My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Penampilan baru


__ADS_3

Awas, typo bertebaran!


"Yah, ngambek." gumam Raka, lalu segera mengambil kunci mobil dan


kunci apartemen. Setelah ia mengunci rapat-rapat apartemennya, ia berlari mengejar Kania.


****


"E-e-eh. Tunggu, Kan!" Raka meraih pergelangan tangan Kania. Membuat langkah gadis itu terhenti.


"Apaan? Gue mau pulang, ya! Jangan larang-larang gue!" Kania menepis tangan Raka, lalu kembali berjalan meninggalkan lelaki itu.


"Eeh. Iya, iya. Aku yang anter, oke?" Raka kembali meraih pergelangan tangan Kania dan membawanya berjalan menuruni apartemen.


****


"Pake dulu sabuk pengamannya." ujar Raka, ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


"Iya, berisik!"


Ketika keduanya sudah memakai sabuk pengaman, Raka mulai menjalankan mobilnya keluar dari parkiran apartemen.


Di perjalan, mereka sama sekali tidak bersuara. Mereka memilih untuk saling diam dalam pikiran masing-masing.


Sesekali, Raka menoleh kearah Kania. Gadis itu terlihat masih cemberut dengan tatapan yang mengarah ke samping kiri.


"Emm..." Raka bergumam sembari mengetuk-ngetuk jarinya pada stir mobil. Berusaha untuk memancing Kania yang berada di sampingnya.


Melirik sekilas, Raka sama sekali tidak merasakan gadis di sebelahnya menoleh kearahnya. Aish. Dasar cewek gak peka.


"Kan?" akhirnya, Raka mencoba untuk menyahuti Kania. Mencoba untuk menghilangkan rasa sunyi yang sedari tadi belum berakhir.


Raka kembali menoleh kearah Kania. Gadis itu masih bergeming di tempatnya.


"Hei! Diem aja dari tadi."


"Suka-suka gue dong! Gue lagi males ngomong sama lo." Kania akhirnya unjuk bicara, setelah sedari tadi terus terdiam tanpa suara.


Menyunggingkan sebuah senyum seringaian, Raka kembali melirik kearah Kania. Namun kali ini lebih lama.


"Apaan lo natap-natap gue?" judes Kania. Ketika tatapan dari Raka terasa risih menurutnya.


Raka terkekeh pelan, lalu ia menggeleng beberapa kali. Kemudian ia kembali sibuk pada jalanan.


Mendelik sembari memutar bola mata malas, Kania kembali menatap jalanan kosong yang berada di sampingnya. Ia juga mulai kembali pada lamunannya.


****


Sesampainya di depan gerbang rumah Kania, mobil yang membawa mereka pun berhenti. Keluarlah sosok Kania dari dalam mobil yang diikuti oleh Raka setelahnya.


"Makasih." jutek Kania, lalu membuka gerbang tersebut yang untungnya belum di kunci sama sekali.


"Iya, sama-sama. Oh iya!" ucap Raka menggantung, membuat gadis itu menoleh kembali kearahnya.


"Kenapa?"


"Bentar! Barang kamu ketinggalan di mobil." Raka pun mulai mengitari mobil. Membuka bagasi mobil dan mengambil beberapa paper bag disana.

__ADS_1


"Nih!" Raka memberikan beberapa paper bag tersebut pada Kania.


"Apaan nih?" tanya Kania, sembari membuka paper bag tersebut satu persatu.


"Baju yang aku beliin tadi. Besok jangan lupa pake pas ke kampus." ujar Raka mengingatkan. "Duluan, ya. Daa." pamit Raka, lalu memasuki mobil dan menjalankannya—meninggalkan gerbang depan rumah Kania.


Kania tidak menjawab apa-apa. Ia juga tidak menampilkan ekspresi apapun. Hanya terdiam sembari menunggu mobil dosen itu pergi dari hadapannya.


Tunggu!


Menunggu? Untuk apa?


"Ck. Mending gue ke dalem aja dari pada disini." gerutu Kania lalu membuka pintu gerbang tersebut lalu menguncinya dari dalam.


****


"Wah... Ini kayak bukan gaya gue banget!" Kania terkejut di hadapan cermin.


Saat ini, ia tengah mencoba salah satu setelan feminim yang di belikan Raka padanya tadi. Dan ketika ia bercermin, betapa terkejutnya ketika dirinya terlihat sangat aneh disana. Tidak seperti Kania yang biasanya. Ia nampak lebih feminim dengan gaun selutut bunga-bunga tanpa lengan. Di tambah dengan heels-nya yang berwarna senada dengan warna kulit. Sungguh, ini bukan Kania.


Tapi... Cantik!?


"Besok nyobain pake ini, ah." gumam Kania, lalu tersenyum di hadapan cermin sembari terus berputar untuk melihat penampilannya dari belakang dan dari depan.


Tok tok tok


Pintu kamar Kania di ketuk dari depan. Membuat sang penghuni kamar menoleh dengan tatapan seperti takut ketahuan.


"Siapa?" teriak Kania, sembari memasukan barang-barang yang baru di beli tadi kembali ke dalam paper bag.


"Ini mama, Kan..."


"Kania... Bukain, nak. Mama mau bicara sebentar sama kamu." sahutan itu kembali terdengar. Kania semakin panik di dalam sana.


