesai memeriksa Pangeran. sudah lebih dari satu jam tetapi belum selesai juga


" ini salah gue ... , " gumam Zea sedih


Rani berdecak, " ini bukan salah Lo, Zea ini semua salah Adit dan teman-temannya yang berengsek itu sama Vino juga "


" Tapi kan Penyebabnya tetep gue,." isaknya Pelan


" kejadian ini Pasti udah diatur sama Tuhan,Zea jangan nangis kayak gitu," Sheila mengucapkan kalimat itu sambil sesekali menatap pintu yang tidak kunjung terbuka. ia jadi ikut cemas siapa sih yang tidak khawatir Ketika seseorang yang kita sayang masuk rumah sakit dalam keadaan luka-luka


" Lo harus kuat Zea Gue yakin Pangeran enggak bakalan suka kalo Lo kayak gini," Ucapan Daniel di sambut anggukan kepala yang lain


" Bener Zea, berhenti nangisnya, ya ? jangan nyiksa diri sendiri. Pangeran Pasti baik-baik aja, " Rani mengusap air mata yang masih menetes di wajah cantik Zea


" iya makasih ya semuanya udah bantuin gue, sama Pangeran, " ucap Zea berusaha untuk tetap tersenyum


Sheila berdecak, " Iya Zea Kita kan sahabat, "


" Kalian teman-temannya Pangeran,"


Mereka Semua mendongak dan menatap seorang laki-laki dewasa yang mungkin umumnya hampir setengah baya Penampilannya sangat rapi. Wajahnya sangat tampan walaupun gurat Lelah untuk dan usia yang mulai menua. Mereka mengernyit secara bersamaan. Siapa dia ?


" Saya Papinya Pangeran," Ucapnya ketika melihat tatapan bingung yang dilayangkan para remaja dihadapannya


" iya, kami temennya Pangeran, Om," sahut Daniel yang mengenali Papinya Pangeran


" Sekarang Pangeran di mana ?"


" Masih diPeriksa, Om, "


Papi Pangeran mengembuskan napasnya kasar, lalu duduk di kursi di dekat mereka


" Kenapa dia selalu berulah ? gumamnya Pelan , Tetapi Zea yang sedang sesentif segera mendengar itu


" Berulah, Om bilang ? Emang Om tahu dari mana kalo Pangeran berulah, Om aja nggak Pernah Peduli sama Pangeran? sungut Zea kesal


Zea memelototi sahabatnya itu,lalu berdesis mengingatkan, " Zea yang sopan sama Calon mertua eh maksudnya orangtua, "


Papi Pangeran menatap Zea dengan Pandangan aneh, " Kamu siapa,"


" Dia Pacarnya Pangeran, Om, " jelas Daniel menengahi. ia takut malah jadi keributan


" Pacarnya ? Saya Papinya Dan Pasti saya lebih tau Pangeran kayak gimana, " ucapanya tajam


" Sekarang saya tanya, Om tau Pangeran masuk rumah sakit kenapa, " balas Zea tak kalah tajam


" Dia tawuran," jawabnnya dengan dahi mengernyit tidak yakin


Zea berdecih, " Itu aja Om enggak tau. Dia Pukulin sama siswa lain di sekolah kalau gitu Om Pasti enggak tau perasaan Pangeran selama ini kayak gimana tentang keluarganya,"


Sebuah sindiran keras menampar ayah Pangeran bertubi-tubi. ia tidak pernah berpikir ke sana. Bukankan anak itu pasti senang jika hidupnya berkecukupan ? Lagi pula ia sama sekali tidak mengekang anaknya. Dan ia yakin anak laki-laki menyukai itu.


