
"Assalamu'alaikum..."
"Waalaikumsalam... Eh, kamu udah pulang, Kan?"
Pukul sebelas siang, Kania baru saja menyelesaikan mata kuliahnya. Tak ingin pergi keluar seperti waktu lalu, Kania lebih memilih pulang ke rumah. Lelah. Itu yang ia rasakan saat ini.
"Kania laper, ma..." ujar Kania lesu, sembari mendudukan diri diatas sofa ruang keluarga.
Mama Andin ikut mendudukkan dirinya di samping Kania. Menatap putrinya dari atas sampai bawah. Tunggu! Ada yang berubah! Tapi apa, ya?
"Perasaan... Tadi kamu gak pake baju ini, deh? Kok sekarang bajunya kek ganti gitu?"
Kania membulatkan matanya, lalu tatapannya tertuju pada pakaian yang ia pakai saat ini.
Sial. Kania lupa! Tadi setelah jam mata kuliah selesai, ia mengganti roknya dengan celana jeans lagi dengan setelan atas kemeja kotak-kotak berwarna merah.
Harusnya, Kania menggantinya lagi dengan rok. Tapi ia lupa!
"Jadi tomboy lagi ceritanya?" tanya Mama Andin, dengan tatapan mengintimidasi.
"Eheheh... Ng... Anu. Itu, mah! Itu..."
"Anu apa? Itu apa? Yang jelas ngomongnya! Mama gak ngerti." ujar Mama Andin ketus. Kania jadi semakin bingung harus jawab apa.
"Euh... Gini lho, mah. Kania rasa... Kania gak cocok deh, pake baju begituan. Jadi... Kania gak mau gitu-gituan lagi!"
"Apa?" Kania memejamkan kedua matanya, ketika teriakan nyaring dari Mama Andin mampu membuat kedua matanya refleks terpejam.
Memilih beranjak dari sofa, lalu Kania berlari menuju kamarnya ketika ia melihat raut wajah Mama Andin yang saat ini memperlihatkan aura mistisnya. Oh, salah. Bukan aura mistis. Tapi aura mencekam.
"Kania mandi dulu..." teriak Kania, sembari berlari menaiki anak tangga.
Mama Andin hanya bisa geleng-geleng kepala atas tindakan putrinya. Sedetik kemudian, Mama Andin memilih untuk menghidupkan televisi dan menonton acara kesukaannya disana.
****
"Wah... Untung berhasil kabur." gumam Kania, lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil memejamkan kedua mata.
Ia baru saja berlari meninggalkan Mama Andin—yang sebentar lagi akan meledak. Ya. Kania tahu betul ekspresi seperti apa yang di tampilkan Mama Andin. Ekspresi mengerikan. Seperti seekor singa yang sebentar lagi akan mulai melahap mangsa di hadapannya.
Ting.
Kania perlahan membuka kedua matanya. Tatapannya tertuju pada sebuah benda persegi panjang yang ia letakan diatas meja nakas. Lalu Kania pun meraihnya. Membuka sebuah pesan yang dikirim dari seseorang.
Kania nampak menunggu balasan pesan dari Raka. Tak lama kemudian, balasan itu muncul.
__ADS_1
Kania lalu tersenyum melihat balasan yang berupa sebuah emoticon dari dosennya. Ia lalu meletakkan ponsel tersebut kembali di tempat semula.
"Gue harus mandi!" gumamnya lebih pada diri sendiri.
Tunggu!
Mandi? Bukankah ini baru saja pukul sebelas lebih? Acara makannya kan nanti malam!
Ehm, positif thinking aja deh:) mungkin badannya bau, makanya Kania harus mandi. Iya, kan?- author.
****
Di tempat lain, seorang gadis tengah menatap benci pada sebuah foto yang tertera di layar ponselnya. Foto sahabatnya yang selalu menemaninya suka maupun duka. Namun kini berbeda.
Gadis itu merasa bahwa sahabatnya sudah mengkhianatinya saat ini. Sudah berani merebut orang yang saat ini ia sukai yang tak lain adalah dosen mereka sendiri.
Sahabatnya pernah mengatakan bahwa dia tidak menyukai dosen itu. Dia sangat membencinya.
Tapi sekarang?
Sahabatnya lebih terkesan sangat dekat dengan dosen itu. Kemana-mana pasti selalu bersama dosen itu.
"Menyebalkan. Awas aja! Saat kelulusan nanti, gue bakal bikin lo berhenti deketin Kak Raka lagi." gumam gadis itu sembari tersenyum miring di hadapan layar ponselnya yang masih menyala.
"Gue benci sama sifat munafik lo, Kania!"
****
Mereka memilih room privat. Bukan. Tapi hanya sang pria lah yang sudah memesan room privat tanpa di ketahui sang wanita.
