
Cek kalo ada typo guys!!
Happy Reading❤
****
KIIK KIIK
"Aghhh" Kania berteriak histeris. Tak lupa, sesegera mungkin ia rem motornya.
Untunglah, mobil yg berjalan cepat ke arahnya juga langsung mengerem mendadak.
Kania sempat terjatuh dari motor sport merah kesayangannya. Sampai-sampai, helm yg ia kenakan pun terlepas.
"Awh..." Kania memekik kesakitan, saat tubuhnya serasa lemas karena tertimpa beban motor yg beratnya bahkan melebihi berat badannya.
Kania merasa tidak berdaya. Dengan sikut kirinya kini sudah tergores hingga mengalirkan darah segar.
Terdengar suara pintu mobil terbuka dan suara langkah cepat menuju ke arahnya. Tapi, Kania tidak bisa melihatnya dengan jelas. Kurangnya cahaya jalan, membuat Kania sulit mengenali siapa orang tersebut yg baru saja hampir menabraknya.
"KANIAA!?" teriakan histeris khas suara laki-laki, membuat kening Kania mengerut.
Ia merasa kenal dengan suara ini. Apakah dia—
"Kak Raka?" lirih Kania, menyipitkan kedua bola matanya. Berharap kali ini ia bisa melihat dengan jelas.
"Iya. Ini aku! Kamu gak pa-pa?" ternyata benar. Suara sahutan orang itu adalah Raka. Dosen yg selama beberapa hari ini menghiasi hari-harinya yg membosankan.
Raka mengangkat motor sport yg menimpa tubuh Kania dengan cekatan. Hingga akhirnya, Kania pun sudah terbebas dari beratnya motor kesayangannya ini.
Kania mencoba berdiri. Namun seolah kedua kakinya lumpuh, Kania kembali tersungkur ke tanah sembari menegangi siku nya yg berdarah.
"Awh... Kok sakit ya? Biasanya juga jatoh segini mah gak ada apa-apanya!" gerutu Kania. Sembari menatap ke seluruh tubuhnya, di mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kamu bisa berdiri?" sahut Raka. Mencoba membantu Kania untuk berdiri.
"Kaki gue sakit! Kayaknya terkilir deh, bisa bantuin gue gak?"
Raka terperangah dengan apa yg baru saja gadis itu utarakan. Benarkah seorang Kania yg angkuh meminta bantuan pada dirinya?
Terdengar tidak biasa!
"Lho? Kok diem aja? Gak mau bantuin? Ya udah, kalo gitu gue mau—"
"Ayo!" sela Raka, kemudian menarik tubuh Kania dan membantunya untuk berdiri.
Benar saja, gadis itu terlihat lemah saat ini. Ia tidak bisa berjalan dengan sempurna. Langkahnya terlihat sempoyongan. Sesekali, langkahnya hampir saja membuatnya terjatuh. Namun untungnya dengan sigap, Raka menangkap tubuh Kania hingga jarak antara keduanya sangat berdekatan.
__ADS_1
"Kamu... Beneran bisa jalan gak nih?" sahut Raka, kurang percaya dengan apa yg baru saja ia lihat dan apa yg sudah ia dengar.
"Bisa kok!" kekeh Kania.
Raka berdecak kesal. Kemudian, ia menarik tubuh Kania dan mengangkatnya dengan kedua lengannya. Sontak saja itu membuat Kania terlonjak kaget.
Pasalnya, ini adalah kali pertama Kania di gendong ala seorang wanita yg baru saja di selamatkan.
"Lo ngapain sih? Turunin gak?" teriak Kania.
"Berisik! Nanti juga di turunin kok, tapi gak disini! Di dalem mobil aku, oke?" timpal Raka. Sembari terus berjalan menuju pintu mobil nya yg terbuka.
Dengan hati-hati, Raka pun menurunkan tubuh Kania perlahan ke atas kursi kemudi. Kedua tangannya mulai meraih salah satu kaki milik gadis itu yg terasa sakit.
"Hei? Lo ngapain?" panik Kania, saat Raka meraih salah satu kakinya yg terkilir.
"Katanya kaki kamu sakit! Yah aku mau sembuhin lah!" jawab Raka santai.
"Ih. Tapi ini gak sopan! Lo itu dosen gue!" kata Kania, yg di balas dengan kekehan kecil dari Raka.
"Sejak kapan, cewek kayak kamu ngerti soal sopan santun? Gak biasanya!" ejek Raka. Membuat emosi Kania serasa di uji.
"Apaan sih? Dari dulu juga gue tahu sopan santun kok" ujar Kania. Raka hanya mengangguk asal.
"Ah... Pelan-pelan! Sakit!" teriak Kania, saat kakinya di putar begitu saja oleh Raka.