" Zea udah jangan kebawa emosi gitu," sela Marissa menasehati


" Mm .. Maaf Pak, Dek Di mohon Untuk jangan ribut. ini rumah sakit bukan tempat karaoke, " Pinta seorang suster dengan wajah tenang


" Udah, jangan Zea, Lo duduk lagi Dan Om tolong tenang juga kalian debat kayak gini enggak bakalan bikin Pangeran seneng,"timpal Daniel dengan wajah yang memohon agar keduanya terdiam


Zea duduk kembali dengan napas memburu. Matanya tak pernah lelah untuk memandang Pintu tempat Pangeran sedang diPeriksa


ia memejamkan matanya. semoga Pangeran baik-baik saja semoga Pangeran bisa tersenyum kembali dan memeluknya dengan Sayang


Tiba-tiba terdengar suara melengking seorang wanita Bu Ani. guru Bimbingan konseling SMA Sangjaya, datang dengan tergopoh-gopoh," Masya Allah Apa Pangeran baik-baik saja, "


Ayah Pangeran menatapnya dengan kesal,"kamu Guru di SMA Sangjaya,"

__ADS_1


Bu Ani terbelalak dan terbelalak, " Iya Pak,"


" Ngapain aja kerja kamu sampe ada Perkelahian kayak gini, " Ujar ayahnya Pangeran


Sheila dan Rani saling berpandangan, lalu mengangguk karena merasa memikirkan hal yang sama. Buah jatuh tak jauh dari Pohonnya


"Ma .. Maaf Pak, Tapi orang yang memukuli Pangeran udah saya hukum," balasnya sambil menunduk takut," Hanya saja anak-anak yang kelas dua belas tidak bisa dikeluarkan karena satu bulan lagi kan UN,"


" Tutupi kejadian ini jangan sampai ada orang yang tau "


Zea kembali tersulut emosinya. Jadi laki-laki dewasa itu lebih mementingkan reputasi sekolah daripada keadaan Pangeran ?


" Jadi Om lebih metingin reputasi sekolah gitu ? bagus banget ya, Om," hardiknya


Ayah Pangeran menoleh dengan wajah yang masih merah padam, " kamu enggak bakalan ngerti, "


" Maaf tapi apa kalian kenal dengan Pasien yang bernama Pangeran, "


mereka seketika menoleh dan menatap seorang dokter yang menghampiri mereka.


" Saya Papinya, " sahut Ayah Pangeran dengan cepat


" saya temannya, " Zea menatap dokter itu dengan penuh harap, " Bagaimana keadaan Pangeran, "


" Mungkin kalian bisa ikut ke dalam, Tapi Cukup dua Orang saja,"


Zea dan Ayah Pangeran masuk ke dalam, tetapi Zea menutup mulutnya. Takut isaknya terdengar, ketika melihat Pangeran yang berbaring di ranjang


Luka lebam memenuhi sebagian besar wajahnya. belum lagi plester Luka yang terlihat menempel di banyak bagian tubuh Pangeran. Cowok itu tampaknya belum sadar juga


Air mata Zea menetes lagi. ini salahnya semua ini salahnya


kalau saja sejak awal ia tidak ragu untuk melawan, mungkin Pangeran tidak akan separah ini


Mata bulatnya lalu melihat tubuh bagian atas Pangeran yang di balut ia menoleh pada si dokter


seolah mengerti si dokter menggaguk," Tulang rusuknya Patah,"


isakan Zea menerobos juga setelah ia berusaha keras untuk menahannya


" Pangeran, "


" Tulang rusuknya Patah, kemungkinan besar karena Pukulan benda tumpul,"


Zea menunduk, dan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat


Dokter itu tega dengan siswa SMA di hadapannya yang sedang menangis terisak


" Apa ia akan segera bangun,"


" kami tidak tahu Pasti, "


Ayah Pangeran sendiri hanya menatap nanar ke arah anaknya yang berbaring Sebodoh itukah ia selama ini ?


