
"Makasih, lho, ya. Lo udah mau jajanin gue. Padahal, kita 'kan belum lama kenal," ucap Kania. Ketika dirinya baru saja sampai di depan gerbang rumahnya.
Reval, cowok itu berdiri di hadapannya dengan sebuah senyum yang mengembang. Lalu ia mengangguk menanggapi ucapan Kania barusan.
"Ya udah. Gue balik dulu, ya." pamit Reval. Lalu memutari mobilnya dan membuka pintu mobil bagian kemudi.
Sebelum ia hendak masuk, Reval melirik kembali kearah Kania, "Gue duluan." pamitnya lagi. Kania tersenyum simpul sembari mengangguk.
"Hati-hati!" kata Kania, memperingati. Reval akhirnya memasuki mobilnya, kemudian ia segera menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah gadis itu.
Sepeninggalan Reval, Kania menghela napasnya pelan. Lalu memasuki gerbang yang untungnya tidak dikunci sama sekali.
Kania melirik jam tangannya sekilas. Pukul empat sore tertera disana. "Masih sore ternyata." gumam Kania, sembari melanjutkan langkah kakinya memasuki rumah.
Ketika Kania memasuki ruang tengah di rumahnya, pendengarannya tidak sengaja mendengar suara perbincangan antara Mama Andin dan seseorang yang sangat miserius.
Kania berjalan cepat kearah sofa. Ternyata mamanya hanya sendirian disana. Sedang menelpon seseorang di seberang telpon.
Mama Andin melirik sekilas kearah Kania. Sontak raut wajah cerianya bertambah ketika melihat kedatangan putrinya.
"Eh, anak mama udah pulang?" sambut Mama Andin dengan nada sedikit berteriak. Tanpa peduli pada seseorang yang berada diseberang telpon yang mendengar teriakan nyaringnya.
"Mama, iih... Lagi telponan kok teriak-teriak," dumel Kania, sembari menjatuhkan diri diatas sofa panjang yang lain.
Mama Andin hanya terkikik geli, "Perhatian banget sama dia!" cibir Mama Andin, membuat Kania mengerutkan dahi.
"Dia? Dia siapa?"
"Nih, yang lagi telponan sama mama," ungkap Mama Andin. Kania masih kurang mengerti maksud dari pembicaraan mamanya.
"Terus?"
"Kepo. Udah sana ganti baju, abis itu langsung turun lagi kesini, terus makan." suruhan Mama Andin ditanggapi helaan napas oleh Kania.
"Tapi, Kania gak laper, udah makan tadi bareng temen." ungkap Kania, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berdiri dari sofa, lalu berjalan kearah anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Kamu makan di luar? Sama siapa?" Mama Andin yang ingin tahu putrinya makan dimana dan bersama siapa, ia pun langsung menoleh kearah Kania sembari menjauhkan sedikit ponselnya dari daun telinganya.
__ADS_1
"Sama temen, ma." jawab Kania jengah.
"Cewek apa cowok?" pertanyaan yang setengah berteriak itu mampu memberhentikan sejenak langkah kaki Kania.
Dengan malas, Kania menjawab tanpa menoleh, "Cowok!" lalu ia melangkahkan kakinya kembali untuk menaiki anak tangga.
Mama Andin lalu melirik ke belakang, tepatnya kearah Kania yang berjalan semakin menjauh menaiki anak tangga.
Menghela napas, Mama Andin lalu melanjutkan pembicaraannya bersama seseorang diseberang telpon.
"Kamu seriusan mau pulang ke Jakarta malam ini?" tanya Mama Andin, melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti oleh kedatangan Kania.
"Iya, tante. Oh iya, itu tadi Kania, ya? Sekarang dia kayak gimana, tante? Cantik? Tambah cantik?"
"Cantik sih, cantik. Sayangnya ngeselin. Tapi semenjak kamu pergi, Kania sekarang udah gak jadi tomboy lagi. Tante benar-benar berterimakasih sama kamu Raka. Putri tomboy itu akhirnya jadi perempuan sesungguhnya," ucap Mama Andin penuh haru.
Seseorang yang berada diseberang telpon yang tak lain adalah Raka itu pun tersenyum tanpa Mama Andin tahu. Pria itu jadi tidak sabar untuk segera pulang ke Jakarta.
"Baguslah. Jadi nanti pas ketemu lagi, saya gak terkejut." ucapnya terkekeh. Mama Andin yang mendengarnya pun ikut tertawa kecil.