"Awh!" teriak Kania lagi dan kali ini, sebuah pukulan mendarat di bahu Raka.
"Lo pikir gue gak sakit apa, saat kaki gue di tarik gitu aja sama lo? Yah sama! Sakit tahu!" protes Kania.
Raka hanya memutar bola matanya jengah. "Iya deh, maaf! Tapi, coba berdiri deh!"
"Hah?"
"Kamu gak denger apa yg saya suruh barusan? Berdiri!" kata Raka, mengulangi ucapannya.
"Gak salah? Kaki gue sakit, lo tahu kan?"
"Iya. Tapi di coba aja dulu! Kan barusan udah aku coba sembuhin!" kata Raka. Merasa tidak mau kalah dalam berargumen.
Menghembuskan nafas panjang. "Oke. Terserah lo! Untuk kali ini, gue nurut sama lo" pasrah Kania. Kemudian ia mencoba untuk berdiri dengan hati-hati.
Dan betapa terkejut nya. Kakinya sudah tidak apa-apa. Tidak merasa sakit lagi. Sungguh sebuah keajaiban dari Tuhan!
"Wah!! Gak sakit?"
"Kan aku bilang apa? Gak percaya sih!"
__ADS_1
"Lo pake jurus apaan? Manjur banget?" celetuk Kania.
"Pake jurus pria tampan!" cetus Raka. Membuat Kania memonyongkan bibirnya.
Baiklah!
Karena dirinya sudah tidak apa-apa, Kania berencana untuk melanjutkan aksi kaburnya. Kania berjalan mendekat ke arah motornya yg berada di pinggiran jalan.
Raka melihat Kania yg berjalan menjauh darinya. Namun, tak pernah sedikitpun terlintas untuk menghentikan langkah gadis itu. Karena Raka tahu, seperti apa sifat Kania.
"Yah... Yah... Kok motor gue mati?" teriak Kania. Saat dirinya mencoba menghidupkan mesin motor.
"Lho... Lho... Kok gak nyala?" teriak Kania lagi. Dan kali ini, Kania sudah merasa frustasi. Haruskah ia kembali ke rumah nya saat ini? Atau... Kembali ke kost-an?
Tapi, jarak dari sini ke kost-an sangat jauh. Tapi jika dari sini ke rumah pun, Kania bingung harus naik apa?
"Motor nya mogok ya?" Kania tersentak, saat sebuah sahutan terdengar sangat nyaring. Apalagi, orang yg menyahutinya kini berada di sampingnya.
"Ngagetin aja lo!" cetus Kania.
"Aku anterin pulang, mau?" tawar Raka.
Kania nampak berpikir. "Oke! Kayaknya gue butuh bantuan lo hari ini! Tapi, gimana nasib motor gue? Kan sayang kalo di tinggal sendiri disini!"
"Tenang! Aku panggilin montir suruh jemput motor kamu disini, biar bisa di benerin langsung. Gimana? Mau?" tawar Raka. Kania nampak mengangguk antusias.
"Sebelumnya, makasih ya! Lo udah baik sama gue! Dan gue sangat berterimakasih untuk itu!" ucap Kania. Dengan sebuah senyum manis menyungging di wajah cantiknya.
Raka merasa senang karena dirinya bisa di andalkan oleh seseorang. Apalagi, orang itu adalah Kania. Orang yg selama beberapa hari ini terus memenuhi isi pikirannya.
****
Setelah menelpon montir dan menunggunya untuk menjemput motor Kania, mereka berdua pun segera memasuki mobil kemudian menjalankannya menuju rumah Kania.
Sesampainya mereka di depan rumah keluarga Kania, gadis itu mempersilakan Raka untuk bertamu sebentar. Hanya sekedar untuk meminum sesuatu atau apapun itu. Kania yg memaksa.
Dan dengan terpaksa, Raka pun mengikuti kemauan gadis itu.
Saat keduanya berada di ambang pintu masuk, terdengar suara perdebatan hebat di dalam rumah.
Dengan hati-hati, Kania membuka pintu rumahnya. Ia melihat Kesha tengah berdiri di hadapan papanya dengan emosi yg meluap-luap.
"Kenapa kalian rahasiain ini begitu lama, hah? Kenapa? Kenapa gak kasih tahu dari awal kalau Kania itu bukan anak kandung mama!" teriak Kesha tanpa sadar sudah membuat kedua orang di ambang pintu itu terdiam memaku.
"Apa?" teriak Kania dan Raka secara bersamaan.
Mama Andin, Papa Hendra dan Kesha sontak menoleh ke ambang pintu dengan tatapan terkejut nya.
__ADS_1
"Kania!?"
To be continue...