Ia Pikir dengan materi yang melimpah dan kebebasan yang ia berikan, Pangeran akan senang dan hidup dengan penuh semangat setiap harinya. ia tahu anaknya seringkali berulah, tapi ia menganggap hal itu wajar. Anak laki-laki memang tidak aneh kalau berbuat nakal saat masa remajanya


Memang benar, dulu ia sempat membenci kehadiran Pangeran. Gara-gara anak itu istrinya wanita yang sangat ia cintai meninggal dan putra sulung yang bernama Alvero kehilangan ibunya ia dulu sempat membeda-bedakan perlakuan yang ia berikan terhadap Alvero dan Pangeran


ia memanjakan Alvero, memberikan segala perhatiannya dan selalu mendukung apa yang dilakukan putra sulungnya itu. Tetapi perlakuannya terhadap Pangeran berbeda ia sering mengacuhkan anak itu dengan egonya yang tinggi beberapa kali ia melihat Pangeran bersedih, tetapi anak itu selalu menyembunyikan rasa sedihnya dengan wajah datar Dan bodohnya ia berlaku seperti tidak mengetahui hal itu.


ia kini sadar Pangeran juga sama menderita dengannya atau Alvero. ia tidak pernah bertemu ibunya barang sedikit pun. Di tambah Perlakuannya yang tidak adil, Pasti membuat anak laki-laki itu mati rasa


ia menyesal, sungguh. Tetapi Penyesalan selalu berada di akhir bukan ?


Ayah Pangeran menoleh, menatap anak Perempuan yang sedang menutup wajahnya dan terisak hebat. Apakah benar yang dikatakan teman Pangeran bahwa anak Perempuan bernama Zea ini adalah Pacar Pangeran ? ia sedikit bersyukur, setidaknya ada yang Pangeran sayangi dan ada yang menyayangi anaknya yang kini adalah anak satu-satunya itu.


" Lebih baik berdoa saja yang terbaik buat semoga Pangeran cepat sembuh," Dokter itu mengganguk sopan dan keluar dari ruangan


Zea melangkahkan kakinya pelan ke arah tempat tidur Mata bulatnya yang kini sembap melihat Pangeran dengan sedih mengapa ini harus terjadi ?


Tangannya mencengkram erat roknya yang kini kusut Tangisnnya tidak berhenti sejak tadi


Ayah Pangeran menghela nafasnya dalam-dalam, lalu dihampirinya Zea yang sedang tertunduk


" kamu pacarnya Pangeran,kan, "


Zea mendongak, menghapus air matanya lalu menggaguk


" Maafin sikap Om yang tadi. saya terbawa emosi, "


Zea tersenyum tipis, " Maafin saya juga Om, saya juga terbawah emosi, "


" Makasih ya ,"


Zea mengerutkan dahinya tidak mengerti. Apa yang Ayah Pangeran katakan Padanya ?


" Maksud Om apa ,"

__ADS_1


" Om terima kasih sama kamu Pasti Pangeran Sayang sama kamu, Om enggak Pernah liat dia sayang sama Orang lain, Kadang sama dirinya sendiri saja dia enggak sayang, " Ayah Pangeran tertawa miris, " Terima kasih sudah membuat Pangeran ngerasain rasa sayang, Dia harusnya dapet itu dari dulu,"


" sama-sama Om, " balas Zea


Tiba-tiba suara dering Ponsel berbunyi, Ayah Pangeran berdecak kesal. ia merutuki dirinya sendiri, " Mengapa harus ada telepon di saat begini ?


" Halo, " Ucapnya ketus setelah mengangkat telepon menyebalkan itu. ia mendengar jawaban si penelpon


" Tunda aja, "


ia mendengarkan sahutan dari sebrang telepon


" Baiklah, " Ayah Pangeran mendengus dan memasukkan kembali Ponselnya ke dalam saku jasnya


" Zea Maafkan saya. saya harus pergi dulu. saya ada ... urusan, "


Zea memilih memalingkan wajahnya menatap wajah penuh luka milik Pangeran yang sedang kini sedang memejamkan matanya


" Kalua Pangeran, bangun tolong katakan kalo saya sayang sama dia. dan saya menyesal telah mengacuhkan dia sejak lama, "


Zea tertegun


" Om Pergi dulu, " Ucapnya sambil berjalan dengan langkah yang berat dan lamban keluar dari ruangan itu