"I-iya, sebentar." teriak Kania, kemudian berlari menuju kamar mandi dengan membawa semua paper bag.


Disisi lain, Mama Andin nampak menghela nafas, ketika pintu kamar putrinya tidak juga dibuka dari dalam.


"Kelamaan." gumam Mama Andin, lalu memegang knop pintu dan mendorongnya perlahan.


"Kania... Kamu—" ucapan Mama Andin terjeda, ketika pandangan matanya tidak sengaja menatap Kania yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan setelan seperti biasa—kaos tipis dengan celana pendek diatas lutut.


"Ada apa, ma?" tanya Kania sedikit gugup.


"Enggak. Mama cuma mau tanya, kamu dari mana jam segini baru pulang?"


"Kania... Habis belanja!"


Damn it.


Kenapa Kania bisa mengatakan yang sebenarnya? Ah, sial. Apa yang harus ia katakan, jika Mama Andin bertanya ia belanja apa?


"Kamu habis belanja apa sayang?"


Tuh kan. Bodoh si lo. —rutuk Kania


"Euhh... Enggak. Cu-cuman nganterin Kak Raka belanja." Kata Kania, gugup.

__ADS_1


Mama Andin hanya menjawabnya dengan beroh-ria sembari mengangguk paham. "Ya udah. Mama ke kamar dulu, ya. Mama mau istirahat. Kamu juga harus istirahat, lho!"


Menghela nafas lega, Kania hanya mengangguk cepat sembari tersenyum kaku di hadapan Mama Andin. Tak lama kemudian, Mama Andin pun keluar dari kamar Kania. Menutup pintu kamar gadis itu dari luar.


"Haah... Selamat." Kania mendesah lega.


****


Paginya, Kania bangun pagi-pagi sekali hanya untuk mencoba pakaian yang baru di beli Raka untuknya kemarin. Sesuai apa yang ia katakan kemarin di hadapan cermin. Ia akan mengenakan pakaian feminim yang itu.


"Wah... Berasa bukan gue banget, si. Tapi... Ya udahlah! Kita coba hanya untuk hari ini saja. Kalo gak nyaman, ya ganti lagi." gerutu Kania, ketika ia sudah memakai pakaian di hadapan cermin.


Ketika ia hendak berjalan meninggalkan cermin, sepatu heels yang ia pakai tersangkut pada karpet beludru yang ia injak saat ini. Keseimbangannya pun mulai menghilang. Tak lama kemudian, ia terjatuh.


"Awh... Gila. Najis gue pake ginian lagi." Kania melempar heels tersebut je sembarang arah. Ia sudah kapok sama yang namanya sepatu hak tinggi.


"Gak usah pake dress ini aja, deh. Yang lain juga masih ada." gumam Kania, ketika ia kembali berdiri dihadapan cermin.


"Pake rok yang di beliin tuh orang aja deh."


****


Seluruh anggota keluarga di rumah Kania, sudah berkumpul di meja makan. Mereka akan mengawali pagi dengan saraoan bersama. Seperti yang di lakukan kebanyakan keluarga.


Namun, satu orang anggota lagi yang belum turun untuk sarapan. Ya, siapa lagi kalau bukan Kania.


"Bang. Panggil adek kamu, gih." suruh Mama Andin, pada putranya. Kesha.


"Gak mau, ah. Mama aja. Kesha lagi makan."


"Pagi, semuanya!" Sebuah suara seruan seseorang yang mereka bicarakan, kini terdengar oleh masing-masing indera pendengaran mereka.


Kania. Ia datang menuju meja makan dengan penampilan yang amat sangat berbeda. Semua anggota keluarganya yang tengah sibuk sarapan, tengah menerhatikannya dari atas sampai bawah. Mereka menatap Kania tidak percaya. Gadis tomboy mereka, terlihat lebih feminim dari biasanya.


"Siapa, nih? Cantik bener." seru Kesha, sembari mengunyah sarapan yang berupa nasi goreng.


"Ini Kania?" Mama Andin ikut berseru.


"Anak papa makin cantik!" Papa Hendra ikut memuji.


Kania merasa malu saat ini. Semua orang baru saja memujinya. Padahal, saat ini ua hanya mengenakan kaos lengan pendek biasa yang selalu ia pakai kemana-mana. Hanya setelan bawah yang di ganti dari celana jeans sobek-sobek, menjadi rok pendek rempel diatas lutut.


"Kayak ada yang kurang." ucap Kesha, membuat seluruh perhatian tertuju padanya.


"Kurang apa, Bang?" tanya Kania, khawatir.


"Kurang bahan. Hahaha..." celetuk Kesha. Semua orang menatap benci padanya. Termasuk Kania.


"Si—"


"Bang Kesha! Gak boleh ngomong gitu sama adeknya. Udah bagus Kania ganti setelan gak kayak biasanya. Malah diketawain." sergah Mama Andin, sembari memperingati putranya supaya tidak mengatakan hal aneh yang mampu membuat mood gadis itu berubah.


"Iya, iya. Kesha ngalah!" balas Kesha, lalu melanjutkan sarapan.


"Emang udah semestinya lo ngalah." gerutu Kania, sedikit terdengar oleh pendengaran Kesha.


"Lo bilang apa?"

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2