"Kok pesen ruang privat? Mau ngapain?" panik gadis yang baru saja memasuki room privat itu.
Sejujurnya, gadis itu tidak pernah menyetujui untuk makan malam di ruangan tertutup seperti sekarang ini.
Mereka hanya berdua. Wanita dan pria. Dan dalam satu ruangan?
Bukankah tidak baik!?
"Tenang aja. Saya gak bakal apa-apain kamu. Di ruang ini, saya mau diskusikan sesuatu sama kamu. Jadi... Duduklah." ucap sang pria menenangkan gadis itu.
Memilih untuk menghela nafas, kemudian menurut dan mendudukan diri di atas kursi makan yang tersedia. Walau sedikit ragu tentunya.
"Kamu mau pesan apa, Kania?" sahutnya, Kania pun nampak menatap kearahnya lantas berpikir sejenak.
"Terserah kakak aja." jawabnya yang hanya di angguki anggukan kecil oleh pria itu yang tak lain adalah dosennya sendiri. Raka.
Orang yang tadi siang mengiriminya pesan singkat melalui WhatsApp.
Tok tok tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu dari room privat—yang mereka pesan, mengalihkan perhatian mereka.
"Masuk." sahut Raka. Tak lama kemudian, bunyi knop pintu terbuka pun terdengar. Seorang waiter dengan dua buah buku menu dan sebuah note kecil yang ia genggam, berdiri sopan di hadapan keduanya.
"Silakan, Mas, Mbak-nya mau pesan apa?" waiter tersebut menyerahkan dua buku menu itu masing-masing pada orang yang berada di hadapannya. Keduanya menerima buku menu tersebut lalu membuka lembaran demi lembaran halaman pada buku tersebut.
"Bagaimana kalau steak?"
"Oke. Sama minumannya lemonade."
Setelah selesai mengajukan diskusi, pandangan Raka dan Kania beralih menatap waiter di hadapan mereka. Terlihat menunggu pesanan apa yang akan mereka ajukan dengan sabar.
"Dua porsi steak sapi medium dengan dua gelas lemonade. Dan... Dua porsi Cheese cake sebagai pencuci mulut." ujar Raka, mengajukan pesanan pada waiter di hadapan mereka.
Waiter itu terlihat sigap menuliskan pesanan mereka. Tak lama kemudian, waiter itu terlihat selesai menulis. "Dua porsi steak sapi medium, dua gelas lemonade dan dua porsi cheese cake. Ada pesanan lain?"
Kania nampak melirik kearah Raka yang ternyata pria itu juga tengah melirik kearahnya. Kania sontak terkejut, namun detik selanjutnya, Kania menggeleng pelan di hadapan Raka.
Merasa mengerti, Raka pun hanya membalas pertanyaan waiter itu dengan gelengan kepala dan sebuah senyum tipis di wajahnya.
"Kalau begitu, pesanan akan sampai dalam tiga puluh menit. Saya permisi keluar." ujar waiter, lalu mengambil kembali buku menu yang sempat ia bawa tadi.
Setelah waiter itu meninggalkan room privat, Raka menarik kedua tanan Kania yang berada diatas meja.
Sontak terkejut, Kania juga terlihat sedikit heran dengan sikap Raka padanya. Terkesan seperti bukan diri pria itu.
"Saya disini hanya sementara, Kania." ucap Raka tiba-tiba. Yang tidak di mengerti sama sekali oleh Kania.
Mengernyitkan dahi, Kania nampak berpikir, "Maksudnya?"
Raut wajah Raka terlihat serius saat ini. Berbeda dengan sebelumnya.
"Saya akan mengundurkan diri dari pekerjaan saya sebagai dosen."
"Apa? Kenapa?" Kania terkejut dengan ucapan Raka yang terkesan to the point. Apakah ini alasan pria itu mengajaknya makan malam? Bermaksud ingin pamitankah? Tapi, kenapa ingin mengundurkan diri?
"Saya harus meneruskan perusahaan papa saya yang berada di Yogya. Saya tidak tahu akan sampai kapan saya disana. Yang jelas, saya tidak akan bertemu kamu lagi dalam waktu dekat."
Kania terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Atau bahkan hanya sekedar merespon. Ia bingung. Pria itu secara tidak langsung meminta izin padanya. Padahal Kania bukan siapa-siapa disini. Dan, kenapa harus Kania orang yang di beritahukan tentang berita pengunduran diri Raka?
Bukankah, pada keluarganya saja cukup?
"Tapi..."
"Saya suka sama kamu, Kania."
"...."
To be continue....
__ADS_1
Kira², ending nya bkl kek gimna nih? Ada yg bisa nebak?:)