Zea menghela nafas Pendek, lalu ia duduk di kursi di samping tempat tidur Pangeran


Matanya kembali terasa Panas. sebenarnya apa yang terjadi padanya ? Mengapa ia terus-menerus ingin menangis ? Padahal di sana tidak ada bawang merah yang membuat matanya Perih inikah yang dinamakan rasa sakit ketika orang yang kita sayangi mengalami hal yang menyakitkan


Zea menepuk-nepuk Pipinya dan mengembuskan napasnya perlahan. Tarik napas, buang napas. ia harus kuat setidaknya jika Pangeran bangun ia tidak boleh lemah agar Pangeran juga bisa kuat


Zea mengerjapkan matanya berkali-kali. Apa ia tidak salah lihat ? Matanya Pangeran meneteskan air mata


" Pangeran, " bisiknya. ia masih tidak percaya Pangeran menangis apa ia sudah Sadar ? ia sangat berharap itu benar


Tetapi harapannya pupus. Anak laki-laki tampan yang kini terbaring itu hanya meneteskan air matanya. Seperti tanpa berniat bangun


" Pangeran ..., " Panggilnya lagi, " kamu jangan tinggalin aku, "


Zea mencoba menahan air matanya tetapi gagal. Perasaannya sangat kacau Sekarang


" Pangeran ... aku mohon ... jangan tinggalin aku, " ulangya Hatinya Pilu. Tenggorokannya terasa kering


" Aku enggak bakalan maafin kamu, Pangeran ! Aku mohon kamu bangun, "


Pangeran tetap diam tidak bergerak, Tetapi air matanya terus mengalir


" kamu Cowok berengsek, Pangeran


Bangun, " jerit Zea sekeras-kerasnya


Di luar ruangan, Marissa dan sheila sudah ingin menerobos masuk terdengar tangis Pilu Zea, tapi Cowok-cowok menahan mereka. Menurut mereka Zea butuh waktu berdua dengan Pangeran ya mereka merasa takut akan hal itu


" Pangeran ... bangun, "


" kenapa kamu malah tidur terus,"


" kamu enggak Kangen sama aku,"


" Pangeran ... aku mohon, "


Zea terus mengucapkan kalimat itu berulang-ulang. ia berharap Pangeran akan merasa kesal dan bangun


Isak tangisnya semakin menjadi. ia akan melakukan apa pun untuk membuat Pangeran bangun. Bahkan jika harus membalas apa yang dilakukan Adit dan teman-temannya akan ia lakukan


ia kemudian Teringat Vino Mengapa Cowok itu harus menyukainya ? Mengapa bukan Orang lain saja ? ia sangat kecewa


" Pangeran, "


" Pangeran, kamu enggak Punya niat buat ninggalin aku,kan ,"


" Pangeran, "


" PANGERAN JAWAB, " teriak Zea Frustasi ia berdiri mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat


" Pangeran, Please, aku milik kamu, Pangeran ! kamu enggak akan ninggalin aku,kan ,"


" I Miss you, My possessive bad boy,"


Zea terduduk di lantai dan menangis Sekeras-kerasnya Biarlah air matanya habis jika itu bisa membangunkan Pangeran ia akan melakukannya


Zea kembali bangkit dan menatap Pangeran" Aku Sayang sama kamu Pangeran, kamu enggak mau kan liat aku sedih terus,"


" Aku mohon kamu Pangeran bangun," Zea membungkuk dan mencium kening Pangeran sekilas. ia kemudian kembali duduk, tetapi dengan wajah menunduk


Mata anak laki-laki yang terbaring itu membuka Perlahan, matanya Perih sebentar, karena sorot Cahaya yang langsung menyorot matanya ia mengerang tanpa suara. Pundak tubuhnya terasa sangat sakit


ia menoleh walaupun dengan susah payah. Mata tajamnya menangkap sosok anak perempuan yang duduk sambil menangis

__ADS_1


" Zea ... bisiknya lirih, " Don't cry"


__ADS_2