"Kalau begitu, sudah dulu ya, Raka. Tante mau interogasi Kania dulu. Mau nanyain, siapa cowok yang tadi makan siang sama dia. Takutnya Kania punya pacar lagi, 'kan gak lucu!" ucapan terakhir dari Mama Andin, sanggup membuat Raka terdiam sejenak.
Mama Andin lalu berdiri dari pisisi duduknya. Ponselnya ia cengkram kuat, ia hendak pergi ke kamar putrinya dan menanyakan SEMUANYA.
"Awas aja kalo tuh anak punya pacar!"
****
Di sisi lain, seorang pria yang tak lain adalah Raka, tengah termenung sendirian di dalam sebuah mobil yang melaju di jalanan yang cukup kosong oleh lalu lalang kendaraan, yang dikemudikan oleh seorang sopir pribadinya selama di Yogyakarta.
"Kamu apa kabar Kania? Aku rindu." gumam Raka, sembari menatap keluar kaca mobilnya yang tertutup rapat.
"Tuan muda, kita sudah sampai di bandara." ucapan dari sang sopir, membuyarkan lamunannya tentang Kania.
Ia lalu menatap layar ponselnya yang terbuka. Menampilkan lockscreen dengan foto seorang gadis cantik berambut sebahu yang tersenyum manis kearah kamera. Dan, itu adalah Kania. Foto gadis itu yang Raka ambil dari akun instagram milik Kania sendiri secara diam-diam.
"Tunggu aku, Kania. Aku akan kembali mendapatkan hati kamu," ucapnya pelan. Lalu ia keluar dari mobil dengan pintu yang sudah dibuka oleh sang sopir.
__ADS_1
****
"Bilang sama mama! Siapa cowok yang tadi makan siang sama kamu?" entah untuk yang keberapa kalinya Mama Andin bertanya untuk menginterogasi Kania.
Kania dibuat pusing oleh pertanyaan itu. Sudah berapa kali ia menjawab bahwa, ia tidak memiliki hubungan spesial dengan cowok itu.
Tapi tetap saja, Mama Andin tidak memercayainya!
"Awas, kalo kamu punya pacar!" ancaman dari Mama Andin, sontak membuat Kania langsung menatap heran kearahnya.
"Lha? Emang kenapa kalo misalnya Kania pacaran?" tanya Kania polos.
Mama Andin berdecak sebal. Kania memang sosok gadis yang tidak peka. Untung beberapa tahun lalu Raka selalu sabar menghadapi Kania. Gadis kurang peka yang mampu membuat mood siapa saja hancur karena ketidak pekaannya.
"Pokoknya gak boleh! Kuliah dulu yang bener, baru nyari cowok!" ucapan Mama Andin ditanggapi oh saja oleh Kania.
Kirain kenapa, pikir Kania.
"Dulu aja ngomongnya gini; Anak cewek segede kamu tuh biasanya udah punya pacar! Lha, ini! Jomblo mengenaskan! Kamu tuh sebenarnya suka gak sih, sama cowok? Heran mama. Makanya kalo dandan itu kayak cewek, pakek rok. Bukan pake celana jeans sama kaos doang! Lama-lama mama jodohin kamu sama cewek!" penjelasan panjang lebar Kania, membuat Mama Andin menatap tajam dirinya.
"Udah selesai ngejelasinnya?" tanya Mama Andin dengan raut wajah datar. Kania yang tersadar langsung cengengesan di depan mamanya.
"Udah, mama..." katanya dengan nada manja. Mama Andin hanya membalas ucapan Kania dengan gelengan kepala beberapa kali.
"Udah beberapa hari ini Abang kamu gak pulang ke rumah." ucapan tiba-tiba dari Mama Andin, sontak mengubah raut wajah Kania yang semula cengengesan, kini berubah serius.
"Emang... Bang Kesha kenapa lagi?" tanya Kania.
"Dia masih marah sama mama dan papa. Karena waktu itu-" ucapan menggantung dari Mama Andin sontak mengundang tanya bagi Kania.
Kania lalu merubah posisi duduknya untuk mencari kenyamanan lain.
"Waktu itu apa?" tanya Kania. Mama Andin bungkam seketika.
To be continue...
Lama gak update gegara libur skul tpi bnyk tugasðŸ˜
__ADS_1
Maaf baru smpt, tugas skul numpuk bgt sumpah aduhh!! Gara2 virus sial*n😆 upss:v
Jan lupa tinggalin jejak:*